
“Kau lihat ini ya, Agika!”
Kazuma memamerkan semua gayanya berlatih tae-kwon-do. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya. Hari ini aku memang menemani Kazuma berlatih tae-kwon-do di lapangan kota. Minggu pagi begini memang cocok untuk olahraga. Apalagi sebentar lagi ia akan mengikuti lomba di sekolah. Jadi sebagai sahabat, aku harus mendukungnya.
“Kazu, aku belikan minuman dulu ya!” Teriakku padanya.
“Oke!”
Aku berdiri dan pergi mencarikan minuman. Suasana di taman kota ini sangat ramai, banyak yang menghabiskan waktu minggu paginya disini untuk berolahraga, berlari atau sekedar jalan-jalan pagi. Pasti banyak juga yang berjualan minuman atau sekedar makanan kecil.
Setelah aku membeli beberapa makanan dan minuman aku segera kembali ke lapangan sebelum Kazuma mencariku. Tapi langkahku terhenti saat melihat sosok yang kukenal berlari ke arahku. Ah itu Hideki! Ia memakai topi jadi aku tak melihat dengan jelas wajah tampannya. Ia sepertinya juga baru saja berolahraga. Berpakaian kaos dan celana panjang lengkap dengan sepatu. Tapi jika dilihat ia tidak sedang berlari untuk olahraga. Terburu-buru seperti dikejar oleh seseorang.
“Hideki!” Panggilku.
Situasi semacam ini sudah pernah ku lihat sebelumnya. Apa guru Oshin mencarinya lagi? Tidak mungkin kan? Ini hari libur.
Hideki melihatku. Baru bisa kulihat dengan jelas wajah pria dingin itu setelah makin dekat ke arahku. Ternyata benar itu Hideki. Ia sedikit terkejut melihat aku ada di depannya. Ia tak memelankan larinya saat sampai di depanku tapi ia menggenggam lenganku, menarikku dan mengajakku pergi. Aku sangat terkejut.
“Hideki! Hei, tunggu sebentar ....” Kataku.
Aku mencoba menahannya agar tidak berlari terlalu kencang. Aku juga tak mau tiba-tiba ditarik diajak pergi begini. Tapi Hideki tak menjawab. Raut wajahnya terlihat ketakutan. Apa ada yang mengejarnya? Aku menoleh ke belakang. Mengamati dengan seksama orang-orang yang berlalu lalang di belakangku. Ah aku menemukannya. Ada 4 orang berpakaian jas hitam nan rapi berlari mengejar kami. Daripada di bilang eksekutif, penampilan mereka lebih mirip seperti seorang bodyguard dengan usia yang lebih tua dari kami. Apa hubungannya Hideki dengan mereka? Apa wajar anak SMA punya masalah dengan pria-pria seperti itu?
Kami sampai di dekat pohon besar, tak jauh dari lapangan tempat Kazuma berlatih tadi. Tapi daerah sini cukup sepi. Aku mengatur napasku. Akhirnya dia berhenti berlari. Tapi raut wajahnya masih sama. Ketakutan dan cemas.
“Hideki, apa yang terjadi?” Tanyaku.
“Diam di sini.”
Ia mengisyaratkan aku agar tak bicara lagi. Aku menurut. Tapi rasanya jantungku berdebar kencang. Bukan karena habis berlarian tapi Hideki sangat dekat denganku. Ia juga terus menggenggam erat lenganku. Dalam jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, sangat tampan meski sedang ketakutan.
“Ketemu!”
“Eh?!”
Gerombolan berjas hitam itu akhirnya berhasil mengejar kami. Hideki makin cemas. Aku bisa melihat di raut wajahnya. Ia takut. Tapi ia belum mau menoleh. Tubuhnya yang tinggi berusaha menyembunyikan diriku.
“Jangan mencoba lari dari kami, tuan muda!”
Seseorang dari mereka mencoba mendekat. Laki-laki berperawakan cukh besar itu sepertinya adalah pemimpin mereka. Yang lainnya diam seperti menunggu perintah. Tuan muda? Aku tak salah dengar, kan? Apa yang mereka maksud adalah Hideki? Kenapa memanggilnya dengan sebutan aneh begitu? Lalu kenapa mereka mencarinya?
