Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 43



Hideki bersama dokter pribadinya sampai di rumah ketika waktu makan malam. Akhirnya Hideki merelakan dirinya ikut rapat penting dan tidak menjemput Agika hari ini. Rasanya lelah sekali dan tak ada obatnya. Hideki hampir menyesal sudah lembur di kantor. Menjemput Agika memang pilihan terbaik untuk lepas dari pekerjaan membosankan ini.


"Selamat datang, tuan muda dan dokter Tadashi."


"Bawakan tasku."


"Baik, tuan muda."


Dua orang pelayan datang sambil membungkukkan badan menyambut mereka pulang. Mereka membawakan tas kerja dua pria ini. Tadashi langsung menuju kamarnya di lantai bawah.


"Ah, lelah sekali, aku ingin segera mandi. Tuan muda, kau istirahatlah." Katanya sambil menguap.


Hideki tak menjawab dan langsung berjalan menuju tangga diikuti pelayannya. Ia masih kesal dengan Tadashi yang tak menanggapi rencananya menikahi Agika. Ia malah kelihatan syok dan kebingungan. Apa itu artinya Tadashi tidak setuju? Dokter itu selalu punya alasan. Dan alasan terbesarnya kemungkinan adalah bos besarnya.


"Tuan muda, anda mau kemana?" Tanya pelayan.


"Istirahat."


"Ta … tapi, presdir ingin bicara dengan anda."


"Aku akan menelponnya besok."


"Tuan muda …"


Hideki tak peduli. Ia memang mematikan handphonenya sejak rapat. Lagian apa ayahnya tak punya kerjaan di Jerman hingga ia ingin menelpon jam segini? Hideki berjalan pelan menaiki tangga. Rasanya tubuhnya cepat-cepat ingin berbaring.


"Kau selalu mengabaikanku."


Langkah Hideki terhenti saat ia mendengar suara ayahnya di rumah. Ia langsung menoleh. Tadashi yang sudah hampir masuk ke kamar pun ikut menoleh. Ayah Hideki sudah muncul di bawah tangga. Ia berjalan dari arah ruang makan. Hideki terkaget. Ia pikir ayahnya sedang di Jerman. Ternyata pria tua itu menyusul ke sini.


"Aku sudah lama menunggumu." Kata ayahnya.


"Untuk apa?" Tanya Hideki.


"Makan malam. Sudah jam berapa ini?"


"Untuk apa kau kesini?"


"Ini rumahku. Aku bebas ke sini kapan saja."


"Kau memintaku mengurus perusahaan agar dirimu bisa jadi pengangguran sekarang?"


"Aku memang sudah tua. Wajar jika aku sudah tidak aktif lagi sebagai CEO."


Ayah Hideki bicara merendah tapi sebenarnya ia sedang menyindir putranya yang sampai saat ini masih menolak jabatan CEO. Hideki dan Tadashi tahu persis maksud perkataannya. Tadashi mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar. Ia menunggu ayah dan anak itu saling bicara. Sedangkan Hideki belum mau turun menemui ayahnya. Ia menatap ayahnya sebentar lalu berbalik.


"Terserah." Katanya dingin.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


"Aku lelah. Aku ingin istirahat."


Hideki berjalan menaiki tangga lagi. Sang ayah menghela napas. Putranya sejak dulu selalu bersikap dingin padanya.


"Kau datang ke pesta direktur Ogawa dengan Agika?"


Langkah Hideki kembali terhenti saat sang ayah menyebut nama pacarnya. Tak disangka selain ayahnya tahu soal pesta, ayahnya juga tahu kalau ia datang bersama Agika. Hal apa saja yang sudah dilaporkan Tadashi pada direktur besar ini? Hideki melirik dokter pribadinya yang ada di lantai bawah. Tadashi hanya tersenyum panik.


"Ya." Jawab Hideki singkat.


"Kenapa harus dengan dia?"


"Agika pacarku. Bukankah itu hal yang wajar?"


"Gadis itu tak ada hubungannya dengan bisnismu. Ku dengar kau juga mengatakan kalau kalian akan bertunangan di depan banyak orang."


"Kau tahu?"


"Tentu saja. Aku tahu semua tentang dirimu."


Presiden direktur itu kembali menatap putranya. Kini Hideki mulai tertarik, ia akhirnya turun pelan-pelan menemui sang ayah. Ia penasaran siapa yang bisa memberitahu sedetail itu pada pria tua ini. Tadashi tak mungkin menyampaikan hal yang tidak penting selain urusan perusahaan, kan?


"Kau bahkan tak mengikuti pestanya sampai selesai." Kata ayahnya lagi.


"Tak ada hubungannya?! Kau tak lihat kalau semua yang datang itu rekan-rekan bisnisku?! Bisa-bisanya kau bicara begitu."


"Kalau begitu bukankah sebaiknya aku tak datang ke pesta itu? Kau sendiri yang memaksaku."


