
Dua puluh menit berlalu. Mobil Hideki sampai di depan apartemen sederhana yang cukup sepi karena memang sudah malam. Hanya tinggal dua satpam yang berjaga saja. Mata Hideki melirik Agika yang sudah tertidur pulas di mobilnya.
"Dasar. Apa ia kelelahan sampai marah begitu?" Gumam Hideki.
Akhirnya Hideki memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen. Karena tak tega membangunkan Agika, ia membopong gadis itu menuju ke apartemen. Biasanya Agika membawa kunci apartemen di tas kerjanya jadi Hideki tak akan kesulitan masuk.
Pelan-pelan Hideki membaringkan Agika yang bahkan tak terganggu sama sekali. Ia masih tertidur, sepertinya ia benar-benar lelah. Tubuhnya yang menggeliat membuatnya terlihat sangat manis. Hideki tak tahan untuk menyentuhnya.
"Ah apa yang ku lakukan? Aku harus pulang." Gumam Hideki sambil mengusap wajahnya yang memerah. Ia mencoba menahan diri.
"Hideki."
Hideki baru saja akan pergi. Ia menoleh saat suara Agika memanggil namanya. Tapi mata indahnya masih tertutup. Hideki penasaran apa ia sedang bermimpi buruk? Hideki mendekat padanya.
"Hei, kau kenapa, Agi?" Tanya Hideki lirih.
Tiba-tiba Agika menarik kemeja yang dikenakan Hideki. Belum sempat Hideki bereaksi, bibir Agika sudah mendarat di bibirnya. Mata biru Hideki tak bisa berkedip untuk beberapa saat. Agika menciumnya.
"Aku mencintaimu, Hideki. Bisakah hubungan kita lebih dari sekedar pacaran begini?"
Agika bicara dalam kondisi tertidur. Ia sepertinya sangat kelelahan sampai mengigau seperti ini. Tapi bagi Hideki yang sedang berdua saja di apartemen Agika, ciuman tadi merupakan ujian berat baginya. Agika bahkan belum mau melepas tubuhnya.
"Aku tak mau dia merebutmu dariku." Ucap Agika.
"Dia? Siapa?"
"Akan kubuktikan kalau kau milikku!"
Agika tiba-tiba menarik kemeja Hideki hingga beberapa kancingnya terbuka. Tak sampai disitu, gadis itu menggerayangi leher dan dada bidang Hideki hingga membuat Hideki terkejut.
"Agi, ah …"
Hideki mulai mendesah saat merasakan setiap sentuhan tangan Agika di tubuhnya. Begitu lembut. Wajah Hideki jadi memerah. Napasnya memberat. Agika tak sadar ia sudah membangunkan gairah Hideki seperti ini.
"Uh, Agika, hentikan …"
Hideki berusaha keras menahan diri saat bibir manis Agika mulai mendekat. Hideki tak mau naluri buasnya muncul saat kondisi Agika tidak sadar begini. Ia langsung menangkap tangan Agika yang ingin membuka satu lagi kancing bajunya. Ia tak mau Agika melakukan lebih dari ini. Hideki mendorong tubuhnya menjauh.
"Hideki …"
Agika masih mengigau dan memanggil nama pria tampan itu. Hideki mengganti dirinya dengan sebuah guling agar tangan Agika bebas memeluk tanpa khawatir. Gadis itu akhirnya bisa tertidur tenang.
Sedangkan pria tampan itu duduk di pinggir tempat tidur sambil menata jantungnya yang berdegup kencang. Mengatur napasnya yang mulai terengah-engah karena rangsangan Agika. Hideki hampir saja lepas kendali. Ia melirik Agika.
"Dasar! Sebenarnya kau mimpi apa? Bagaimana jika aku tak bisa mengendalikan diriku? Aku bisa melakukan lebih dari ini." Gumam Hideki.
Hideki mengusap wajahnya yang memerah karena apa yang baru saja Agika lakukan padanya. Ia segera mengancingkan kemejanya dan bangkit dari tempat tidur.
"Tapi aku tak akan melakukannya tanpa seizinmu." Lanjut Hideki.
Drrt! Drrt!
Suara getaran handphone di celana Hideki membuat konsentrasinya pecah. Hideki segera mengambil handphonenya dan melihat pesan masuk.
Dimana kau? Cepat pulang!
Pesan dari ayahnya membuat Hideki kehilangan mood baiknya. Tapi ia memang harus pulang sebelum ia tak bisa mengontrol dirinya saat berdua begini bersama Agika. Hideki mendekatkan wajahnya pada gadis yang tertidur pulas itu dan langsung mencium keningnya dengan lembut.
"Tidurlah. Kau pasti lelah."
