Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 66



"Aku sibuk." Jawab Hideki.


"Siapa yang menelpon?" Tanya Agika.


Jawaban Hideki yang blak-blakan pada sang penelpon membuat Agika sedikit penasaran. Itu pasti bukan kliennya, kan? Tapi Hideki hanya melirik Agika dan menyandarkan pinggangnya pada tepi meja.


"Itu suara Agika?" Tanya penelpon.


"Ya."


"Kau membawa calon istrimu ke kantor?! Apa yang kalian lakukan?"


Suara berisik di telepon itu jelas menunjukkan siapa yang menelpon. Sudah pasti itu ayah Hideki. Agika sekarang bisa mendengar suara presdir itu saking kerasnya. Hideki menghela napas kesal. Lagi-lagi waktunya dengan Agika harus berakhir di tangan ayahnya lagi.


"Agika mengantarkan makan siang untukku."


"Makan siang apa yang membuat napasmu terlihat berat? Tunggu, kau bilang kau sibuk. Kau sedang …"


"Bukan urusanmu! Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, akan ku tutup teleponnya!"


Hideki kesal ayahnya terlalu banyak bertanya. Apalagi menanyakan apa yang baru saja ia lakukan seolah-olah ia ingin tahu semuanya. Wajah Hideki memerah karena kesal dan malu.


"Aku sudah baik hati merestui hubunganmu dengan Agika. Kenapa kau masih dingin padaku?"


"Kau restui atau tidak, aku tetap akan menikahinya."


"Ah kau memang keras kepala."


"Sudahlah. Ada perlu apa?"


"Pesawatku akan berangkat sebentar lagi."


Hideki sedikit terkejut. Ayahnya memang sempat bilang pada Tadashi kalau ia ada urusan mendadak di Jerman. Apalagi pernikahan Ayashi sebentar lagi. Ia pasti juga tak bisa lama-lama di kota ini. Tapi Hideki tak menyangka ayahnya akan pulang hari ini.


"Kau tak bilang padaku?" Tanya Hideki.


"Ah, jadi kau peduli padaku?"


"Kau memang egois, tapi kau masih ayahku."


Sang ayah hanya diam. Sepertinya ia sedikit tersanjung dengan ucapan anaknya. Baru kali ini Hideki mengakui dirinya. Biasanya memanggil "ayah" pun jarang.


"Uruslah perusahaan dengan baik disana."


"Kau tak perlu menyuruhku. Aku lebih baik darimu."


"Apa itu? Kau sudah berlagak jadi CEO sekarang? Apa Agika sudah membujukmu?"


Hideki diam. Ia tahu ayahnya menyindir lagi soal keinginannya agar Hideki menjadi CEO.


Karena tak mendengar respon dari putranya, ayahnya menghela napas panjang. Keputusan Hideki masih sama. Ia menolaknya.


"Hah! Setelah selesai, segera pulang. Pernikahan Ayashi sebentar lagi."


"Aku mengerti."


"Kau juga harus segera mengurus dokumen pernikahanmu dengan Agika. Lalu bawa Agika ke Jerman. Aku hanya mengizinkan kalian menikah disana."


"Kau … serius?"


"Ya. Aku akan umumkan di rapat direksi kalau kau akan segera menikah."


"Kenapa kau …"


"Kau ingin aku menepati janjiku, kan? Kau mau aku berubah pikiran?!"


Suara ayahnya sedikit meninggi. Hideki tak protes lagi. Ia hanya berpikir kenapa ayahnya mau repot-repot mengingatkannya. Bahkan mengurusnya sampai ke rapat direksi. Ayahnya benar-benar berubah menjadi baik. Hideki tersenyum lega.


"Terima kasih, ayah."


"Apa? Kau bilang apa?"


"Terima kasih."


"Bukan! Sepertinya kau baru saja menambahkan sesuatu di kalimat itu. Katakan sekali lagi."


"Tidak."


"Kau hanya perlu mengulanginya sekali lagi."


"Aku tidak akan mengulanginya."


"Hei, Hideki …"


Tut tut tut!


Hideki langsung menutup teleponnya dengan wajah kesalnya yang malah terlihat lucu. Agika tahu Hideki sedang berdebat dengan ayahnya. Tapi kali ini sepertinya hubungan mereka membaik. Agika hanya tertawa kecil. Ia mendekat pada Hideki yang wajahnya masih memerah karena kesal.


"Ayahmu berubah sangat baik."


"Itu karena ketulusanmu. Terima kasih karena tidak menyerah terhadapku."


"Karena aku?"


"Mau melanjutkan yang tadi?" Tanya Hideki sambil tersenyum menggoda.


"Jam istirahat mu sudah habis. Bukankah kau ada rapat setelah ini?"


Hideki melirik jam di dinding kantornya. Benar, waktu istirahatnya habis bersamaan dengan waktu meetingnya yang akan segera dimulai. Hideki berdecak kesal.


"Sial! Aku benci pekerjaanku."


Agika tertawa kecil. Ia melepas tangan yang sedari tadi memeluknya, lalu mengancingkan kemeja Hideki yang berantakan.


"Aku akan menunggumu pulang, tuan direktur."


"Jangan memanggilku seperti itu."


"Lalu apa? Tuan CEO?"


"Kau ingin aku jadi CEO?"


Agika kembali tertawa kecil sambil mengambilkan dasi dan jas kerja Hideki di sandaran kursi. Ia tahu sejak dulu Hideki tak suka dengan statusnya sebagai CEO dan pewaris perusahaan. Agika hanya menggodanya.


"Aku ingin kau jadi suamiku saja."


