
Aku sedikit takut. Sejak 5 menit tadi ada orang yang mengetuk pintu rumah kami. Ini masih pukul 03.00 pagi. Siapa yang datang bertamu? Rasanya bulu kudukku merinding.
Kamarku paling dekat dengan pintu rumah. Sedangkan kamar ibu masih beberapa langkah dari kamarku. Ibu harusnya juga mendengarnya. Aku belum berani membukanya. Aku harus menemui ibu dulu.
Benar. Ibu juga mendengar suara ketukan pintu. Tapi ia juga tak berani membuka sendiri. Dua perempuan yang tinggal bersama memang kurang ideal. Kami jadi penakut seperti ini. Kami akhirnya memutuskan untuk membukanya bersama-sama.
Aku dan ibu sangat terkejut melihat sosok pria yang sudah berdiri di depan pintu. Bukan hantu apalagi orang jahat seperti yang kami pikirkan. Ia sosok yang amat ku kenal dan ku pikirkan akhir-akhir ini. Ia memakai kruk dan hanya memakai sweater kaos lengan panjang. Ia kelihatannya sudah menunggu sejak tadi, tubuhnya kelihatan kedinginan.
“Hi .... Hideki?” Sapaku terkejut.
“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”
“Bi .... Bicara? Tapi ini jam 3 pagi.”
“Aku tidak peduli.”
Aku langsung melihat di sekeliling rumah. Tak ada mobil. Tak ada siapapun. Bagaimana Hideki bisa kemari? Apa ayahnya mengikutinya? Lebih penting lagi, ini jam 3 pagi. Apa yang ia lakukan?
“Sebaiknya kau pulang. Ayahmu pasti akan mencarimu.”
“Tidak mau.”
“Tapi ....”
“Sudah, sudah. Agika, biarkan dia masuk dulu. Kasihan di luar dingin. Kakinya juga sedang sakit.” Kata ibu lembut.
Aku masih tak bisa berkata apa-apa saat ibu membantu Hideki berjalan masuk ke rumah kami. Tatapan ibu padaku amat menunjukkan kalau ibu ada di pihaknya. Apa-apaan ini? Padahal ibu baru melihatnya dua kali ini. Tapi sudah membelanya.
Hideki duduk dengan pelan. Wajahnya sedikit pucat. Ibu menawarkan minum padanya dan segera ke dapur untuk mengambilkan. Aku duduk di depannya.
“Setelah ini aku akan menelpon kak Ayashi. Pulanglah. Ayahmu akan ....”
“Kau takut pada ayahku?”
“Apa? Ma .... Maksudku ayahmu nanti khawatir. Tidak seharusnya ....”
“Apa ayahku mengancammu?”
“Eh?”
Ia menatapku dengan mata tajamnya. Sejak kapan mata biru itu kembali? Pandangannya padaku sangat serius hingga aku tak bisa menjawabnya dengan lancar.
“Sekarang aku tahu kenapa kau menghindariku.” Katanya dingin.
“Astaga, kau masih membahas ini? Aku menolakmu jadi wajar jika aku menghindar ....”
“Kau menolakku karena ayahku yang menyuruhmu kan?”
“Eh?”
Aduh, Hideki menatapku dengan mata biru itu lagi. Wajah tampannya terlihat sangat serius saat ini. Lagian kenapa ia bisa membaca pikiranku? Apa ia sudah tahu kalau ayahnya menemuiku? Aku harus mencari-cari alasan. Ku alihkan pandanganku darinya.
“Ti .... Tidak. Ke .... Kenapa kau bisa berpikiran begitu?” Jelasku gugup.
“Kau tak mau menatapku lagi. Itu artinya kau berbohong. Kau takut ayahku akan menyakitimu?”
“Bicara apa kau, Hideki? Aku tidak paham.”
“Jawab aku dengan jujur, Agika!”
Hideki meninggikan suaranya. Memajukan badannya. Ia ingin menunjukkan kalau ia sudah menahan perasaan ini begitu lama. Ia tak peduli meski ini di rumahku. Meski ada ibu yang datang mengantarkan teh hangat.
“Kalau kau hanya ingin mengacau di rumahku, sebaiknya kau pulang.” Kataku.
“Kau masih tak mau menjelaskannya padaku?! Kau benar-benar .... Ukh!”
Hideki berhenti bicara. Ia merintih memegangi kepalanya. Ah aku baru sadar ia masih sakit. Ibu menaruh gelasnya ke meja dan langsung menolong Hideki.
“Hideki, apa kau sakit?” Tanya ibu padanya.
“Ah ....”
“Kau pusing ya? Agika, ambilkan obat sakit kepala untuknya.” Kata ibu padaku.
“Tidak usah. Hideki hanya perlu pulang. Ada dokter pribadi yang siap merawatnya.” Kataku ketus.
“Agika, siapa yang mengajarimu seperti itu? Kau tidak boleh begitu dengan temanmu.”
“Nyatanya memang begitu.”
Aku malah berdebat dengan ibu. Aku ingin Hideki pulang sejujurnya karena ayahnya. Bisa jadi ayahnya mencarinya. Ia datang sendiri pukul 3 pagi, tentu saja ia tak minta ijin. Lagi pula kenapa ibu ini? Ia malah membela orang lain, bukan anaknya sendiri. Mentang-mentang perawat, ia mengutamakan orang yang sakit. Aku memperhatikan ibu yang mengusap rambut Hideki yang hitam. Ia mencoba menenangkannya.
