
Akhirnya setelah perdebatan panjang di jalanan, Hideki dan Kazuma akhirnya berpisah di persimpangan. Aku lega. Rasanya perjalanan ke sekolah jadi panjang sekali karena pertengkaran mereka berdua. Lenganku sampai sakit. Sepanjang perjalanan Kazuma mencoba melepaskan genggaman tangan Hideki pada lenganku. Kazuma kelihatan kesal. Lebih kesal lagi saat kami harus berpisah.
“Aku akan menunggumu pulang sekolah di sini lagi, Agika.” Kata Kazuma.
“Dia akan melihat pertandingan sepak bola di sekolah.” Potong Hideki.
“Eh? Pertandingan ....”
Tunggu dulu. Aku tak tahu apa yang dibicarakan Hideki soal pertandingan sepak bola. Aku bahkan tak berniat nonton pertandingan sepak bola. Hideki mengada-ada. Apa ia sengaja melakukannya agar Kazuma tak menjemputku?
“Agika, kau tak cerita padaku?” Tanya Kazuma.
“Kazu, aku tidak...”
“Kau sudah berjanji akan melihatku bertanding sore ini.” Potong Hideki lagi.
“Eh?”
Hideki menatapku dengan mata birunya yang bercahaya. Ah kelihatan sekali dia ingin aku menuruti kata-katanya. Mana bisa aku disodori oleh wajah pria tampan yang menyerah begini? Wajahku memerah. Aku tahu Kazuma juga melirikku. Ia menghela napas lalu berbalik badan dan bersiap akan pergi.
“Ya sudah. Agika, ku ijinkan kau pulang dengannya. Kalau sampai ia tidak mengantarmu pulang, akan kupukuli dia.” Kata Kazuma.
“Kazu, tapi...”
Kazuma langsung pergi begitu saja. Ia memang tak terlihat marah padaku tapi ia kesal dengan Hideki. Meski tidak sungguhan, Hideki memang seenaknya kali ini.
Ia menarik lenganku tanpa bicara apapun. Orang-orang di sekolah juga terus memperhatikan kami. Entah sejak kapan tapi memang aku dan Hideki jadi cukup dekat. Mereka pasti terheran-heran dengan hubungan kami berdua.
“Hideki, tunggu! Hei, lepaskan aku!” Cegahku.
“Hm?”
Aku akhirnya bisa terlepas dari lengan-lengan pria yang sangat egois menarikku kesana kemari seenaknya sejak tadi. Aku berhenti. Hideki juga berhenti. Aku sudah tidak peduli dengan orang-orang yang mengamatiku dengan aneh.
“Jangan bicara seenaknya begitu dengan Kazuma. Kau lihat, dia jadi kecewa.” Kataku.
“Memangnya kenapa?”
“Kazuma temanku. Lagi pula pertandingan apa? Kau berbohong. Seingatku aku juga tak berjanji padamu. Kau hanya ingin Kazuma tak menjemputku.”
“Teman? Jadi kau mau pergi dengannya karena ia temanmu?”
“Tentu saja. Kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama.”
“Kau bilang kau juga ingin berteman denganku. Aku ingin kau menonton pertandinganku, kau tidak mau datang?”
“Bukan begitu. Maksudku ....”
“Jadi aku bukan temanmu?”
Aku diam. Apa dia sedang cemburu jika aku bersama Kazuma? Mata itu kembali mengisyaratkan agar aku berhenti beralasan. Ah kenapa Hideki jadi bertingkah seperti ini padaku? Dia bahkan mengada-ada soal pertandingan sepak bola. Eh tunggu dulu, barusan dia bilang hari ini.
“Hideki, maksudmu hari ini kau bertanding?” Tanyaku.
“Ya. Aku bertanding melawan kelas XII IPS. Kau bisa lihat jadwalnya dibelakangmu.”
Hideki menunjukkan selebaran yang dipasang di mading yang ada tepat di belakangku. Jadi dia tidak mengada-ada soal pertandingan sepak bola. Aku amati dengan cermat. Kelas 12 IPS, itu kelas kak Matsu. Tim Hideki akan melawan tim kak Matsu.
“Aku sungguh-sungguh ingin kau melihatnya.” Lanjut Hideki.
“Eh?"
"Aku tidak berbohong."
"Melihatmu bermain?”
“Ya.”
Aku makin yakin kalau sikap Hideki padaku aneh. Ia memintaku datang melihat pertandingannya. Ku lihat wajahnya sekarang memerah. Manis sekali. Kenapa tiba-tiba ingin aku datang?
Hari ini dia melawan tim kak Matsu. Akan jadi pertandingan seru. Aku belum pernah melihat Hideki bermain sepak bola. Dan aku juga sudah lama tidak melihat kak Matsu. Ah benar juga! Semua orang di sekolah pasti akan menonton jika di sana ada dua orang bak pangeran lapangan yang tampan.
“Baiklah. Aku akan melihatnya.” Kataku.
“Sungguh?”
“Iya! Semangat ya!”
Aku tersenyum lebar padanya sambil mengepalkan tanganku memberi semangat. Seketika wajah Hideki kembali memerah. Ia memalingkan mukanya. Aku heran, apa Hideki sedang malu? Kenapa sekarang ia mudah sekali malu begitu padaku?
