
Memori presdir kembali pada lima belas tahun lalu saat Hideki masih berusia tujuh tahun. Entah kenapa, tiba-tiba perkataan Hideki tadi malam saat ia mabuk masih terngiang-ngiang di otaknya. Hingga akhirnya presdir menyadari perubahan Hideki, dari anak kecil yang manis dan lucu berubah menjadi pria dingin, keras kepala dan tak berperasaan.
Sampai saat ini, sebenarnya presdir melihat anak itu sangat tertekan dan stress. Apalagi ia menjodohkan Hideki dengan wanita yang tak dicintainya karena skandal hanya demi reputasi perusahaan. Lalu gadis berambut coklat yang Hideki sukai selama lima tahun itu juga sudah memutuskannya. Wajar kalau ia mabuk berat.
"Presdir, anda masih di sini?"
Tadashi tiba-tiba datang menemuinya saat ia melamun di resto perusahaan. Dokter itu membungkukkan badan seperti biasa tapi mata sang presdir masih fokus menerawang masa lalu.
"Tadashi, apa aku terlalu keras padanya?"
"Eh?"
"Aku ingin anak nakal itu menjadi pria yang bisa diandalkan di keluarga Takizawa. Menjadi pewaris perusahaan yang hebat saat aku sudah tua. Bukankah itu keinginan wajar untuk setiap orang tua?"
Mendengar sang presdir tiba-tiba bercerita panjang lebar begitu, Tadashi tahu siapa yang dibicarakannya. Tentu saja putra kesayangannya, Hideki. Akhir-akhir ini bos besar Tadashi memang sedikit perhatian pada Hideki.
"Kau benar, presdir." Jawab Tadashi pendek.
"Lalu kenapa ia selalu memberontak padaku? Ia bahkan bilang lelah menjadi anakku. Bukankah itu sangat menyakitkan?"
"Tuan muda waktu itu hanya emosi saja."
"Ia juga selalu bersikap dingin dan menyebalkan. Aku benar-benar tidak mengerti."
"Kenapa anda tak mencoba untuk mengerti tuan muda sesekali, presdir?"
"Mengerti?"
Tadashi diam sebentar. Tapi matanya masih menatap sang presdir sedalam-dalamnya. Ia mencoba mengukur sisi emosionalnya, bagaimana jika ia menyinggung bos besar itu? Bagaimana kalau ia marah? Tapi Tadashi mencoba memberanikan diri memberi nasihat yang ia pendam sedari lama.
"Anda memang sedikit keras padanya. Tapi saya yakin anda ayah yang baik. Cobalah menyelami hati tuan muda sekali-kali. Anda tak perlu memenuhi semua keinginannya, tapi setidaknya anda mau mendengar perasaan tuan muda itu sudah cukup."
"Memahami bocah dingin itu?"
"Ya! Saya yakin meski sedikit, seorang ayah dan anak pasti punya ikatan hati."
Kini sang presdir menatap Tadashi yang tersenyum manis padanya. Sang presdir hanya menghela napas.
"Kau bicara seperti orang yang lebih tua dariku."
"Haha. Ayahku yang mengajariku."
"Ah, ayahmu terlalu lembut seperti biasa."
"Itu ku anggap pujian, presdir." Kata Tadashi sambil tersenyum.
Kini bos besar itu mengingat ayah Tadashi, sahabatnya yang sudah lama meninggal. Ia menjadi dokter pribadi keluarga Takizawa bertahun-tahun lamanya sebelum akhirnya Tadashi yang menggantikannya. Hubungan ayah Hideki dan ayah Tadashi memang cukup dekat meski karakter mereka sangat berbeda.
"Ngomong-ngomong, apa Hideki baik-baik saja setelah putus dengan gadis itu?" Tanya sang presdir mengalihkan pembicaraan.
Bicara soal keinginan dan perasaan Hideki, sang presdir langsung ingat dengan Agika. Hubungan Hideki dan gadis itu sudah putus sejak skandal itu terjadi. Presdir harusnya senang dan lega gadis itu jadi menjauh dari Hideki, itu yang ia inginkan sejak dulu. Tapi entah kenapa melihat Hideki yang mabuk berat waktu itu, sang presdir sedikit merasa kasihan. Jelas sekali ia mabuk karena putus. Hideki juga sering menyebut Agika dalam tidurnya.
"Tuan muda memang patah hati waktu itu, tapi sekarang kelihatannya ia baik-baik saja."
"Hideki tak menemui gadis itu lagi?"
"Hmm kurasa tidak. Tuan muda lumayan sibuk saat ini."
"Ternyata perasaan mereka tak sedalam itu."
