Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 63



Wajah Agika seketika memerah. Ia jadi ingat kalau Hideki memang sudah berencana melamarnya sejak beberapa waktu yang lalu. Tak disangka ia mengatakannya sekarang. Meski sedang sakit, pria ini kelihatan sangat percaya diri.


"Kau serius?" Tanya Agika.


"Aku tak pernah main-main denganmu. Aku juga tak ingin berpisah lagi."


Berpisah dengan Agika selama lima tahun begitu menyiksa hatinya. Ia bisa bertahan karena perjanjiannya dengan sang ayah. Tapi saat putus dengan gadis itu kemarin, Hideki benar-benar merasakan kehilangan. Dan itu membuatnya hampir gila. Hideki tak mau mengulanginya lagi. Sesuai dengan saran dokter pribadinya, ia harus membuat Agika jadi miliknya seutuhnya. Bukan hanya pengakuan, tapi juga status yaitu pernikahan.


"Ba … bagaimana dengan ayahmu?"


"Kau masih takut padanya?"


"Tidak. Aku hanya tak ingin kau dan ayahmu bertengkar lagi, memukul dan …"


"Akhir-akhir ini dia sedikit melunak."


"Melunak?"


"Kau tak perlu khawatir soal ayahku. Itu urusanku. Aku hanya butuh jawaban darimu."


Hideki mengambil kembali kotak cincin yang ia simpan di laci mejanya. Cincin yang sudah ia persiapkan sejak kemarin untuk melamar Agika. Akhirnya ia mendapatkan momen itu saat ini. Hideki membuka kotak itu dan mengambil cincin berlian di dalamnya. Ia menatap Agika dengan lembut.


"Maukah kau menikah denganku?"


Agika setengah tidak percaya kalau pria tampan di depannya ini melamarnya sekarang. Tak ada malam yang indah, tuksedo, gaun maupun bunga dan makanan mewah. Hideki melamarnya hanya mengenakan piyama dengan plester penurun panas di keningnya. Ia bahkan terlihat pucat. Tapi Agika merasa ini sangat romantis. Bukankah hal ini yang ia tunggu selama ini? Meski ada yang mengganjal hatinya, terutama soal ayah Hideki, tapi Agika ingin percaya pada kekasihnya ini. Bahwa Hideki bisa meyakinkan ayahnya.  Agika tersenyum dan mengangguk mantap.


"Iya."


Terdapat perasaan lega saat Hideki mendapat jawaban resmi dari pacarnya. Membuat Hideki ingin memeluknya hangat. Tak ada hal yang lebih indah daripada mendapatkan cinta Agika seutuhnya. Hideki memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Agika lalu mencium bibirnya lembut.


"Terima kasih."


💜💜💜


Agika terbangun. Tidurnya semalam nyenyak sekali. Ia perlahan membuka matanya dan menemukan wajah pria tampan yang masih terlelap tidur disampingnya. Agika tersenyum. Melihat wajah Hideki saat tidur begini seperti mendapatkan pemandangan indah di pagi hari. Agika menyentuh keningnya pelan.


"Syukurlah, demamnya sudah turun." Gumamnya.


"Sampai kapan kau akan memandangiku?"


"Eh?"


Hideki ternyata sudah bangun. Ia tersenyum dengan mata sayunya yang belum terbuka sepenuhnya. Membuat ketampanannya makin bertambah.


Agika terkejut. Karena terlalu dekat, ia langsung bangun dan memundurkan tubuhnya. Betapa kagetnya ia saat menemukan dirinya sudah ada di tempat tidur bersama Hideki. Ia baru menyadari kalau seranjang dengannya.


"Ke ... kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Agika.


"Hm? Bukankah kau memang akan menginap?"


"Iya. Maksudku kenapa aku bisa tidur disini? Se … seranjang denganmu." Kata Agika malu.


Hideki tersenyum tipis. Semalam setelah makan, Hideki langsung tidur karena demamnya tak kunjung turun. Ia terbangun tengah malam dan menemukan pacarnya itu tidur di sofa kamarnya. Hideki tak tega Agika tidur tak nyenyak disana, makanya ia membopongnya dan berbagi tempat tidur dengannya.


"Mungkin kau ingin tidur denganku."


"Tidur- apa?"


Hideki bangkit dari tempat tidurnya. Agika melirik. Ia makin terkejut mendapati pria tampan itu setengah telanjang. Ia tidak memakai piyamanya semalam.


"Di … dimana bajumu?"


"Kau yang melepasnya."


"Apa? Hideki, jangan bercanda!"


Hideki membiarkan gadis itu kebingungan. Agika meraba tubuhnya sendiri, ia merasa sedikit lega. Meski Hideki telanjang dada tapi Agika masih memakai pakaian lengkap. Tubuhnya juga tak merasa yang aneh-aneh. Jadi semua pikiran kotor itu harusnya tidak terjadi.


Hideki mendekat. Ia masih menggoda gadis itu dengan berbohong. Semalam ia merasa gerah karena demam, makanya Hideki melepas bajunya.


"Jangan terlalu kaget. Kau harus terbiasa menjumpai hal seperti ini setelah menikah denganku." Kata Hideki.