Pria berjas hitam itu mencoba meraih lengan Hideki tapi Hideki menghindar dan membalas dengan memukulnya. Aku sangat terkejut. Apa tak bisa bicara baik-baik? Aku lihat gerombolan itu juga bukan preman. Aku mundur sedikit karena takut.
“Pergi kalian.” Kata Hideki pelan.
Hideki menatap mengepalkan tangannya dan bersiap akan memukul jika mereka mendekat. Aku sangat takut. Mingguku yang cerah kenapa menjadi seperti ini tanpa ku tahu apa-apa?
“Kubilang pergi!”
Hideki berteriak saat mereka tak mendengarkan apa yang Hideki katakan. Hideki marah. Aku tak pernah melihat wajahnya yang marah. Baru kali ini mata biru itu terlihat sangat menakutkan.
“Aku sudah bilang aku tak akan pulang. Jangan menggangguku!”
Direktur? Apa yang ia maksud adalah ayah Hideki? Jadi ini masih soal kemarin. Hideki bertengkar dengan ayahnya dan ia kabur dari rumah. Ayahnya mencarinya hingga mengerahkan orang-orang seperti ini? Itu hanya perkiraanku. Aku tak mengerti masalah sebenarnya kenapa Hideki harus kabur dari rumah.
Melihat mereka tak pergi juga, Hideki akhirnya berkelahi dengan mereka semua. Ia memukulnya dengan membabi buta. Tatapannya sangat tajam. Ia benar-benar berbeda dari Hideki yang aku lihat sebelumnya. Aku hanya bisa mematung.
Bugh!
Beberapa kali Hideki terpukul. Wajahnya seketika menjadi lebam. Ia memang terlihat bisa berkelahi tapi ia terlihat kelimpungan. Bagaimana mungkin anak SMA kelas 10 melawan empat pria besar? Hideki akhirnya terpukul mundur. Meski mereka tak mengincarku sama sekali, aku sangat cemas, Hideki sudah babak belur tapi orang-orang itu masih tak mau pergi. Aku ingin menolong Hideki.
“Sudah hentikan!”
Akhirnya aku memberanikan diri berteriak pada mereka. Aku yang ketakutan kini berani berdiri memasang badan di depan Hideki yang masih belum bisa bangkit. Aku menahan mereka semua untuk mendekat.
“Jangan dekati Hideki lagi atau aku akan berteriak!” Aku mencoba mengancam.
“Minggir, nona. Kami hanya ada urusan dengan tuan muda.”
“Aku tak akan membiarkan kalian memaksanya lagi!”
“Nona, apa-apaan ini? Sebaiknya kau minggir.”
“Tidak mau!”
Aku mencoba memasang wajah sangar meskipun dalam hati aku takut dengan mereka. Aku bahkan tak bisa berkelahi sama sekali. Entahlah, rasanya aku hanya tak mau Hideki terluka lebih dari ini. Mungkin aku salah bertindak tapi aku berharap mereka mundur dan tidak berani melukai wanita.
“A .... Apa yang kau lakukan?” Tanya Hideki terbata-bata. Ia sepertinya terkejut melihatku bertindak sejauh ini.
“Hideki, tenang saja. Mereka tak akan melukaiku.” Kataku sambil tersenyum padanya.
“Cepat pergi.”
“Aku tak mau meninggalkanmu.”
Aku masih tersenyum padanya. Aku mencoba meyakinkan kalau aku bisa diandalkan setelah kemarin ia menolak bercerita denganku. Aku serius saat aku bilang aku tulus berteman dengannya. Meskipun situasi ini diluar prediksi.
Hideki sedikit terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibirku. Ia hanya menatapku tak bisa berkata-kata.
“Benar, nona. Ini tak akan sulit jika kau segera menyingkir dari sana dan biarkan aku membawa tuan muda pergi.”
“Hideki tak mau pergi dengan kalian. Jadi aku tak akan menyingkir.”
“Aku tak perlu memaksamu juga kan, nona?”
Mereka berempat akhirnya mendekatiku. Aku menutup mata. Entah apa yang akan mereka lakukan padaku tapi aku sudah bertekad akan menolong Hideki. Semoga Tuhan juga menolongku karena kebaikan hatiku ini.