
"Ah …"
Hideki terbangun dengan rasa pening di kepalanya. Matanya menangkap sinar matahari pagi yang menembus jendela. Hideki melihat ke sekeliling kamar mencari jam dinding. Rasanya ia tidur lama sekali. Ia mulai menyadari kalau ini bukan kamar tidurnya. Ia mendadak bangkit terduduk di ranjang.
Hideki melihat ke tubuhnya yang sudah telanjang dada. Kemeja, dasi, jas kerja dan sepatunya berserakan di lantai. Hideki bingung kenapa ia bisa tidur di kamar asing tanpa pakaian begini. Jika dilihat lagi sepertinya ini kamar sebuah hotel.
Hideki berdiri hendak mengambil kemejanya. Matanya menangkap cermin yang ada di sampingnya. Ia terkejut saat melihat coretan di cermin. Hideki mendekat, tulisan itu sengaja di tulis dengan lipstik berwarna merah.
Terimakasih untuk yang semalam.
Entah apa yang terjadi tapi itu berarti semalam ada orang lain selain dirinya disini. Jika dilihat dari lipstik dan tulisan itu, sudah jelas itu milik seorang perempuan. Kenapa ada perempuan?
"Kenapa aku disini? Apa yang kulakukan semalam? Uh …"
Pikiran Hideki mulai menerawang kejadian semalam tapi ia tak mendapati satu ingatan pun. Ia malah merasa kepalanya jadi sangat sakit. Ada yang tidak beres disini. Ia segera mencari handphonenya dan menemukan handphone itu masih di saku jasnya. Ia segera membuka pesan masuk.
Aku sudah sampai rumah, Hideki. Selamat istirahat.
Pesan dari Agika yang dikirim tadi malam dan baru ia buka. Beberapa panggilan masuk juga mengisi display handphonenya. Hideki tiba-tiba ingat kalau ia sedang meeting dengan Reina kemarin sore sehingga tak bisa menjemput Agika. Tapi tiba-tiba kepalanya sakit karena meneguk segelas air saat meeting.
"Wanita itu … apa yang sebenarnya terjadi?" Kata Hideki geram.
Hideki segera memakai kembali semua pakaiannya dan keluar dari kamar hotel itu. Ia tak peduli dengan kejadian semalam yang bahkan ia tak ingat. Hideki hanya berharap ia menginap di hotel dan tak ada yang terjadi. Meski kemungkinannya memang kejadian buruk, Hideki tak mau berasumsi macam-macam.
💜💜💜
Akhirnya Hideki memutuskan kembali ke rumahnya. Meski masih merasa bingung dengan ini semua, Hideki tak mungkin mencari tahu sekarang. Anehnya, saat ia mau pulang, mobilnya ada di hotel. Tapi lagi-lagi Hideki tak ingat kalau ia membawa mobil Porsche-nya menuju hotel.
Hideki berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Rasanya ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kamar.
"Dari mana kau?"
Ayah Hideki sudah menghadang Hideki di ujung tangga. Ia menatap Hideki tajam sambil memegang koran di tangannya. Hideki menghela napas. Ia terus berjalan melewati sang ayah menuju kamar. Ia benar-benar sedang malas meladeni ayahnya.
"Hideki! Kemana saja kau semalam?" Tanya ayahnya lagi.
"Aku lelah sekali. Biarkan aku istirahat."
"Lelah? Memangnya apa yang kau lakukan semalam? Tidur dengan Reina?"
"Apa?!"
Kali ini Hideki menoleh pada ayahnya. Tatapannya sungguh dingin. Ayahnya sudah bicara keterlaluan. Hideki belum sempat mendekat. Tapi sang ayah langsung melemparkan koran itu padanya.
"Kau lihat itu! Berita itu sudah menjadi highlight di semua media."
"Ini …"
Hideki melihat fotonya di kamar hotel yang baru saja ia singgahi. Foto itu sangat mirip dirinya. Ia yang telanjang dada sedang mencumbu Reina yang hanya memakai pakaian dalam. Mereka melakukannya persis di tempat tidur yang baru saja Hideki pakai. Lalu tertulis berita, "Beredar foto-foto mesra Reina, putri direktur Landscape dengan calon CEO perusahaan besar asal Jerman." Hideki sangat terkejut. Benarkah itu dirinya?
"Tak kusangka kau bermain wanita sampai menidurinya. Aku harus bilang apa pada direktur Ogawa."
