Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 11



Pagi ini aku sudah dipusingkan oleh dua orang laki-laki yang sudah menungguku di depan rumah. Aku biasanya berangkat sekolah dengan Kazuma. Kali ini ada seorang laki-laki lagi yang menjemputku. Aku cukup terkejut ia membuat perubahan besar begini. Hideki mau berangkat sekolah denganku? Melihat wajah tampannya pagi-pagi begini seharusnya membuat hariku jadi semangat, tapi hubungan Kazuma dengannya sepertinya tak terlalu baik. Sejak aku belum muncul, mereka sudah berdebat. Pagiku sepertinya akan memburuk.



“Menjemput Agika adalah kebiasaanku. Kenapa kau kesini?!” Tanya Kazuma kesal.



“Aku juga ingin berangkat dengannya.” Kata Hideki dingin.



“Apa?!”



“Aku dan Agika satu sekolah. Kau tak perlu menjemputnya lagi.”



“Apa-apaan kau ini?! Dasar brengsek! Sebaiknya kau dipukuli saja waktu itu. Aku tak perlu menolongmu!” Kazuma makin kesal. Ia mengepalkan tangannya menahan marah.



“Kau menyesal?” Hideki meliriknya tak peduli.



Aku hanya tersenyum tanpa ekspresi melihat mereka beradu mulut. Kazuma kelihatan sangat kesal dan ingin memukul Hideki tapi Hideki menanggapinya dengan cuek dan dingin. Aku tahu mereka tak sungguh-sungguh saling kesal begitu. Setelah Kazuma mengantar Hideki pulang aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka sampai seakrab ini. Padahal aku yang mengenalnya lebih lama saja sulit mendekati Hideki. Mungkin karena sesama laki-laki.



“Sudah sudah. Ayo berangkat.” Kataku pada mereka.



“Ayo, Agika!”



Kazuma menggenggam tanganku dan menarikku menjauh dari Hideki. Ia berjalan duluan tanpa peduli. Ia benar-benar kesal. Tapi Hideki langsung menahanku. Ia meraih lenganku.



“Kau pergi denganku.” Katanya dingin.



“Hei, lepaskan tanganmu dari Agika!” Kazuma menimpali.



“Tidak.”



“Kau mau ku pukul, hah?!”



“Kau ingin berkelahi?”



Kazuma menghampiri Hideki dengan muka kesalnya yang malah kelihatan lucu. Sebelum mereka bertengkar makin parah dan orang lain melihat kejadian ini aku harus menahan mereka. Aku tarik Kazu menjauh dari Hideki.



“Kazu, sudah. Nanti kita telat.” Kataku.



“Kau ingin pergi dengannya atau denganku, Agika?” Tanya Kazuma



“A .... Aku akan pergi dengan kalian berdua. Kita bisa pergi bersama kan?”



“Aku tak mau pergi dengannya.” Kata Hideki.



“Hei, pria payah! Memangnya siapa yang mau pergi denganmu?!” Kazuma membalasnya.



“Siapa yang kau sebut payah?”



Aku mulai tak tahan dengan pertengkaran mereka. Mereka seperti anak kecil yang berebut permen. Tak memikirkan kalau ini bisa menjadikan kita telat ke sekolah. Karena memberitahu Kazuma sudah tidak bisa, kini aku mengalihkan pandanganku pada laki-laki tampan ini.



“Hideki, jangan bertengkar lagi, oke? Kita berangkat sama-sama ya.” Kataku lembut.



Hideki menatapku lalu memalingkan wajahnya dariku. Ia tak lagi menatap Kazuma dengan tajam. Tanpa berkata-kata lagi, ia segera berangkat sambil menarik lenganku. Kazuma sudah pasti tidak rela pria tampan itu mencuri start dahulu. Kazu mulai mengamuk lagi tapi Hideki tak mempedulikannya.



“Hei! Apa yang kau lakukan, Hideki? Lepaskan tanganmu dari Agika!”



“Hari ini dia milikku.”



“Brengsek! Kemari kau! Biar ku pukul sampai babak belur.”



