
Presdir besar itu membuka pintu ruangan direktur yang masih terlihat terang. Itu artinya Hideki masih bekerja. Sang presdir langsung melihat jam tangannya. Pukul 12 malam. Kapan bocah itu berencana pulang?
Benar saja. Hideki masih di meja kerjanya. Sepertinya ia tertidur dengan laptop masih menyala di atas meja. Hideki merebahkan kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai tumpuannya. Sang presdir mendekati anaknya. Ia tak bisa melihat wajah putranya karena terhalang lengan tapi ia tahu Hideki kelelahan.
"Agi …" Ucap Hideki lirih sambil tertidur.
"Anak bodoh. Kau selalu menyebut namanya saat tidur. Bukankah kalian sudah putus?" Gumam presdir.
Obat di meja Hideki mengalihkan pandangan presdir dari putranya. Ia menemukan beberapa obat berserakan di dekat tangan Hideki dan segelas air putih yang sisa setengahnya.
Presdir mengambil obat itu dan melihat bungkusnya. Ia kini tahu kalau obat ini adalah obat tidur. Hideki butuh obat tidur? Sepertinya Tadashi pernah bilang kalau Hideki tak butuh obat apapun lagi setelah traumanya sembuh. Tadashi tak mungkin memberi obat itu.
"Ah …"
Hideki akhirnya bangun. Ia menggeliat sebentar lalu pelan-pelan ia menegakkan kepalanya yang terasa pening. Tubuhnya sudah pegal semua. Entah sejak kapan ia tertidur.
"Ini sudah jam 12 malam. Sampai kapan kau akan di sini?" Tanya presdir.
"Kau …"
Hideki sedikit terkejut menyadari ayahnya ada di ruangannya. Ia sudah bilang pada Tadashi kalau akan pulang sendiri. Kenapa ayahnya belum pulang? Apa ia sengaja menunggunya?
"Kenapa kau disini?" Tanya Hideki.
"Ah itu, sopirku pulang tadi sore, tapi ia tak kembali juga ke sini."
Presdir itu mencari alasan agar ia bisa pulang semobil dengan putranya. Karena gengsi, ia tak mau mengatakannya langsung. Tapi ekspresi Hideki malah kelihatan curiga.
"Kau sudah menelponnya?"
"Ah, handphonenya tak aktif." Jawab ayah Hideki.
"Tadashi?"
"Sekarang handphoneku yang mati."
Ayah Hideki menunjukkan handphonenya yang memang sudah ia matikan sejak tadi. Ia masih berusaha mencari alasan agar Hideki menawarinya pulang bersama. Selain itu, ia tak mau melihat putranya lembur terus menerus. Kelihatan sekali kalau Hideki sudah lelah.
Hideki hanya menghela napas. Ia langsung mengambil handphonenya di meja.
"Kau pecat saja sopirmu. Aku akan menelpon Tadashi agar menjemputmu."
"Tu … tunggu, Hideki."
"Hm?"
Ayah Hideki mendadak menghentikan anaknya membuka handphonenya. Hideki sebenarnya sudah heran dengan ayahnya yang salah tingkah. Menyadari Hideki meliriknya, sang ayah langsung memperbaiki wajahnya.
"Dokter payah itu mungkin sudah tidur."
"Sejak kapan kau sungkan? Aku yakin ia tak keberatan bangun untuk menjemputmu."
"Hei brengsek! Tak bisakah kita pulang bersama?! Susah sekali bicara denganmu!"
Sang ayah mulai kesal. Ia tiba-tiba meninggikan suaranya dan marah pada Hideki yang tak mengerti maksudnya sejak tadi. Ia sudah bersikap sabar tapi ternyata hal seperti itu memang tak cocok untuknya.
Hideki diam menatap ayahnya sebentar. Sang ayah memang bersikap aneh akhir-akhir ini. Ia bahkan tak menyinggung soal pertunangan lagi. Hideki sedikit tenang tapi ia tetap merasa terancam.
Hideki menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Ia mematikan laptopnya dan langsung bangkit mengambil jas kantornya yang tergeletak di sofa.
"Ada apa denganmu?" Kata Hideki.
"Memangnya kenapa?!"
"Ah sudahlah. Aku sedang malas berdebat. Kita pulang sekarang."
Setelah mengambil kunci mobil, Hideki melewati ayahnya dan bersiap pulang. Apa boleh buat, kali ini ia menuruti ayahnya yang ingin pulang bersama. Lagi pula ia sedang malas beradu mulut.
"Hei, Hideki." Tahan sang ayah.
"Apa lagi?"
"Kau minum obat tidur?"
Hideki melirik ayahnya dari balik pundaknya. Pandangannya langsung beralih ke meja kerjanya tadi. Ia sudah tak melihat obat yang ia konsumsi.