"Berhenti membantah, Hideki!"


Ayah Hideki sudah mengeraskan suaranya dan emosinya mulai meninggi. Tadashi dan pelayan yang ada di sana saja hampir ketakutan. Sudah sekian lama, hubungan ayah dan anak ini masih saja tegang.


Tangan sang presdir sudah mengepal menahan diri untuk tidak memukul anaknya yang masih menatapnya datar. Keadaan sekarang berbeda dengan saat dulu. Ia tak mungkin menghukum ataupun mengurung Hideki seperti dulu lagi. Lagipula Hideki sudah mau mengurus perusahaan. Jadi sang ayah harus lebih sabar.


"Kau harusnya sudah mulai mengerti bagaimana menjalankan perusahaan, menjalin kerjasama dan yang lainnya. Berhentilah membuang-buang waktu mulai sekarang! Kau adalah pewaris perusahaan. Kau akan jadi CEO!"


"Aku tak akan jadi CEO."


"Apa?!"


Ayah Hideki menarik jas kemeja Hideki dan mencengkeramnya. Memaksa putranya melihat ke dalam mata birunya. Ia ingin Hideki tahu kalau kali ini kesabarannya sudah habis. Tapi Hideki masih tak bereaksi apapun.


"Katakan lagi jika kau berani, bocah brengsek!" Ancam sang ayah.


"Aku tak akan jadi CEO."


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Hideki. Tangan ayahnya melepas jas kemeja putranya dengan sentakan. Tadashi dan pelayan yang melihatnya terkejut setengah mati. Presiden direktur itu sudah mulai marah pada putranya. Terlihat sekali ia benar-benar geram. Tapi Hideki tak terkejut, ia sudah mendapatkan perlakuan itu sejak kecil. Ia hanya melirik ayahnya datar.


"Lima tahun apa tak cukup memberimu pelajaran?! Apa karena gadis itu kau melawanku?!" Bentak sang ayah.


"Agika tak ada hubungannya."


"Baiklah! Sekarang jawab aku, kenapa kau bilang akan bertunangan dengannya?"


"Agika pacarku. Wajar jika aku ingin bertunangan dengannya."


Presdir itu berdecak kesal. Melihat mata biru putranya yang bicara dengan tegas membuatnya merasa ini adalah sebuah ancaman. Hideki benar-benar menyukai gadis biasa berambut coklat itu. Ia malah ingin bertunangan. Lima tahun sang ayah memisahkannya dengan segala cara, tapi hubungan mereka malah makin serius.


"Aku bisa mencarikanmu wanita yang lebih baik."


"Tidak. Aku hanya ingin Agika."


"Bodoh! Gadis itu hanya …"


"Kenapa?! Sejak kapan kau mulai mengurusi hubunganku dengan Agika?!" Tanya Hideki marah.


Kali ini Hideki yang meninggi. Ayahnya mulai mencampuri urusan lain selain perusahaan dan Hideki tak suka itu. Ayahnya sendiri yang bilang dan berjanji ia tak akan peduli dengan siapapun wanita yang sedang anaknya dekati.


"Lima tahun aku bersabar. Aku sudah melakukan semua hal yang kau inginkan. Tak bisakah kau menepati janjimu?" Tanya Hideki.


"Kau tak harus bertunangan dengannya!"


Sang ayah masih bersikeras. Hideki tahu ayahnya tak mungkin luluh secepat itu. Sejak lima tahun lalu, Hideki terpaksa kembali ke Jerman karena ia tak punya pilihan lain. Ayahnya akan melakukan apapun untuk memaksanya kembali. Termasuk berurusan dengan Agika. Seharusnya setelah Hideki mau mengurus perusahaan, sang ayah tak akan ikut campur soal percintaannya. Hideki ternyata salah menilai. Ayahnya masih tetap egois meski ia sudah mengalah.


Percuma berdebat begini. Hideki balik badan. Ia mencoba menahan emosinya. Lagipula ia sudah lelah karena pekerjaan kantor.


"Baik. Aku akan menikahinya." Kali ini Hideki bicara dengan tenang.


"Apa?!" Tanya sang ayah kaget.


"Aku sudah memutuskan. Aku akan menikahi Agika."


"Hideki, kau mulai berani melawanku?!"


"Kau boleh menghukum, mengurungku atau memukulku lagi jika kau ingin. Aku juga sudah lelah. Tapi aku tetap pada keputusanku."


"Kau …"


Presdir yang tadinya sudah mengepalkan tangan akan memukul mendadak membatu melihat mata putranya yang seakan menantangnya. Hideki kembali berjalan menaiki tangga. Tak peduli dengan presdir yang masih mencoba menahannya. Ia sudah tahu dari awal kalau jalannya tak akan mulus, tapi ia sudah bertekad tak ingin berpisah lagi dengan gadis manis itu. Ia ingin bersama Agika meski harus berhadapan dengan ayahnya.


💜💜💜