
Akhirnya Tadashi dan Ayashi membawa Hideki ke rumah sakit. Ayashi belum mau memberitahu ayahnya. Ia takut ayahnya berbuat hal yang diluar perkiraan. Ayashi tahu ayahnya sangat berbeda dari ayah-ayah yang lain.
Lebih dari satu jam Hideki diperiksa di ruang VVIP rumah sakit. Tadashi ikut masuk menjaganya. Seperti biasa, sebagai dokter pribadi ia tak mungkin melewatkan info kondisi tuannya. Sedangkan Ayashi menunggu di luar.
“Nona, anda sudah boleh masuk. Ada dokter Tadashi juga disana.”
“Ah baik.”
Ayashi segera masuk setelah seorang perawat mempersilakannya masuk. Ia sangat cemas. Hideki sakit setelah ayahnya mengurungnya di kamar semalaman. Ini bukan pertama kalinya. Waktu kecil, adiknya itu juga pernah dikurung di kamar sampai semingguan lebih karena keras kepala. Ia juga akhirnya sakit sampai trauma dan harus dibawa ke psikiater. Ayashi takut Hideki mengalami ini lagi.
“Syukurlah tuan muda hanya demam biasa, nona.”
“Benarkah?”
“Saya akan terus memantau kondisinya, nona.”
“Terima kasih, Tadashi.”
Ayashi berjalan pelan menuju tempat tidur dimana Hideki berbaring. Tubuhnya masih demam. Tertempel plaster penurun panas di keningnya. Ayashi merasa kasihan padanya, ia selalu mendapat masalah ketika ayahnya datang.
“Agika ....”
“Eh?”
Ayashi bisa mendengar Hideki mengigau lagi. Tapi bukan tentang ayahnya. Ia memanggil-manggil seorang nama. Seperti nama anak perempuan. Kenapa Hideki memanggilnya?
“Hideki? Ada apa?” Tanya Ayashi.
“Agi .... Agika.”
“Eh? Tadashi, siapa Agika?”
Ayashi menengok pada Tadashi. Tadashi sedikit terkejut. Ia kebingungan menjawabnya.
“Setahuku dia adalah teman sekelas tuan muda.”
“Teman dekat? Perempuan?”
“I .... Iya, nona. Sepertinya memang dekat. Tuan muda sering bersamanya. Saat direktur membawa tuan muda, nona itu juga ada disana.”
Jadi saat Hideki menanyakan keadaan teman-temannya saat ia dibawa ayahnya itu maksudnya perempuan ini? Apa hubungan mereka sampai Hideki memanggil-manggil namanya?
“Tadashi, antar aku ketemu anak ini.”
“Maksudmu Agika?”
“Ya. Aku ingin berkenalan dengannya.”
***
“Kazuma tak menjemputmu pulang hari ini?”
“Iya. Dia ada ekskul tae-kwon-do di sekolah.”
Reiko mengantarku pulang sampai gerbang sekolah. Tentu saja ia pulang telat, ia masih sibuk dengan kerjaannya di OSIS. Tapi ia memang menyukai kesibukan seperti itu.
“Sayang sekali Hideki tidak masuk sekolah hari ini. Padahal kau bisa pulang dengannya. Kata guru Oshin dia ada keperluan keluarga ya? Aku belum mengucapkan selamat atas kemenangannya di pertandingan.” Kata Reiko.
Aku tak bisa menjawabnya. Keperluan apa? Jelas-jelas saat itu ayahnya memaksanya pulang. Hideki bahkan sampai dipukul begitu. Guru Oshin pasti tahu sesuatu, tapi ia berbohong di kelas.
“Benar.” Jawabku pendek.
“Hm? Agika, ada apa?”
“A .... Ah, tidak. Reiko tumben sekali peduli pada Hideki. Kau biasanya selalu bilang dia sombong. Haha.”
“Bagaimanapun dia sudah memenangkan lomba untuk kelas kita. Aku akan memaafkan kesombongannya.”
“Haha.”
Aku berusaha tersenyum. Sebenarnya aku sangat khawatir. Sejak hari itu aku bahkan tak bisa menghubunginya lagi. Aku juga tak tahu rumahnya. Apa ia sudah kembali ke Jerman? Pokoknya Hideki sudah memenuhi kepalaku sejak kemarin. Aku ingin sekali bertemu dengannya dan melihatnya baik-baik saja.
