
"Kenapa kau berbohong?" Tanya Agika.
"Soal apa?"
"Tu … tunangan. Kita kan tidak …"
Wajah Agika memerah. Ia terlalu malu mengatakannya. Gadis ini menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Kau ingin segera bertunangan? Kita bisa melakukannya besok." Kata Hideki.
"Bukan begitu maksudku!"
Hideki menatap pacarnya yang menunduk malu. Ia memang mengatakannya dengan spontan karena sedang bersama banyak orang. Meski begitu, Hideki tak menyesal mengatakan kalau ia akan segera bertunangan dengan Agika. Baginya, cepat atau lambat hal itu juga akan terjadi.
Apalagi ada wanita yang sejak tadi siang memandanginya. Kelihatan jelas kalau wanita itu tertarik padanya. Hideki hanya ingin menunjukkan kalau ia sudah punya Agika. Dan berharap wanita bernama Reina itu berhenti melakukan hal yang membuatnya tak nyaman.
"Aku memang ingin bertunangan denganmu." Jawab Hideki.
"Eh?"
"Aku ingin menjalin hubungan ini lebih serius."
Agika menatap Hideki lembut. Tak ada keraguan di mata biru pria tampan ini. Ia tiba-tiba bicara soal tunangan dan hubungan yang lebih serius. Tadinya Agika mengira Hideki hanya ingin semua tamu di pesta itu tidak curiga dan penasaran padanya. Tapi ternyata ia sungguh-sungguh?
Baru kali ini Agika bisa melihat Hideki bukan lagi anak SMA yang menyembunyikan diri. Agika merasa pacarnya berubah menjadi pria dewasa yang berkali-kali lipat lebih tampan dan mempesona saat ia mengatakan ingin bertunangan. Tak sadar kaki Agika menuntunnya mendekat pada Hideki.
"Benarkah?" Tanya Agika.
"Ya. Aku tak ingin berpisah lagi."
Entah kenapa perasaan Agika menjadi sangat bahagia. Ia memang mengidam-idamkan bisa selalu bersama Hideki setelah lima tahun mereka berpisah. Kali ini jalan itu terbuka. Agika tersenyum dan menyentuh wajah pria tampan yang ada di hadapannya.
"Aku senang sekali. Sejak kapan kau suka bicara manis seperti ini, Hideki?"
Agika meraih tengkuk Hideki dan bersiap menciumnya. Tapi Hideki langsung menyambar bibir Agika. Tangannya melingkar pada pinggang agika dan menahan tubuh gadis itu. Agika meremas tuksedo hitam Hideki saat pria itu memperdalam ciumannya.
"Ngh!"
"Ah …"
Wajah Hideki terasa hangat. Napasnya juga jadi memberat. Angin malam yang tadinya membuat suasana dingin, kini mendadak terasa panas. Hideki belum mau melepas tubuh kecil gadis itu. Ia malah mendorong Agika sampai menabrak mobil hitamnya.
"Hide … mmnhh!"
Hideki mengunci bibir Agika kembali. Melepasnya lalu mengulumnya dengan cepat. Lidahnya yang lihai mengobrak-abrik mulut Agika dan membuat gairah Agika makin naik. Ciumannya masih sepanas waktu terakhir mereka melakukannya.
"Kau sengaja menggodaku?" Kata Hideki.
"A … aku tidak menggodamu."
Agika sedikit gugup. Jantungnya berdetak cepat sekali. Setelah ciuman, Hideki masih belum mau melepaskannya. Sepertinya pacarnya itu mulai bergairah. Hideki mendekatkan wajahnya lagi. Ia mengunci tubuh Agika dan bersiap akan menciumnya kembali. Agika menutup matanya.
"Senyum dan bicaramu itu menggodaku." Bisik Hideki di telinga Agika.
"Aku hanya bicara …"
"Aku ini seorang pria, Agika. Bukan anak SMA lagi. Kau tahu maksudku, kan?"
Hideki berbisik di telinga Agika sambil menciumnya. Tangannya meraba tubuh Agika hingga membuatnya tak berdaya. Agika mulai mendesah.
"Hideki, hentikan. Ngghh!"
"Ah …"
"Ba … bagaimana jika ada yang melihat?"
"Tak ada yang melihat."
Bicara dalam posisi seperti ini dengan Hideki adalah hal yang sia-sia. Apalagi suara bisikan, desahan dan bibirnya yang bermain-main di telinga Agika membuat gadis itu tak punya tenaga untuk menolak. Tubuh Agika bergetar saat Hideki tiba-tiba mencium lehernya dengan lembut dan meremas dadanya. Desahan napas Hideki terus merasuk dan membuat otot-otot Agika melemah. Hideki menciumi leher dan dadanya tanpa berhenti.
"Uh ah …" Desah pria tampan itu.
"Hideki, berhenti. Nggh!"
"Aku merindukanmu, Agika. Bukankah kita sudah lama tidak seperti ini?"
"Tapi …"
Suara napas Hideki yang memberat membuat Agika tahu kalau pria ini mulai bergairah dan tak bisa dikendalikan. Agika merasa harus menghentikannya. Ia tak mungkin melakukannya di parkiran seperti ini. Bisa-bisa orang-orang melihatnya dan mengira mereka berbuat mesum.