"Aku tidak melakukannya."
"Apa maksudmu? Lalu kemana kau semalam?"
"Aku terbangun. Tiba-tiba saja aku di hotel dan …"
"Kau benar di hotel? Astaga, jadi semua berita ini benar?!"
Hideki terdiam. Kepalanya menjadi sakit berkali-kali lipat. Jadi semalam ia bangun dalam kondisi seperti itu karena baru saja tidur dengan Reina? Tapi Hideki sama sekali tidak ingat apa yang ia lakukan semalam. Dan ia harusnya tak mungkin melakukannya.
"Aku bahkan hampir menganggapmu serius saat bilang akan menikahi gadis itu. Ternyata kau masih senang bermain-main dengan wanita lain."
"Aku tak mungkin …"
"Kau pulang pagi berantakan seperti ini. Kau juga mengaku kalau tidur di hotel. Kau masih menyangkal?"
Dokter Tadashi yang ada di lantai bawah mendengar pertengkaran ayah dan anak itu. Ia langsung menaiki tangga melihat keadaan mereka. Wajahnya terkejut melihat tuan mudanya sudah pulang dalam kondisi berantakan. Tadashi sudah tahu tentang berita ini tapi ia butuh penjelasan dari Hideki sendiri.
"Katakan! Bagaimana kau akan menjelaskannya padaku?! Jelas sekali kalau ini dirimu!"
"Terserah!"
"Kau mau kemana, Hideki?! Hei, Hideki! Aku belum selesai bicara denganmu!"
HHideki membuang koran sialan itu ke lantai. Lalu berbalik pergi ke kamar. Ia tak peduli pada ayahnya yang masih marah. Kepalanya sungguh terasa pusing. Apalagi muncul masalah seperti ini. Apa mungkin Reina menjebaknya?
Tadashi akhirnya memberanikan diri muncul di depan ayah Hideki yang masih kelihatan kesal dengan putranya. Tadashi membungkukkan badan menghormati presdir itu. Tapi pria tua itu mendengus kesal.
"Tak ku sangka dia berbuat hal memalukan seperti ini." Gumam sang presdir.
"Saya masih tidak percaya tuan muda melakukan itu. Tuan muda …"
"Lalu apa? Jelas sekali kalau itu dia!"
Tadashi diam. Ia tak membantah lagi. Mau bagaimanapun dilihat, pria di koran itu memang Hideki. Tapi Tadashi masih belum percaya tuan mudanya semudah itu meniduri wanita. Apalagi pria dingin itu hanya mencintai Agika. Ia tak pernah bermain-main dengan wanita bahkan saat di Jerman.
"Tadashi, aku akan mengurus kerjasama dengan perusahaan Landscape. Aku tak mau citra perusahaan memburuk. Anak itu tak bisa diandalkan. Kau minta semua media, termasuk di Jerman, agar tidak memberitakan berita ini lagi. Suruh hapus semuanya."
"Baik, tuan presdir."
💜💜💜
"Apa yang ku lakukan semalam?"
Guyuran air shower mendinginkan kepala Hideki yang sejak tadi terasa pusing. Sudah hampir setengah jam ia mandi, tapi kepalanya yang tak membaik membuatnya enggan beranjak dari sana. Ia juga ingin membersihkan tubuhnya yang terasa sangat kotor. Ia tak mengerti kenapa bisa ada berita semacam itu. Apa benar ia tidur dengan Reina? Siapa yang memotretnya dan memberitakannya ke media?
Hideki menyerah. Ia akhirnya keluar kamar mandi setelah setengah jam ia berendam disana. Hideki keluar dengan handuk putih melilit pinggangnya. Ia mengeringkan rambut hitamnya yang basah.
"Kau menyedihkan sekali. Kau tak perlu ke kantor hari ini."
Tadashi datang ke kamar Hideki. Ia meletakkan nampan sarapan Hideki yang direbutnya dari pelayan. Lalu duduk di sofa kamar pribadi tuan mudanya itu. Hideki melirik.
"Kau sungguh melakukannya?" Tanya Tadashi.
"Entahlah. Aku …"
"Pria matang sepertimu terkadang bisa melakukan kesalahan. Itu sedikit parah tapi masih wajar. Aku pernah melakukannya."
"Aku bukan dirimu."
"Tapi di foto itu jelas dirimu."
