
“Ini.”
Dokter Tadashi melemparkan sebuah handphone pada tuan mudanya yang sedang berganti pakaian. Hideki hanya menerimanya dengan tatapan kosong.
“Direktur memintaku untuk mengembalikannya padamu.” Kata dokter pribadinya sambil tiduran di sofa kamar Hideki.
Hideki tak mengerti kenapa ayahnya mau mengembalikan handphonenya. Apa ia melunak? Hideki hanya menerimanya lalu mengecek pesan yang masuk di handphone-nya. Sebagian besar pesan tidak penting dan beberapa missed call dari Agika dan teman-teman sepak bolanya.
“Kau akhirnya mau pulang.” Ucap dokter Tadashi.
“Tutup mulutmu.”
“Kau tak menyesal meninggalkan gadis manis itu?”
“Aku akan menemuinya lagi.”
“Astaga, jadi kau berencana kabur dari Jerman lagi?!”
Tadashi sampai melonjak bangun. Ternyata tuan mudanya tak benar-benar menyerah. Hideki diam. Ia hanya mencoba bangun pelan dari tempat duduknya. Tadashi yang melihatnya langsung membantu.
“Kau harus pakai kruk, tuan muda.” Tadashi memegangi lengan Hideki.
“Tak apa. Kakiku sudah membaik.”
Meski ia bilang begitu, jalannya masih tidak secepat biasanya. Dan Tadashi tentu saja belum mau membiarkan ia jalan sendiri. Tadashi membantunya mengambil jaket Hideki di lemari.
“Kau yakin akan berangkat sekolah lagi besok?”
“Ya. Sudah lebih dari 2 minggu aku tak masuk sekolah.”
“Sebentar lagi kan kau juga keluar. Haha.”
Tadashi tertawa puas. Tapi Hideki hanya liriknya. Seketika dokter muda itu langsung diam.
“Ah untung Oshin mengenal ayahmu dan mengerti masalahmu. Sekolah tak akan curiga kalau kau hanya masuk satu semester.” Kata Tadashi.
“Ya. Apa tiket pesawatku sudah kau urus?”
“Sudah, tuan muda. Direktur hanya mengijinkan perpanjangan waktu 7 hari untukmu. Artinya tidak sampai minggu depan kau sudah harus kembali ke Jerman. Maaf, aku tak bisa membantumu.”
“Sudahlah.”
Hideki melepas tangan Tadashi yang masih menuntunnya berjalan. Setelah ayahnya menghukumnya di kamar mandi waktu itu, ia memang sempat lemas dan jatuh sakit. Kakaknya sudah berusaha bernegosiasi dengan ayahnya agar menunda kepulangan. Beruntung ayahnya masih punya hati. Perpanjangan 7 hari harusnya sudah cukup.
“Sebelum masuk sekolah, hari ini aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kaki kananmu.”
“Aku tahu.”
“Mobil dan sopirnya sudah siap, tuan muda.”
“Bukan kau yang mengantarku?”
“Tepatnya bukan aku yang menyetir. Direktur memutuskan selama kau masih di sini harus ada sopir yang mengantarmu. Aku tidak diperkenankan mengantarmu sendiri.”
Hideki menghela napas. Tentu saja Hideki tahu alasannya. Sejak Tadashi membantunya pergi dari rumah besar ini, ayahnya pasti tak akan percaya dengan mudahnya pada dokter muda itu. Sopir adalah bentuk pengawasan sang ayah terhadapnya putranya agar tidak kabur lagi. Ayahnya masih tak bisa percaya kalau Hideki mau kembali ke Jerman. Ia masih khawatir itu hanya trik putranya agar ia luluh.
“Terserah. Kau tunggu di bawah saja. Aku akan segera ke sana.”
“Tapi kakimu?”
“Aku bisa jalan sendiri.”
“Baik, tuan muda.”
***
“Kita tak mungkin bisa kesana. Dulu kita disambut baik karena kakaknya yang mengundangmu.”
“Tapi Kazu ....”
Sampai di sekolah pun aku masih protes saat Kazuma menolak ku ajak ke rumah Hideki. Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya. Ayahnya memaksanya pulang lagi. Aku tak tahu ia sudah kembali ke Jerman atau belum tapi minimal aku tahu keadaannya jika aku ke sana. Kazuma menolak karena malas berurusan dengan ayah Hideki. Ia sepertinya kesal soal pengancaman didiskualifikasi di pertandingan tae-kwon-do kemarin.
“Sudah ya. Aku bisa terlambat nanti.”
Kazuma menepuk kepalaku agar aku tenang. Ia tahu betapa cemasnya aku akhir-akhir ini.
“Kau mau kemana?”
“Eh?”
Tiba-tiba sosok yang aku khawatirkan itu muncul dari belakangku. Ia memakai seragam sekolah dan menenteng tas nya di bahu. Ia sudah bisa berjalan tanpa memakai kruk lagi. Wajahnya sedikit berbeda tapi tetap terlihat tampan seperti biasa. Kazuma juga sedikit kaget.
“Hideki.” Sapaku.
“Kau akan pergi kemana?” Tanyanya mengulangi.
“Ah! Akhirnya kau sudah mulai masuk sekolah, pria payah.” Tanya Kazuma.
“Jangan panggil aku pria payah, dasar bodoh.”
“Hei, siapa yang kau sebut bodoh?!”
Seperti biasa mereka bertengkar lagi. Tapi itu tak penting sekarang. Aku sangat merindukan pria dingin di depanku ini. Dengan refleks aku langsung meraih pinggangnya dan memeluknya erat. Ah aku bisa mencium aroma tubuhnya untuk pertama kali. Sangat menenangkan.
“Agi .... ka?" Ucapnya kaget.
“Ya.”