"Hei, sedang apa kalian?!"
Agika terkejut saat seseorang datang dan memergoki mereka. Karena sangat takut, Agika refleks mendorong tubuh Hideki sekuat tenaga. Untung saja kali ini Hideki juga mulai sadar. Ia sedikit menjauh. Ternyata petugas keamanan hotel sudah berdiri di ujung jalan. Melihat mereka dalam kegelapan.
"Ah, kami …"
"Ka … kalau kalian ingin bercinta jangan disini! Pergilah ke hotel."
Hideki mengusap wajahnya. Apa yang baru saja ia lakukan? Lagi-lagi ia tak bisa mengendalikan dirinya. Jantungnya selalu berdetak cepat dan gairahnya selalu naik saat bersama gadis yang dicintainya ini. Semua mengalir begitu saja. Ia hanya mengikuti nalurinya sebagai pria. Tapi kelihatannya Agika masih belum siap.
💜💜💜
Tadashi masuk ke ruangan direktur tanpa basa-basi. Itu sudah biasa ia lakukan. Lagipula Hideki tidak keberatan. Pria itu sedang berdiri membelakangi Tadashi. Menatap ke jendela ruangannya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Tadashi langsung menaruh setumpuk file di depan meja kerjanya.
"Ada banyak dokumen yang harus kau cek hari ini. Sebentar lagi juga ada rapat."
"Tadashi, bisakah aku izin pulang lebih awal?"
"Lagi?"
Tadashi terkaget. Sudah lebih dari seminggu pria tidak tepat waktu ini pulang lebih awal.
"Mau menjemput nona Agika?" Tanya Tadashi lagi.
"Ya."
"Sebaiknya kau menelponnya kalau kau tidak bisa menjemput. Kau ada rapat penting."
"Apa tak bisa dibatalkan?"
"Tidak! Kau hampir setiap hari pulang awal. Cobalah atur waktumu dengan baik, tuan muda."
Hideki menghela napas. Ia melirik semua dokumen yang baru saja diletakkan Tadashi di mejanya. Banyak sekali. Tentu saja Tadashi menolak permintaannya.
"Aku yakin nona Agika tidak masalah jika kau tak menjemputnya sesekali."
"Benar. Aku yang bermasalah."
Hideki duduk di sofa. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Menunduk mengusap rambut hitamnya yang berantakan. Tadashi menatapnya datar.
"Tadashi, apa aku boleh menikah?"
"Eh?!"
"Entah kenapa aku ingin selalu menemui Agika. Rasanya aku tak ingin seharipun tidak bertemu dengannya." Kata Hideki.
"Kau memang jatuh cinta padanya. Wajar …"
"Ini berbeda dari saat SMA dulu. Tubuhku selalu bergejolak. Rasanya aku ingin Agika selalu disampingku. Aku ingin memilikinya."
"Bukankah kau sudah memilikinya?"
"Tidak. Aku ingin lebih."
"Lebih? Tuan muda, maksudmu kau …"
Tadashi hampir mengeraskan suaranya jika Hideki tak meliriknya dengan tajam. Tadashi memutar bola matanya. Mencoba mencerna kata-kata Hideki. Kenapa direktur itu bicara hal seperti ini?
"Kau … kau belum melakukan itu, kan?"
"Melakukan apa?"
"Itu …"
Tadashi tak sanggup mengatakannya tapi ia mencondongkan tubuhnya mendekati Hideki, memberi tanda dengan tangannya. Untung saja Hideki paham maksudnya.
"Bagaimana aku bisa melakukannya, Agika saja terus menolakku."
Hideki membuang mukanya. Ia sedikit kesal. Berkali-kali ia sudah bercumbu dengan Agika sampai hilang kendali tapi gadis itu selalu berhasil menahan hasratnya.
"Ia bilang ia mencintaiku, tapi tiap kali aku menyentuhnya …"
"Kau tak boleh melakukannya sebelum ada ikatan yang jelas, tuan muda!"
"Ikatan?"
"Nona Agika menolak bukan berarti ia tak mencintaimu. Wanita selalu ingin memberikan semuanya pada pria yang dicintainya. Tapi ia butuh kepastian."
"Maksudmu?"
"Bukan sekedar pacaran yang tak semua orang tahu. Tak ada bukti dan tak diakui. Kau harus memberikan kejelasan status padanya, misalnya tunangan atau menikah." Jelas Tadashi.
Hideki terdiam. Benar, mana mungkin Agika memberikan dirinya jika Hideki saja masih sembunyi-sembunyi bahkan terhadap dirinya sendiri. Tak banyak juga orang yang tahu kalau mereka berpacaran. Agika pasti butuh kejelasan hubungannya. Apalagi ini sudah lima tahun.
"Karena itu aku ingin menikahinya." Kata Hideki tegas.
"Menikah? Ta … tapi bukankah ini terlalu cepat? Presdir juga …"
"Aku tak peduli. Aku tak mau hilang kendali lagi lalu Agika akan kecewa padaku. Minggu depan aku akan melamarnya."
"Ehh?!"
💜💜💜