Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 62



Agika berjalan cepat begitu sampai di rumah Hideki yang bak istana itu. Ia kesana segera setelah mendapat kabar dari dokter Tadashi kalau Hideki sakit. Setelah tahu kalau Hideki dijebak dan tidak bersalah sama sekali, Agika tak mungkin mengabaikannya. Pertunangan itu juga sudah dibatalkan oleh sang ayah.


"Kau ingin menemui Hideki?"


Ayah Hideki muncul dari ruang makan sambil menatap Agika dengan mata birunya. Agika terkaget. Ia memang sedikit takut dengan presdir yang keras itu.


"Bukankah kau sudah putus dengan putraku?"


"A … aku-"


Jika bicara soal putus, hati Agika terasa sakit. Harus ia akui, ia menyesal mengatakan itu tanpa berpikir dulu. Waktu itu ia benar-benar sedang emosi. Apalagi Reina menyulut kemarahannya. Ia jadi tak bisa membedakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Saat ini ia hanya berharap Hideki masih mau memaafkannya.


"Kamar Hideki ada di lantai atas."


Setelah diam cukup lama, akhirnya ayah Hideki melepasnya. Meski sambil memalingkan tubuh, itu sudah membuat Agika merasa lega. Artinya Agika mendapat izin mengunjungi Hideki.


"Terima kasih, tuan Matsuda."


Gadis itu setengah berlari menaiki tangga menuju kamar Hideki. Ia langsung menuju ke kamar besar dengan pintu terbuka. Masuk ke dalam kamar yang didominasi dengan warna putih. Ia melihat Hideki terbaring di tempat tidurnya. Dokter pribadinya juga ada disana. Agika segera menghampirinya.


"Hideki."


Agika bisa melihat Hideki yang tidur tapi terus mengerang. Ia memegangi perutnya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan berkeringat. Agika menyentuh kening pria lemah itu. Terasa hangat.


"Tuan muda demam tinggi semalam. Sepertinya sekarang bertambah sakit maag." Jelas Tadashi.


"Maag?"


"Hampir setiap hari tuan muda lembur bekerja sampai malam. Makannya jadi tidak teratur. Ia bahkan sering absen makan malam."


Agika heran. Apa pekerjaan di perusahaan begitu banyak hingga ia harus lembur setiap hari? Hideki seorang direktur, seharusnya ia tak sesibuk itu. Apa ayahnya yang memaksanya? Bahkan sampai maag begini.


"Dokter, apa kau sudah memberinya obat? Membawanya ke rumah sakit?"


"Saya sudah memeriksanya. Tapi ia tak mau minum obat. Tuan muda juga menolak dibawa ke rumah sakit. Makanya saya meminta nona Agika kesini."


"Apa Hideki sudah makan?"


"Belum, nona."


"Dimana dapurnya?"


"Silakan ikut saya, nona."


Hanya butuh waktu satu jam untuk membuat sup jagung. Gadis itu menduplikat masakan buatan ibunya saat ia sakit. Ia berharap Hideki juga menyukainya. Begitu matang, Agika langsung membawa satu mangkuk sup ke kamar Hideki.


Mata Agika fokus berjalan membawa semangkuk sup. Ia melihat ayah Hideki sedang di ruangan yang penuh rak buku. Agika sempat bingung. Ia ingin mengabaikannya tapi rasanya tidak sopan sekali. Karena presdir itu menyadari kalau Agika memperhatikannya, gadis itu akhirnya angkat bicara.


"Tu … tuan Matsuda." Sapa Agika gugup.


"Hm?"


"Aku membuat sup di dapur. Kalau anda mau, akan aku siapkan …"


"Tidak perlu. Aku bisa mengambilnya sendiri. Kau urus saja putraku."


"Eh? B … baiklah."


Agika menunduk lalu berlalu begitu saja. Yang penting ia sudah mencoba bersikap baik. Ayah Hideki sepertinya mulai melunak. Ia bahkan meminta Agika mengurus Hideki yang sakit. Apa itu artinya ia membolehkan Agika berhubungan dengan Hideki?


Agika meletakkan sup jagung itu di meja dengan pelan-pelan. Hideki masih tidur. Untung saja ia sudah berhenti mengerang dan lebih tenang. Agika menyentuh kening pria tampan itu.


"Demamnya tidak turun juga. Dia butuh plester penurun panas." Gumam Agika.


Agika mengambil plaster lalu membukanya. Ia menempelkannya ke kening Hideki dengan hati-hati. Tak sadar sentuhannya ternyata membuat Hideki terbangun. Pria itu membuka matanya yang terasa berat.


"Ah …"


"Hideki, kau sudah bangun? Apa aku mengganggu tidurmu?"


Mata sayu Hideki masih berusaha memperjelas wajah siapa yang ada di hadapannya. Kepalanya pusing, tubuhnya sakit semua, perutnya sejak tadi terasa perih sekali. Ia pikir dengan bekerja overtime dapat membuatnya melupakan semua masalahnya tapi ternyata ia malah ambruk begini.


"Hideki."


Hideki sedikit kaget saat gadis di hadapannya ini memanggilnya lagi. Suaranya sangat familiar di telinganya. Dan ketika matanya mulai bekerja dengan baik, Hideki melihat Agika. Wajah yang ia rindukan selama ini.


"Agika?"


"Ya. Ini aku." Jawab Agika sambil tersenyum.


