Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 37



Hideki membuang handphone-nya sembarangan di tempat tidur. Lalu merebahkan tubuhnya di sana. Ia memijat kepalanya yang mendadak sakit. Setelah menelpon Agika, ia mengira akan lebih baik. Tapi ternyata perasaan rindu ini makin menyiksanya. Gadis manis itu sudah menjadi candu baginya. Ia tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan di Jerman tanpa Agika.



“Hideki.”



Ada yang masuk ke kamar tidurnya yang besar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Suara perempuan. Sudah jelas itu bukan pelayan mansion. Hideki masih malas bangun. Ia hanya melirik. Ibunya datang sambil tersenyum lembut padanya. Sedangkan di belakangnya ada dokter Tadashi.



“Ibu senang putra ibu paling tampan ini akhirnya mau pulang.”



Hideki tak menjawab. Sejak sampai di Jerman kemarin, ia memang tak melihat ibunya di rumah. Ibunya juga memiliki kesibukan sendiri di Jerman.



“Kau menelpon siapa barusan?” Tanya ibunya.



“Ah! Jika reaksi tuan muda seperti ini ia pasti sedang menelpon pacarnya.” Kata Tadashi antusias.



Tadashi menebak sambil mengusap-usap dagunya. Ia tertawa puas sebelum akhirnya Hideki meliriknya dengan tatapan menakutkan.



“Pacar? Putraku punya pacar?”



“Baru lima bulan disana, tuan muda sudah bisa menakhlukan seorang perempuan.”



“Tutup mulutmu, Tadashi!” Bentak Hideki.



Akhirnya tuan muda dingin itu kesal dengan dokter pribadinya. Ia akhirnya bangun dari tempat tidurnya. Mata birunya melirik Tadashi dengan tajam. Kepalanya makin pusing mendengar celotehan Tadashi. Dasar dokter muda bermulut besar!



Lagipula itu tidak benar. Sudah bisa dipastikan semua wanita bisa ditakhlukan oleh Hideki. Siapa yang tidak mau dengan pria tampan dan calon CEO. Hanya saja Hideki dingin dan selalu menghindari perempuan. Ini pertama kalinya dengan Agika, ia merasa nyaman. Bukan dia yang menakhlukan, tapi Agika yang berhasil membuatnya bertekuk lutut.



“Siapa gadis beruntung itu?” Tanya ibunya sambil menyentuh wajah putranya yang memerah.



“Jika aku katakan siapa dia, apa ayah dan ibu akan membiarkanku menemuinya? Ku rasa percuma. Ayah tetap akan menahanku disini.”



“Sayang ....”



“Kepalaku pusing. Biarkan aku sendiri.”



Hideki menolak uluran tangan ibunya dan kembali berbaring. Ia memalingkan tubuh dari ibunya. Ibunya hanya menghela napas. Putranya memang sedingin itu pada siapapun.



“Kepalamu sakit lagi?” Tanya ibunya mengalihkan pembicaraan agar Hideki tidak kesal.



“Traumanya sering kambuh, nyonya besar.” Jawab Tadashi cepat.



“Kambuh? Apa kau bertengkar dengan ayahmu? Tadashi bilang kau sempat kecelakaan di sana? Kakimu patah? Kenapa tak bilang pada ibu?” Ibunya menjejalinya dengan banyak pertanyaan.



“Ibu tanya ayah saja.”



“Kalian bertengkar lagi?”



“Aku malas membahasnya.”



Hideki benar-benar sedang tak mau bicara pada siapapun. Rasanya setelah menelpon Agika, mood-nya menjadi buruk. Ia merasa semua orang di rumah tak ada yang mengerti dirinya.



“Ya sudah. Kita makan siang ya. Ibu sudah minta pelayan menyiapkan makanan kesukaanmu.”



“Nanti saja.”



“Ayah sudah menunggumu di bawah. Bukankah kita sudah lama tidak makan bersama?”





“Kau sudah di Jerman, tak ada alasan lagi kau bersikap keras kepala.”