💜💜💜
Hideki sudah terlihat rapi mengenakan kemeja dan jas kerjanya. Ia berjalan menuruni tangga sambil memakai jam tangan. Ia melirik ke arah ruang makan. Disana sudah ada ayahnya dan dokter Tadashi. Beberapa pelayan juga sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, tuan muda." Sapa Tadashi sambil tersenyum manis.
Ayah Hideki menoleh sebentar lalu kembali menyeruput kopinya.
"Tumben sekali kau ikut sarapan." Ucap ayahnya.
Hideki hanya diam. Di Jerman ia memang selalu mencari alasan agar tidak semeja makan dengan ayahnya. Kali ini ia mau melunak karena ia sedang buru-buru menjemput Agika. Dan lagi, sejak datang kesini ia memang selalu makan bersama dengan Tadashi. Ayahnya saja yang ikut bergabung.
"Semalam kau kemana?" Tanya presdir lagi.
"Bukan urusanmu."
"Kau mengatur jadwalku?!" Suara Hideki meninggi.
"Kau tanyakan saja pada Tadashi."
Hideki melirik dokter muda yang sedang menikmati sarapannya. Melihat ekspresi Hideki yang menyeramkan, Tadashi cepat-cepat menelan makanannya sebelum menjawab.
"I … iya, tuan muda. Hari ini nona Reina ingin bertemu untuk membicarakan kelanjutan pertemuan sebelumnya."
Hideki menghela napas. Ia belum ke kantor tapi rasanya ia sudah malas. Apalagi bertemu wanita itu lagi.
"Suruh dia ke kantor sebelum jam 3." Kata Hideki.
"Karena beberapa hal, nona Reina meminta kau yang datang ke kantornya sore ini."
"Apa?"
"Pertemuan kerjasama seperti ini memang harusnya saling bergantian." Jelas Tadashi.
"Kalau begitu aku tak datang."
"Tu … tuan muda …"
Hideki menyeruput teh hangatnya dan mulai sarapan. Ia masih bersikap tenang meski ia tahu pandangan sang ayah mulai kesal dengan tingkahnya.
"Aku ada urusan." Kata Hideki.
"Sekarang apa yang lebih penting dari urusan perusahaan? Menjemput pacarmu?" Sang presdir menyindir.
Hideki meletakkan gelas tehnya dengan keras. Ia mulai marah saat ayahnya menyinggung soal Agika. Padahal lebih dari itu, hari ini Hideki berencana untuk membeli cincin untuk melamar Agika minggu depan sekaligus menjemputnya pulang.
"Memangnya kenapa?"
"Berhenti bermain-main dengan dia."
"Aku memang tidak bermain-main. Aku serius akan menikahinya."
"Menikah? Kau pikir aku akan setuju?!"
"Aku tak butuh persetujuanmu. Kau hanya harus menepati janjimu."
"Kau …"
"Sudah kuduga aku tak selera makan jika semeja denganmu." Kata Hideki menahan diri.
Hideki beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan piring sarapannya yang masih tersisa setengah. Tidak sarapan semeja dengan ayahnya memang pilihan tepat. Efeknya ternyata lebih buruk dari yang ia bayangkan.
"Hideki! Aku masih bicara denganmu!"
"Aku sudah selesai."
"Kau harus datang ke kantor Reina atau aku akan menyeretmu pulang ke Jerman!"
"Berhenti mengaturku!" Jawab Hideki marah.
Mata Hideki menatap ayahnya dengan tajam. Ia mulai marah dengan ayahnya yang terus menerus memaksanya. Lima tahun Hideki menurutinya, sampai ia mau mengurus perusahaan. Tapi ayahnya bahkan masih tak memberi kelonggaran.
"Lima tahun aku mengalah. Kau masih sangat egois! Kau masih mencoba mengekangku! Kau bahkan tak memberi ruang untuk kebebasanku meski sedikit." Kata Hideki dingin.
"Apa bebas memberimu kebahagiaan?!"
"Kau pikir hidupku selama ini bahagia?! Aku bahkan lebih memilih mati dibanding menjadi putramu."
"Jaga bicaramu, Hideki!"
Sang ayah menggebrak meja sambil bangkit berdiri dari kursi makannya. Meski ini hal biasa, beberapa pelayan dan dokter Tadashi masih sedikit ketakutan bila melihat perdebatan ayah dan anak ini.
"Kau bahkan mengatur dengan siapa aku akan menikah. Bukankah itu sangat keterlaluan?! Aku tetap akan menikahi Agika."
"Hideki!"
Hideki pergi menghilang sebelum ia berdebat lebih jauh dengan ayahnya. Ia tak peduli dengan ayahnya yang masih memanggilnya. Paginya benar-benar memburuk. Hari ini ia berniat menjemput Agika berangkat kerja tapi moodnya sudah kacau. Ayahnya benar-benar merusak semua rencananya.
💜💜💜