
Agika sedang bersantai menikmati segelas kopi espresso-nya di kedai kopi dekat kota. Jari jemarinya yang lincah menari-nari memainkan pena di buku sketsanya. Harusnya hari ini ia berkencan dengan Hideki tapi karena berita bodoh itu tentu saja kencan itu terbatalkan.
Hideki juga tak menghubunginya setelah pertemuan terakhirnya waktu itu. Entah apa yang ia pikirkan hingga semudah itu menyerah untuk menyakinkan Agika. Padahal Agika sungguh ingin pria itu bisa membuatnya percaya. Atau mungkin Hideki memang melakukannya?
Daripada Agika kepikiran, akhirnya ia memilih memblokir nomor pria itu dan menikmati waktunya sekarang. Ini lebih baik dan membuatnya lebih tenang.
"Wah, tak disangka bisa bertemu denganmu disini."
Tiba-tiba seseorang menyapa Agika. Gadis yang sedang fokus menggambar itu mendongak. Matanya menangkap seorang wanita yang tidak ingin ia temui sampai detik ini. Reina, wanita yang membuat hubungannya dengan Hideki memburuk. Kali ini ia sedang bersama teman-temannya. Terlihat dua perempuan yang sama-sama menenteng tas belanjaan di belakang Reina. Agika mencoba mengabaikannya.
"Kau sendiri?" Tanya Reina.
"Bukan urusanmu." Jawab Agika ketus.
"Kau kenapa? Seingatku kau sangat ramah padaku saat terakhir kita bertemu."
Agika hanya diam dan masih fokus menggambar. Kenapa harinya bertambah sial dengan bertemu wanita ini? Bukankah harusnya Reina berdiam diri di rumah karena kasus itu? Diluar dugaan, ia sangat percaya diri. Padahal ia harusnya malu dengan skandal itu.
"Ah, dimana Hideki? Bukankah dia pacarmu? Tak mungkin kan ia sedang bekerja? Ini weekend."
Reina menyunggingkan bibirnya. Memberi senyuman puasnya. Ia memang sengaja memancing-mancing emosi Agika. Ia sebenarnya tahu kalau Agika datang sendiri. Ia hanya ingin mengejek dan menunjukkannya pada teman-temannya. Meski begitu, Agika tetap bersikap tenang.
"Reina, jadi ini yang mengaku kekasih pangeran dari Jerman itu?" Kata salah satu teman Reina.
Reina hanya mengangguk. Dua orang itu langsung memperhatikan Agika dari ujung rambut sampai ujung kaki. Agika mencoba mengabaikannya.
"Benarkah?" Tanya yang lain.
"Mimpinya terlalu tinggi. Jelas-jelas pria tampan itu memilih Reina. Kau lihat berita kemarin?"
"Ah, Reina. Kau sangat beruntung bisa tidur dengan pangeran tampan seperti dia!"
Reina tersenyum ketika dua temannya memujinya. Akhirnya ia berhasil memprovokasi dua gadis ini agar bisa memancing Agika dengan pembicaraan yang sedang hangat-hangatnya.
"Ah Agika, apa mungkin kau sudah lihat berita beberapa hari yang lalu?" Tanya Reina menyindir.
Agika masih terdiam.
"Maaf, apa gara-gara itu kau bertengkar dengannya? Hideki yang memaksaku … kau tahu, kan?"
Brak!
Agika meletakkan gelas kosongnya dengan sedikit kasar. Tadinya ia malas menanggapi ocehan wanita berpakaian tak sopan ini tapi suaranya yang berisik bersama teman-teman provokatornya itu membuat Agika jadi tak bisa konsentrasi menggambar. Agika berdiri. Ia masih menahan diri.
"Wah! Jadi benar?" Pancing Reina.
"Meskipun itu benar, Hideki tak akan mau dengan wanita sepertimu."
Agika segera mengemasi barang-barangnya. Ia tak mau tiba-tiba emosinya meledak dan membuat keributan di tempat tenang begini. Ia harus mencari tempat lain untuk mencari ketenangan. Setelah menghela napas dan melirik Reina sebentar, Agika segera pergi.
"Hei." Panggil Reina.
Reina menghadang Agika yang baru saja akan pergi. Ia tak rela jika Agika pergi begitu saja sebelum ia puas mempermalukannya.
"Kau mau apa?" Tanya Agika.
"Kau pikir kau siapa? Gadis biasa yang mengharapkan pangeran? Kau tak pantas untuk Hideki."
"Benar! Jangan mimpi!" Kata teman Reina.