"Tapi nona Agika tulus mencintai tuan muda. Nona Reina terus saja memancingnya hingga akhirnya mereka putus. Saya juga tahu kalau tuan muda sangat mencintainya. Mungkin saat ini tuan muda menahan diri sampai kasus ini selesai."
"Ia akan segera bertunangan. Jadi sudah seharusnya Hideki mulai melupakan gadis itu."
"Soal itu … sebaiknya kita tak membicarakannya dulu, presdir."
"Ini menyangkut reputasi perusahaan."
Tadashi sedikit ragu jika ingin membantah sang presdir. Hideki masih menolak pertunangan paksa itu. Saat ini Hideki menyuruh Tadashi menyelidiki hotel itu secepatnya. Ia ingin kasus ini selesai sebelum pertunangan itu terjadi. Tapi ia belum mendapar laporan apapun. Dan setelah pembicaraan ini, Tadashi jadi tahu kalau presdir tetap tak akan membatalkan pertunangan. Dia masih terlalu egois meski kelihatannya sudah berubah.
"Dimana bocah itu?" Tanya sang presdir sambil bangkit dari kursinya.
"Tuan muda? Sepertinya ia masih lembur."
"Lembur lagi?"
"Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba tuan muda jadi sering lembur di kantor. Sebaiknya presdir yang langsung mengajaknya pulang."
Sang presdir tak menjawab. Ia hanya menghela napas dan langsung pergi dari resto itu. Meninggalkan Tadashi yang masih menerka-nerka apa yang akan dilakukan bosnya pada putra kesayangannya setelah ini.
💜💜💜
"Tuan muda, kau mau pulang denganku?" Tanya Tadashi begitu ia membuka pintu ruang direktur.
"Tidak. Duluan saja."
Tadashi memperhatikan Hideki yang sibuk menatap layar laptopnya. Sudah hampir seminggu ia seperti ini. Menyibukkan diri di kantor sampai lembur. Bahkan ia pernah pulang jam 2 pagi lalu berangkat pagi lagi. Padahal setahu Tadashi, kerjaan kantor tak terlalu banyak. Toh Hideki juga seorang direktur. Tak biasanya Hideki seperti ini. Bukankah ia juga tak terlalu suka mengurus perusahaan?
"Kau akan lembur?"
"Ya."
"Tuan muda, bukankah tak ada deadline?"
"Memang."
"Lalu kenapa kau harus lembur? Sebaiknya pulang dan istirahat. Kau hampir setiap hari lembur di kantor."
"Bukankah kalian senang jika aku giat mengurus perusahaan?" Hideki melirik Tadashi dibalik laptopnya.
"Bukan begitu, tuan muda. Kalau terus menerus seperti ini …"
"Pergilah. Aku tak mau diganggu."
Tadashi hanya menghela napas. Ia berbalik dan bersiap akan keluar dari ruangan dingin itu.
"Presdir sepertinya sedang ada urusan juga di kantor. Kau bisa pulang bersamanya."
"Tidak. Aku akan pulang sendiri."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan pulang."
Tanpa menjawab, Hideki kembali menatap layar laptopnya. Satu-satunya alasan kenapa ia berubah begini adalah putusnya hubungan dengan Agika. Gadis itu sudah memblokir semua kontaknya dengan Hideki. Lalu pria itu melampiaskan semua kekecewaannya dengan lembur kerja di kantor hampir setiap hari. Meski ini hal positif, tapi ia terlalu memaksakan diri. Hideki jadi kelihatan lelah sekali. Ia menggeram.
"Sial!" Gumam Hideki.
Tadashi keluar dari ruang direktur itu. Berjalan di koridor dan masuk ke lift. Ia tidak mengganggu tuan mudanya lagi. Lagipula percuma saja, pria keras kepala itu tak akan mau meski dipaksa pulang.
Kring kring!
Suara handphone Tadashi memecah keheningan ia dan sopirnya yang sejak tadi diam saja. Ia segera mengambil handphonenya dari saku kemejanya dan menerima telepon tersebut.
"Ya?"
"Tuan Tadashi, soal hotel dan pegawai yang ingin anda selidiki, kami sudah mendapat informasinya."
"Maksudmu …"
Mata Tadashi membelalak mendengar penjelasan dari orang yang menelponnya. Ia memang meminta seseorang untuk menyelidiki kasus Hideki. Tuan mudanya itu memang menyuruhnya mencari informasi meski sekarang ia sedang sibuk. Sibuk menyembuhkan luka hatinya karena putus dengan Agika. Dan Tadashi tak percaya bisa mendapatkan informasi secepat ini. Ia harus menyelesaikan ini dengan tuntas.
💜💜💜