“Kalau sakit harusnya tidak perlu kesini, kau istirahat saja di rumah. Kalau memang ada perlu dengan Agika, bisa telepon atau menemuinya besok.” Kata ibu lembut.
“Bisakah aku tidur di sini?” Tanya Hideki lirih.
Mataku terbelalak. Menginap? Hideki ingin tidur di sini. Ia memang sakit tapi kenapa bicara begitu pada ibuku? Apa ia sedang mengigau?
“Ayah memaksaku pulang ke Jerman besok. Aku tak mau .... Ukh!” Hideki masih sakit. Ibu terus mengusap-usap kepalanya.
“Jadi kau kabur dari ayahmu?”
“Kumohon, ibu ....”
Ibu kelihatan prihatin dan tersentuh dengan pria mata biru itu. Aku sudah bisa membacanya. Mata sayunya berhasil membuat ibu tak bisa menolak. Lagian, apa-apaan dia, sejak kapan memanggil ibuku dengan sebutan “ibu”? Aku langsung berdiri. Ia tak boleh menempel padaku. Bahkan pada ibuku.
“Tidak boleh! Aku akan menelpon kak Ayashi sekarang juga.” Protesku.
“Kau benar-benar ingin aku kembali ke Jerman?”
“Justru aku menghindarimu agar ayahmu tak memaksamu kembali ke Jerman!”
“Apa?”
Ops! Aku kelepasan bicara. Aku mulai kesal karena usahaku menjauhinya malah membuatnya semakin tak bisa pergi. Apalagi ia ingin menginap disini. Tentu saja aku khawatir. Ayahnya bisa tahu dan ia pasti akan melakukan sesuatu. Itu yang ada dipikiranku saat ini.
Hideki berdiri dengan kruk dibantu oleh ibu. Ia menatapku. Aku mundur. Ia malah makin mendekat.
“Jadi benar kau menghindar karena ayahku?” Tanyanya.
“I .... Itu ....”
“Apa yang ayahku katakan padamu?”
“K .... Kau sudah mengetahuinya. Sekarang kau paham kan kenapa aku tak bisa menerima perasaanmu?”
Aku tak berani melihat wajahnya lagi. Ia juga hanya diam. Mungkin ia mencoba memahami posisiku. Benar-benar memalukan membicarakan ini di depan ibu.
“Aku bukan takut pada ayahmu. Aku takut kau kena hukuman lagi.” Jelasku.
“Agi ....”
“Jadi sebaiknya kau pulang. Ayahmu kemungkinan bisa tahu kau di sini dan ....”
“Agika, lalu bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya padaku?”
Hideki menatapku. Lebih dekat. Ia mencoba masuk menelusuri hatiku. Ia tak peduli aku mengkhawatirkannya. Ia malah menanyakan hal yang tidak urgent seperti ini. Aku menolak untuk menatap wajah tampan yang ia tunjukkan.
“Kau membenciku?” Tanyanya lagi.
“Bagaimana bisa aku membencimu.”
“Lalu apa kau menyukaiku?”
Ia semakin mendekat hingga aku tak bisa lagi menghindarinya. Astaga, kenapa mendadak ada pertanyaan ini jam 3 pagi? Bagaimana aku bisa berpikir dengan logis. Apalagi wajah tampan itu masih menunggu jawabanku.
“Katakan padaku, Agika.” Katanya pelan.
Ia tiba-tiba menyentuh pipiku dengan lembut. Aku langsung refleks mendorong tubuhnya hingga ia hampir jatuh. Untung ibu menahan tubuhnya. Aku lupa kalau kaki Hideki sakit dan ia masih memakai kruk.
“Ah ....” Rintihnya.
“Agika, jangan kasar begitu!” Kata ibu sambil membantu Hideki duduk kembali.
“Ma .... Maaf.”
“Kau tidak apa-apa, Hideki?” Tanya ibu.
“Kakiku sakit ....”
“Sudah. Kalian bahan besok saja. Kalau memang masih sakit, malam ini kau boleh tidur di sini. Biar Agika tidur di kamar ibu.” Kata ibu dengan lembut.
Benar kan? Akhirnya ibu mengiyakan permintaan Hideki. Apalagi melihatku yang sudah mendorongnya dengan begitu kasar, ibu pasti merasa bersalah. Aku harus protes lagi.
“I .... Ibu! Hideki harus pulang. Aku mau tidur di kamarku.” Protesku lagi.
“Astaga Agika, kenapa kau jahat sekali dengan Hideki? Ibu tidak habis pikir.”
“Aku bisa tidur di sini” Kata Hideki pelan.
“Tapi ibu ....”
“Sudah sudah. Kau ambilkan selimut di lemari. Biarkan Hideki tidur di sofa ini.”
Ibu benar-benar tak mau dibantah sekarang. Ia malah kelihatan marah padaku yang sudah mendorong pria kesayangannya. Aku mendengus lalu segera kembali ke kamar untuk melakukan yang ibu perintahkan.
***