Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 18



Akhirnya ku putuskan ikut kak Ayashi dan dokter Tadashi menjenguk Hideki. Entah kenapa aku tak bisa tenang kalau tak bertemu dengannya. Aku sudah mengirimkan pesan pada ibu kalau aku akan pulang telat. Dokter Tadashi juga setuju akan mengantarku pulang nanti.



Ini adalah rumah sakit mewah yang ada di kotaku. Sangat beda dengan rumah sakit tempat ibu bekerja. Sangat luas. Katanya Hideki di rawat di kamar paling mahal. Aku sudah tidak penasaran setelah tahu kalau ia adalah pewaris perusahaan. Aku buka pelan pintu ruangan VVIP 141 di rumah sakit ini.



“Eh ....”



Aku langsung terkejut. Hideki ternyata berdiri di balik pintu. Wajahnya kelihatan pucat. Keningnya masih tertempel plaster penurun panas. Dan ia memakai piyama pasien. Terlihat sedikit lucu tapi aku tak mungkin menertawakan orang yang sedang sakit. Ia juga sama terkejutnya saat melihatku.



“A .... Agi ....”



“Kau pasti terkejut kan saat ku bawa Agika kemari?” Tanya kak Ayashi sambil menggoda adiknya.



Hideki tak selesai memanggilku. Ia memalingkan wajahnya dariku. Wajahnya memerah sekarang. Bukan hanya karena demam, tapi ia sepertinya malu. Hideki langsung berbalik badan. Dan berjalan pelan kembali ke tempat tidur.



“Habis dari mana?” Tanya kak Ayashi.



“Toilet.”



“Kau sudah makan?”



“Belum.”



Hideki berusaha mengalihkan pandangannya dariku. Ia tak mau melihatku. Kenapa? Apa ia malu setelah menyatakan perasaannya? Atau ia malu padaku kalau ayahnya memaksanya pulang waktu itu?



“Ukh ....”



Langkah Hideki mulai tak seimbang. Ia terhuyung. Sepertinya ia belum membaik. Aku yang berdiri di belakangnya dengan refleks langsung menahan tubuhnya.



“Hideki! Kau baik-baik saja?” Tanyaku.



Mata biru itu akhirnya menatapku. Wajahku sudah memancarkan kekhawatiran. Tubuhnya memang terasa hangat. Benar, demamnya belum turun. Dokter Tadashi dan kak Ayashi juga langsung menolongnya. Hideki langsung melepas lengannya dariku.



“Aku tak apa. Hanya sedikit pusing.”



“Istirahatlah. Aku akan memeriksamu, tuan muda.”



“Ah aku carikan makan siang untukmu ya. Sekalian Agika juga.” Kata kak Ayashi sambil berjalan keluar.



Dokter Tadashi membantunya berbaring kembali ke tempat tidur. Hideki masih memegangi kepalanya yang pusing. Aku biarkan dokter Tadashi menanganinya dulu sebelum Hideki mau ku dekati. Sepertinya ia sedikit tak nyaman denganku.



Dokter Tadashi menyentuh kening Hideki. Melepas plasternya dan mengganti dengan plaster yang baru. Ia lalu membuka kancing baju piyama Hideki, ia bermaksud memeriksa detak jantungnya. Tapi melihat tubuh Hideki yang bagus dan perutnya yang rata begitu jantungku berdegup kencang. Astaga! Dia benar-benar sempurna dan tampan. Wajahku tiba-tiba memerah. Aku langsung memundurkan langkahku dan berbalik badan.



“Eh? A .... Ada apa nona?” Tanya dokter Tadashi kebingungan.



“Ti .... Tidak. Tidak ada apa-apa. Kau lanjutkan saja dokter, aku akan keluar.”



“Kenapa keluar?” Tanya Hideki.



“Eh? A .... Aku ....”



“Bukankah kau kesini ingin bertemu denganku? Kau mencoba menghindariku lagi?”



“Ti .... Tidak. Kalau begitu aku akan menunggu di sini.”



Akhirnya aku menunggu di sofa sambil menunduk. Aku tak mungkin melihat Hideki dalam keadaan begitu. Apalagi wajahku merah. Semua orang bisa mengira aku berpikiran mesum.



Setelah memeriksa Hideki, dokter Tadashi pamit mau menebus obatnya. Setelah kak Ayashi membawakan bubur, ia juga pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit. Hanya tinggal aku dan Hideki. Aku duduk di dekatnya tapi tak bisa memulai untuk bicara. Kenapa setelah menyatakan perasaan jadi canggung begini?



“Ba .... Bagaimana keadaanmu, Hideki?” Tanyaku gugup.



“Baik.”



“Syukurlah. Kenapa bisa sampai sakit begini?”



“Hanya demam dan pusing.”



Hanya demam? Aku tahu kalau ayahnya mengurungnya semalam. Tapi Hideki tak mau bilang padaku. Aku berhenti menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku. Ku temukan guratan guratan merah di kedua pergelangan tangannya. Aku langsung menyentuhnya karena penasaran.



“Eh kenapa tanganmu? Merah-merah begini.”



Hideki langsung melepas tangannya dariku dengan cepat. Ia memalingkan wajahnya lagi.



“Tidak apa-apa.”



Hideki sepertinya mencoba menjaga jarak dariku. Aku jadi ingat kalau waktu itu aku juga terus menghindar darinya setelah ia menyatakan cintanya padaku. Ternyata rasanya begini. Menyesakkan. Padahal aku ingin menjadi tempat ia bercerita jika ada masalah. Ia memintaku tidak menghindar tapi dia malah bersikap aneh begitu.