"Ya! Aku yakin kau bahkan belum pernah tidur dengan pria itu." Dukung temannya yang lain.
Reina melipat tangannya ke dadanya sambil tersenyum puas. Ia berhasil membuat wajah Agika menjadi merah padam karena menahan marah.
Reina mendekatkan wajahnya pada Agika. Gadis manis itu hendak menghindar tapi Reina segera menangkap lengannya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Agika.
"Apa kau pernah melihat pria tampan itu melepas bajunya?" Bisik Reina.
"A … apa?"
"Wajah tampannya yang mempesona, suara desahannya yang seksi, dadanya yang bidang, otot tubuhnya yang menggoda dan tubuhnya yang berkeringat. Apa kau pernah merasakannya? Ah, Hideki memang nikmat sekali."
Reina masih berbisik. Pikiran Agika tiba-tiba melayang membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang Hideki lakukan dengan wanita mesum ini malam itu. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
"Sayang sekali, Agika. Akulah yang merasakannya. Mungkin dia menyukaimu, tapi pria seperti Hideki tak akan serius menjalin hubungan denganmu."
Plak!
Tangan Agika akhirnya melayang memukul wajah Reina yang berbalut make up. Akhirnya ia kesal. Apalagi membicarakan hal yang menjijikan seperti ini. Rasanya sakit di hatinya makin teriris. Untung saja ia hanya menampar wanita ini. Tapi itu sudah cukup menarik perhatian dua temannya, dan semua orang di kafe itu. Termasuk Reina. Ia tak menyangka gadis lembut itu berani menamparnya di depan umum.
"Kau wanita tak tahu malu!" Bentak Agika.
"Apa katamu?!"
"Kau tak lebih baik dariku! Kau hanya wanita yang menjual harga dirimu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan."
Plak!
Reina membalas tamparan Agika dengan tamparan lebih keras hingga membuat pipi Agika memerah. Ia sepertinya masih punya rasa sakit hati saat Agika menghinanya.
Tanpa basa-basi, Agika langsung menarik rambut panjang Reina. Reina menjerit. Ia berusaha melepaskan rambutnya yang berantakan dari cengkeraman tangan gadis itu. Agika benar-benar serius ingin bertengkar dengannya. Meski saat ini matanya pun sudah berkaca-kaca. Tapi ia benci Reina bicara hal yang keterlaluan.
"Nona-nona, he … hentikan ini …"
Salah seorang pegawai mencoba menghentikan pertarungan sengit dua wanita itu tapi ia kelihatan bingung. Dua teman Reina juga sedikit takut. Semua orang hanya menonton aksi mereka.
Grep!
Tiba-tiba sebuah tangan menangkap lengan Agika yang masih mencoba menjambak rambut Reina. Agika terhenti karena genggaman tangan itu sangat kuat. Ia melirik pemilik tangan. Sang pria manis bertopi baret yang sudah berdiri di belakangnya.
"Do ... dokter Tadashi." Ucap Agika.
"Tak ku sangka nona Agika berbuat keributan."
"Apa?" Agika bingung menjawabnya.
"Maaf, nona Reina. Saya akan bawa nona Agika pergi dari sini. Tuan muda Hideki sudah menunggunya." Kata Tadashi sambil tersenyum.
"Apa? Hideki?"
Reina sedikit terkejut. Ia tahu pria manis blasteran Jerman ini adalah asisten sekaligus dokter pribadi Hideki. Reina melepas Agika. Ia tak mau ketahuan kalau dirinya yang memancing pertengkaran ini. Apalagi jika Hideki disini juga.
"Anda terlihat akrab memanggil tuan muda seperti itu. Apa satu malam saja sudah membuat anda merasa dekat dengan tuan muda?" Sindir Tadashi.
"Eh?" Reina terlihat sedikit gugup.
"Itu akan sangat bagus untuk kerjasama ke depannya. Sekali lagi maaf kalau kami membuat keributan. Kalau begitu, sampai jumpa, nona-nona."
"Tunggu! Lepaskan tanganku, dokter." Cegah Agika.
Dokter Tadashi melambaikan tangannya sambil tersenyum. Ia tak menggubris penolakan Agika padanya. Tanpa meminta persetujuan Agika, dokter itu langsung menarik lengan Agika menjauh dari Reina yang rambutnya sudah berantakan. Tadinya Agika berusaha menolak karena ia tak mau bertemu Hideki, tapi akhirnya ia menurut saja. Lagipula ia memang ingin pergi sejak tadi. Tapi kenapa dokter Tadashi tiba-tiba ada di sini? Ia benar-benar akan mempertemukannya dengan Hideki?
💜💜💜