
Aku memandang ke arah Kazuma yang sedang sibuk latihan tae-kwon-do. Ia kelihatan bersemangat. Beda denganku. Sudah dua minggu ini aku merasa lesu. Rasanya tak semangat untuk pergi sekolah. Tak semangat melakukan apapun.
Sejak kecelakaan itu, Hideki tak masuk sekolah lagi. Dua minggu ia absen. Teman-temannya juga mulai menanyakan kabarnya, terutama teman bermain sepak bolanya. Mereka bahkan mendesak guru Oshin untuk menjenguk bersama tapi guru Oshin selalu mencari alasan. Sepertinya ia dilarang datang oleh ayah Hideki. Sayang sekali. Aku juga tak mungkin kesana. Ayahnya tak menyukaiku. Padahal aku juga ingin sekali tahu bagaimana keadaannya sekarang. Karena terakhir ku lihat ia benar-benar sakit. Semoga sekarang kondisinya sudah membaik.
Tring tring!
Handphone-ku berbunyi. Membuyarkan pikiranku soal pria dingin kesukaanku itu. Ku lihat display handphone-nya. Ah nomor tak dikenal. Siapa yang menelpon?
“Halo.” Sapaku.
“Hai, Agika. Ini aku, Ayashi.”
Kak Ayashi? Bagaimana ia dapat nomor teleponku? Ah tentu ada banyak cara, tak ada yang tak mungkin untuk seorang keluarga kaya. Yang paling penting, kenapa ia menelponku?
“K .... Kak Ayashi, ada apa?”
“Huh, kau santai sekali. Kau tak khawatir dengan keadaan adikku?”
Bagaimana mungkin aku tak khawatir? Pertama mendengar suara kak Ayashi saja bayanganku langsung Hideki. Apa kak Ayashi mau mengabariku soal keadaannya sekarang?
“Haha. Kenapa diam? Tenang saja. Aku hanya bercanda.” Katanya lagi.
“Apa Hideki baik-baik saja?”
Aku mulai bicara dengan serius. Aku tak mau bercanda. Menunggu kabar darinya selama 2 minggu membuatku tak sabar. Kazuma yang sudah selesai latihan juga langsung menghampiriku. Ia ikut mendengar percakapanku di telepon.
“Dia baik-baik saja. Hideki sudah boleh kembali ke rumah. Hanya saja kakinya masih perlu pemulihan cukup lama.”
“Syukurlah." Kataku lega.
“Sayang sekali saat ini ia sedang tidak di rumah. Tadashi mengantarnya ke psikiater. Aku akan sambungkan kau dengannya kalau ia di sini. Ayah masih menyita handphone-nya. Ya, kau tahu kan?”
“Psikiater? Hideki kenapa?”
“Ia sering sakit kepala lagi. Mungkin karena cedera di kepalanya. Tidak apa-apa. Ia hanya butuh istirahat. Baguskan dia bisa bolos sekolah sebentar. Haha.”
Kak Ayashi mencoba bercanda denganku. Tapi rasanya tak lucu sebelum aku benar-benar memastikan Hideki baik-baik saja. Aku berdehem.
“Jadi kapan Hideki bisa masuk sekolah?” Tanyaku
“Hmmm sepertinya belum. Kakinya masih butuh pemulihan cukup lama.”
“Begitu ya.”
“Kau merindukannya?”
“Apa? A .... Ah tidak. Aku hanya ingin memastikan ia baik-baik saja.”
“Kenapa kau tak lihat sendiri.”
“Maksudnya?”
“Datanglah ke rumah. Nanti pasti Hideki sudah pulang. Aku akan kirimkan lokasinya padamu.”
“Ta .... Tapi ....”
Aku belum mencari alasan yang pas tapi kak Ayashi sudah menutup teleponnya. Ia memintaku datang? Apa boleh?
***
Aku dan Kazuma akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah Hideki menggunakan taksi dan memakai petunjuk yang dikirimkan kak Ayashi. Aku sebenarnya agar ragu, tapi Kazuma memaksa. Ia sepertinya juga ingin tahu kondisi Hideki.