“Kau yakin bisa pulang sendiri?” Tanya Reiko lagi.
“Tentu saja.”
“Kalau begitu aku kembali ke ruang OSIS ya. Kapan-kapan aku akan pulang denganmu.”
“Iya! Sampai jumpa!”
Reiko melambaikan tangannya sambil berlari kembali ke sekolah. Aku membalasnya dengan tersenyum.
Rasanya beda kalau sudah terbiasa pulang dengan 2 pria baik itu. Meskipun mereka suka bertengkar di sepanjang jalan, tapi aku mulai menikmatinya.
“Tiiiiin!”
Sebuah mobil tiba-tiba mengklaksonku. Mobil merah, kecil tapi sangat mewah. Aku tak mengenalinya sebelum kaca mobil diturunkan. Aku melihat dokter muda yang ku temui beberapa waktu yang lalu. Dokter Tadashi. Ia melambai padaku dan memintaku ke sana. Sepertinya ia bersama seorang perempuan. Apa itu pacarnya? Sebaiknya ku temui dulu. Siapa tahu ia akan mengabari soal Hideki.
“Senang bertemu denganmu lagi, nona.” Kata dokter Tadashi sambil tersenyum.
“Dokter, apa yang terjadi dengan Hideki? Apa ia baik-baik saja? Aku ....”
“Agika ya?”
Wanita yang duduk di samping dokter Tadashi tadi langsung keluar. Ia memandangiku sampai aku kebingungan. Ia kelihatannya lebih tua dari dokter Tadashi. Dan kelihatan dewasa. Rambutnya yang hitam dan panjang mengingatkanku pada seseorang.
“Eh? Ma .... Maaf?”
“Hai, jadi kau yang bernama Agika? Cantik sekali.” Kata wanita itu sambil tersenyum manis. Ah sangat cantik.
“Nona Agika, perkenalkan. Ini kakak tuan muda Hideki, Nona Ayashi Takizawa.” Dokter Tadashi menjelaskan.
“Eh?!”
“Kau ada waktu? Bisakah kita mengobrol sebentar?” Tanya perempuan itu.
Aku menurut saja. Ia membawaku masuk ke jok belakang mobil. Ia duduk disampingku. Sedangkan dokter Tadashi masih di tempat kemudi. Ia menutup jendela kacanya. Aku sedikit takut. Kenapa harus tertutup begini?
“Haha. Maaf ya kalau aku harus melakukan ini. Aku tak ingin ayah tahu kalau aku mengobrol denganmu. Kau tahu kan anak buah ayahku sangat banyak.” Jelas kakak Hideki.
“A .... Aku mengerti, nona ....”
“Panggil saja aku kak Ayashi.”
“Baik, kak Ayashi.”
Ia membalasku dengan tersenyum manis. Benarkah ini kakaknya Hideki? Kenapa sifatnya beda sekali dengan adik dan ayahnya?
“Apa kau pacar Hideki?”
Aku langsung terkejut. Kak Ayashi blak-blakan sekali. Pertanyaan itu membuatku ingat kalau terakhir aku bertemu Hideki saat ia menyatakan perasaannya padaku. Dan aku belum juga membalasnya. Aku belum bertemu Hideki lagi. Tapi aku tak bisa menjawabnya sekarang. Kenapa ia langsung bertanya tanpa ku siapkan jawabannya dulu? Aku jadi bingung.
“A .... Ah, bukan. Aku temannya. Teman sekelasnya.” Akhirnya kata itu yang keluar di bibirku.
“Eh? Benarkah? Ku kira kau pacarnya.”
“Aku bukan pacarnya.”
“Tapi kenapa Hideki terus menyebut namamu ya?” Tanya kak Ayashi heran.
“Eh?”
“Sejak tadi pagi dia demam tinggi dan mengigau terus.”
“Hi .... Hideki sakit?!”
Aku langsung terkejut. Padahal baru kemarin bertemu ia baik-baik saja sebelum ayahnya memaksanya pulang. Kenapa ia bisa sampai sakit? Perasaanku makin tak karuan.
“Kenapa sampai sakit? Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanyaku lagi.
Kak Ayashi belum mau menjawab. Ia malah menatapku lama. Apa reaksiku terlalu berlebihan. Aku juga bisa melihat dokter Tadashi melirikku di kaca depan.