Agika menunduk malu. Ia melirik cincin yang sudah terpasang di jari manisnya. Semalam Hideki memang melamarnya. Meski belum resmi, tapi tak ada keraguan lagi. Memang benar, mulai sekarang Agika harus terbiasa dengan keberadaan Hideki di sampingnya.


"A … aku akan buatkan sarapan. Kau mandilah dulu." Kata Agika gugup.


Hideki meraih lengan Agika yang baru saja turun dari ranjangnya. Ia menariknya hingga Agika terjatuh di tempat tidur itu lagi. Tanpa basa basi, dengan cepat Hideki menindihnya agar Agika tak bisa pergi.


"Kau mau apa?"


"Menurutmu?"


"A … apa? Tidak. Kau harus makan atau maag-mu bisa kambuh lagi."


Agika berusaha menyingkirkan tubuh Hideki tapi pria itu terlalu kuat. Ia mengunci tangan Agika dan menyatukan tubuhnya pada gadis itu.


"Kenapa terburu-buru? Ini masih pagi."


Justru karena masih pagi. Agika tak mau ketahuan kalau ia tidur sekamar dengan Hideki. Dan ini di rumahnya. Entah orang-orang disini akan berpikiran apa nanti?


"Kau harus makan tepat waktu." Bantah Agika.


"Baiklah. Aku ingin memakanmu."


Tiba-tiba Hideki meraih wajah Agika lalu langsung mencium bibirnya. Ia tak peduli Agika siap atau tidak. Lidahnya bermain-main di mulut Agika. Memaksa lidah Agika beradu disana hingga saliva mereka menyatu.


"Mmmhh!"


"Ah ... manis sekali." Desah Hideki.


Napas Hideki memberat. Satu ciuman panas itu mampu menghabiskan napasnya hingga ia terengah-engah. Hideki menarik napas lalu kembali mencium bibir Agika. Kali ini tangannya mencoba masuk ke baju Agika. Meraba dadanya lalu meremasnya lembut.


"Ngghh!"


"Aku merindukanmu, Agika."


Hideki mulai agresif. Ia berganti menciumi leher Agika, menyesapnya dan meninggalkan tanda disana. Ia membuka kancing baju Agika dan menurunkan baju gadis itu hingga bagian dadanya terbuka. Hideki langsung menyesap dadanya dengan liar.


"Tunggu! Hideki, ah …"


"Aku sudah menahan diri semalaman. Kau pikir itu mudah?"


Pria itu terus menciumi tubuh Agika. Tangan dan bibirnya sibuk memainkan semua bagian sensitif Agika hingga wanita itu terus mendesah. Agika seperti tak punya tenaga lagi. Gairahnya juga mulai naik. Entah kenapa, ia menikmati semua sentuhan Hideki di tubuhnya.


"Bu … bukankah kau masih sakit?"


"Tidak. Aku bahkan sangat bersemangat. Ah ..."


Hideki bangkit. Ia menatap Agika dengan wajahnya yang merah seperti udang rebus. Agika memandangi pria tampan yang sudah mulai terangsang ini. Pandangannya menurun kebawah beralih ke tubuh toples itu.


Siapa yang tidak menginginkan pria seperti Hideki? Tubuh dewasanya berubah lebih seksi dibanding saat SMA dulu. Hideki terlihat semakin tampan. Bahunya yang lebar dan dadanya yang bidang membuatnya terlihat sempurna. Perutnya yang rata dengan otot-ototnya itu membuatnya terlihat mempesona. Apalagi kini ia sedikit berkeringat karena suasana panas saat bercumbu. Pantas saja Reina sampai membuat fitnah separah itu. Ia bahkan berfantasi sendiri.


"Kenapa kau terus memandangiku?" Bisik Hideki.


"Apa Reina benar-benar menyentuhmu saat kau pingsan?"


"Apa?"


Mata Agika yang menatap kosong tubuh Hideki membuat pria itu heran. Hideki menghentikan aktivitasnya. Ia menyadari kalau ada yang mengganggu pikiran Agika. Sudut bibir Hideki terangkat sedikit. Gadis ini cemburu lagi rupanya. 


"Kau bicara apa, Agika?" Ucap Hideki di telinga Agika. Gadis itu langsung terkaget.


"Tidak. Aku …"


"Jangan berpikiran buruk. Aku dan wanita itu tak melakukan apapun."


Hideki kembali menindih Agika. Tangan kanan Hideki mulai menyingkap dress yang dipakai Agika lalu meraba bokong serta pahanya. Membuat Agika merasa geli. Sedangkan tangannya yang lain meremas dada Agika dengan lembut sambil mencium bibir Agika tanpa henti. Agika bisa merasakan sesuatu sudah menegang di bawah sana.


"Ngggh! Ah …"


"Semuanya sudah berakhir. Kau tak perlu cemburu. Tubuhku masih milikmu seutuhnya. Mmmhh!" Bisik Hideki.


"Ah … Hideki, nggh! Aku mencintaimu …" Agika mulai meracau karena semua perlakuan Hideki padanya.


"Aku juga. Ah, Agika, aku-"


Dok dok dok!


Suara ketukan pintu kamar terdengar keras, membuat pasangan yang sedang bercumbu itu terkejut. Agika yang tadinya sudah pasrah pada Hideki buru-buru menutup tubuhnya menggunakan selimut.


"Hei, Hideki! Segera keluar dari kamarmu dan sarapan!"