
Hideki baru saja selesai mandi. Ia berjalan ke halaman belakang rumah. Cukup sulit berjalan dengan kruk seperti ini. Ia bosan di kamar. Apalagi di jaga oleh anak buah ayahnya 24 jam membuatnya tak bebas. Beruntung ia masih boleh berkeliling di rumahnya yang besar. Tentu saja boleh, ayahnya tahu ia tak mungkin bisa melarikan diri dengan kaki seperti itu.
Hideki duduk di kursi panjang. Beberapa pelayan mengikutinya. Ia butuh bantuan pelayan untuk merenggangkan kaki kanannya yang masih sakit. Ah suasana di depan halaman ini sangat tenang. Persis seperti yang ia butuhkan.
“Biar ku bantu mengganti perbanmu, tuan muda.”
“Ku keringkan rambutmu ya.”
“Aku akan ambilkan baju ganti. Tunggu sebentar, tuan muda.”
“Apa kau ingin sesuatu, tuan muda?”
Begitulah pelayan-pelayan melayaninya. Ah, menjadi tuan muda memang sangat enak. Ia dilayani bak pangeran. Ia dapatkan semua yang ia inginkan.
“Ambilkan aku segelas susu hangat.” Jawabnya.
“Baik, tuan muda.”
Tapi Hideki merasa semuanya hampa. Sedari kecil ia begini. Ia tak merasa bahagia. Ia malah tertekan karena ayahnya selalu membatasinya. Ia baru mendapat perasaan baru saat datang kemari. Saat bersama teman-temannya. Saat bersama Agika.
“Ah ....” Hideki mendesah.
“A .... Ada apa, tuan muda?”
“Bisakah kau sambil memijit kepalaku? Aku sedikit pusing.” Kata Hideki pada pelayannya.
“B .... Baik.”
“Pelan-pelan saja.”
Jika bicara soal gadis yang sudah mencuri hatinya itu, kepalanya selalu terasa sakit. Apalagi setelah Agika menolak perasaannya. Wajar memang, tapi Hideki masih tak mengerti kenapa sikap Agika berubah. Berkali-kali ia mencoba minta kejelasan tapi gadis itu tetap pada pendiriannya. Sejak saat kecelakaan itu, akhirnya Hideki menyerah.
“Ah, kau di sini.”
Hideki tak menoleh. Dari suaranya saja, ia tahu siapa yang datang. Kakaknya yang baru pulang kerja itu langsung duduk di sampingnya.
“Tumben kau mau keluar kamar.” Kata Ayashi.
“Ada apa?” Tanya Hideki.
“Hei, kenapa kepalamu?” Tanya Ayashi sambil menatap pelayan yang memijit kepala adiknya.
“Sedikit pusing.”
Ia beralih menatap wajah tampan adiknya. Benar kata ayah, kalau memikirkan soal Agika yang menjauhinya, ia jadi sakit kepala. Dan hampir setiap hari Hideki merasakan sakit. Berarti ia masih terus memikirkan gadis itu. Baru kali ini Ayashi melihat adiknya benar-benar menyukai seorang gadis. Kasihan sekali. Ayahnya bahkan sampai mengunci perasaan cinta Hideki.
“A .... Aku dengar ayah akan mengirimmu ke Jerman.” Kata Ayashi ragu.
“A .... Apa?”
Hideki sangat terkejut sampai pelayan yang memijit kepalanya ketakutan. Hideki langsung memberi kode pada semua pelayannya agar pergi setelah melakukan tugasnya. Ia ingin bicara berdua dengan kakaknya.
“Jadi ayah memang tak bicara dulu padamu? Ayah bilang kau sering sakit kepala lagi, jadi dia bermaksud membawamu kembali ke Jerman dan menyembuhkanmu di sana.”
Hideki hanya diam. Ayashi bahkan sampai berpikir sakitnya kambuh. Ia sudah salah membahas ini saat ini.
“Hideki, kau seperti ini karena masalahmu dengan Agika?” Tanya kak Ayashi lagi.
“Aku yang tak bisa menerimanya.”
“Eh?”
“Padahal wajar jika Agika menolakku. Aku selalu merasa Agika menyukaiku. Ternyata selama ini ia hanya kasihan padaku.”
“Hideki ....”
“Mungkin memang sebaiknya aku kembali ke Jerman. Aku akan mudah melupakannya.”
Ayashi langsung menatap Hideki lama. Aneh. Ia berniat kabur ke sini dan tidak mau kembali ke Jerman. Tapi semenjak ia dan Agika bertengkar, semenjak cintanya ditolak oleh gadis berambut coklat itu, ia pasrah dibawa ke Jerman begitu saja? Apa ia sudah ikhlas dengan jawaban Agika? Melihat ekspresi wajah tampannya sekarang, sepertinya ia hanya menyerah.