Hideki masih tak percaya gadis manis itu ada di rumahnya. Ia mencoba bangun dan membiarkan Agika membantunya duduk. Kepalanya masih terasa berputar-putar. Tapi ia sama sekali tak bermimpi. Agika benar-benar di sini.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Agika.


"Kenapa kau bisa ada disini?"


"Kau tidak jadi pergi?"


"Aku tidak akan pergi."


Dalam hati, Hideki memang merasa lega karena Agika tak jadi berangkat ke Singapura. Tapi bagaimana soal hubungan mereka sekarang? Hideki masih terdiam. Membuat Agika bingung harus bicara apa lagi.


"A … aku tak sanggup pergi kalau kau sakit. Aku khawatir padamu."


"Aku tidak apa-apa."


Hideki menunduk mengusap wajahnya. Agika bisa melihat jelas wajah tampannya pucat karena sakit. Tapi sejak tadi mereka hanya tanya jawab saja karena canggung. Setelah putus, mereka sama sekali tak berkomunikasi lagi. Makanya sikap Hideki juga jadi aneh begitu. Agika merasa harus memperbaiki ini.


"Hi … Hideki, maafkan aku." Kata Agika memulai.


"Hm?"


Kali ini Hideki menoleh pada gadis ini. Ia melihat Agika yang kini menunduk. Wajahnya terlihat sedih dan malu.


"Harusnya aku percaya padamu. Harusnya aku tidak marah begitu saja dan meninggalkanmu. Aku bahkan bicara hal yang menyakitkan. Aku … aku sangat menyesal."


Suara Agika bergetar. Ia bahkan hampir menangis. Ia merasa sangat bersalah atas semua ia tuduhkan pada Hideki. Setelah mendengar penjelasan dari dokter Tadashi, ia benar-benar ingin Hideki memaafkannya.


"Kau sudah mendengarnya dari Tadashi?"


Agika hanya mengangguk. Sedangkan Hideki menghela napas lega.


"A … apa kau mau memaafkanku?"


Hideki melirik Agika yang masih menunduk. Gadis itu meneteskan air matanya karena sedih. Hideki bisa melihat wanita ini tulus ingin meminta maaf, tapi Hideki mengharapkan hal lain juga.


"Hanya maaf?"


"Aku … aku juga ingin memperbaiki hubungan kita. Aku ingin kita kembali bersama lagi. Aku benar-benar menyesal."


Suasana terasa hening sekian detik. Agika bahkan mengira Hideki masih marah padanya. Ia baru akan melanjutkan bicaranya tapi Hideki langsung menarik lengan Agika hingga Agika jatuh dipelukannya.


"Aku hanya ingin mendengar ini." Ucap Hideki.


"Maafkan aku. Hiks!"


Agika memeluk punggung Hideki makin erat. Pria itu membalasnya dengan hal serupa. Agika lepaskan seluruh kesedihannya. Ia membenamkan dirinya di pelukan pria itu dan menangis bahagia. Bahagia karena ia bisa bersama Hideki kembali.


Hideki melepas pelukannya saat Agika sudah tenang dan berhenti menangis. Wajah gadis manis itu memerah. Ia terlihat sedikit malu tapi itu malah membuat Hideki ingin menciumnya. Hideki mendekatkan wajahnya pada Agika.


"Jangan berniat meninggalkanku lagi. Aku bisa gila tanpamu." Ucap Hideki.


Agika mengangguk. Ia menyambut ciuman Hideki yang hangat itu. Hanya ciuman ringan, hingga perlahan Hideki meraih kepala Agika dan memperdalam ciumannya. Agika bisa merasakan gairah Hideki yang mulai naik.


Hideki melepas ciumannya. Napasnya memberat. Sekian hari ia tak menyentuh Agika, rasanya bibir gadis itu menjadi berkali-kali lebih manis. Agika memang selalu bisa membuatnya bergairah begini.


Pria itu bersiap untuk mencium lagi, Agika memejamkan matanya.


"Ukh!"


"Hi … Hideki?!"


Belum sempat ciuman kedua itu terjadi tapi perut Hideki kembali terasa perih. Ia melepas Agika lalu merintih memegangi perutnya.


"Sakit. Uh …" Rintih Hideki.


Agika hampir tak ingat kalau Hideki sedang sakit maag. Ia langsung membantu Hideki bersandar di kepala ranjang. Wajah Hideki memucat lagi. Tubuhnya sedikit bergetar.


"Kau belum makan, kan? Aku sudah buatkan sup untukmu."


Gadis manis itu bicara sembari menyiapkan sup jagung yang sudah tidak terlalu panas. Ia mengambil mangkuk itu dan menyuapi Hideki. Hideki tak mungkin menolak makan kalau Agika yang menyuapinya.


"Bagaimana? Apa enak?" Tanya Agika.


"Ya. Enak sekali."


"Syukurlah. Ini pertama kalinya aku memasak sup untukmu." Kata Agika sambil tersenyum. Hideki menatapnya dalam. Ada hal yang belum ia sampaikan padanya.


"Kau mau memasak untukku setiap hari?"


"Haha. Kalau kau menyukainya, aku akan buatkan lagi. Sekarang kau habiskan yang ini dulu."


Hideki menatap Agika yang malah sibuk menyuapinya. Kelihatannya Agika senang sekali karena Hideki mau makan lahap. Tapi ia tak tahu kalau pria itu sedang mengkodenya. Hideki ingat kalau ia punya sesuatu yang belum ia berikan pada gadis ini.


"Kalau begitu menikahlah denganku."


"Eh? Apa?"


"Agika, menikahlah denganku."