Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 19



Kemarin aku bilang padanya tentang perasaanku yang sebenarnya. Ah apa itu berarti status kami sekarang berpacaran? Aku bahkan belum bilang kalau aku menyukainya juga. Aku belum cerita ini pada siapapun, Kazuma atau Reiko. Aku takut mereka akan menanyaiku macam-macam. Apa sebaiknya aku cerita pada Kazuma?



Aku celingak-celinguk mencari Kazuma. Biasanya ia sudah menungguku pulang di depan gerbang sekolah. Kenapa belum ada dia? Apa dia ekskul lagi? Tak mungkin. Hideki juga belum masuk sekolah hari ini. Aku khawatir kondisinya tidak membaik. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu Kazuma sebentar lagi. Aku duduk di kursi di trotoar jalan.



“Jadi kau Agika?”



“Eh?”



Seseorang menghampiriku. Pria cukup tua yang kutemui beberapa hari yang lalu. Ayah Hideki. Kali ini ia tak bersama anak buahnya. Aku bisa melihat mobil mewahnya terparkir cukup jauh dariku. Disana samar-samar kulihat dokter Tadashi yang menunggu. Entah kenapa ia tak ikut kesini. Mungkin ayah Hideki berusaha agar tak terlihat mencolok. Ia mendekat ke arah sini. Meski aku masih bingung, aku segera berdiri dan membungkukkan badan.



“Se .... Selamat siang, tuan ....”



“Panggil aku Matsuda.”



“Tuan Matsuda.”



“Tidak usah terlalu sopan padaku. Aku tahu kau punya hubungan spesial dengan putraku.”


“Hideki?”



“Duduklah. Aku ingin bicara.”



Aku menuruti perkataannya. Aku kembali duduk di bangku trotoar dan tuan Matsuda duduk sampingku. Ia sengaja membuat jarak cukup jauh. Entah karena tak mau dilihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar atau karena ia memang sengaja menjauhiku. Aku belum mau bertanya, tapi aku sudah memikirkan kira-kira ia ingin bicara apa.



“Kau dan Hideki, ada hubungan apa?” Tanyanya langsung.



“Eh? Ka .... Kami berteman. Teman sekelas.”



“Kau bukan kekasihnya?”



Kekasih? Mendengar kata kekasih sedikit terasa aneh dan lucu. Tapi kata ini muncul dari seorang laki-laki cukup tua jadi aku tak mungkin menganggapnya lucu. Kenapa semua orang menanyakan hubunganku dengan Hideki? Aku tak tahu harus menjawab apa jika ditanya begitu.



“I .... Itu ....”



“Aku melihatnya. Mata Hideki sangat berbeda saat memandangmu di rumah sakit.”



Aku langsung menoleh padanya. Ia melihatku di rumah sakit? Jelas-jelas waktu itu tak ada ayah Hideki disana. Apa ia tak sengaja melihat kami saat di balkon?



“Meskipun aku seperti ini, aku sangat paham sifat putraku. Ia pasti sedang jatuh cinta padamu.” Lanjutnya.



Wajahku memerah. Ia sedang memuji karena aku mendapatkan hati anaknya atau bagaimana? Aku sama sekali tidak bisa menebak isi hati ayah Hideki. Sama seperti Hideki.



“Maaf, tuan Matsuda. Apa yang sebenarnya ingin anda bicarakan?” Tanyaku sopan.



“Kau pasti sudah tahu kan siapa Hideki sesungguhnya?” Tanyanya.



“Maaf?”



“Hideki pria yang tampan, seorang pewaris perusahaan terbesar di Jerman. Karena itu, ia bersikap dingin, berusaha menyembunyikan statusnya dimanapun saat ia bergaul. Sejauh ini tak ada yang bisa mendekatinya. Aku cukup salut padamu.”



“Aku hanya ingin berteman dengannya.”



“Hanya? Lupakan. Aku mengerti kenapa semua wanita ingin mendekatinya setelah mengetahui fakta ini.”



“Maksud tuan?”



Ia akhirnya menatapku. Mata biru tajam itu diwariskan pada Hideki. Rambutnya yang sangat hitam juga. Jika dilihat-lihat lagi mereka memang sangat mirip. Kenapa hubungannya sangat buruk? Lalu apa maksudnya mendekati Hideki? Aku bukan perempuan seperti itu.



“Menjauhlah dari Hideki. Kau hanya melakukan hal yang sia-sia.”



Dadaku seperti terhantam batu besar. Rasanya sesak. Jadi ia menemuiku untuk mengatakan ini? Ia bahkan mengira kalau aku ini perempuan yang mendekati Hideki hanya karena statusnya. Aku berhak protes dengan orang kaya kan?