“Jika ayah menyuruhmu kembali ke Jerman, kau akan pergi?”
“Ya.”
Adiknya benar-benar sedang putus asa. Biasanya ia sangat menentang keputusan ayahnya yang seenaknya. Sekarang ia benar-benar sudah menyerah. Beginikah efek dari putus cinta? Kasihan sekali.
“Hi .... Hideki, boleh aku tanya suatu hal?”
“Hm?”
“Kau sangat yakin Agika menolakmu karena ia tidak menyukaimu?”
“Ia sendiri yang mengatakannya.”
“Bagaimana kalau itu bukan perasaannya yang sebenarnya?”
“A .... Apa maksudmu?”
Ayashi sedikit canggung. Ia ingin sekali bicara yang sebenarnya tapi jika Hideki tahu ia pasti akan mengamuk pada ayahnya. Ayashi tak bisa memperkiraan apa yang terjadi selanjutnya. Tapi ia juga tak mau melihat Hideki seperti ini. Mungkin sakit kepalanya akan sembuh di Jerman tapi perasaannya tidak.
“Kau bisa berjanji akan menyikapi ini dengan kepala dingin?” Tanya Ayashi memastikan.
“Soal apa?”
“Agika sangat menyukaimu. Gadis itu benar-benar tulus. Ia selalu khawatir dan peduli padamu. Aku bisa melihatnya “
“Tidak. Ia membenciku.”
“Semua yang ia katakan padamu itu bohong. Ia melakukannya agar kau menjauh. Ayah yang menyuruhnya melakukan ini.”
“A .... Apa?”
“Aku tak ingin mengatakan ini. Aku tak mau kau bertengkar dengan ayah lagi. Tapi aku juga tak bisa melihatmu menderita dan kembali ke Jerman. Bagaimanapun kau adikku, kau satu-satunya saudara yang aku punya. Jangan bertengkar dengan ayah. Kau mengerti?”
“Ini sangat keterlaluan!”
“Hideki, sudah ku bilang ....”
“Aku benci padanya!"
Hideki bangun susah payah. Ia berjalan pelan dengan kruknya tanpa bicara apapun. Ia kelihatan geram. Benar kan? Hideki pasti marah dengan ayahnya. Ayashi merasa salah sudah menceritakan ini tapi ia juga tak bisa melihat Hideki menyerah. Ayahnya belum pulang, tapi Ayashi tahu jika mereka bertemu, ini akan jadi masalah besar. Ayashi harus mengendalikan salah satu dari mereka.
***
“Hideki. Ah di sini kau rupanya.”
Ayah Hideki akhirnya pulang. Ia mencari Hideki dan menemukannya di balkon lantai atas. Ia sedang memandangi langit yang mulai gelap. Hideki hanya melirik.
“Aku tak mau kembali ke Jerman.”
“Kau tak punya hak untuk menolak.”
“Berhenti mengaturku!”
Hideki akhirnya emosi. Suaranya meninggi. Ia marah. Ia sudah simpan itu sejak tadi sore. Ia hanya menunggu ayahnya pulang untuk membicarakannya. Tak disangka ayahnya malah sudah memesankan tiket untuknya.
“Kau selalu egois! Selalu seenaknya padaku! Aku sudah menahannya sejak lama. Aku tak mau lagi jadi bonekamu!”
“Kau mau memberontak?”
Ayahnya berjalan pelan. Ia mendekat pada Hideki. Meski Hideki sudah naik darah, ayahnya masih bersikap tenang. Ia sudah biasa menghadapi Hideki yang seperti ini.
“Kau lihat apa jadinya kalau kau memberontak? Lihat kakimu! Lihat dirimu!” Kata ayah Hideki.
Mendengar pertengkaran Hideki dan ayahnya, Ayashi langsung naik ke lantai atas. Tadashi juga mengikutinya dari belakang. Di sana ia sudah melihat ayah dan anak laki-lakinya yang saling menatap tajam.
“Apa alasanmu di sini? Bukankah gadis itu sudah menolakmu?” Tanya ayahnya.
“Kau ....”
Hideki langsung menarik kerah kemeja ayahnya. Tak peduli meski ia masih memakai kruk. Ia sangat kesal. Kelihatan sekali mata biru itu menantang ayahnya. Ayashi harus melakukan sesuatu atau ini akan semakin tak bisa dikendalikan.
“Beraninya kau melibatkan Agika. Kau yang menyuruh Agika menghindariku kan?! Katakan padaku!” Teriak Hideki.