“Hideki? Ada apa?” Tanyaku heran.
“Ti .... Tidak. Tidak apa-apa.”
“Jangan pergi!”
“Eh?”
Hideki menahan tanganku. Aku menatapnya. Wah wajahnya semakin memerah. Ia menyadari kalau aku memperhatikannya. Ia segera melepas tanganku.
“Aku ingin tetap bersamamu.” Katanya.
“A .... Apa?”
Kali ini wajahku yang memerah. Meski Hideki mengatakannya dengan salah tingkah tapi tak bisa menghentikan rasa debaran jantungku yang cepat ini. Mimpi apa semalam hingga ada pria tampan yang bicara begini padaku?
“Apa yang kau bicarakan?” Tanyaku lagi.
“Ah tidak. Maksudku, aku ingin mereka berhenti mengawasiku. Aku tak nyaman.”
Hideki melirik perempuan-perempuan yang biasa mengamati dan mengagumi dirinya. Apa maksudnya? Bukankah berangkat bersama seperti ini malah membuat orang-orang terus memperhatikan kami? Mereka pasti akan bergosip dan menganggap kami pacaran. Ah! Atau Hideki sengaja membuat mereka berpikir begitu sehingga mereka menyerah? Sungguhkah begitu?
***
“Kau berangkat sekolah dengannya?”
Reiko memelototiku dengan mata besarnya saat baru sampai di kelas. Sudah berapa kali ia bertanya hal itu dan masih belum puas juga. Padahal aku sudah bilang kalau ada Kazuma juga. Aku yakin ia heran sama seperti yang lain, heran saat melihatku datang bersama Hideki. Reiko menggenggam tanganku.
“Apa yang terjadi?” Tanyanya lagi.
“A...apa? Tidak ada.”
“Dia jadi jinak denganmu. Kalian jadi sedekat ini. Apa kalian pacaran?”
“Eh? Apa?”
Aku tiba-tiba salah tingkah. Aku dan Hideki tak punya hubungan semacam itu. Malah aku baru mulai berteman dengannya. Aku melirik pria tampan yang sedang bicara dengan tim sepak bolanya itu. Benar, dia jadi lebih banyak bicara denganku akhir-akhir ini meskipun sikapnya masih dingin. Ia bahkan menjemputku sekolah. Apa yang terjadi padanya? Aku mengalihkan pandanganku darinya saat ia menyadari aku melihatnya. Wajahku memerah. Duh, rasanya jantungku mau copot. Kenapa denganku?
“Wajahmu merah. Jadi kau benar-benar berpacaran dengannya?” Tanya Reiko.
“Tidak! Aku dan Hideki hanya berteman. Tak ada hubungan seperti itu.”
“Lalu kenapa kalian jadi ....”
“Memangnya ada yang salah kalau aku berteman dengannya? Dia pria yang dingin dan tertutup. Aku hanya ingin membantunya.”
“Hmm.”
Reiko akhirnya mengerti dan tidak salah paham. Ia mengangguk dan sepertinya mulai menangkap logikaku. Syukurlah. Hideki disukai banyak perempuan, mungkin yang lebih cantik dari aku semua menyukainya, bahkan mungkin pesonanya sekarang sudah melebihi kak Matsu. Apalagi ia sudah bisa bergaul dengan teman-temannya. Ia makin bersinar. Kalau Reiko menggosip ke semua orang disekolah, aku bisa dalam masalah.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Kataku meyakinkan.
“Benar juga. Tapi kenapa kau mau berteman dengan pria sesombong itu? Meski wajahnya tampan, tapi kebiasaannya yang tidak pernah menyapa itu tidak sopan!” Gerutu Reiko.
“Mungkin kau saja yang belum pernah melihatnya.”
“Mana ada yang mau berteman dengan orang arogan seperti dia.”
“Dia tidak arogan. Hanya...”
“Ah jangan membelanya terus, Agika. Sebaiknya kau ikut aku melihat pertandingan sepak bola nanti sore. Kelas kita akan melawan kelas kak Matsu. Ini akan seru!”
“Eh? Reiko datang juga?”
“Tentu saja. Aku kan panitianya. Hari ini pasti banyak yang nonton karena ada kak Matsu dan Hideki yang saling bertanding. Aku dengar-dengar, Hideki bermain dengan sangat bagus.”
“Benarkah?”
“Mungkin dia lawan sepadan yang akan melawan kak Matsu. Aku jadi bingung mau mendukung yang mana. Eh kau juga berniat datang, Agika?"
“I .... Iya.”
“Apa karena ada kak Matsu. Kau biasa melihat pertandingannya kan?”
“Eh? B .... Bukan. Aku ....”
“Atau pria sombong itu?”
“Sama sekali tidak! Aku hanya ....”
“Haha. Tak usah kau jelaskan. Wajahmu memerah lagi.”
Reiko tertawa kecil. Ia menggodaku lagi. Aku tahu pertandingan ini karena Hideki memintaku datang. Entah kenapa ia ingin aku datang. Tapi setelah melihat kalau ada kak Matsu disana aku juga jadi penasaran. Apakah karena ada kak Matsu, aku mau datang?
***