Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 53



Setelah mengganti baju dengan dress tidur yang cukup longgar, Agika mengikat rambut membentuk cepol. Tak lupa ia menutup kiss-mark yang dibuat Hideki di seluruh leher dan dadanya sore tadi. Bertemu Hideki tapi pria itu malah berbuat hal yang memalukan, bagaimana Agika tidak kesal. Ia akhirnya memutuskannya. Agika sedikit menyesal tapi ia benar-benar tak tahu bagaimana bersikap dengan Hideki. Apalagi berita pertunangan itu. Rasanya ingin menyerah saja.


"Ah, sebaiknya aku lupakan dia dan tidur sekarang." Gumam Agika.


Tok tok tok!


Tiba-tiba pintu apartemen terketuk. Ketukan yang aneh. Seperti orang malas yang bertamu di malam hari. Agika melirik jam di meja depan cermin. Sudah jam 10 malam. Siapa yang bertamu?


Agika sedikit takut. Dengan pelan, ia menghampiri dan membuka pintu apartemen. Matanya dikejutkan oleh pria yang sudah berdiri di depan pintu.


"Hideki!"


Penampilan Hideki sedikit berantakan. Ia sudah melepas jas kantor dan menentengnya. Tubuhnya berbalut kemeja putih tanpa dasi yang lusuh dengan kancing sedikit terbuka. Sepertinya ia belum pulang ke rumah sejak pertemuannya dengan Agika tadi sore. Agika menatap wajahnya yang kelihatan lelah. Mata biru sayu itu meredup.


"Agika." Ucapnya lirih.


"Ka … kau mau apa kesini?"


Hideki langsung membuang jas di tangannya dan memeluk Agika erat. Gadis itu mendadak kaget. Tubuh Hideki yang cukup berat memaksa Agika mundur beberapa langkah hingga pria itu benar-benar masuk ke apartemennya.


"Jangan tinggalkan aku." Kata Hideki.


Tubuh Agika mematung saat mendengar Hideki mengatakan hal yang manis begini. Apalagi suara lirihnya membuat hati Agika meleleh. Tapi ia segera sadar kalau Hideki tak seharusnya di apartemennya. Agika mencoba mendorong tubuh Hideki menjauh.


"Lepaskan aku. Lepas …"


Belum berhasil Agika menghindar, Hideki malah meraih wajahnya dan mencium bibirnya. Tangannya yang lain menahan punggung Agika agar tak menghindar lagi. Pria itu mendekapnya makin erat. Agika tersentak ketika ada aroma alkohol yang menyeruak.


"Kau mabuk?!" Tanya Agika.


Agika sangat yakin ada aroma alkohol yang menyengat dari bibir mantan pacarnya ini. Agika memperhatikan mata Hideki yang memang tampak sayu dan sedikit merah. Ia juga tidak fokus dan tak bisa berdiri tegak. Agika bahkan harus menyangga tubuhnya. Hideki mendekat dan hendak memeluk Agika lagi tapi gadis itu menahannya.


"Tidak! Hideki, kenapa kau mabuk?!"


"Aku hanya mencintaimu, Agika."


Hideki terus berusaha memeluk Agika. Ia mulai meracau dan tak menjawab pertanyaan gadis itu. Jelas sekali kalau pria ini memang mabuk. Baru kali ini Agika melihatnya mabuk berat begini. Dan Agika tak suka dengan pria pemabuk.


"Hideki, lepas!"


Karena kesal, Agika mendorong tubuh Hideki sekuat tenaga hingga pria itu menabrak dinding dan terduduk lemas di lantai.


"Bisa-bisanya ia mabuk seperti ini." Gumam Agika.


Agika mengusap bibirnya. Aroma alkohol masih terasa mengganggu. Setahunya, Hideki tak pernah bersentuhan dengan alkohol. Tapi sekarang Agika melihatnya mabuk dan tidur dengan wanita. Apa karena sudah lama tinggal di Jerman ia berubah?


Agika menatap pria yang terduduk lemas itu. Melihatnya begini, Agika juga tak tega. Ia tak mungkin membiarkan Hideki di apartemennya dalam kondisi mabuk. Hubungan mereka juga sedang tidak baik. Tapi Hideki tak mungkin bisa pulang dalam kondisi begini.


Agika mencari jalan keluar. Ia langsung menutup pintu apartemennya. Ia tak mau orang-orang melihat ada laki-laki di apartemennya. Setelah itu, ia mengambil handphone dan menelpon dokter Tadashi.


Tak sulit untuk bicara tentang situasi yang terjadi. Dokter Tadashi awalnya terkejut tapi ia juga langsung menuju ke apartemen. Akhirnya gadis itu bisa bernapas lega. Tinggal menunggu dokter itu datang dan membawa Hideki pulang.


"Kau mau kemana?"


Tiba-tiba ada lengan yang memeluk pinggang Agika dari belakang. Hideki ternyata sudah berdiri di belakangnya. Memeluknya. Aroma alkohol itu masih menusuk hidung. Apalagi kini pria itu meracau tepat di leher Agika hingga membuatnya bergidik.


"Jangan tinggalkan aku." Bisik Hideki.


"Hideki, lepaskan! Kau mabuk! Aku tidak mau dengan pria pemabuk … ah!"


Agika berbalik dan berusaha melepaskan pelukan Hideki. Tapi kali ini pria itu malah mendorong Agika hingga terjatuh di tempat tidur. Agika berusaha bangun, tapi tubuh Hideki malah mengurungnya. Dalam sekejap ia sudah berada di atas Agika.


