
"Apa ini tidak berlebihan?"
Suara Agika menghentikan jemari Hideki yang sejak tadi memainkan handphonenya. Wanita berambut coklat yang digulung itu turun dari tangga dengan anggun. Balutan gaun putih yang melambai cantik membuat penampilan gadis ini menjadi tak biasa dan makin mempesona. Hideki sampai tak bisa berkata-kata.
"Hideki?"
"Ah, tidak."
"Ada apa? Wajahmu kenapa …"
Agika baru saja akan menyentuh wajah Hideki yang tersipu, tapi tangan Agika ditahannya. Ia malah meraih pinggang Agika dan memeluknya. Mata biru Hideki menatap Agika penuh kelembutan.
"Kau sungguh cantik."
"Eh? A … apa?"
Wajah Agika langsung memerah. Menambah warna blush on di pipinya. Hideki mendekat dan bersiap akan mencium Agika. Agika meremas tuksedo Hideki saat pria itu mencium rahangnya dengan lembut.
"Aku suka kau yang seperti ini, Agika."
"Hi … Hideki, ini masih di butik. Jangan …"
Agika mendorong Hideki pelan saat ia mendengar langkah kaki yang mendekat. Sepertinya akan ada orang yang lewat. Agika langsung melepas pria itu. Ia menunduk malu saat ada orang yang berlalu-lalang. Hideki yang menciumnya tanpa sadar juga jadi salah tingkah.
"Ki … kita sudah telat. Ayo."
Hideki mengusap wajahnya yang tersipu. Ia hampir saja bermesraan dengan Agika di tempat umum. Karena Agika sangat mempesona, Hideki jadi tak tahan untuk menciumnya. Hampir saja ia hilang kendali.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di ballroom hotel yang mewah itu. Disana sudah banyak tamu undangan dan wanita-wanita berpakaian mewah saling mengobrol satu sama lain. Agika tercengang, beginikah suasana pesta orang-orang kaya? Pantas saja Hideki sampai memesankan gaun khusus untuknya. Hideki tak ingin Agika merasa berkecil hati melihat penampilan wanita-wanita di sini.
"Kita sudah sengaja telat, harusnya tak ada yang memperhatikan kita." Kata Hideki yang menggandeng tangan Agika sembari mencarikan tempat yang aman.
"Bukankah kau tamu penting? Kau bilang perusahaanmu sedang bekerja sama, kan?"
"Itu tak ada hubungannya."
Baru saja Hideki akan membawa Agika ke balkon yang jauh dari orang-orang, tiba-tiba ada yang menghadangnya. Pria tua bertuksedo abu-abu bersama wanita cantik bergaun merah yang baru saja Hideki temui siang ini.
"Selamat datang, tuan Hideki." Sapa pria itu.
Ia menjabat tangan Hideki. Kali ini Hideki tak mungkin mengabaikannya. Apalagi karena suara keras pria tua itu, mata semua orang akhirnya tertuju padanya.
"Kau sudah besar ya? Kau pasti belum mengenalku tapi ayahmu adalah rekan bisnisku sejak lama."
"Oh, ya."
"Aku direktur Ogawa. Dan ini putriku, Reina, kau sudah bertemu dengannya tadi siang, kan?"
Kali ini Reina menundukkan tubuhnya sedikit lalu menyunggingkan senyum. Ia tahu berjabat tangan dengan pria dingin ini pasti akan ditolak.
"Akhirnya kau datang, tuan Hideki." Kata Reina.
Jika bukan karena ayahnya yang memaksa, Hideki tak mungkin datang. Tapi suara hatinya itu tertahan. Hideki masih diam.
"Kau membawa pasangan? Siapa dia? Aku baru melihatnya."
Mata Reina tertuju pada Agika yang sejak tadi diabaikan. Bahkan direktur Ogawa sama sekali tak menyalaminya. Agika sedikit canggung.
"Ah, aku …" Kata Agika gugup.
"Oh, apa dia tunanganmu, tuan Hideki? Nona ini cantik sekali." Puji direktur Ogawa.
Harusnya semua sudah tahu jika ia membawa gadis ke sudah pasti dia pacarnya. Tapi seolah semuanya menunggu Hideki memberikan klarifikasi. Ia terpaksa harus menjawab pertanyaan tidak penting ini. Ia juga tak suka anak direktur Ogawa itu memandanginya terus. Ia langsung meraih bahu Agika dan mendekatkan padanya.
"Bisa dibilang begitu. Aku akan bertunangan dengannya. Namanya Agika."
