Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 67



Hideki membawa Agika ke kamarnya yang besar di mansion itu. Kamar putih bergaya klasik Jerman itu persis dengan kamar Hideki yang sebelumnya Agika lihat. Hanya saja karena ini hari pernikahannya, kamar itu di dekor sedikit dengan beberapa rangkaian bunga mawar putih. Hideki sepertinya sangat menyukai warna putih.


"Istirahatlah. Aku tak mau kau kelelahan karena menuruti permintaan gila kakakku."


Hideki melepas tuksedonya dan melemparnya sembarangan di sofa. Ia langsung duduk di tempat tidur sambil merenggangkan dasinya. Rambutnya sudah berantakan tak seperti tadi pagi.


Agika tak merespon apapun. Ia masih berdiri di tempatnya. Memperhatikan Hideki yang mengeluh kesal. Ia baru menyadari kalau Hideki memang terlihat sangat tampan. Bahkan setelah tuksedonya dilepas, tubuh pria itu terlihat seksi. Agika bisa melihatnya dibalik kemeja putih yang Hideki kenakan. Agika jadi ingat obrolannya dengan kak Ayashi tadi. Reina pasti sudah melihatnya lebih dulu.


"Hideki." Panggil Agika.


"Hm?"


Agika langsung mendekat. Ia mengurung pandangan Hideki dengan tubuhnya. Lalu mendekatkan wajahnya pada suaminya itu. Entah kenapa, di matanya saat ini Hideki terlihat sangat menawan. Padahal Agika tahu pria itu selalu seperti itu.


Hideki mendongak. Ia sedikit terkejut saat tangan Agika tiba-tiba menyentuh tubuhnya. Wajahnya yang memerah terlihat aneh. Hembusan napasnya juga terasa hangat.


"Agika, a … ada apa?"


"Wanita itu sudah melihat tubuhmu?"


"Wanita? Si … siapa?"


Melihat Agika sedikit agresif seperti ini, Hideki tahu ada yang salah dengannya. Jika dilihat lagi, ia sepertinya sedikit mabuk. Apa ia minum anggur? Hideki sempat melihat kakaknya hampir menuangkan anggur ke gelas Agika. Hideki berdecak kesal.


"Kau minum anggurnya?! Astaga, Agi-"


Agika tak menjawab. Wajahnya yang merah masih mendekat menatap pria di depannya itu. Hideki memundurkan tubuhnya.


"Padahal aku ini istrimu. Kenapa dia yang duluan melihatnya?!" Agika mulai meracau.


"Kau bicara ap-?"


"Katakan apa yang ia lakukan padamu saat kau pingsan!"


Agika memukul dada Hideki kesal. Setelah berpikir, Hideki baru ingat siapa yang dimaksud Agika. Ia pasti sedang membicarakan Reina. Kenapa tiba-tiba ia ingat wanita penggoda itu? Bukankah ini sudah dibicarakan sebelumnya? Harusnya ini sudah selesai.


"Sudah ku bilang tak ada yang terjadi."


"Aku tak percaya! Kau pingsan. Kau hanya tak tahu apa yang sudah ia lakukan padamu."


Mata Agika yang menatap Hideki dengan tajam menunjukkan kalau ia benar-benar sedang kesal. Tapi karena kondisinya sedikit mabuk, Hideki tak mungkin bisa menjelaskannya baik-baik. Hal yang bisa ia lakukan hanya membiarkan istrinya meluapkan emosinya.


"Kau cemburu?" Tanya Hideki.


Agika diam tapi ia tak menyangka kalau dirinya cemburu. Hideki tersenyum menatap Agika yang terlihat sangat lucu. Mata birunya memerangkap Agika agar tak menghindar darinya. Hideki menyentuh wajah Agika dengan lembut.


"Hei, kau istriku sekarang. Kau yang menang."


"Tapi dia pasti sudah menyentuhmu, kan?"


"Aku tak sadarkan diri waktu itu. Apa yang bisa ku lakukan jika ia menyentuhku? Itu diluar kendaliku."


"Jadi dia sungguh sudah menyentuhmu?!"


Agika menampik tangan Hideki. Ia sedikit marah tapi ia seperti itu karena pikirannya kacau. Anggur itu membuatnya bicara tak jelas begitu.


"Bagaimana kalau ia menciummu, meraba tubuhmu dan-"


Agika semakin menjadi. Ia mulai berpikiran liar dan berburuk sangka pada hal-hal yang belum terjadi. Meskipun itu benar terjadi, Agika juga tak bisa menyalahkan suaminya.