Hideki diam sejenak. Benar, siapapun pasti akan melihat kalau pria di foto itu memang dirinya. Postur tubuh, wajah, gaya rambut, semua memang dirinya. Tapi berkali-kali Hideki ingin mengingat-ingat apa yang sudah ia lakukan semalam, dirinya sama sekali tak punya bayangan.
"Uh …" Erang Hideki ketika sengatan di kepalanya muncul lagi.
"Tuan muda?"
"Jika aku tidur dengan wanita itu, kenapa aku tak bisa mengingatnya. Aku tak ingat apapun."
Melihat tuan muda yang terus mencengkeram kepalanya, Tadashi jadi khawatir ia terlalu berpikir keras. Hideki punya riwayat trauma dan bisa membuat kepalanya sangat sakit. Lagipula sepertinya kali ini Hideki tidak berbohong. Ia memang tak ingat kejadian semalam. Memang ada yang aneh.
"Sebelumnya bukankah kau sedang meeting dengan Reina?"
Hideki tersentak. Ia tiba-tiba ingat kejadian saat meeting. Ia baik-baik saja sampai akhirnya kepalanya terasa pusing dan tubuhnya mendadak kepanasan. Apa setelah itu wanita itu membawanya ke hotel?
"Wanita itu yang melakukannya."
"Apa?"
Hideki menceritakan detailnya pada dokter pribadinya itu. Tadashi bahkan tak percaya apa yang baru saja ia dengar tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi. Ia juga menyadari kalau Reina memang terlihat tertarik pada tuan mudanya sejak pertama bertemu.
"Jika yang kau ceritakan benar, tetap saja kau tak punya bukti. Menemuinya pun hanya akan memojokkanmu." Kata Tadashi.
"Aku tahu."
"Aku akan bantu selidiki wanita itu."
Hideki mengangguk. Ia masih tak yakin kalau ia meniduri wanita licik itu dan melakukan sesuatu dengannya. Hideki bahkan tak ingat sama sekali. Pasti ada kesalahan. Ia harus memastikan apa yang terjadi dan mengetahui apa maksud wanita itu menjebaknya.
"Ah ngomong-ngomong, aku kesini hanya untuk memberikan pesananmu, tuan muda."
Tadashi memberikan satu buah kotak perhiasan berwarna putih pada Hideki. Saat kotak itu dibuka, kilauan berlian dari cincin mewah itu terlihat sangat indah.
"Kau yakin akan melamar nona Agika?" Tanya Tadashi ragu.
"Ya."
"Apa nona Agika tahu berita ini?"
"Apa?"
"Mungkin saja kau dijebak tapi terlepas dari itu, faktanya adalah kau sudah tidur dengan Reina."
"Aku tidak melakukannya."
"Bagaimana kalau kau memang melakukannya? Kau hanya tidak ingat. Dia menjebakmu dengan obat itu. Bisa jadi kau melakukan sesuatu padanya tanpa sadar dan obat itu membuatmu lupa kejadian malam itu."
Hideki terdiam. Ia tak bisa menyangkal asumsi Tadashi. Bagaimana jika ia memang melakukan sesuatu dengan Reina pada malam itu? Hideki juga bangun tanpa pakaian di tubuhnya. Seolah menunjukkan kalau Hideki meniduri seorang wanita semalam. Bagaimana jika itu benar? Apa ia bisa menganggap ini hanya sebuah kecelakaan? Apa Agika bisa menerimanya?
"Tuan muda, tak ada wanita yang mau menikah dengan pria yang sudah tidur dengan wanita lain."
Hideki tersentak. Ucapan Tadashi menohok jantungnya. Menjawab pertanyaan yang sejak tadi memenuhi otaknya. Tapi meski Hideki merasa tersinggung, semua yang dikatakan dokter pribadinya ini benar.
"Aku sudah meminta media menghapus beritanya tapi aku tak yakin nona Agika tidak tahu. Jika wanita itu berniat menjebakmu, ia pasti ingin nona Agika tahu." Jelas Tadashi.
"Aku harus menemui Agika."
Terlepas dari ia tidur dengan Reina atau tidak, Hideki sudah tahu kalau wanita licik itu menjebaknya. Ia pasti ingin hubungannya dengan Agika memburuk. Hideki harus menjelaskan pada gadis pujaannya itu agar tidak terpancing sementara ia menyelidiki ini.
💜💜💜