
Aku memilih dress putih untuk acara hari ini. Sengaja aku ikat rambutku agar terus terlihat rapi. Aku sedari tadi sudah selesai berdandan. Melihat ada mobil mewah terparkir di depan rumahku pukul 9 pagi, aku langsung berlari keluar. Apa itu Hideki? Dia menjemputku dengan mobil?
Mataku langsung terpana begitu melihat pria itu keluar dari jok belakang mobil. Ia hanya memakai polo shirt berwarna abu-abu dengan jaket windbreaker biru lengkap dengan sepatu. Gaya kasualnya terlihat sangat menawan. Apapun yang ia kenakan selalu terlihat bagus dan membuatnya semakin tampan.
“Kau cantik.”
“Eh? Apa?”
“Ti .... Tidak. Kau sudah siap?” Tanyanya.
“Ah iya.”
Rasanya hari ini adalah hari yang sudah aku tunggu-tunggu. Pergi berdua saja dengan Hideki. Aku tak menyangka ia akan mengajakku begini. Tadi malam ia bahkan menelponku dan mengingatkanku. Sepertinya handphone-nya sudah dikembalikan ayahnya.
Ia mengulurkan tangannya. Bermaksud ingin menggandeng tanganku. Tentu saja aku menerimanya. Ia membawaku ke mobilnya. Ah ternyata disana sudah ada sopir yang menunggu.
“Kita diantar sopir?” Bisikku.
“Ya. Apa kau tak nyaman?”
“Ah tidak. Aku hanya bertanya.”
“Aku tak boleh memakai mobilku. Dan aku belum boleh terlalu lama berjalan kaki.”
“Aku mengerti.”
Hideki menahan sopirnya yang hendak membukakan pintu mobil untukku. Ia ingin melakukannya sendiri.
“Hideki, tunggu sebentar. Apa ayahmu mengijinkanmu pergi denganku?” Tanyaku lagi.
Tentu saja aku menanyakannya. Ayahnya tak terlalu menyukaiku. Cepat atau lambat ia pasti akan tahu kalau Hideki bersamaku. Mendadak ia diam. Ku lihat punggung pria dingin yang ada di depanku ini. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya tapi ada sesuatu di pikirannya.
“Ya. Kau tak perlu takut lagi.”
Ia bicara tanpa melihatku. Ayahnya mengijinkannya pergi? Syukurlah. Aku percaya saja. Lagi pula jika Hideki tak mendapat ijin, ia tak mungkin bisa mendapat fasilitas mobil dan sopir.
***
“Ah seru sekali!”
Aku setengah berteriak mengekspresikan apa yang baru saja aku lihat di bioskop. Filmnya sangat seru. Di sepanjang pemutaran film malah aku yang sangat menikmatinya dengan semangat. Dasarnya Hideki memang dingin jadi ia tak bisa berekspresi sama sekali.
“Setelah ini kita kemana?” Tanyaku saat keluar dari bioskop.
“Kau ingin kemana?”
Ia yang mengajakku tapi sejak tadi aku yang mencari ide untuk menghabiskan waktu dengannya. Sebelum nonton film kita sempat bermain di arena permainan di mall. Soalnya waktu menontonnya masih cukup lama. Sudah berbagai macam permainan aku coba mulai dari strett basketball, dance-dance ataupun capitan boneka. Hideki hanya jago di olahraga. Tapi itu sudah cukup bisa menarik perhatian orang lain terutama wanita. Entah karena kemahirannya bermain atau ketampanannya.
“Hideki, bagaimana kalau kita makan dulu? Kau lapar kan?”
“Baiklah.”
“Disana ada tempat makan enak.”
Kring kring!
Aku menunjuk sebuah resto lokal food saat handphone Hideki berbunyi. Suaranya tak terlalu terdengar karena ramai. Hideki mengeluarkannya dari saku celana. Ia seperti terkejut saat melihat display handphonenya. Tapi ia langsung mematikan.