“Hideki, apa ayahmu tahu kau disini?”



“Tadashi pasti sudah memberitahunya. Tapi ia belum menemuiku.”



“Begitu ya.”




Semua anak pasti senang jika ayahnya datang menjenguk saat ia sakit. Tapi kelihatannya Hideki tidak begitu. Mendengar cerita kak Ayashi tentang perlakuan ayahnya pada Hideki, wajar saja ia jadi seperti ini. Apa tak ada hal yang bisa mengubah ayahnya?



“Kak Ayashi pasti sudah cerita padamu. Maaf, harusnya kau tak tahu hal ini. Aku takut ayahku akan melibatkanmu dan .... Ukh!”



“Hideki?! Ada apa?!”



Hideki mencengkeram kepalanya lagi. Ia kesakitan. Ia selalu sakit kepala jika membicarakan soal ayahnya, apalagi sekarang ia sedang pusing. Kata kak Ayashi ia sempat trauma. Apa begini reaksinya? Aku langsung mencoba menenangkannya. Aku sentuh lengannya dengan lembut.



“Agi .... Kepalaku sakit. Ukh ....”



“Hei, jangan banyak pikiran. Hideki, kau harus tenang.” Kataku pelan.



Aku sangat kasihan padanya. Aku tak tahan untuk memeluk tubuhnya yang hangat. Mungkin ia akan terkejut, tapi aku sungguh ingin membuatnya tenang. Entah kenapa. Bersyukur ia tak menolakku lagi, ia bahkan tak menghindar saat ku usap kepalanya dengan lembut. Napasnya yang berat mulai terasa lebih stabil.



“Jangan berpikir lagi. Istirahatlah, oke? Aku akan menemanimu.”



Ia tak mengeluh lagi soal kepalanya. Ku rasakan tubuhnya lebih stabil meskipun masih demam. Detak jantungnya juga mulai teratur. Ternyata pelukanku membuatnya tenang seperti obat penenang yang biasa dokter Tadashi berikan. Lama kelamaan ia tertidur.



***



“Iya. Aku menemaninya di rumah sakit. Dokter Tadashi akan mengantarku pulang. Kau tak usah khawatir. Sampai jumpa.”



Ku tutup telepon dari Kazuma. Ia ternyata menelponku sejak tadi dan aku tidak mengangkatnya. Makanya ia khawatir. Aku memang mensenyapkan handphoneku agar tidak mengganggu Hideki. Ini saja aku menelpon di balkon.



“Apa itu Kazuma?”



“Ah, kau sudah bangun?”



Aku terkejut mendapati Hideki sudah ada di depan pintu balkon. Apa ia bangun karena mendengar suaraku yang berisik? Sepertinya aku sudah memelankan suaraku. Hideki berjalan mendekat dengan hati-hati karena kepalanya masih pusing. Aku langsung menahan tubuhnya.



“Hei, kau harus beristirahat di tempat tidur.” Kataku.



“Tak apa. Aku hanya ingin menghirup udara luar sebentar.”



Hideki melirikku yang sedang membantunya berjalan. Kenapa? Apa yang sedang ia pikirkan?



“Agika.” Panggilnya.



“Ya?”



“Apa kau baik pada semua orang?”



“Eh?”



“Aku menyukaimu karena menerima kebaikan dan ketulusanmu. Apa kau tak menjawab perasaanku karena bagimu aku layaknya temanmu yang lain? Kazuma dan pria rambut aneh itu?”



“Ke .... Kenapa bicara seperti itu?”



“Kau menjengukku hanya karena aku temanmu kan? Kau akan melakukannya pada Kazuma dan pria itu juga. Benarkah begitu?”



Aku diam. Aku mulai berpikir mencari jawabannya karena ia mulai menanyakan perasaanku lagi. Ternyata ia tak lupa.


Ia memalingkan wajahnya. Oh tidak, bukan begitu. Jangan berpaling. Semua yang ia katakan tak sepenuhnya benar. Aku memang tulus melakukan semua untuknya. Bukan hanya karena Hideki temanku. Pikiranku akhir-akhir ink selalu terisi penuh olehmu. Bukan Kazuma, bukan kak Matsu. Apalagi saat kau tak ada, aku sangat khawatir.



“Aku sangat iri.” Katanya lagi.



“A .... Apa?”



“Apa kau tak bisa melakukan sesuatu hanya untukku, Agika? Apa kau tak bisa menyukaiku?”



Hideki kembali menatapku. Kali ini ia serius. Ia tak ingin aku melarikan diri lagi. Mata birunya bahkan tak mau melepasku. Aku memundurkan langkah. Tapi Hideki segera memegang lenganku.



“Agi ....”



“Aku belum pernah mengalami kondisi seperti ini saat dengan Kazuma atau kak Matsu. Tapi aku yakin itu akan berbeda. Karena aku selalu memikirkanmu.”



“Agika, jadi kau ....”



Tiba-tiba dokter Tadashi masuk ke ruangan ini. Aku langsung melepas tangan Hideki.



“Nona, aku siap mengantarmu pulang.”



Aku tiba-tiba salah tingkah. Aku tak berani lagi menatap Hideki karena aku sudah berani bicara seperti ini. Aku harus pergi sebelum pingsan karena malu.



“Su .... Sudah sore. A .... Aku akan pulang. Sampai jumpa.”



Aku langsung mengambil tas ku di sofa dan segera berjalan keluar ruangan sebelum muka merahku diketahui dokter Tadashi. Hideki hanya mematung. Aku harap ia baik-baik saja.



***