Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 54



"Hati-hati, tuan muda."


Tadashi hendak membantu Hideki menaiki tangga menuju kamarnya tapi pria yang mabuk itu menolak. Ia bersikeras untuk berjalan sendiri meskipun sempoyongan. Apa boleh buat, Tadashi membiarkannya. Tapi baru dua langkah ia menaiki anak tangga, tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh.


"Tuan muda!"


"Uh …" Erang Hideki.


Untung saja Tadashi sempat menahan tubuh Hideki. Pria ini benar-benar mabuk parah, matanya pun sudah kelihatan berat, tapi masih bisa bersikap keras kepala. Tadashi hanya menghela napas.


"Kau ini sedang mabuk! Biar aku bantu kau ke kamar."


"Aku tidak mabuk."


Orang mabuk pasti akan bilang ia tidak mabuk, kan? Dilihat dari manapun, jelas Hideki mabuk berat. Bahkan aroma alkohol masih tercium di sekitar tubuhnya. Tadashi ingin mengumpat pada pria keras kepala ini, tapi ia menahan diri. Ia fokus membantunya berjalan.


"Siapa yang mabuk?"


Tadashi mendongak dan menemukan bos besarnya sudah berdiri di ujung tangga sambil menyilangkan tangannya. Matanya menatap mereka dengan tajam. Ia sepertinya sudah menunggu sejak tadi.


"Jadi bocah brengsek ini pulang larut malam dan mabuk?"


Sekali melihat pun presdir juga tahu kalau Hideki mabuk. Ia menghampirinya. Melirik Hideki yang bahkan tak menyadari ayahnya disini. Tadashi sudah berusaha mengantisipasi agar pulang tanpa ketahuan presdir, tapi ternyata gagal. Tadashi hanya bisa pasrah jika bos besarnya ini marah.


"Ma … maaf, presdir. Tuan muda …"


"Kemari kau, Hideki!"


Sang presdir tak peduli dengan Tadashi yang mencoba mengalihkan perhatiannya. Ia langsung menarik tubuh Hideki, menabrakkannya ke dinding di samping tangga. Ia masih mencengkeram kemeja Hideki dan menatap putranya itu dengan amarah.


"Bukannya fokus mengelola perusahaan, menjadi CEO, tapi kau malah jadi pria menyedihkan seperti."


"Presdir, tenang dulu …" Tadashi mencoba menenangkannya.


"Bisa-bisanya kau mabuk! Kenapa kau selalu membuatku marah, brengsek?!"


Ayah Hideki meraih leher putranya dan mencekiknya. Meski tidak erat, tapi cukup bisa memaksa Hideki membuka mata birunya.


"A … yah." Ucapnya.


Seketika sang ayah tersentak. Ia mengendorkan tangannya yang masih menahan leher Hideki. Baru kali ini setelah sekian lama Hideki memanggilnya ayah. Putranya itu memang tak pernah mau memanggil dirinya dengan sebutan itu. Apa karena mabuk ia jadi ngelantur?


"Apa kau puas?" Tanya Hideki lirih.


Sang ayah terdiam. Ia mampu melihat kesedihan dan keputusasaan di mata biru anaknya. Kenapa anak ini? Hideki tak seperti biasanya yang dingin dan berpendirian kuat. Kali ini ia terlihat lemah.


"Apa kau puas mengaturku selama ini?"


"Apa katamu?!"


"Apa kau puas merebut hidupku seluruhnya?"


Presdir itu terdiam lagi. Mendengar suara hati putranya yang akhirnya bisa diucapkan membuatnya sedikit luluh. Apalagi mata biru Hideki yang meredup dan tak bercahaya sama sekali membuat sang ayah langsung merasa kasihan.


"Aku lelah." Kata Hideki lirih.


Ayah Hideki termenung sejenak. Ia tahu orang mabuk adalah orang paling jujur. Dan saat ini Hideki mengatakan semua perasaannya. Ayahnya hanya ingin Hideki meneruskan perusahaannya, menjadi CEO. Apa itu terlalu sulit dan melelahkan? Apa itu berarti merebut hidupnya?


"Bodoh! Kau payah!" Gumam ayah Hideki.


Sang presdir melepas Hideki dan mendorongnya pelan. Untung saja Tadashi sempat menahan tubuhnya. Hideki sudah mabuk berat dan tak bisa bicara lagi.


"Tadashi, bawa Hideki ke kamarnya." Kata sang presdir dingin.


"B … baik, presdir."


💜💜💜


Ini sudah jam 12 malam. Pria tua itu masuk ke kamar Hideki yang tidak terkunci. Anak itu harusnya sudah tidur. Lagi pula ia habis mabuk, tak mungkin ia masih sadar, kan?


Mata ayah Hideki berkeliling melihat kamar putranya yang sudah jarang ia kunjungi. Ia ingat dirinya sendiri lah yang memilihkan kamar putih dengan arsitektur gaya Jerman klasik sebagai kamar Hideki. Setelah pindah Jerman pun, kamar Hideki di mansion tak jauh berbeda dengan yang di sini. Tak disangka bocah itu tak mengubah kamarnya sama sekali, padahal ia membenci semua pilihan ayahnya.


Mata presdir melirik laptop yang menyala di meja. Beberapa kertas juga berserakan di sana. Ia tahu itu bukan milik Hideki. Apa dokter itu mengerjakan pekerjaan Hideki lagi? Presdir hanya menghela napas. Hideki masih saja melempar semua pekerjaannya pada dokter pribadinya itu.


