Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 59



Tadashi menghela napas. Ia sengaja membawa Agika ikut bersamanya karena ia tahu pasti tuan mudanya tak akan mudah diajak pulang. Hanya gadis ini yang bisa membuat Hideki bertekuk lutut. Beruntung Agika masih mau peduli meski sudah putus.


"Kenapa kau mabuk lagi?!" Tanya Agika.


"Akhirnya kau peduli padaku." Gumam Hideki.


Hideki kembali meraih gelas ketiganya. Tapi Agika segera menahan tangan Hideki agar pria itu tak melanjutkan aksi gilanya. Wajah Agika kelihatan marah.


"Berhenti minum!"


"Jika aku berhenti apa kau mau kembali padaku?"


Agika tak menjawab. Tapi genggaman tangannya tak lagi kuat. Ia perlahan melepas tangan Hideki. Hideki menyadari kalau Agika tak akan mudah mengiyakan keinginannya. Pria itu lalu kembali meneguk gelas ketiga.


"Ternyata kau sama saja." Ucap Hideki. "Berikan aku segelas lagi." Kata Hideki pada bartendernya.


"Hideki, sudah hentikan! Aku tak suka dengan pria pemabuk."


"Kau tak suka?!" Nada bicara Hideki meninggi.


"Ahhh!"


Hideki menampik tangan Agika yang hendak menyentuhnya hingga gadis itu terdorong mundur. Ia hampir terpeleset tapi Tadashi menahannya.


"Aku tidak mabuk pun kau tetap memutuskanku, kan?! Kau tak peduli padaku!"


Hideki marah. Ia berteriak hingga menjadi pusat perhatian seisi bar. Agika tak mengira Hideki bisa marah besar padanya ketika mabuk begini. Atau mungkin ia sedang meracau lagi?


"Hideki …"


Tadashi menarik Agika mundur dari sang tuan muda. Tadashi tahu tuan mudanya itu sedang mabuk dan ngelantur tidak jelas. Emosinya juga sedang meledak-ledak. Ia takut Hideki malah akan melukai gadis itu.


"Kau pernah bilang tak akan menyerah padaku. Tapi kau meninggalkanku."


Agika hanya diam. Melihat Hideki yang mengatakan perasaannya seperti ini, tak terasa air mata Agika mengalir. Ia tahu kalau Hideki membutuhkannya sekarang tapi Agika tak mungkin mendekat. Ada penghalang besar dalam hubungannya. Hideki adalah pria yang sudah tidur dengan wanita lain dan akan bertunangan dengan wanita lain. Agika tak bisa menghapus fakta itu.


Melihat mantan gadisnya berurai air mata tapi tak mau mendekat, hati Hideki terasa perih. Agika benar-benar tak mau lagi dengannya. Ia kesini hanya karena Tadashi meminta bantuannya. Ia masih tidak percaya padanya. Hideki mencengkeram erat gelas bir miliknya karena kesal.


"Semuanya sama saja!"


Prang!


Ia makin mencengkeram gelas itu hingga gelasnya pecah. Telapak tangan Hideki terluka dan darah mulai mengalir tapi ia tak merasa sakit sama sekali. Hatinya lebih sakit saat menatap Agika.


"Ukh kepalaku …" Rintih Hideki.


"Tuan muda?"


Kepala Hideki mendadak sakit. Mungkin karena mabuk, mungkin juga karena obat yang ia konsumsi sebelumnya. Tanpa menjawab panggilan Tadashi, Hideki langsung pergi dari bar itu. Semua pengunjung menyaksikan bagaimana pria itu bertengkar dengan mantan pacarnya. Tapi ia tak peduli. Ia pergi setengah berlari dengan tangan yang terluka karena pecahan gelas.


"Hideki!"


💜💜💜


Agika mengejar Hideki yang sudah keluar dari bar terlebih dahulu. Agika yakin Hideki tidak sedang baik-baik saja. Entah fisiknya, entah psikisnya. Ia benar-benar terlihat depresi dan terluka. Agika sangat tahu, meski Hideki dingin dan keras kepala, ia adalah pria yang rapuh.


Tak terlalu sulit mencari pria itu di antara mobil-mobil yang terparkir di halaman bar. Asal mencari mobil porsche warna hitam, Hideki pasti ada disana. Dan benar saja, Agika menemukan pria itu sedang ada di samping mobil kesayangannya. Ia tertahan oleh kepalanya yang sakit dan belum masuk ke mobil.


"Ukh!" Keluh Hideki.


"Hideki. Kepalamu sakit?"


"Jangan mendekat."


"Aku hanya …"


Agika tak berani melanjutkan bicaranya karena Hideki kelihatan marah. Tiba-tiba pria itu memegangi perutnya yang terasa mual. Ia berganti menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Ia segera berbalik membelakangi Agika dengan cepat.


"Hoek! Uhuk! Uhuk!"


"Hide …"


Pria itu akhirnya muntah karena mabuk berat. Ini sangat memalukan karena Agika sedang ada disini. Tapi Hideki sungguh tak bisa menahan perutnya yang mual. Padahal ia tahu akan begini, tapi ia masih saja kembali ke bar itu.