"Ini bukan dari Tadashi, kan?"
Ayah Hideki mengeluarkan obat yang ia ambil dari saku jas kantornya. Obat yang ia dapatkan dari meja Hideki tadi.
"Kembalikan."
"Kenapa kau meminumnya?"
"Beberapa hari ini aku insomnia. Berikan itu padaku."
"Berhenti meminum ini! Kau hanya butuh istirahat. Lagipula kau punya riwayat sakit kepala yang cukup berat, kan?"
"Sejak kapan kau peduli padaku? Berikan itu."
"Aku akan membuangnya."
Tatapan mata biru ayah Hideki membuat Hideki kesal sekarang. Ia memang mengonsumsi obat tidur karena pikirannya terlalu kacau, hatinya tidak tenang dan ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Tadashi tak memberinya resep ini, tapi Hideki membutuhkannya sekarang.
"Lalu kau ingin aku mabuk lagi?!" Tanya Hideki marah.
Sang ayah hanya diam dan terus menatap mata putranya yang dingin itu. Melihat ayahnya tak akan menyerahkan obat itu, Hideki hanya berdecak kesal.
"Baiklah! Terserah!" Umpatnya.
Ia berlalu begitu saja. Sang ayah sedikit merasa kasihan pada putranya. Ia kelihatan baik-baik saja setelah putus dari Agika. Ia bahkan tak menemui gadis itu lagi, tapi kenapa ia berubah begini? Ia bahkan lembur sampai pagi dan minum obat tidur? Apa ia benar-benar sedang depresi?
💜💜💜
Suara lantunan musik yang kencang itu tak mengganggu Hideki sama sekali. Ia masih menikmati minumannya dan belum mau beranjak dari sana. Biasanya ia tak suka suasana bising tapi kali ini ia tak punya cara lain. Ia ikuti permainan ayahnya.
"Berikan aku segelas lagi."
Hideki meletakkan gelas kosong itu ke meja bar dengan keras, mengalahkan suara kencang musik yang diputar di bar itu. Mau tidak mau sang bartender harus melayaninya. Padahal untuk mengangkat kepalanya pun Hideki sudah kesulitan. Ia sudah mabuk sejak meneguk gelas yang pertama.
"Tuan, anda sudah mabuk. Sebaiknya …"
"Aku akan membayarnya."
Kali ini Hideki mengeluarkan semua isi saku celananya ke meja bar. Ada kunci mobil porsche hitamnya dan dompet kulit berwarna hitam miliknya. Hideki mengambil sebuah kartu kredit platinum miliknya lalu meletakkannya ke meja bar sambil menggebraknya. Bartender pun semakin kaget.
"Kau bisa ambil berapapun yang kau mau disini." Kata Hideki ngelantur.
"Bukan masalah itu, tuan. Anda tak akan bisa pulang jika mabuk berat."
"Berikan saja …"
"Tuan muda!"
Terdengar suara langkah kaki yang berlari ke arah Hideki yang masih protes pada sang bartender. Hideki tak peduli. Ia tahu siapa yang menyusulnya ke bar. Sudah pasti dokter tukang adu itu. Tadashi menghampiri Hideki dan langsung menahan lengannya yang ingin mengambil gelas bir selanjutnya.
"Kita pulang sekarang." Kata Tadashi dengan tegas.
Hideki melepas lengannya dari Tadashi. Ia enggan pulang. Apalagi jika hanya mendengarkan ayahnya mengoceh. Ia sudah terlalu pusing memikirkan masalahnya. Jika ia tak bisa tenang dengan obat tidur, pergi ke bar seperti ini adalah alternatifnya.
Hideki tetap mengambil gelas yang sudah penuh bir. Ia mengabaikan dokter pribadinya yang masih berdiri disana.
"Kau tak lihat aku masih ingin minum?"
"Presdir mencarimu! Kenapa kau merepotkanku dengan mabuk seperti ini lagi?"
"Kau kesini karena perintah orang tua egois itu? Ah kau memang tangan kanannya."
"Kau ingin presdir menanganimu sendiri?!"
Hideki meneguk segelas bir itu sekaligus dengan percaya diri. Ia tak peduli pada asistennya yang terlihat kesal. Hideki tahu Tadashi tak akan berani bersikap keras padanya.
"Tambah segelas lagi." Perintah Hideki pada bartender yang kini kelihatan ketakutan.
"Sudah berhenti minumnya!"
Tiba-tiba seorang gadis berteriak pada Hideki. Padahal posisinya hanya dibelakang Hideki. Ia berteriak karena kesal. Hideki mengintip dibalik bahunya. Pupil matanya membesar karena sedikit terkejut. Ternyata Tadashi membawa mantan pacar Hideki bersamanya.
"Agika." Sapa Hideki setelah sekian lama.