Hideki memutar otak agar pikiran buruk ini segera diakhiri. Apalagi ini hari pernikahannya. Tidak lucu jika ia bertengkar dengan istrinya yang sedikit mabuk. Ia tak mau mengingat hal buruk itu lagi. Ini awal kehidupannya dengan Agika. Hideki menyibak rambut istrinya itu. Ia kembali membuat Agika menatapnya.


"Kalau begitu kau juga boleh menyentuhku sesukamu." Kata Hideki.


"Eh-?"


"Kita tak tahu apa yang dilakukan wanita itu. Tapi kau tahu apa yang bisa kau lakukan padaku. Aku milikmu sekarang."


Agika tertegun. Suaminya itu merentangkan kedua tangannya seolah menyerahkan dirinya pada Agika. Melihat Hideki yang seperti ini entah kenapa tubuh Agika jadi memanas.


"Aku biarkan kau melepaskan kekesalanmu sampai kau puas dan tak menyinggung soal itu lagi." Lanjut Hideki.


Agika membalas kata-kata Hideki dengan senyuman. Kali ini Agika terlihat mendominasi. Rasa kesal yang tadinya ia perlihatkan berubah menjadi gairah. Ia melepas gaunnya dan menyisakan kamisol tipis sepaha yang membuat Hideki tergoda. Agika menarik kerah baju Hideki dan langsung mencium bibir pria itu.


"Sungguh? Kau tak boleh protes jika aku sentuh tubuhmu." Bisik Agika.


"Baik. Kau yang pegang kendali."


Agika mendorong tubuh Hideki hingga ia terbaring di atas tempat tidur king size itu. Dengan cepat tubuh Agika sudah ada di atas Hideki. Dua tangan Hideki ditariknya ke atas kepala. Agika melepas dasi suaminya lalu mengikat kedua pergelangan tangan pria itu dengan dasi. Meski tidak erat, Hideki membiarkan Agika melakukan apa yang ia inginkan.


"Ternyata kau suka permainan seperti ini, Agi."


"Aku hanya tak mau kau tiba-tiba menolakku."


"Aku tak mungkin menolak istriku."


Agika tersenyum. Melihat Hideki yang ada di bawah kendalinya, ia malah merasa makin tergoda. Apalagi Hideki tak bisa berkutik karena kedua tangannya terikat. Wajah Agika mendekat. Ia membelai wajah tampan suaminya dan berbisik di telinganya hingga membuat Hideki bergidik.


"Kalau begitu bersiaplah."


Agika mencium bibir Hideki dan langsung memperdalam ciumannya. Ia menahan lengan Hideki meski suaminya itu merespon ciumannya dengan senang hati. Bibir Agika beralih ke telinga Hideki lalu menjilatnya hingga membuat Hideki geli.


"Kau masih cemburu? Ayolah, Agika. Kau bahkan bisa melakukan lebih."


Tangan Agika meraba tubuh Hideki. Sedangkan bibirnya yang manis mulai mencium leher pria itu tanpa berhenti. Dari kanan beralih ke kiri. Menghirup aroma tubuh Hideki dan menghembuskannya hingga menembus urat nadi. Hideki mulai terbuai. Apalagi bisikan Agika di telinganya membuat Hideki mulai bergairah. 


"Aku boleh melakukan apapun, kan?"


"Ya. Ah …"


Hideki hanya menjawab pertanyaan Agika dengan singkat. Tak seperti tadi, napas Hideki mulai memberat. Desahan mulai keluar dari bibirnya. Apalagi kini satu persatu kancing kemejanya mulai dibuka oleh Agika. Gadis itu melepas ciumannya saat kancing terakhir terbuka. Memperlihatkan dada dan otot perut Hideki yang sempurna. Agika berbisik ke telinga Hideki kembali. Kali ini ia meraba tubuh Hideki yang setengah telanjang itu.


"Suamiku ternyata memang menggoda."


"Kau baru menyadarinya? Ah … hah!"


"Aku jadi ingin merasakannya."


Agika kembali mencium bibir Hideki. Kali ini karena gairahnya memuncak, Hideki mengambil alih ciumannya. Meski tangannya terikat, ia mampu ******* bibir Agika dengan panas hingga salivanya menyatu. Hideki mulai memanas. Apalagi jari-jari liar Agika tak berhenti menggerayangi dada dan perutnya.


"Ah, Agika. Uh …"


"Kau sudah tak tahan, huh? Aku baru menyentuh tubuhmu."