Kami sampai di rumah besar berwarna putih. Jarak antara rumahku dengan rumah ini cukup jauh. Apalagi kalau mau ke sekolah. Wajar jika setelah Hideki tinggal disini, ia selalu diantar dokter Tadashi ke sekolah. Kata Kazuma, rumah ini besarnya berkali-kali lipat dari rumah Hideki yang satunya. Dua lantai lagi. Di dalam pagar juga penuh dengan anak buah ayah Hideki dan beberapa asisten. Tapi kami disambut dengan baik, dibukakan gerbang dan diantarkan ke depan rumah. Sepertinya kak Ayashi sudah berpesan kalau kami akan kesini. Aku penasaran apa ayah Hideki juga ada? Aku takut bertemu dengannya.
“Hai, Agika, Kazuma. Selamat datang.”
Kak Ayashi menyambut kami dengan senyuman di wajahnya. Ia kelihatan senang sekali hingga aku tak tahu harus berekspresi seperti apa. Dokter Tadashi yang sedang duduk-duduk di ruang tamu juga langsung berdiri menyambut kami. Aku sedikit tidak fokus. Aku masih kepikiran ayahnya ada di sini atau tidak.
Ia membawa kami masuk. Mataku berkeliling mencari sosok ayahnya Hideki. Aku benar-benar paranoid. Sepertinya ia sedang tidak di rumah.
“Tuan muda sudah pulang dari psikiater. Sepertinya ia di kamarnya.” Kata dokter Tadashi.
Dokter Tadashi bicara sambil melirik ke sebuah kamar di lantai dua. Kamarnya terbuka begitu saja dan ada dua anak buah ayah Hideki yang berjaga di depan pintu. Itu sepertinya kamar Hideki.
“Kebetulan aku baru saja selesai membuat kue. Kau mau coba, Agika?” Tanya kak Ayashi bersemangat.
“A ... Ah boleh.”
Aku kesini untuk menjenguk Hideki. Kenapa kak Ayashi menawari kue? Bibirku memaksa untuk menyunggingkan senyum. Jangan-jangan kak Ayashi sengaja mengundangku untuk mencicipi kuenya.
“Boleh kami bertemu Hideki dulu?” Tanya Kazuma.
“Ah iya! Sampai lupa. Pelayan akan mengantar kalian ke kamarnya.”
Kazuma memang paling bisa menolak. Aku senang akhirnya seorang pelayan mengantar kami ke kamar Hideki. Anak buah ayah Hideki yang berjaga di pintu juga mempersilakan kami. Ku lihat dari luar pintu. Kamar putih itu sungguh bagus dan besar. Kamar bergaya klasik modern ala luar negeri, mungkin terinspirasi dari bangunan-bangunan di Jerman.
“Hideki?” Panggilku pelan.
Aku tak berani masuk langsung. Dokter Tadashi bilang ia sedang dikamar, bisa jadi ia sedang tidur. Lagipula hubungan kami sedang tidak baik. Setelah ku tunggu tapi tak ada jawaban dari dalam. Ku putuskan untuk masuk pelan-pelan.
Ah Hideki sedang berbaring di tempat tidurnya yang besar. Ku lihat kakinya memang masih terbalut perban tebal di sekitar pergelangannya. Ada kruk bersandar di samping tempat tidur. Pasti Hideki menggunakannya untuk berjalan. Hideki menutup matanya dengan lengan hingga aku tak tahu apa ia benar-benar tidur atau hanya tiduran.
Aku mendekatinya. Ah wajah tampan itu terlihat tenang saat tidur seperti ini. Terakhir ku melihatnya di rumah sakit, ia benar-benar pucat. Setelah lama aku tak melihatnya, ia tampan sekali. Tanpa sadar tanganku bergerak pelan menyentuh wajahnya, tapi tiba-tiba tangannya menahanku.
“Ah ....”
“Hideki.” Sapaku.
“Hi .... Hideki, ada apa?” Tanyaku cemas.
Ia kelihatan bingung dan mulai gelisah. Sepertinya ia masih tak percaya aku ada di sini. Aku dekatkan tubuhku, tapi selangkah mendekat, selangkah pula ia memundurkan tubuhnya. Ia menjauhiku?
“Hideki, bagaimana keadaanmu?” Tanya Kazuma.
“Kalian disini?”
“Ya. Aku senang kau sudah lebih baik.” Kataku.
Aku berikan senyum terbaikku. Aku berusaha melupakan apa yang pernah terjadi sebelumnya karena saat ini ia sedang sakit. Tapi ia hanya menatapku datar.
“Bukankah kau membenciku? Kenapa kesini?”
“Hideki, aku ....”
“Jangan sentuh aku!”
Aku terkejut. Ia benar-benar menghindariku. Aku sudah coba menyentuh tangannya tapi ia langsung menampikku. Ia menunduk. Napasnya terasa berat. Apa Hideki marah?