Kazuma menelan ludah saat dan mematung tak jelas saat melihat kami. Aku baru sadar kalau ternyata aku tak sengaja sudah memeluk Hideki di tempat umum. Aku langsung melepas pelukanku dari pria tampan ini. Lalu memalingkan wajahku darinya karena malu.
“Syukurlah. Tadinya Agika ingin menjengukmu ke rumah boss sombong itu.” Kata Kazuma sambil menahan kesal.
“A .... Aku kira ayahmu ....” Kataku gugup. Aku tak bisa melanjutkan ucapanku saat melihat ada mobil mewah terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Jadi Hideki diantar? Apa itu ayahnya?
“Itu sopirku.” Kata Hideki buru-buru menjelaskan.
“Ah tuan muda sombong ini diantar jemput lagi? Ya baguslah. Aku bisa leluasa berangkat dengan Agika.” Kata Kazuma dengan nada mengejek.
“Apa katamu?”
“Aku akan pergi! Sampai jumpa.”
Sebelum Hideki kesal, Kazuma langsung berlari sambil melambaikan tangannya padaku. Ia merasa menang sudah membuat Hideki kesal. Hideki hanya menghela napas.
“Kakimu sudah sembuh?” Tanyaku.
“Ya. Masih butuh kontrol beberapa kali.”
Aku mendekat. Ia hanya berdiri menatapku. Kakiku berjinjit untuk bisa menggapai wajahnya yang tampan. Kuperhatikan wajah yang kusukai itu. Ah tak ada luka lebam lagi. Ku sentuh pipinya yang dingin dengan pelan. Ia sungguh baik-baik saja. Syukurlah Aku tersenyum padanya.
“Aku senang melihat kau baik-baik saja.” Kataku lega.
“Kau mengkhawatirkanku?”
“Eh?”
Aku hendak melepas tanganku tapi Hideki menahannya. Ia menyentuh tanganku yang menempel di pipinya. Mata biru itu memerangkapku. Disentuh seperti ini oleh pria tampan pagi-pagi ditempat umum. Rasanya malu sekali. Wajahku pasti sudah merah seperti tomat.
“Kenapa kau khawatir padaku?”
“A .... Aku takut aku tak bisa bertemu denganmu.”
“Kenapa? Kau akan merindukanku?”
Hideki memejamkan matanya. Ia mencoba merasakan tanganku yang ia paksa untuk menyentuh pipinya. Tanpa sadar aku juga merasakan sentuhan kulitnya yang lembut. Angin pagi yang sejuk menerpa rambutnya yang hitam. Ah dia benar-benar tampan sekali. Rasanya jantungku mau meledak.
“Ya. Rasanya hampa tidak bertemu denganmu berhari-hari.” Akhirnya aku mengatakan perasaanku secara jujur.
“Kalau begitu mari bersama seharian.”
Hideki mengeluarkan dua lembar kertas kecil dari saku celananya. Ia menyodorkannya padaku. Dua buah tiket bioskop. Tiket yang sama seperti yang kak Matsu berikan padaku waktu itu.
“Weekend ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu.” Lanjutnya.
“Nonton film?”
“Ya. Berdua saja denganmu.”
Ia menggaruk tengkuknya sembari membuang pandangannya ke arah lain. Aku yakin tengkuknya tak benar-benar gatal. Itu hanya sebagian reaksi gugupnya karena mengajakku pergi. Wajahnya memerah dan itu sangat menggemaskan untuk pria dingin sepertinya. Tapi kenapa tiba-tiba ingin menghabiskan waktu denganku?
“Apa kau menemani Kazuma berlatih?” Tanyanya.
“Eh? Ah bu .... Bukan begitu.”
“Lalu apa kau tidak suka judul filmnya? Aku akan minta Tadashi memesankan tiket yang lain ....”
Hideki hampir membuang tiket itu ke tempat sampah tapi aku langsung menghentikannya. Aku ambil tiket itu dari tangannya.
“Jangan dibuang. Aku suka filmnya kok.” Cegahku.
“Jadi?”
“Jadi besok minggu jemput aku jam 9 ya. Aku akan menemanimu seharian.”
Aku memberikan senyum manisku pada pria tampan ini. Ia langsung salah tingkah melihatku. Ah lucu sekali. Aku tertawa kecil.
“Untunglah kau tidak menolakku untuk yang terakhir kalinya.”
“Terakhir?” Tanyaku heran.
“Ah maksudku akhirnya kau tidak menghindariku lagi.”
Hideki jadi kelihatan gugup. Apa yang terjadi? Wajahnya berubah. Tapi sejak awal aku melihatnya, aku tak tahu kenapa rasanya ia berbeda. Ada hal yang masih ia simpan dariku.
“Aku tidak akan menghindar lagi apapun yang terjadi.” Kataku sambil tetap tersenyum.
Aku memutuskan untuk tidak merusak momen ini dengan bertanya macam-macam. Sudahlah. Aku akan bicara dengannya nanti saat sedang luang. Lagipula ini waktunya masuk kelas.
“Hai, Hideki! Ah lama sekali aku tak melihatmu.” Teriak seseorang.
Tetsuya dan teman-teman bermain sepak bola Hideki yang ada di seberang jalan melambaikan tangan pada Hideki. Mereka langsung menyapa Hideki dan berjalan kesini. Wajar saja, mereka tak melihat pangeran lapangan ini di sekolah lama sekali.
“Aku duluan saja. Temuilah teman-temanmu dulu. Sampai jumpa hari minggu.” Kataku.
Aku pergi sambil melambaikan tangan dan melempar senyum manis ke arahnya. Ia hanya mematung melihatku. Sayup sayup aku bisa mendengar percakapan teman-temannya yang sudah sangat merindukannya. Hideki kembali.
***