“Tunggu dulu, tuan Matsuda. Kau boleh memintaku melakukannya. Tapi aku sama sekali tak bermaksud mendekati Hideki seperti yang kau pikirkan. Aku tak pernah peduli sedikitpun dengan status Hideki. Aku ....”



“Semua perempuan juga beralasan begitu. Sudahlah, aku tak peduli kau tulus atau tidak dengan putraku. Ini bukan tentangmu. Tapi tentang Hideki.”



“Eh?”




Aku bernapas dengan berat. Rasanya sesak di dada ini belum juga hilang. Keras kepala? Bukankah Hideki begitu karena dirinya. Kenapa ia tak menyadari? Kenapa ia menyalahkanku sekarang?



“Menjauhlah darinya. Hideki adalah seseorang yang penting, seorang pewaris perusahaan. Ia harus menyiapkan segala hal untuk jabatan itu. Ia bukan anak SMA yang hanya bersenang-senang seperti temannya yang lain. Termasuk, ia tak ada waktu untuk jatuh cinta padamu.” Lanjutnya.



“Eh?”



“Anak itu keras kepala. Ia tak pernah mau menurut padaku. Ku harap kau mau bekerja sama. Aku tak harus repot-repot melakukan hal buruk pada Hideki seperti kemarin jika kau mau melakukannya. Hideki juga akan berhenti pada perasaannya dan fokus pada statusnya sekarang.”



“Kenapa aku harus melakukan ini? Kenapa kau ....”



“Tadi kau bilang tidak keberatan. Kau tulus padanya kan? Harusnya kau akan lakukan apa pun untuk kebaikan Hideki."



Ia berdiri. Ia sengaja memberi waktu padaku untuk memikirkannya. Tapi justru saat ini aku tak bisa berpikir apapun. Ia memintaku untuk menjauhi Hideki saat aku baru saja menjawab perasaannya. Bagaimana bisa aku melakukannya?



“Jika tidak tentu aku akan memaksanya pulang ke Jerman. Aku masih berbelas kasihan membiarkannya kembali ke sekolah lagi besok.” Lanjutnya.



Ia langsung pergi setelah menungguku beberapa detik tapi aku tak mengatakan apapun. Ia kembali ke mobil dan pergi begitu saja bersama dokter Tadashi. Semua hal yang ingin aku ucapkan seperti tertahan. Aku membatu. Aku bahkan tak sadar kalau air mataku sudah menetes.



“Agika? Agika, ada apa?”



Seseorang akhirnya membangunkanku. Aku mendongak padanya. Ah Kazuma. Aku sampai lupa kalau aku disini untuk menunggunya pulang bersama.



“Agika, kau menangis?” Tanyanya lagi.



“Eh?”



Aku langsung menyeka air mataku sebelum Kazuma benar-benar melihatnya. Ku palingkan wajahku darinya tapi Kazuma menahan pundakku. Ia kelihatan khawatir.



“Katakan padaku ada apa?”



“Ti .... Tidak ada apa-apa. Aku sudah cukup lama menunggumu sampai kelilipan. Kau tidak lihat banyak kendaraan berlalu lalang di sini?” Kataku.



“Kau bohong. Katakan padaku apa yang laki-laki tua itu katakan padamu? Apa ia menyakitimu?”



“Eh? Kau melihat ....”



“Aku tak sengaja melihatnya pergi. Ia menyakitimu? Aku akan buat perhitungan ....”



“Kazu, sudah. Hei, jangan begitu.”



Melihat Kazuma yang seperti ini aku menyesal sudah membuatnya khawatir. Aku coba menenangkannya dan meyakinkannya kalau aku baik-baik saja. Aku tersenyum tipis.



“Apa ia bicara sesuatu padamu, Agika?” tanya Kazuma lagi.



“Ya. Ia hanya bilang kalau Hideki akan kembali ke sekolah besok. Ia sudah sembuh.”



“Benarkah?”



“Iya! Makanya aku bersyukur sampai menangis. Haha.”



“Bukankah laki-laki tua itu kelihatan jahat pada Hideki? Ia bahkan sampai menangkapnya seperti itu.”



“Entahlah. Tapi bagaimanapun ia kan ayah Hideki. Jangan berpikiran buruk begitu.”



“Benar juga. Syukurlah! Aku akan memberi pelajaran pada bocah brengsek itu karena membuatmu khawatir.”



“Haha.”



Melihat tingkah konyol Kazuma yang berlagak akan memukul Hideki membuatku tertawa lagi. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Kazuma. Lebih tepatnya aku tak akan melibatkan sahabat terbaikku itu. Tentu saja aku juga tak bisa bilang kalau aku sudah menerima perasaan Hideki. Semuanya sudah tidak berlaku lagi bukan?



***