“Kau mulai bergantung padanya? Seorang pewaris perusahaan tak butuh seorang gadis seperti itu. Kau cukup menurut padaku.”
“Kau benar-benar keterlaluan!”
Hideki melepas ayahnya. Percuma. Ayahnya sangat keras kepala. Ia tak akan mudah luluh. Apalagi Hideki juga bersikap sama kerasnya. Ayashi langsung menghampiri Hideki.
“Hideki, sudah. Tenanglah.” Kata kak Ayashi lembut.
“Kembali ke kamarmu dan kemasi barang-barangmu. Besok kau harus pulang.” Perintah ayahnya sambil pergi.
“Sudah ku bilang aku tak akan pulang! Jangan memaksaku. Ukh!”
Tiba-tiba Hideki sempoyongan. Kepalanya sakit lagi. Ayashi dan Tadashi segera membantunya berdiri. Tapi Hideki langsung menolak.
“Lepaskan.” Kata Hideki pelan.
“Tuan muda.”
“Aku sudah muak tinggal di sini.”
“Tuan muda, kau mau kemana?”
“Kalau kau berani melangkah lagi, aku akan bertindak.” Ayahnya berhenti dan mengancamnya.
“Terserah!”
Hideki masih menentang ayahnya meski ia tak benar-benar bisa berjalan dengan kruk itu. Lagi pula kepalanya sudah pusing sejak tadi. Sekarang bertambah sakit. Tapi ia tetap tak mau menyerahkan diri pada ayahnya. Ia tak mau kembali ke Jerman.
Ayahnya langsung mengangkat tangannya memberi kode, hingga anak buahnya datang. Mereka menghadang Hideki yang berniat pergi. Pria tampan itu makin naik darah.
“Kau akan mengurungku lagi?!”
“Itu kata-kata yang kejam. Tapi aku akan melakukannya jika kau masih bersikeras pergi.” Kata ayahnya tenang.
“Singkirkan anak buahmu dariku!”
Ayah Hideki masih diam. Ayashi mendekati ayahnya. Ia berharap ayahnya mau menurunkan egonya sedikit. Lagipula Hideki sedang sakit.
Melihat ayahnya tak bertindak apapun, Hideki makin kesal. Ia berteriak lagi.
“Kau sangat egois! Biarkan aku pergi!”
“Tidak.”
“Kau .... Ukh!”
Hideki tersentak. Kepalanya makin sakit. Ia mencengkeram kepalanya. Pandangannya mulai kabur hingga ia tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Ia hampir jatuh. Ayashi menahan tubuh adiknya yang terjatuh. Kruknya juga lepas dari tangannya. Tadashi langsung membantu.
“Hideki, kau tidak apa-apa?!” Tanya Ayashi.
“Ah ....” Hideki merintih.
Hideki terus mencengkeram kepalanya. Lagi dan lagi. Ia selalu kesakitan seperti ini. Traumanya benar-benar kembali.
“Tadashi, cepat lakukan sesuatu!”
“A .... Aku sudah mengantarnya ke psikiater. Ia juga sudah minum obat. Tuan muda harusnya baik-baik saja.”
“Tapi ia kesakitan. Tadashi ....”
“Agika ....” Panggil Hideki lirih.
“Eh? Apa?”
“Aku ingin .... Agika ....”
Benar dugaan Ayashi. Setelah tahu kalau ini semua dilakukan oleh ayahnya, tentu saja Hideki menginginkan Agika lagi. Ia kembali menentang ayahnya. Ia tak mungkin mau pulang ke Jerman. Ia pasti ingin menjelaskannya pada agika. Makanya ia ingin pergi. Tapi kondisinya tak memungkinkan.
“Bawa ia ke kamarnya. Kunci pintunya. Ia harus berangkat ke Jerman besok.” Perintah ayah Hideki pada anak buahnya.
“Ayah! Ayah tak berhak memperlakukan Hideki begini. Ia sedang sakit!” Protes Ayashi.
“Tadashi akan merawatnya.”
“Ayah, tapi ....”
“Jangan melawanku, Ayashi! Kau tak mau aku melakukan itu juga padamu kan?”
“Eh?”
“Cepat bawa putraku ke kamarnya!”
“B .... Baik, direktur.”
Anak buah ayah Hideki langsung merebut tubuh Hideki dari Ayashi dengan paksa. Hideki tak bisa menolak lagi. Ia sudah tak berdaya dengan sakit di kepalanya. Ia biarkan tubuhnya dibopong oleh anak buah ayahnya begitu saja. Ayashi dan Tadashi juga tak bisa melindunginya jika ayahnya sudah bicara begitu.
***