Presdir itu berjalan pelan. Ia tak mau membangunkan Hideki yang tak sadar kalau ayahnya masuk ke kamarnya. Pria itu sepertinya sudah tidur meski beberapa kali mengerang tidak jelas karena mabuk. Ayah Hideki memandangi anaknya. Tidurnya kelihatannya tidak nyenyak.


"Agika …" Ucap Hideki.


Presdir tahu kalau Hideki memang berpacaran dengan gadis itu. Tapi tak disangka setelah lima tahun, mereka masih menjalin hubungan. Bahkan meski terpisah jarak, Hideki sama sekali tak melupakannya. Putranya ternyata seserius itu dengan Agika.


"Oh, tuan presdir disini?"


Karena fokus dengan anaknya, ayah Hideki tak sadar kalau Tadashi sudah ada di kamar. Ia baru saja selesai membuat kopi lalu kembali ke kamar Hideki.


"Apa aku tak boleh ke kamar putraku sendiri?"


"Oh, tentu boleh, presdir. Hanya saja saya sedikit kaget melihat anda perhatian pada tuan muda."


Tadashi hanya tersenyum kaku. Tadashi tahu kalau bosnya ke sini karena khawatir pada Hideki. Ia memang selalu bersikap keras dan suka mengatur. Apalagi terhadap putranya. Tapi dibalik itu semua, ternyata ia masih punya belas kasihan.


"Aku hanya penasaran kenapa dia sampai mabuk begini." Tambah sang presdir.


"Tuan muda sedang banyak masalah."


"Tidur dengan wanita bukanlah masalah besar."


Tadashi meletakkan kopinya di meja. Ia mulai bicara serius dengan bos besarnya.


"Tuan muda baru saja putus dengan nona Agika."


"Sejak awal, aku tak peduli dengan hubungan mereka berdua."


"Tapi mereka putus karena kasus ini."


"Itu bukan urusanku."


"Tuan muda sangat mencintai nona Agika. Jangankan tidur dengan wanita lain, ia bahkan tak pernah bermain wanita. Saya yakin tuan muda tak mungkin sengaja tidur dengan Reina."


"Maksudmu?"


Tadashi hanya diam. Ia mengambil sebuah map yang berasal dari rumah sakit. Ia memberikannya pada bos besarnya. Meski presdir tak mengerti, ia tetap membuka map itu dan memeriksa selembar demi selembar kertas yang ada di dalamnya. Sepertinya hasil pemeriksaan.


"Saya sempat membawa tuan muda ke rumah sakit dan melakukan medical check-up serta CT-scan pada tubuhnya."


"Apa kepalanya sakit lagi?"


"Benar. Akhir-akhir ini tuan muda sering mengeluh pusing. Karena saya takut traumanya kambuh, jadi saya berinisiatif melakukan medical check-up."


"Lalu apa hasilnya?"


"Bukan trauma. Saya malah menemukan indikasi adanya obat perangsang beberapa waktu yang lalu di tubuhnya."


"Apa?!"


"Saya pikir mungkin ia pusing karena itu. Apalagi dosisnya melewati ambang batas."


Presdir itu membuang hasil medical check-up ke meja dan langsung meraih kerah baju Tadashi. Matanya menatap dokter itu dengan pandangan menusuk. Ia sedikit marah. Tadashi juga takut tapi ia mencoba bersikap tenang.


"Anak bodoh itu! Kenapa ia mengkonsumsi obat semacam itu?! Tadashi, apa yang kau berikan padanya?"


"Sa … saya tak pernah memberikan obat seperti itu. Lagi pula kalau masalah seksual, tuan muda adalah pria yang sehat."


"Lalu apa dia …"


"Tuan muda tidak sengaja meminumnya. Jika ia memang sengaja mengkonsumsi obat ini, tak mungkin dengan dosis tinggi yang membahayakan dirinya sendiri. Apalagi ia punya riwayat penyakit yang cukup berat."


"Maksudmu ia dijebak?"


Bos besar itu akhirnya melepas Tadashi dan membiarkannya bicara. Ia akhirnya tahu alur pemikiran Tadashi.


"Kemungkinan nona Reina yang melakukannya. Waktu itu tuan muda bilang setelah rapat di perusahaan Landscape, ia mendadak pusing dan tubuhnya panas. Setelah itu tiba-tiba tuan muda ada di hotel dan tak ingat apapun. Apalagi menurut hasil pemeriksaan, obat itu memang masuk ke tubuh tuan muda persis dihari saat skandal itu terjadi." Jelas Tadashi panjang lebar.


Ayah Hideki masih tak percaya dengan apa yang dokter ini katakan padanya. Tapi ia juga tahu Hideki tak mungkin meminum obat semacam itu. Pria itu tak pernah bermain wanita bahkan sekedar untuk mengajaknya berkencan. Padahal statusnya membuatnya mudah melakukannya. Ayah Hideki berdehem.


"Kau tak bisa gunakan asumsimu seperti ini apalagi tanpa bukti. Bisa jadi Hideki memang meminum obat perangsang, kan?"


"Bisa jadi begitu  Tapi saya tetap merasa aneh kenapa tuan muda tak ingat apapun setelah itu. Setidaknya hasil pemeriksaan ini bisa jadi sedikit bukti. Saya akan selidiki lagi."


Benar juga. Kenapa Hideki tak ingat apapun? Ayah Hideki menatap Tadashi yang bicara dengan tegas dan serius. Tadashi sepertinya tidak bercanda. Lagi pula ia yang selalu mengecek tubuh Hideki sejak bertahun-tahun lalu. Berbeda dengan Hideki yang sedikit emosional, Tadashi bekerja dengan tenang dan akurat. Presdir akhirnya membiarkan Tadashi melanjutkan penyelidikan.


💜💜💜