"Agi, jangan- haaa … ah! Hah …"


Agika mencium dada suaminya. Paha Agika sedikit menekan milik Hideki hingga pria itu merasakan sensasi aneh. Hideki benar-benar sudah terangsang. Napasnya terengah-engah. Wajahnya memerah. Hideki yang bergairah dengan tangan terikat seperti ini terlihat sangat seksi dimata Agika. Gadis itu pelan-pelan melepas ikat pinggang Hideki dan membuka resleting celananya. Agika tahu sesuatu sudah menegang di bawah sana.


"Bagaimana jika aku menyentuhmu disini?"


"Hei! Tunggu, Agi. Ah …"


"Kau sudah menegang ya?"


"Ah … hah! Jangan menekannya …"


Agika tertawa kecil melihat Hideki yang tak berdaya menerima semua sentuhan dan rangsangan Agika. Gadis itu sungguh-sungguh menyentuh dan mengelus milik Hideki hingga pria itu makin menggila menikmatinya.


Karena Agika terus menggodanya, Hideki mulai tak tahan. Akhirnya ia mengalungkan kedua tangannya yang terikat dasi ke leher Agika hingga wajah gadis itu mendekat padanya. Dan dengan tangannya sendiri, Hideki melepas ikatan itu.


"Jangan menggodaku." Ucap Hideki.


"Ah!"


Hideki menggulingkan tubuh Agika hingga kini ia yang berada di atas istrinya. Agika terkejut. Hideki mengambil alih dirinya. Kini tubuh Hideki mengurung tubuh Agika hingga ia tak mungkin lepas.


"Ternyata kau sangat agresif ya, Agika?" Bisik Hideki. Sebuah senyum terukir di bibirnya.


"Tunggu! Aku belum puas-"


"Das Spiel ist aus. Lass mich die Sache hier übernehmen."


(Permainan berakhir. Aku yang ambil alih.)


"Hei, kau bicara apa? Aku tak mengerti."


"Kau adalah nyonya muda keluarga Takizawa sekarang. Harusnya kau mulai mempelajarinya."


Hideki menindih tubuh Agika. Mencium aroma tubuh istrinya yang hangat itu lalu mengecap lehernya. Menyesapnya hingga membuat Agika harus menahan suaranya. Pria itu langsung menarik kamisol Agika, melepasnya lalu meremas dadanya dengan lembut.


"Ngggh! Hideki, tunggu dulu …"


"Ah … aku tak akan menunggu lagi."


Hideki melepas kemeja dan celananya. Menyisakan boxer yang menutupi miliknya yang sudah menegang sedari tadi. Ia meraih wajah Agika yang memerah lalu ******* bibirnya dengan buas hingga Agika benar-benar memanas. Ia tak berdaya jika Hideki sudah mendominasi. Tangan Hideki menyusuri setiap inci tubuh Agika hingga membuatnya mendesah.


"Mmmhhh! Ah …"


Hideki sungguh menunjukkan gairahnya. Ia menyesap dada Agika, meremasnya, menciumnya dan memainkannya dengan lembut. Lalu turun menciumi seluruh tubuh istrinya. Tangannya sibuk mengelus bagian intim gadis itu. Rasanya aneh tapi Agika menikmatinya.


"Ah, kau sudah basah rupanya. Aku tak sabar ingin memasukimu." Bisik Hideki.


"Tu … tunggu dulu. Aku belum siap …"


"Belum siap? Bukankah tadi kau bilang ingin merasakan tubuhku?"


"Aku …"


"Kau istriku, Agika. Apa yang kau khawatirkan?"


Wajah merah Agika kini berubah malu saat Hideki menyebutnya istri. Ini pertama kalinya ia berhubungan dengan Hideki hingga seintim ini. Tapi kali ini mereka melakukannya karena pasangan suami istri. Tentu saja Agika tak menolak. Apalagi berhubungan intim dengan pria yang terlihat seksi seperti ini.


Agika meraih tengkuk Hideki dan mengalungkan lengannya ke leher suaminya itu. Akhirnya ia membiarkan Hideki memegang kendali.


"T … tolong pelan-pelan."


"Beruhigen Sie sich (tenanglah). Aku akan melakukannya dengan lembut."


Hanya tersisa suara desahan dan erangan nikmat di kamar besar itu. Hideki melepaskan semua hasratnya yang ia tahan selama ini. Mereka saling menunjukkan perasaan dan cintanya yang meluap-luap bersama dengan hangatnya suasana malam. Tak ada yang mengganggunya lagi. Tak ada yang memisahkan mereka lagi. Malam itu menjadi malam yang penuh dengan cinta dan kenikmatan.


💜💜💜