"Eh?"
Agika terkejut sekaligus tersipu. Akan bertunangan? Hideki tak pernah bilang seperti itu padanya. Kenapa ia melakukan tiba-tiba bicara seperti itu dihadapan tamu undangan?
"Wah, kapan tuan Hideki akan tunangan?" Tanya direktur Ogawa.
"Secepatnya."
"Apa ia dari Jerman? Apa kau dijodohkan ayahmu dengan rekan bisnisnya? Dilihat dari wajahnya yang cantik sepertinya bukan keturunan Jerman." Direktur Ogawa membanjiri pertanyaan.
Agika menunduk dan hanya diam. Ia tak bisa menjawabnya. Hideki juga tak bisa menjawabnya karena itu semua tidak benar. Tapi ia tak bisa bicara yang sesungguhnya sekarang.
"Aku tak pernah dengar kau akan bertunangan?" Tanya Reina penasaran.
"Aku tak perlu mengumumkannya."
"Ma … maaf, bolehkah aku ke toilet sebentar?" Kata Agika.
Tanpa menunggu jawaban mereka, Agika segera menuju kamar mandi. Ia benar-benar gugup saat semua orang melihatnya sehingga ia tak tahan ingin pergi ke toilet. Ia tak terbiasa menghadapi situasi semacam ini. Menjadi pusat perhatian di pesta berkelas seperti ini. Apalagi Hideki yang terang-terangan bilang akan bertunangan. Sebenarnya apa yang ia pikirkan?
💜💜💜
Hideki memasang senyum palsu dan sibuk bersalaman dengan para tamu. Ia berniat ingin menghabiskan waktu dengan Agika saja tapi gadis itu malah tak segera kembali. Direktur Ogawa juga langsung mengajak bertemu kolega-koleganya. Hideki terpaksa menurutinya karena ia tak punya alasan lain.
"Jadi siapa Agika?" Tanya Reina tiba-tiba.
"Kenapa kau tanyakan itu?"
"Aku tahu semua anak dari teman-teman bisnis ayahku. Tak ada yang bernama Agika. Apa dia bukan dari kalangan bisnis?"
"Itu bukan urusanmu."
Hideki menghindar. Reina harus menahan diri karena pria ini memang dingin dan sulit didekati. Tapi Reina tak mau menyerah. Bahkan setelah tahu ia akan bertunangan, Reina malah makin penasaran.
Mata Hideki menemukan sosok Agika yang sedang berjalan keluar dari toilet. Ia tak lagi kembali bergabung ke pesta dan pergi begitu saja. Hideki segera menyusulnya.
Agika berdiri di balkon ballroom itu. Ia memandang ke langit yang kelihatan terang karena malam ini bulan menampakkan dirinya. Malam begitu indah. Apalagi alunan musik di ballroom membuat suasana lebih romantis.
"Ah, aku tak bisa bergabung dengan mereka. Pesta ini tak cocok untukku. Setelah lima tahun, Hideki lebih mudah bergaul sekarang. Ia sudah terjun ke dunia bisnis ayahnya. Bahkan sekarang Hideki tak canggung lagi saat bertemu siapapun. Syukurlah." Gumam Agika panjang lebar.
"Sedang apa?"
Hideki datang menemui Agika. Gadis itu menoleh.
"Hideki, kau sudah selesai?"
"Aku mencarimu. Kenapa tak kembali ke sana?"
"Kau saja. Aku akan menunggu di sini."
"Kau tak suka pestanya?"
Sudah jelas wajah Agika tak menunjukkan bahagia sama sekali meski ini pesta yang mewah dengan banyak makanan lezat. Padahal pacarnya juga menjadi tamu kehormatan. Tapi Agika kelihatan tidak nyaman.
"Aku hanya tak biasa datang ke pesta seperti ini." Kata Agika menunduk.
"Aku juga. Mau pulang?"
"Apa tidak apa-apa? Bukankah kau tamu penting?" Tanya Agika.
"Sudah ku bilang itu tak ada hubungannya."
Hideki mengulurkan tangannya dan mengajak Agika pulang diam-diam. Ia tahu mengajak Agika ke pestanya bukanlah perkara mudah. Apalagi Agika tak mengenal mereka sama sekali.
Sesampai di parkiran, Agika berhenti sebelum Hideki membukakan pintu mobil. Ia menarik tangan Hideki hingga membuat Hideki menoleh heran.
"Hideki."
"Hm?"
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."