“Kau sangat khawatir ya? Tenang saja. Hideki hanya demam.” Tanya kak Ayashi.
“Ah waktu itu ayahnya memaksanya pulang sampai ia .... Memukul Hideki begitu. Ja .... Jadi aku sedikit khawatir.”
“Ayah memang begitu.”
Aku melirik perempuan blasteran Jerman ini. Ia menerawang seperti mengingat masa lalu.
“Dari kecil Hideki memang sudah disiapkan menjadi pewaris perusahaannya. Makanya ayah akan melakukan segala hal untuk Hideki. Menyekolahkannya secara khusus dan memberikan pelayan-pelayan terbaik di rumah. Sampai Tadashi juga menjadi dokter pribadi Hideki itu adalah cara ayah menjaga Hideki. Ia sangat overprotektif pada putra satu-satunya.” Jelasnya.
Aku diam. Apa yang diceritakan kak Ayashi sungguh berbeda dengan ayah yang aku lihat kemarin.
“Sikap ayah jadi semakin buruk. Ia mulai mengatur hidup Hideki. Di sekolah, di rumah bahkan pergaulannya pun sangat terbatas. Makanya Hideki tak punya banyak teman meskipun ia kaya.” Lanjutnya.
“Apa karena itu Hideki pindah kesini?”
“Ya. Bisa dibilang ia kabur bersamaku kesini. Haha. Aku diijinkan ayah mengelola perusahaan disini tapi Hideki tidak. Ayah sudah menyuruhku untuk mengirimnya balik ke Jerman tapi Hideki selalu menolak.”
“Kenapa?”
“Ia tak suka dengan cara ayahnya. Makanya ia terus melawan perintah ayahnya, membangkang, dan keras kepala. Tapi itu malah membuatnya kena hukuman.”
“Hukuman?”
“Ayah tak segan-segan menghukumnya. Semalam bahkan Hideki di kurung di kamar. Handphone-nya juga disita.”
“Ah pantas saja aku tak bisa menghubunginya. Sampai seperti itu?”
“Ayah sangat terobsesi pada Hideki. Ia ingin putranya menjadi sosok yang bisa diandalkan. Itu tidak salah. Tapi caranya salah.”
Sekarang aku sedikit mengerti kehidupan Hideki. Ini bukan hanya persoalan hubungan yang buruk antara ayah dan anak. Tapi memang ayahnya punya cara tersendiri mendidiknya. Aku sedikit merasa kasihan pada Hideki.
“Apa Hideki berteman dengan baik di sekolah?” Tanyanya tiba-tiba.
“Ah iya! Hideki punya banyak teman. Teman-temannya tadi tanya kenapa Hideki tidak masuk sekolah.”
“Benarkah?”
“Y .... Ya. Ia menjadi sangat populer karena memenangkan pertandingan sepak bola. Haha.” Kataku sambil tertawa.
“Dia memang suka sepak bola sejak kecil. Syukurlah dia bisa berkembang dengan baik disini.”
“Semoga Hideki cepat masuk sekolah.”
“Kau suka Hideki?” Tanyanya.
“Eh? A .... Aku ....”
“Kau sudah tahu latar belakangnya sekarang. Dibalik statusnya sebagai seorang pewaris, ia juga punya masa lalu yang buruk sampai trauma. Kau masih mau berteman dengannya?”
Aku diam. Sejak awal aku bertemu Hideki, aku memang penasaran pada laki-laki dingin itu. Aku tak pernah memikirkan ia adalah seorang pewaris perusahaan. Pun ketika aku tahu, aku sama sekali tak peduli siapa dirinya asalkan kami tetap berteman. Tapi sejak ia menyatakan perasaannya padaku, apa aku tetap akan bisa menerima status dan masa lalunya? Termasuk ayahnya.
Perasaanku pada Hideki tak bisa didefinisikan. Aku suka berteman dengannya. Ia bukan laki-laki yang dingin tanpa alasan. Sebenarnya ia sangat baik. Aku juga selalu khawatir. Aku selalu memikirkannya saat ia tidak ada. Apa aku punya perasaan padanya?
“Agika?” Kak Ayashi membangunkanku dari lamunan yang panjang.
“Ah, maaf. Dimana Hideki sekarang?”
“Di rumah sakit dekat sini.”
“Rumah sakit?”
“Ia harus beristirahat tenang tanpa diawasi ayahnya. Mau kesana?”
***