“Siapa?” Tanyaku.
“Bukan siapa-siapa. Aku ke toilet dulu. Tunggu sebentar.”
Aku belum sempat membalas ucapannya, tapi ia sudah pergi menuju toilet. Aku yakin ia hanya ingin mengangkat teleponnya. Kenapa berbohong? Kenapa harus menjauh dariku? Apa karena ramai?
“Agika ya?”
Aku menoleh saat namaku di panggil. Ah ada pria manis yang lama tak ku jumpai. Setelah memastikan kalau ia tak salah memanggil, akhirnya ia menghampiriku.
“Menurutmu sedang apa? Ya menonton film lah. Haha.”
Ia tertawa lepas dan aku hanya membalasnya dengan senyum.
“Sendiri?”
“Tidak. Aku datang bersama teman-teman tim ekskul sepak bola.”
Ia menunjuk ke arah gerombolan laki-laki yang sedang mengobrol dengan asyik. Ah jadi itu mereka. Ternyata banyak yang datang kesini. Kenapa aku tak menyadarinya?
“Wah, aku tak sadar kalian semua disini!”
“Haha. Agika sendiri nonton dengan siapa?”
“Eh? Aku datang bersama Hideki. Dia sedang ke toilet.”
“Ah jadi kalian kencan?”
“Ke .... Kencan?”
Aku langsung melonjak kaget. Kenapa kak Matsu blak-blakan sekali? Wajahku kan jadi merah.
“I .... Ini bukan kencan.” Aku melakukan pembelaan.
“Kalian datang berdua saat weekend itu artinya kencan.”
“Eh?”
Aku mendadak tak bisa membantah lagi. Aku baru sadar kalau Hideki memang sedang mengajakku berkencan. Kak Matsu tertawa kecil.
“Aku kira kau dan Hideki hanya teman biasa.” Katanya.
“Ka .... Kami memang berteman.”
“Mana mungkin. Kalian pergi berdua dan menghabiskan waktu bersama seperti pasangan yang sedang pacaran. Wajahmu juga memerah, Agika. Lucu sekali.” Kak Matsu makin tertawa.
“K .... Kak Matsu sendiri tidak pergi dengan Ayumi? Seingatku aku mengembalikan tiket kemarin itu padanya.”
Bicara apa aku ini? Hanya karena salah tingkah, aku mengalihkan topik pembicaraan dengan pembicaraan yang lebih absurd. Pria tinggi itu memutar bola matanya mengingat-ingat sesuatu.
“Benar. Ayumi sudah bilang padaku.”
“Eh lalu kalian sudah menontonnya?”
“Ah sebenarnya aku berencana putus dengannya. Hubungan kami sedang tak baik akhir-akhir ini.”
“Eh kenapa putus? Kak Matsu ....”
Ah aku tak jadi menginterogasi pria manis ini karena ada sepasang bola mata yang melihat kami. Aku baru menyadarinya. Ia berdiri di tak jauh dari kami. Sepertinya ia sudah selesai dari toilet. Ia hanya menatapku dengan wajah pucat. Kenapa ia tiba-tiba pucat? Kak Matsu yang terheran melihatku yang melirik ke arah lain juga akhirnya ikut menoleh.
“Hideki.” Panggilku.
“Aku akan menunggu disana.” Kata Hideki dingin.
Hideki pergi ke arah lobby bioskop. Dingin sekali. Ia hanya menatapku lalu pergi. Aku kira ia akan salah paham, menarikku pergi dan marah-marah seperti waktu itu. Ada apa dengannya?
“Agika.” Kak Matsu membangunkan lamunanku.
“Ah maaf kak, aku harus pergi. Sampai jumpa di sekolah.”
Aku langsung pergi menyusul Hideki dan melambaikan tanganku ke arah kak Matsu. Entah kenapa aku tak suka sikapnya tadi. Meski lebih baik daripada marah-marah tidak jelas tapi perasaanku tak enak.
***