
Agika duduk di kursi taman depan apartemennya. Langit mulai gelap, tapi Agika masih enggan beranjak dari sana. Ia membawa amplop coklat kiriman orang tak dikenal yang tiba di meja kerjanya tadi pagi. Amplop berisi foto-foto yang membuat dunia Agika terasa jatuh. Ia berkali-kali melihat dan membolak-balikkan foto-foto itu dari semua sudut pandang tapi yang ia simpulkan tetap sama. Itu adalah foto-foto mesra Hideki dengan Reina, rekan kerjanya. Bahkan media pun sempat ramai memberitakan.
Agika memegangi dadanya yang terasa sakit. Matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya terasa sedih. Belum ada klarifikasi apapun dari Hideki maupun Reina di media. Hideki memang tak mungkin akan bicara di media karena ia benci hal-hal seperti itu. Tapi bukankah seharusnya ia menelpon Agika dan menjelaskan semuanya? Agika mencoba berpikir ini adalah jebakan, itu bukan Hideki atau ini foto editan. Tapi ia mulai khawatir saat Hideki tak membalas pesannya sejak tadi malam.
"Agika."
"Eh?"
Karena melamun, Agika sontak bangun dari tempat duduknya dengan spontan saat namanya dipanggil dengan suara khas yang sudah ia kenal. Semua foto yang ada di pangkuannya jatuh berceceran di tanah.
Hideki sudah berdiri di depannya. Ia tak bermaksud mengagetkan Agika. Tapi ternyata dirinya malah dikejutkan dengan foto-foto yang Agika jatuhkan ke tanah. Foto dirinya yang ada di koran ayahnya tadi pagi dan beberapa foto lain. Agika malah memilikinya lebih banyak.
"Dari mana kau dapat foto-foto itu?" Tanya Hideki.
"Ada yang mengirim padaku."
"Siapa?"
"Aku tak tahu. Tiba-tiba saja ada di mejaku."
"Agi …"
Hideki mendekat pada Agika yang sejak tadi menunduk tak mau menunjukkan wajah cantiknya. Saat Hideki mencoba meraih tangan Agika, gadis itu menolak.
"Kau tak bilang padaku kalau kemarin meeting pentingmu adalah bersama Reina. Pak sopir yang bilang padaku." Kata Agika.
"Aku hanya tak mau kau cemburu."
"Kau pikir sekarang aku tak cemburu? Aku bahkan ingin marah." Gumam Agika.
"Agika …"
"K … kemana kau semalam?" Tanya Agika dengan suara tercekat.
Mendengar suara Agika yang terasa bergetar, hati Hideki ikut tergetar. Pacarnya itu sepertinya sudah terlanjur terbawa suasana dengan foto-foto yang ia lihat sejak tadi. Hideki juga tak bisa menjawab pertanyaannya.
"Kau tak membalas pesanku sampai sekarang. Apa meetingmu sampai malam?"
"Aku ketiduran." Akhirnya jawaban itulah yang keluar dari mulut Hideki.
"Ketiduran? Maksudmu kau tidur dengan Reina?"
"Kau percaya dengan berita dan foto-foto ini?"
"Lalu siapa yang harus ku percayai?"
Kali ini Agika memberanikan diri menatap Hideki yang terlihat sedih mendengarnya bicara. Suara Agika sudah berat seakan ingin menangis. Ia masih tak percaya Hideki yang ada di foto-foto mesra ini. Tapi Hideki tak membela diri.
"Aku tak ingat apa yang ku lakukan semalam di hotel itu."
Agika sangat kaget. Ia memundurkan diri setiap kali Hideki mendekat. Ia sebenarnya ingin Hideki meyakinkannya kalau itu semua tak benar, tapi pria itu malah mengakuinya. Bagaimana Agika bisa berbicara dengan tenang lagi? Kali ini mata Agika mulai berkaca-kaca.
"Aku rasa aku tak melakukan apapun. Entahlah, aku tak ingat …" Kata Hideki mulai ragu.
"Bagaimana mungkin pria dan wanita berduaan di hotel dan tak melakukan apapun? Lalu foto ini apa?"
Hideki tak mampu menjawab. Padahal air mata Agika mulai mengalir membanjiri pipinya yang merah. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kecewa dengan Hideki.
"Agika, dengarkan aku. Wanita itu menjebakku."
"Menjebak?"
"Aku tak tahu detailnya tapi aku akan selidiki ini. Percayalah padaku."
Agika menatap mata biru pria di depannya ini. Hideki sepertinya juga kebingungan dengan berita yang beredar. Kali ini ia merasa dirinya dijebak oleh Reina. Bagi Agika yang pernah bertemu dengan wanita itu meski sekali, sangat mungkin dia menjebak Hideki. Reina pernah bilang kalau ia ingin merebut Hideki dari pelukannya. Jika disuruh memilih pun, Agika juga akan mempercayai Hideki dibanding wanita licik itu. Tapi bagaimana jika Hideki memang melakukannya? Dia bahkan tak bisa menjelaskan dan meyakinkannya.
"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Hideki.
"Aku hanya tidak mengerti semua ini. Hiks!"
Hideki langsung merengkuh tubuh Agika yang masih gemetaran. Ia mencoba memeluk gadis itu. Suara Agika juga masih terisak tapi ia tak lagi marah. Daripada mempercayai atau tidak percaya, Agika marah karena ia cemburu melihat foto-foto itu. Agika tak terima pacarnya seperti itu dengan wanita lain. Hatinya sakit.
Tiba-tiba Agika mendorong tubuh Hideki menjauh darinya. Semua yang ada di foto-foto itu membayangi otaknya. Ia sungguh tak nyaman jika Hideki memeluknya di saat seperti ini.
"Agi?"
"Aku tak bisa … hiks! Apa yang kau lakukan dengannya? Aku tak bisa membayangkan …"
"Agika, percayalah padaku. Aku sungguh …"
"Hideki, aku ingin sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Tiba-tiba aku tidak enak badan. Aku akan kembali ke apartemen."
"Agika, tunggu! Agika!"
Meski Hideki memanggil Agika berkali-kali, gadis itu tak mau menghentikan langkahnya untuk pergi. Hideki yakin Agika bukan tak enak badan. Ia hanya sedang merasa tak nyaman dengan situasi ini. Agika bahkan tak menoleh lagi. Rasanya ia tak sanggup menatap wajah tampan Hideki apalagi jika ia ingat foto-foto itu.
Hideki terduduk. Rusak sudah rencananya melamar Agika besok. Agika marah dan kecewa padanya. Ia pasti sudah sakit hati. Apalagi Agika ternyata mendapat foto-foto itu. Tapi bagaimana ia mendapatkannya?
Hideki tertegun. Ia mengambil foto-foto yang berserakan di tanah. Selain fotonya di hotel, ia juga mendapatkan fotonya saat meeting di perusahaan Reina. Ia kini yakin kalau Reina yang menjebaknya. Reina sengaja menyuruh orang untuk memfoto mereka saat kondisi Hideki sedang tidak sadar. Hideki harus fokus menyelesaikan masalah ini.
💜💜💜