Kazuma terus mengumpat sepanjang perjalanan mengejar kami. Sedangkan aku memperbaiki wajahku yang malu karena ucapan Hideki. Aku miliknya? Kenapa ia bicara yang aneh seperti itu? Tunggu, kenapa ia tiba-tiba mau berangkat sekolah bersama?




“Ya.”



Aku perhatikan wajah tampannya. Ah lebam di wajahnya kemarin sudah hilang. Ku pikir itu tak akan begitu cepat hilangnya. Aku bahkan sudah memikirkan kalau nanti teman-teman dan guru Oshin akan bertanya-tanya atau mengira Hideki habis berkelahi.



Aku langsung berhenti dan menyentuh wajahnya dengan lembut. Dia membiarkan aku menyentuhnya, tak menolakku lagi. Aku ingin memastikan kalau memang sudah tidak ada bekas pukulan. Sekaligus penasaran kenapa bisa hilang cepat sekali.



“Lebamnya sudah tidak ada.” Kataku.



“Tadashi yang mengobatiku semalam.”



“Syukurlah, wajahmu kembali terlihat tampan.”



“Apa?”



Aku mengatakannya. Bodohnya aku. Lagi-lagi aku tak bisa mengontrol bibirku. Aku langsung melepas tanganku dari wajahnya. Tapi sentuhan tangan dan kata-kataku malah membuatnya membatu. Hideki kelihatan malu. Aku lebih malu lagi.



“Ma .... Maksudku, aku bersyukur ternyata dokter Tadashi tidak jahat.” Kataku terbata-bata.



“Tadashi dokter pribadiku. Dia satu-satunya orang yang ku percayai di mansion.”



“Ma .... Mansion? Kau tinggal di mansion?” Kali ini Kazuma yang terkejut. Ia sudah bisa mengejar kami.



Kazuma sedikit kaget. Dia menyebut mansion. Itu artinya rumah besar. Ah kalau di luar negeri biasanya rumah berbentuk istana atau kastil. Benarkah Hideki tinggal di mansion? Dia benar-benar orang kaya raya.



“Ya. Di Jerman.”



“Padahal kemarin ku lihat rumahmu disini biasa saja. Tidak besar.” Lanjut Kazuma.



“Itu hanya rumah yang di sewa kakakku agar lebih dekat ke sekolah. Masih ada rumah lainnya. Keluargaku dulu memang tinggal disini.”



“Wah, ternyata kau benar-benar seorang tuan muda!” Puji Kazuma dengan suara keras.



“Aku harap kau rahasiakan ini dari semua orang.” Kata Hideki serius.



“Bodoh sekali, kau bisa tinggal di mansion yang besar dan dilayani layaknya tuan muda. Tapi kau memilih pindah kesini hanya karena bertengkar dengan ayahmu?”



“Kau tak mengerti.”



“Bagaimana kau bisa menyelesaikan masalah kalau kau menghindar? Dokter Tadashi tak mungkin menahanmu terus menerus. Lama kelamaan ayahmu pasti kesini mencarimu.”


Hideki tersentak. Wajahnya pucat kembali. Kazuma tak sengaja menyinggung soal ayahnya lagi. Dan reaksi Hideki masih sama. Ia kelihatan ketakutan.



“A .... Ah sudah sudah. Kazu, yang penting rahasiakan identitas Hideki dulu ya? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau orang-orang tahu yang sebenarnya.”



Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Hideki lebih tenang. Biasanya jika disinggung soal ayahnya, itu akan membuat dirinya memburuk. Aku tak mau kepalanya sakit lagi. Kazuma langsung menghela napas.



“Ah, terserah lah.”



“Kau akan tahu akibatnya jika sembarangan bicara soal diriku.” Kata Hideki.



“Kau mengancamku?!” Kazuma mulai kesal lagi.



“Tidak. Aku hanya memberimu peringatan.”



“Memangnya aku takut? Tuan muda?”



Kazuma bicara sambil mengejek Hideki dengan sebutan itu. Ia berusaha menggodanya dengan senyumnya yang menyeringai. Tapi Hideki tak bergeming. Ia mungkin kesal tapi sikapnya masih tetap dingin. Ah aku harus melerai mereka setiap kali mereka bersama.



***