"K ... kau mau apa?"


Pria pemabuk itu hanya menatap Agika dengan mata yang bahkan tak bisa fokus. Ada perasaan khawatir yang menyelimuti Agika jika posisinya seperti ini. Ia takut Hideki akan melakukan hal yang tidak-tidak seperti sore tadi.


Dan benar saja, Hideki langsung menyambar bibir Agika dan melumatnya. Meski Agika berusaha menolak, tapi dirinya tak bisa memungkiri kalau Hideki sangat pandai menaikkan gairahnya. Tubuh Agika seketika memanas.


"Ah …" Desah Hideki saat melepas ciumannya. Wajahnya seketika memerah.


"Hideki … oh! Hentikan …"


Hideki malah makin menjadi. Ia menindih tubuh Agika dan merapatkannya. Ciumannya beralih ke leher dan rahang gadis itu. Ia bahkan mulai menyingkap dress tidur Agika dan meraba pahanya. Apakah pria selalu seperti ini saat ia mabuk? Sulit dikendalikan dan bertindak di luar kendali?


"Tidak! Hideki, lepas …"


Suara desahan Hideki membuat Agika hampir terbuai. Tapi kali ini pria itu sedang mabuk. Bisa jadi ia tak sadar saat melakukan hal gila begini. Agika harus mengendalikan dirinya dan Hideki. Ia mendorong pria ini sekuat tenaga.


Brak!


Tepat saat Agika ingin menjauh dari Hideki, suara pintu terbuka keras. Dokter Tadashi langsung kaget melihat mereka berdua.


"Astaga!"


Dokter Tadashi langsung menarik tubuh pria pemabuk itu menjauh dari Agika. Agika segera bangkit dari tempat tidur dan menyingkir. Memastikan jarak agar Hideki tak bisa menyentuhnya lagi. Ia memperbaiki gaun tidurnya yang berantakan. Rasanya malu sekali jika dilihat dokter Tadashi.


"Agi …" Hideki masih meracau.


"Hei! Kendalikan dirimu, tuan muda!"


Tadashi berusaha menahan tubuh Hideki yang sempoyongan. Dokter itu tahu kalau Agika takut melihat Hideki yang mulai hilang akal. Untung saja Tadashi segera datang. Jika tidak bisa-bisa pria pemabuk ini melakukan hal yang lebih parah.


"Maaf, nona. Kau baik-baik saja?" Tanya sang dokter yang kesusahan menahan Hideki.


"Di … dia mabuk." Kata Agika bergetar. "Aku tak tahu kalau ia suka minum alkohol."


Agika memang terkejut melihat mantan pacarnya mabuk dan hilang kendali. Hideki tak mungkin suka minum alkohol, kan? Lagi pula ia punya riwayat trauma yang cukup berat. Tidak mungkin dokter pribadinya mengizinkan ia minum.


"Tu … tuan muda tidak biasanya mabuk. Selama ini ia sama sekali tak menyentuh alkohol."


"Benarkah?"


"Iya. Saya juga terkejut kenapa ia mabuk begini. Sepertinya tuan muda sedang banyak pikiran." Jelas Tadashi.


Agika sedikit lega mendengar kalau Hideki bukan pemabuk. Ia tahu dokter Tadashi berusaha menjelaskan agar Agika tak salah paham. Agar Agika tak berpikiran buruk.


"Sebaiknya kau bawa Hideki pulang, dokter." Kata Agika mengalihkan pembicaraan.


"Nona, kau marah padanya?"


"Tidak. Aku dan Hideki sudah putus. Untuk apa aku marah?"


"Kalian putus?!"


Agika mengangguk. Tadashi memperhatikan gadis yang menunduk itu. Melihat raut wajahnya yang sedih sepertinya ia tidak bercanda. Tanpa dijelaskan pun, dokter itu tahu alasan mereka putus. Tadashi melirik pria yang sejak tadi hanya mengerang. Pantas saja Hideki jadi begini.


"Kau percaya berita itu, nona?"


Agika tersentak. Tapi ia segera memalingkan wajahnya dari sang dokter.


"Entahlah." Jawab Agika pendek.


"Saya dan tuan muda sedang menyelidiki ini."


"Apapun itu, aku tak bisa bersama Hideki. Bukankah memang lebih baik dia bertunangan dengan Reina? Lagi pula ayahnya …"


"Tuan muda bermaksud melamarmu jauh sebelum kasus ini terjadi."


"Eh?"


"Dia bahkan sudah memesan cincin. Ia berencana melamarmu saat kencan. Tapi kau tak mau bertemu dengannya. Lalu tadi sore ia izin padaku untuk menemuimu. Tuan muda sungguh ingin menikahimu, nona. Tak peduli apapun keputusan ayahnya, tuan muda ingin bersamamu." Jelas Tadashi panjang lebar.


"Aku tidak bisa …"


"Saya tahu kau terpengaruh dengan berita itu. Tapi saya harap nona percaya dengan tuan muda."


Agika menatap laki-laki yang sudah tak bisa menyangga tubuhnya sendiri itu. Jadi semua yang Hideki katakan tadi sore itu sungguh-sungguh?


"Saya akan bawa tuan muda pulang. Permisi, nona."


Dengan susah payah, dokter pribadi Hideki itu membantu tuan mudanya berdiri. Berjalan keluar apartemen. Hideki juga sudah mabuk berat begitu. Sudah semestinya ia pulang dan istirahat. Hanya Agika yang masih terdiam. Perasaannya menjadi tak karuan.


💜💜💜