Agika menatap Hideki sambil tersenyum. Wajah Hideki memerah saat mendengar Agika mengatakannya. Ia tersipu tapi itu malah membuatnya terlihat lucu. Agika lalu membantu memakaikan dasi dan jas kerja itu pada Hideki.


"Kalau begitu panggil aku seperti itu."


Hideki meraih pinggang Agika kembali. Memeluknya. Mendekatkan tubuh ramping itu ke tubuhnya. Wajahnya sangat dekat. Bertahun-tahun Agika mengenalnya, tapi Hideki selalu membuatnya terpesona. Apalagi dirinya kini mulai bisa tersenyum. Membuat wajahnya makin terlihat tampan. Agika bahkan masih tak percaya kalau pria ini akan jadi suaminya. Ia bisa bersamanya setiap hari. Tidak berpisah lagi.


Agika menyentuh dada Hideki, meraih lehernya, mendekatkan wajah pria itu padanya lalu mencium pipinya dengan lembut.


"Aku mencintaimu, suamiku."


💜💜💜


Tiga bulan kemudian, Hideki akhirnya menikah dengan Agika. Pernikahan yang digelar di Jerman itu berlangsung lancar tanpa kendala. Selain Agika dan ibunya, Hideki bahkan membawa Kazuma ikut serta ke Jerman. Ini adalah hari dimana mimpi mereka menjadi nyata. Mereka terlihat sangat bahagia.


Meski pernikahan terjadi tadi pagi, masih banyak tamu yang datang ke mansion. Terutama kolega-kolega ayah Hideki dan beberapa keluarga jauh.


Ayashi mengadakan pesta kecil bersama teman-temannya di taman. Ia mengajak Agika ikut serta. Kakak perempuan Hideki itu memang selalu seenaknya sendiri. Padahal ia juga sudah punya suami. Untung saja Agika bisa berbaur meski kesulitan bicara dengan bahasa Jerman. Dan topik pembicaraan kaum wanita tak akan jauh-jauh dari gosip dan yang lagi hangat-hangatnya.


"Jadi Reina mengaku sudah tidur dengan Hideki?" Tanya Ayashi penasaran.


Agika mengangguk. Kak Ayashi menyimak cerita Agika dengan begitu serius. Sudah sejak tadi mereka membicarakan kasus yang sudah berlalu itu.


"Aku sempat melihat fotonya. Gadis murahan! Kau pasti kesal sekali, Agika?"


"Aku sudah tidak apa-apa kok."


"Tidak apa-apa?! Agika, Hideki itu tampan dan kaya. Wanita itu pasti sudah berbuat yang tidak-tidak pada adikku saat ia sedang pingsan. Apa kau rela jika wanita itu duluan yang menyentuh suamimu?"


Agika hanya tersenyum kaku. Kenapa kakak Hideki yang jadi kesal begitu setelah ia cerita. Padahal Agika sudah melupakan itu semua.


Tapi benar juga yang dikatakan kak Ayashi. Hideki sangat menggoda. Ia juga seorang direktur perusahaan. Tak ada wanita yang tak tertarik padanya. Mungkin karena ini juga, Reina tega membuat fitnah begitu. Meski Hideki bilang tak ada yang terjadi, tapi kan dia sedang pingsan saat itu. Ia hanya tak tahu Reina berbuat apa saja. Apalagi Agika ingat, wanita itu pernah membicarakan tubuh Hideki. Agika bahkan tak pernah punya fantasi liar soal tubuh suaminya itu. Agika menggigit bibirnya, ia jadi kesal sendiri.


"Frau Agika, trinken sie das."


Seorang gadis menawarkan segelas minuman pada Agika. Karena Agika tak mengerti apa yang ia katakan, Ayashi langsung menerima minuman itu dan memberikannya pada Agika.


"Dia bilang, cobalah minuman ini." Kata Ayashi menjelaskan.


"Ini apa?"


"Itu anggur. Tak akan membuat mabuk. Tenang saja." Kata Ayashi sambil meneguk minuman yang sama.


Agika segera meneguk minuman itu. Rasanya sedikit keras tapi ia mencoba menghormati teman-teman Ayashi yang sedang berkumpul bersamanya.


Tapi, baru seteguk Agika tiba-tiba merasa sedikit panas. Wajahnya memerah. Ia bahkan mampu merasakan napas sendiri yang terasa hangat.


"Kau disini rupanya."


Agika menoleh. Diikuti semua teman-teman wanita Ayashi yang ikutan melihat sosok pria yang menghampiri Agika. Pria yang baru saja menikahi Agika tadi pagi. Hideki. Pria itu langsung menghalangi kakaknya yang akan menuangkan anggur ke gelas Agika.


"Kalau kau ingin mengadakan pesta, jangan libatkan Agika." Protes Hideki pada kakaknya.


"Hanya mengajak Agika berkumpul denganku, kau juga cemburu? Cih! Posesif sekali."


"Bukan begitu. Lagipula Max sedang menerima tamu. Kau malah sibuk disini?"


"Dia tak bisa diajak bersenang-senang."


Hideki berdecak kesal saat kakaknya membantah terus, padahal suami kakaknya itu sedang sibuk menyapa orang-orang yang datang tapi Ayashi malah asyik sendiri. Hideki juga seharian menerima tamu dan belum sempat istirahat. Ternyata ia juga harus mengawasi Agika yang mudah sekali menerima ajakan kakaknya.


Hideki langsung menarik tangan Agika. Ia berniat membawanya gadis itu pergi sebelum terpengaruh dengan kak Ayashi dan teman-temannya yang tidak waras itu. Ayashi hanya mendengus kesal.


"Kau tidak sabaran sekali! Dasar pengantin baru!"


"Das geht dich nichts an." Jawab Hideki dingin.


(Bukan urusanmu.)


💜💜💜