“Bukankah kau tak ingin bertemu denganku? Jangan karena kasihan padaku kau kesini. Aku tak mau dikasihani.” Katanya lagi.
“Aku tidak bermaksud ....”
“Ku bilang jangan sentuh .... Ukh!”
Hideki mencengkeram kepalanya. Ia kesakitan. Bukankah ia baru saja ke psikiater? Kenapa kambuh? Apa karena aku?
“Kau bahkan ingin aku pulang ke Jerman.” Lanjutnya.
“Hei, Hideki. Tenanglah ....” Kazuma mencoba membantuku.
“Ukh! Sakit ....”
Hideki bahkan menolak Kazuma. Ia terus mencengkeram kepalanya dengan kuat seakan ia ingin melepasnya. Sampai anak buah ayahnya yang berjaga di depan pintu menghampirinya.
“Tuan muda, ada apa?” Tanya mereka cemas.
“Panggilkan Tadashi. Kepalaku sakit.”
“Baik, tuan muda.”
Anak buah ayahnya langsung pergi mencari dokter Tadashi. Aku dan Kazuma masih bingung. Tak tahu harus melakukan apa. Ia saja tak mau kami dekati.
Beberapa detik dokter Tadashi dan kak Ayashi langsung datang. Mereka menghampiri Hideki.
“Kenapa, tuan muda?” Tanya Tadashi cemas.
“Kepalaku sakit. Dimana obatku?”
“Kau baru saja minum obat. Kau tak boleh meminumnya lagi.”
“Tapi kepalaku sakit sekali. Ukh!”
“Tuan muda hanya perlu istirahat. Tidurlah. Jangan berpikir terlalu keras.”
Dokter Tadashi membantunya berbaring kembali ke tempat tidur. Hideki tak melihatku lagi. Ia segera melakukan apa yang Tadashi perintahkan. Kenapa hatiku sakit sekali? Ia bahkan tak mau menatapku. Dokter Tadashi melirikku. Ia memberi kode agar kami keluar dan membiarkan Hideki istirahat.
“Maaf ya, Agika. Mungkin karena benturan di kepalanya belum sembuh sepenuhnya, makanya Hideki jadi seperti itu. Padahal sudah jauh-jauh datang ke sini.” Kata kak Ayashi mengantarku keluar dari kamar Hideki.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti kalau dia jadi menghindariku.”
Aku sangat mengerti. Bukankah ini yang aku ingin kan? Dia membantuku menjauhinya. Hideki sudah mengerti apa mauku. Tapi kenapa kini aku yang tak bisa melepasnya.
“Kau datang kesini?”
Ah seseorang yang ku takutkan akhirnya pulang. Ayah Hideki sepertinya baru akan naik melihat putranya. Dan melihatku. Ia menatapku tajam. Kazuma langsung menarikku ke belakang.
“Kau bertemu Hideki?” Tanyanya lagi.
“Dia tamuku. Ayah tak berhak mengganggu Agika!”
Kak Ayashi langsung pasang badan di depan kami. Ia kelihatannya juga kesal dengan ayahnya. Sang direktur itu langsung menghela napas.
“Terserah. Aku tak punya urusan dengannya. Lagipula, aku sudah putuskan akan segera membawa Hideki pulang ke Jerman secepatnya.”
“A .... Apa maksud ayah?”
Ayah Hideki diam. Kak Ayashi terkejut. Aku juga sama terkejutnya. Artinya ini keputusan sepihak dari ayahnya. Lagi-lagi ayahnya bersikap otoriter begini.
“Ayah akan memaksanya lagi? Ayah tak bisa melakukannya. Bukankah ayah sudah setuju Hideki sekolah di sini ....” Protes kak Ayashi.
“Kau tidak lihat dia terus sakit kepala jika bicara soal gadis ini? Hideki sudah terlalu bergantung padanya! Makanya aku akan bawa dia pulang. Aku akan sewa beberapa psikiater handal di Jerman untuk menyembuhkan traumanya.”
“Ayah, tapi ....”
“Kau urus saja tamumu. Aku hanya ingin melihat putraku.”
Ayah Hideki langsung berjalan melewati kami. Auranya saja membuatku takut. Tapi aku lebih takut kehilangan Hideki. Benarkah ia kesakitan seperti ini karena memikirkan masalahnya denganku? Astaga, jadi ini semua salahku?
***