
"Haha. Jadi, nona menampar nona Reina? Lalu menarik rambutnya?"
Dokter Tadashi tak sanggup menahan tawa setelah mengetahui cerita di balik keributan yang dilakukan oleh dua wanita cantik itu di kafe. Wajah manyun Agika malah membuatnya makin lucu. Terlihat sekali kalau ia sangat kesal.
"Bisa-bisanya ia bicara seperti itu padaku."
"Tuan muda pasti akan terkejut jika tahu nona Agika ternyata sangat berani."
"Terkejut?"
"Ya." Jawab Tadashi sambil tersenyum.
Agika menunduk. Ia mulai ingat kembali pembicaraannya dengan Reina. Hideki mungkin memang menyukainya, tapi ia tak akan serius memilih Agika menjadi wanitanya. Seorang pewaris perusahaan pasti punya kriteria sendiri. Keluarganya juga pasti punya tuntutan padanya. Termasuk ayahnya yang terlihat tak pernah setuju putranya berhubungan dengan Agika. Apa karena itu hubungannya masih datar-datar saja? Tak ada kemajuan? Meski Hideki bilang ingin lebih serius, nyatanya ia malah bercinta dengan wanita lain.
"Ia terkejut karena aku menyakiti wanitanya?"
"Wanitanya? Maksud nona?"
"Bodoh sekali jika aku percaya Hideki akan serius padaku. Aku hampir lupa dia siapa."
"Nona, tuan muda tidak …"
"Agika?"
Tiba-tiba sosok laki-laki tampan yang sedang mereka bicarakan itu akhirnya muncul. Tak seperti biasanya, Hideki hanya memakai celana panjang dan kaos V-neck abu-abu polos. Biasanya ia berpakaian formal. Agika bahkan hampir pangling melihatnya. Tak biasanya ia berpenampilan sesantai ini. Tapi ia tetap terlihat tampan. Wanita yang berpapasan dengannya pasti akan terpesona.
"Oh tuan muda, kau sudah selesai?" Tanya Tadashi sambil melambaikan tangannya.
Hideki tak menggubris sapaan dokter pribadinya. Ia menghampiri Agika karena gadis itu terlihat sedih dan tidak baik-baik saja. Dan benar saja, Hideki melihat pipi Agika memerah seperti bekas pukulan. Siapa yang berani memukul pacarnya itu?
"Kau kenapa? Pipimu merah …"
Hideki menyentuh wajah Agika yang memerah. Agika belum menjawab dan hanya membatu memandang Hideki. Ia masih tak percaya Hideki disini. Ia harusnya tahu kalau dokter Tadashi ada disini, pria ini sudah pasti di sini juga. Tapi pikirannya terlalu terpusat pada ucapan Reina.
Agika langsung tersadar. Ia mendorong Hideki menjauh. Ia tak mau pria ini mendekatinya sekarang.
"Kau pikir siapa yang membuat pipiku merah?!" Tanya Agika marah pada Hideki.
"Siapa?"
"Minggir. Aku mau pulang."
Agika menyingkirkan tangan Hideki yang menghadangnya. Ia segera pergi. Lagi-lagi ia tak sanggup bicara dengan pria itu. Tiap kali bertemu, air matanya selalu ingin lepas. Agika memang tak bisa lagi memandangnya seperti biasa. Otaknya sedang tengiang-ngiang ucapan Reina.
"Agika! Tunggu, hei!"
Hidei segera mengejar gadis pujaannya itu. Ia sengaja tak menemuinya beberapa hari karena ia ingin fokus menyelidiki kejadian malam itu dengan Tadashi. Ia ingin menunjukkan kalau Reina pasti menjebaknya. Tapi Agika malah marah seperti ini.
"Hei! Tunggu!"
Hideki berhasil meraih lengan Agika. Menariknya ke tubuhnya dan langsung mendekap gadis itu sebelum ia pergi lagi. Agika terkejut. Ia langsung mendorong Hideki agar melepaskannya.
"Lepaskan aku!"
"Jangan bersikap seperti ini padaku!"
"Kau ingin aku bersikap seperti apa?! Kau tidur dengan wanita itu dan aku harus bersikap biasa saja seolah-olah tak terjadi apa-apa? Kau kira aku …"
Agika belum selesai bicara tapi bibir Hideki menguncinya. Ia mencium Agika sebelum gadis itu sempat lepas dari dirinya. Mencengkeram kuat lengan Agika, sebelum ia mendorongnya lagi.
Agika yang merasakan bibir dingin Hideki membuat jantungnya berdegup kencang seperti biasa. Tangannya sempat merasakan cepatnya detak jantung pria itu juga. Tapi buru-buru Agika melepaskan tangannya ketika foto-foto mesra Hideki dan Reina terlintas di otaknya. Ia mendorong Hideki lalu menamparnya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Hideki. Ia terkejut tapi wajah merah Agika yang marah membuatnya tak bisa protes lagi. Dalam satu waktu, Agika sudah menampar dua orang yang membuatnya kesal. Agika berusaha mengusap bibirnya. Menghapus jejak ciuman yang baru saja Hideki lakukan. Masih terasa jelas ciuman hangat Hideki disana.
