
Aku mencarinya di sekitar lobby yang mulai penuh dengan pengunjung. Melihat ke sudut kanan dan kiri. Aku temukan dia sedang duduk di bangku dekat pintu keluar. Ia memegangi kepalanya seperti kesakitan. Jadi tadi wajahnya pucat karena menahan sakit? Aku berlari menemuinya.
“Hideki, kepalamu sakit lagi?”
“Jangan sentuh!”
Hideki menolak saat aku mencoba menyentuh lengannya. Pria dingin ini bahkan memalingkan tubuhnya dariku. Ia marah? Kenapa dia marah? Aku duduk disampingnya. Ku dekati dia.
“Biar aku bantu.”
Hideki masih menolak. Ia mengangkat tangannya agar aku berhenti menyentuhnya. Pria dingin ini berusaha mengurus sakitnya sendiri. Ia mengatur napas pelan. Setelah tenang, ia melirikku.
“Kau sudah selesai bicara dengannya?”
“Maksudmu kak Matsu?”
“Pantas saja kau tak pernah menjawab perasaanku. Kau menunggunya.”
“Apa yang kau katakan, Hideki? Aku tidak mengerti.”
“Sekarang ia sudah putus dari pacarnya. Kau senang kan?”
Hideki ternyata mendengar pembicaraan kami. Ia cemburu sampai berpikir hal yang bukan-bukan. Astaga, padahal jelas-jelas sekarang aku sedang berkencan dengannya.
Aku memperhatikannya. Ia bicara begitu sambil menahan sakit di kepalanya. Aku tersinggung tapi dengan kondisi sekarang mana mungkin aku marah. Aku tak mau membuat situasi jadi buruk seperti waktu itu.
“Aku tidak berpikir begitu.”
“Bilang saja kalau kau menyukainya. Tak perlu kasihan padaku. Lagipula ini terakhir aku .... Ukh!”
“Hideki!”
Hideki makin kuat mencengkeram kepalanya yang sakit. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat meski lobby ini ber AC. Jika aku mendekat dan menyentuhnya ia pasti menolak lagi.
Akhirnya aku berdiri di depannya. Lalu ku raih tubuhnya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya dan mengusap rambut hitamnya yang lembut. Aku memeluknya.
“A .... Agi?" Katanya terbata-bata. Ia pasti terkejut.
“Kenapa berpikiran macam-macam? Jadi sakit kan.”
Aku masih menahannya dan memeluknya seperti ini. Aku tak mau ia menegakkan kepalanya. Biarlah begini sebentar. Kalau aku membiarkannya melihatku, ia bisa tahu aku sedang malu saat ini.
“Bukankah aku sudah bilang, aku selalu memikirkanmu? Aku selalu merindukanmu kalau kau tak ada kabar. Bahkan sekarang kita sedang berkencan. Kita bersama seharian. Apa kau tak bisa membacanya?” Lanjutku.
“Kau ....”
“Bukan kak Matsu atau siapapun itu. Tak ada pria lain yang ada dihatiku sekarang.”
Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tak mau ia mengira aku masih menyukai kak Matsu. Aku lebih suka sifat possesif-nya yang marah karena cemburu daripada membiarkan dirinya dalam kesalahpahaman.
Aku melepas pelukanku. Tak enak juga memeluknya lama-lama ditempat umum. Ia menatapku dengan mata birunya yang mempesona. Rasanya tubuhku bergerak sendiri mendekat padanya. Aku langsung mencium bibirnya yang manis.
“Hanya kau. Aku menyukaimu, Hideki.”
Itu jawabanku atas perasaannya yang selama ini ku gantung. Lega rasanya. Aku tersenyum padanya.
“Benarkah?”
“Ya. Aku mencintaimu.”
Cukup lama baginya mencerna pernyataan cintaku hingga akhirnya ia menarik lenganku. Mendekatkan tubuhku padanya. Ah melihat wajah tampannya dari dekat membuat jantungku berdebar kencang. Ia langsung mencium bibirku dengan lembut. Rasanya lebih manis dari yang pertama aku menciumnya. Aku bisa merasakan desahan napasnya yang hangat. Jantungnya yang berdetak kencang.