Akhirnya ayah Hideki datang ke kamar Hideki. Ia sudah bosan menunggu putranya turun ke ruang makan. Hideki hanya melirik.



“A .... Ayah.” Kata ibu kaget.



“Cepat ke bawah! Aku tak mau menunggu lagi.” Perintah direktur besar itu pada putranya.



“Kepalaku sakit. Duluan saja.”




Ayahnya mulai kesal lagi. Perintahnya selalu di tolak oleh putranya sendiri. Sang ibu yang tahu kalau ayah Hideki marah langsung mendekatinya. Ia takut mereka akan bertengkar lagi.



“A .... Ayah, sudah ku bilang biar aku yang mengurus Hideki. Ayah menunggu saja.”



“Soal kepalamu, aku sudah memanggil beberapa psikiater paling terkenal di sini untuk memberimu terapi. Sejam lagi mereka sampai. Sebaiknya kau makan dulu.” Kata sang ayah pada putranya. Ia masih berusaha menahan meosi.



“Aku tak butuh mereka.”



Sang ayah menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia sengaja bersabar karena putranya sudah mau dibawa kembali ke Jerman. Tapi sikap Hideki padanya tak berubah juga.



“Lalu siapa yang kau butuhkan? Gadis itu?”



Ingatan Hideki kembali pada kekasihnya yang jauh di sana. Ia mendesah dan menggeliat malas. Kepalanya kembali pusing jika sudah menyebut-nyebut soal Agika. Tadashi membantunya bangun tapi ditolak Hideki.



“Berhenti membicarakannya. Sudah ku bilang jangan buat aku menyesal kembali ke sini. Kita sudah sepakat.” Kata Hideki sambil melirik ayahnya dengan tatapan tajam.



“Asal kau menurut dan mau fokus pada statusmu sebagai calon CEO, aku akan biarkan kau bebas setelahnya.”



“Sebaiknya kau menepatinya.”



“Ah aku tahu rencanamu. Kau akan kembali menemui gadis itu setelah ini berakhir?”



“Bukan urusanmu.”



Dia masih dingin. Sang ayah tak ingin menanggapi jawaban putranya dengan emosi lagi. Ia sudah susah payah membawanya kesini. Hideki hanya perlu menurutinya. Direktur besar itu berdehem.



“Benar. Urusanku denganmu adalah mempersiapkan kau jadi pemimpin di perusahaan besar ini. Aku tak pernah ingin ikut campur persoalanmu dengan perempuan."



"Kau sudah melakukannya."



"Hei, kita sudah sepakat, Hideki. Tenang. Gadis itu akan jadi milikmu setelah urusanmu berakhir." Kata ayahnya sambil tersenyum.



"Agika sudah jadi milikku."



"Kau sudah pacaran dengannya? Sayang sekali. Peraturan pertama, kau tak diijinkan mengakses telepon, handphone, dan lainnya."




Hideki diam. Ia hanya menghembuskan napas pelan lalu turun dari tempat tidurnya dibantu oleh dokter Tadashi. Ia tak membalas perdebatannya dengan ayahnya. Hanya berjalan keluar kamar melewati ayah ibunya.



“Terserah. Ayo kita makan.”



Hideki memang sudah membuat kesepakatan alot dengan ayahnya. Ia akan menyelesaikan homeschoolingnya di sini, menuruti kata ayahnya untuk belajar menjadi CEO, tak lain adalah agar bisa bebas bersama Agika setelahnya. Ia berencana kembali setelah semuanya selesai. Tak ada jaminan, tapi ia percaya Agika akan menunggunya.





Even if tomorrow your feelings are distant,


surely I'll love you unchangingly.


Even if tomorrow you're unable to see me,


surely I'll love you unchangingly.


We will walk together, to the future not promised.


It keeps walking together to the future in which you are.



(Cassis – The GazettE)





*END*





1st book has ended.


Want to know their next love story? The second book will be published soon.



thank you so much for your support 😊