Hideki terkejut dengan suara yang mendekat. Agika juga kaget. Tiba-tiba ayah Hideki sudah menghampirinya bersama dua anak buah yang ada dibelakangnya. Hideki menyeka bibirnya yang terasa aneh sekarang.


"Nona! Tuan muda!"


Tadashi akhirnya mampu menemukan mereka. Ia segera berlari begitu melihat bos besarnya ternyata menyusul kesini.


"Ikut aku pulang sekarang!" Perintah sang ayah.


"Aku bisa pulang sendiri."


"Pulang sendiri? Kau pikir kau bisa menyetir mobil dalam kondisi mabuk berat? Lihat tanganmu!"


"Aku bisa melakukannya."


"Keras kepala!"


Dua anak buah ayah Hideki mulai berjalan mendekati Hideki. Pria mabuk yang wajahnya pucat itu memandang ayahnya dengan tatapan tajam sejak tadi. Agika cemas. Mereka akan berkelahi? Sama seperti yang gadis itu lihat lima tahun yang lalu? Agika akhirnya pasang badan di depan mantan pacarnya.


"Tu … tunggu dulu, tuan Matsuda!" Cegah Agika.


"Hm?"


"Hideki akan pulang denganmu. Tapi jangan memaksanya."


Mata Agika memberanikan diri menatap mata presdir yang menakutkan itu. Agika tak mau ada perkelahian. Apalagi kondisi Hideki sedang mabuk dan sakit begitu. Agika tahu ayah Hideki tak akan berbelas kasihan. Ia tak segan-segan memukul anaknya sendiri.


"Kau hanya mantan pacarnya, kan? Jangan ikut campur."


"Aku tak bermaksud ikut campur. Aku …"


"Sejak dulu bukankah aku sudah memperingatkanmu agar tak mendekati putraku. Apa yang kau inginkan dari Hideki?"


Agika tak bisa berkata-kata lagi. Bukan karena ia mengiyakan apa yang dikatakan ayah Hideki, tapi ia tak menyangka presdir itu masih berpikir Agika memanfaatkan status putranya. Setelah lima tahun, presdir itu tetap tidak melunak pada perasaan Hideki dan Agika. Agika sedikit tersinggung.


"Aku tak menginginkan apapun, tuan Matsuda. Sejak dulu aku tulus mencintai Hideki."


Ayah Hideki memalingkan pandangannya dari Agika. Ia tak percaya mendengar bualan itu. Agika menarik napas dalam-dalam. Menahan suara yang mulai bergetar.


"Jika aku punya maksud tertentu pada putramu, aku tak mungkin berani mempertaruhkan cintaku dan melepaskannya. Kami sudah putus. Aku juga akan pergi ke Singapura. Anda tak perlu khawatir aku akan mengganggu Hideki lagi."


Kali ini pria pemabuk yang dilindungi Agika itu terkejut. Agika akan pergi? Kenapa ia tak tahu? Hideki meraih tangan Agika dari belakang dan menggenggamnya.


"Agi …" Panggilnya. Tapi Agika hanya fokus bicara dengan sang presdir sekarang.


"Tuan, Hideki sudah dewasa, kurasa ia sudah bisa memilih wanita yang baik untuknya. Jika bagimu, Reina adalah wanita itu. Aku akan melepasnya." Kata Agika pada sang presdir.


Mata sang presdir mampu melihat keseriusan Agika. Gadis yang dulu kelihatan takut dengannya, kini terlihat sangat percaya diri dan tegas. Meskipun matanya sedikit berkaca-kaca.


Agika menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Kini ia berbalik badan dan perhatiannya fokus pada pria pemabuk yang masih menggenggam tangannya itu. Agika tersenyum kecut.


"Kepalamu sakit, kan? Ayo masuk ke mobil. Sekalian biar ku balut lukamu."


Agika mengajak Hideki masuk ke kursi belakang mobil dan mencari kotak P3K disana. Hideki hanya menurut.


"Presdir, bi ... biar aku yang bawa tuan muda pulang. Anda duluan saja." Tadashi mencoba menghalangi sang presdir.


Pria pemabuk itu sudah meringkuk di jok belakang karena kepalanya sakit. Agika meliriknya saat mengambil tissue. Hideki kelihatan sangat tertekan tapi Agika tak mau bertanya banyak. Seperti yang ia katakan, ia tak akan ikut campur. Ia fokus membalut tangan Hideki yang sudah penuh darah.


"Agi …" Ucap Hideki lirih.


"Diamlah. Aku sedang membersihkan lukamu."


"Jangan tinggalkan aku."


Banyak hal yang ingin dikatakan tapi hanya itu yang bisa diucapkan Hideki. Agika hanya diam. Ia bahkan tak melirik bagaimana wajah mantan pacarnya yang pucat itu memohon padanya.


"Setelah ini pulanglah. Jangan mabuk lagi."


💜💜💜