Ia makin memelukku erat. Pria ini sama sekali tak memberi ruang dan jarak diantara kami. Waktu seakan berhenti.
“Ah ....” Desahnya.
“Hi .... Hideki?”
Hideki melepasku. Tangannya berganti mencengkeram kepalanya. Astaga, aku sampai lupa kalau ia sedang sakit. Aku menyentuh tubuhnya yang sekarang terasa hangat.
“Kepalamu sakit?” Tanyaku panik.
“Tak apa. Aku masih bisa, ukh!"
Hideki berusaha berdiri tapi ternyata tubuhnya sempoyongan. Aku tak mungkin kuat menahan tubuhnya. Akhirnya aku membantunya duduk kembali. Kenapa ia bisa tiba-tiba sakit? Padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Bukankah cedera otaknya juga sudah sembuh?
“Jangan memaksakan diri. Aku akan cari bantuan. Tunggu sebentar ya.”
***
Akhirnya kami tak jadi makan sore. Aku meminta petugas keamanan di lobby untuk membantu membopong Hideki ke parkiran mobil dimana sopir menunggu kami. Untung saja mereka tidak keberatan. Sesampai di sana pak sopir yang menunggu kami langsung bergegas membantu Hideki masuk ke mobil.
Pak sopir bergegas pergi mencari makanan sebelum Hideki meminum obatnya. Aku menunggu di luar mobil sambil sesekali menengok ke arah kaca. Hideki memijat-mijat kepalanya. Wajahnya kelihatan pucat sekali sampai berkeringat dingin. Ingin sekali aku membantunya tapi jika aku masuk ke dalam mobil aku takut dilihat orang dan dikira melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Aku harus bersabar.
Tak sampai 15 menit pak sopir akhirnya datang sambil menenteng sekantong plastik makanan. Ia memberikannya padaku beserta obatnya. Aku langsung masuk ke dalam mobil. Pak sopir menyusul masuk.
“Kau makan dulu ya. Setelah itu minum obat.” Kataku lembut.
“Suapi aku.”
Aku kaget. Tadi ia mengangguk mau makan, sekarang ia minta disuapi. Apa-apaan dia? Mana mungkin aku bisa melakukannya?
“Aku tak mau makan jika kau tak suapi aku. Biarkan aku ....”
“Baik. Baik.”
Aku buka sekotak bento yang dibeli pak sopir tadi lalu menyuapinya pelan. Sebelum ia banyak alasan aku setujui saja permintaannya. Lagipula hanya menyuapinya saja. Tapi kenapa hatiku bergetar hebat. Ah malu sekali.
“Pak, kita langsung pulang saja.” Kataku pada pak sopir.
“Baik."
“Tidak! Jangan pulang dulu.” Cegah Hideki.
“Kenapa? Apa kau masih ingin pergi ke suatu tempat? Kau kan sedang sakit.”
“Aku masih makan.”
“Kita bisa makan sambil perjalanan pulang. Kau harus istirahat.”
“Pokoknya tunggu aku selesai makan baru pulang.” Perintah Hideki pada sopirnya.
“Baik, tuan muda.” Kata pak sopir.
Ia mengabaikanku. Ah baiklah. Siapa yang tuan muda disini? Lagipula aku tak punya hak untuk mengatur pak sopir. Pak sopir menuruti pria keras kepala ini. Aku hanya menghela napas sambil terus menyuapinya makan. Padahal aku ingin ia segera mendapat penanganan dokter Tadashi tapi ia malah membuang-buang waktu begini.
Setelah makan dan minum obat, akhirnya mobil kami berjalan pulang juga. Hideki menyuruh sopirnya untuk lewat jalan yang lebih jauh. Entah apa maksudnya. Ia membuang-buang waktu lagi.
Aku melirik Hideki yang sibuk melepas jaketnya. Wajah pacarku sekarang kelihatan pucat dan berkeringat.