"Kau keterlaluan! Apa kau mencium semua wanita yang kau sukai?"
Hideki sadar ia sudah melakukan kesalahan. Mencium wanita yang dicintainya saat hubungannya memburuk bukanlah hal bagus. Ia segera mendekati gadis yang sedang menangis itu, tapi Agika menampik tangannya.
"Jangan menyentuhku!" Teriak Agika.
Agika menatap Hideki yang masih ingin menenangkannya. Kali ini sorot mata Agika benar-benar menunjukkan kemarahan. Mata indah Agika menurun menelusuri tubuh Hideki dari atas hingga ujung kakinya. Seketika ia teringat kata-kata Reina yang bicara soal tubuh sempurna pria ini saat di ranjang. Agika tak bisa membayangkan apa saja yang Hideki lakukan dengannya. Perasaannya begitu emosional sejak wanita itu datang. Dan ia masih tak bisa mengontrolnya ketika bertemu Hideki. Ia terpancing.
"Kau hanya mempermainkanku."
"Siapa yang mempermainkanmu? Aku tidak …"
Hideki mencoba menyentuh Agika lagi tapi gadis yang sudah berurai air mata itu langsung menarik lengannya.
"Aku tak mau disentuh oleh pria yang sudah tidur dengan wanita lain." Kata Agika dingin.
"Astaga! Kau tidak percaya padaku?!"
"Kau sangat menjijikkan, Hideki. Jangan temui aku lagi."
"Apa? Tunggu! Agika!"
Agika tak menjawab. Ia hanya mengusap air matanya lalu langsung berlari pergi dan segera naik bus begitu bus sudah berhenti di halte pinggir jalan. Hideki mematung melihat Agika pergi. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Agika tak mau bertemu dengannya? Bagaimana Hideki bisa tidak bertemu dengannya? Bagaimana ia harus jauh dari Agika saat ia hampir menikahinya?
"Kau mencium gadis yang sedang sakit hati padamu? Jelas saja ia marah dan menamparmu." Kata Tadashi tenang.
"Diam kau. Ukh …"
"Tuan muda?!"
Kepala Hideki tiba-tiba terasa sakit lagi. Hideki mencengkeram kepalanya yang terasa seperti disengat listrik itu. Tubuhnya bertumpu pada meja di sampingnya. Tadashi yang melihat tuan mudanya tidak beres segera berlari mendekat. Terlihat wajah pria itu memucat.
"Kau sudah memeriksakannya, kan? Apa katanya?" Tanya Tadashi panik.
"Aku hanya pusing."
"Pusing? Tidak. Mana hasil CT-scannya?"
"Ku bilang aku hanya pusing."
"Pusing apanya?! Akhir-akhir ini kau terus sakit kepala dan …"
"Tadashi, bisakah kita berhenti membicarakan ini? Ukh … pusing sekali."
"Tuan muda!"
Hideki menahan kepalanya yang terasa sakit. Tadashi membantunya duduk agar ia sedikit tenang. Tadinya ia menemani Hideki ke rumah sakit dekat sini untuk melakukan beberapa pemeriksaan sekaligus melakukan CT-scan karena akhir-akhir ini ia sering mengeluh pusing dan sakit di kepalanya. Tadashi khawatir trauma lamanya kambuh lagi. Tapi tuan mudanya hanya bilang pusing biasa? Jelas-jelas ia terlihat kesakitan seperti dulu.
"Apa yang terjadi dengan Agika? Kenapa ia …"
"Nona Agika bertengkar dengan nona Reina di kafe itu. Sampai ribut sekali." Kata Tadashi serius.
"Bertengkar?"
Hideki melirik Tadashi. Ia terlihat terkejut. Setahunya Agika hanya pernah bertemu sekali dengan wanita itu. Bagaimana bisa mereka bertengkar?
"Sepertinya nona Reina sengaja memancing kemarahannya. Makanya nona Agika bersikap seperti itu padamu."
"Apa yang dikatakannya?"
"Akan kuceritakan nanti. Sekarang yang paling penting adalah kondisimu. Kepalamu sakit. Kita pulang sekarang."
Tadashi segera memapah Hideki kembali ke mobil untuk istirahat. Sebenarnya wajar jika ia pusing. Pria itu terlalu banyak pikiran dan pekerjaan akhir-akhir ini. Ditambah skandalnya tidur dengan wanita itu membuat semuanya makin pelik. Tapi Tadashi tak mau ambil resiko terburuk. Hideki sudah terlibat di perusahaan ayahnya. Bahkan sudah dipercaya sebagai direktur, meski belum menjabat sebagai CEO. Tadashi harus mengawasi tuan mudanya agar traumanya tidak kambuh lagi. Atau itu akan mempengaruhi perusahaan. Lebih parah lagi, presdir sudah pasti akan marah besar padanya.
💜💜💜