“Kenapa panas sekali? Kencangkan AC-nya.” Perintahnya pada pak sopir.
“Ta .... Tapi ini sudah maksimal, tuan muda.”
“Payah! Mobil ini memang sudah tua. Sama seperti pemiliknya.”
Ia menyindir ayahnya sendiri? Haha. Lucu sekali. Padahal ia tak pernah bisa melawan ayahnya.
Hideki membuang mukanya dari pak sopir yang meliriknya lewat kaca spion. Jika dia bersikap kesal seperti ini rasanya aku memang sedang berpacaran dengan seorang tuan muda. Padahal bukan mobilnya yang bermasalah tapi tubuhnya memang sedang sakit.
“Tubuhmu memang sedang sakit jadi terasa panas dan berkeringat. Sini biar ku bantu.” Kataku.
Aku membantunya melepas jaket yang menempel di tubuhnya. Lalu aku ambil tissue yang ada di mobil dan mengelap keringatnya dengan lembut. Ia akhirnya berhenti protes. Wajahnya memerah saat aku bantu mengelap wajahnya.
“Agika, apa aku perlu melepas bajuku?”
“A .... Apa?”
“Sepertinya tubuhku bagian dalam juga berkeringat.”
Ia mendekatkan wajahnya padaku. Sangat dekat sampai aku tak bisa berkata apa-apa melihat wajah tampannya. Tiba-tiba ia membuka kancing polo shirtnya lalu ia mencoba melepas kaosnya. Menarik kaos itu ke atas hingga memperlihatkan sebagian perutnya yang rata dan atletis. Aku tak bisa bayangkan wajahku sudah semerah apa. Astaga, dia benar-benar seksi! Bagaimana bisa ia bertindak seperti ini dengan tenang padahal sedang di mobil? Tidak! Aku harus menghentikannya. Aku menahan tangannya agar tak melanjutkan ini.
“Ti .... Tidak usah di lepas!”
“Wajahmu memerah.”
Hideki menyentuh wajahku dengan lembut. Ah ia tersenyum! Baru pertama kali ini aku melihatnya tersenyum. Tapi senyumnya jelas-jelas menunjukkan kalau ia sedang menggodaku. Aku refleks mendorong tubuhnya menjauh. Kepalanya membentur sandaran kursi mobil.
“Ah ....” Rintihnya.
“Ma .... Maaf. Kau tidak apa-apa?”
“Kau membuat kepalaku makin sakit.”
Dia duluan yang menggodaku. Karena panik aku langsung menyentuh bagian kepalanya yang terbentur dan mengusap-usapnya dengan lembut. Ia malah mematung menatapku tak berkedip.
“A .... Apa masih sakit? Setelah ini kau harus istirahat dan mintalah dokter Tadashi ....”
Aku tak bisa melanjutkan ucapanku saat Hideki tiba-tiba meletakkan kepalanya di bahuku. Seketika aku mengerjapkan mata dan berhenti mengusap-usap kepalanya. Apa yang ia lakukan?
“Aku akan istirahat sekarang. Jangan berhenti.”
Ia bicara sambil meletakkan tanganku di rambutnya lagi. Meminta untuk kubelai kembali. Ah kenapa ia bersikap seperti anak kecil begini? Apa semua laki-laki akan begini kalau pacaran? Aku kembali mengusap kepalanya.
"Hideki ...."
“Ah nyaman sekali. Aku tidak ingin ini berakhir.”
Ia akhirnya membaringkan dirinya. Memposisikan kepalanya di pangkuanku sambil terus memintaku mengusap kepalanya pelan-pelan.
“Hi .... Hideki, apa yang kau lakukan?”
Rasanya malu sekali hal seperti ini jika dilakukan di mobil. Apalagi ada pak sopir. Aku melirik ke arah pak sopir tapi ia menghindar. Aku tahu pak sopir juga melirik kami di kursi belakang.
“Jika sudah sampai bangunkan aku.”
“Ba .... Baik, tuan muda.”
***