Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 21



Aku langsung keluar kelas begitu mendengar bel berbunyi. Hasil bercakap-cakap dengan kak Matsu tadi adalah tiket di dalam saku ku ini. Aku keluarkan sambil berjalan menuju gerbang sekolah. Aku sedikit ragu. Tak disangka kak Matsu masih menyimpannya. Ia berencana mengajakku pergi weekend ini dan entah kenapa aku menerimanya.



Sebenarnya aku hanya terbawa suasana. Karena tadi Hideki mengacau, aku sedikit emosi padanya. Aku langsung menerima tiket yang ditawarkan kak Matsu meskipun aku tahu pergi dengannya hanya akan membuat image-ku buruk. Setelah berpikir jernih, aku masih memikirkan akan pergi dengannya atau tidak.



Tiba-tiba seseorang meraih tiket yang ku pegang dan merebutnya. Aku langsung terkejut.



“Hei, apa yang .... Ah, Hideki.”



Aku langsung berhenti begitu ku lihat ternyata Hideki yang merebut tiketku. Ia membacanya lalu melirikku.



“Kembalikan.” Kataku pelan.



“Kau berencana menonton berdua dengannya?”



“Bukan urusanmu. Kembalikan.”



Aku mencoba meraih tiketku tapi Hideki yang punya tubuh tinggi semakin mengangkat tiketnya. Aku mulai kesal.



“Kenapa menggangguku? Cepat kembalikan tiketnya.” Kataku agak keras.



Hideki langsung menatapku tajam. Oh tidak, ia mulai marah lagi. Aku memundurkan langkah tapi Hideki semakin mendekat padaku.



“Aku butuh penjelasanmu.”



“Aku mau pulang. Kembalikan tiketnya.”



“Kenapa kau tiba-tiba menghindar dariku?” Tanyanya tak peduli meski aku terus meminta tiketnya.



“Aku tidak menghindar.”



“Kau menghindariku. Kau sengaja pindah tempat duduk, kau tidak mempedulikanku sejak tadi dan kau bahkan ingin pergi dengan laki-laki aneh itu. Kau anggap aku apa?”



Hideki mencengkeram pundakku. Benar kan? Ia mulai emosi. Ia tentu langsung sadar kalau aku menghindarinya. Kenapa aku masih mengelak? Aku bahkan tak menatap matanya saat ini.



“Sakit. Lepaskan aku.” Rintihku sambil mencoba menyingkirkan lengannya.



“Katakan padaku, Agika. Kau kenapa?”



“Bukan urusanmu.”



“Berhenti bicara seperti itu!”



Hideki akhirnya membentakku. Ia tak tahan lagi karena aku tak mau bicara yang sebenarnya. Mana mungkin aku bilang kalau ayahnya yang menyuruhku menjauhinya? Ia pasti akan kena masalah. Dan bisa jadi besok aku tak melihatnya di sekolah.



“Kau marah? Kau tak berhak marah padaku, Hideki. Bahkan kau tak berhak cemburu pada kak Matsu.” Kataku tegas.



Aku harus berani mengatakannya atau ia akan menempel terus padaku. Hideki masih menunggu aku bicara. Aku rebut tiket ditangannya. Aku beranikan diri untuk menatapnya sekali lagi.



“Kau ingin tahu aku menganggapmu apa? Kau hanya teman biasa bagiku.” Lanjutku.



“Agi, kau ....”



Hideki belum menyelesaikan bicaranya tapi Kazuma tiba-tiba datang menjemputku. Ia pasti merasakan atmosfer tidak enak di antara kami berdua. Aku menunduk dan tak mau melihat mata biru itu lagi.



“Ya. Aku menolakmu. Jadi berhenti bersikap seperti ini.”



Aku akhirnya berani mengatakan ini. Jika begini harusnya ia bisa bekerja sama untuk menjauh. Tapi kenapa malah hatiku yang sakit. Aku langsung melepas tangannya yang masih mencengkeram pundakku. Kali ini mudah sekali lepas dari genggamannya. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajah tampan itu tapi ia tak berkutik saat aku pergi menemui Kazuma. Dokter Tadashi juga langsung datang dengan mobilnya untuk menjemput Hideki. Aku hanya menunduk memberi salam dan langsung pulang dengan Kazuma.



***



Akhirnya ku putuskan pergi menuju ke kelas XII. Aku berencana akan mengembalikan tiket yang kemarin kak Matsu berikan padaku. Aku sudah memikirkannya semalam. Sejak pertengkaran dengan Hideki kemarin, aku tak mau membuatnya berpikir aku akan pergi kencan dengan kak Matsu. Sudah cukup membuat Hideki menjauh, aku tak mau berlebihan memanas-manasinya. Lagipula pernyataanku kemarin sudah jelas. Aku menolaknya. Seharian ini kami juga tak bicara. Bagus kan? Ia tak menggangguku lagi.



“Ah jadi kau ya?”



Aku belum sampai ke kelas kak Matsu tapi Ayumi baru saja keluar dari arah sana. Pacar kak Matsu itu bersama dua orang teman perempuannya. Ia menyapaku. Padahal sebelumnya kami tak saling kenal.



“Hai, Ayumi.” Sapaku ramah.



“Tidak usah berbasa-basi denganku. Kau mau menemui kak Matsu kan?”



“Ah iya. Aku mau mengembalikan ....”



“Ternyata memang kau yang merusak hubungan kami ya.”



“Eh?”



Aku langsung kaget. Ia menatapku penuh kebencian. Apa aku berbuat salah? Justru aku mau menjelaskan semuanya. Tapi ia langsung bicara begitu. Temannya yang lain sepertinya juga mendukungnya.



“Gara-gara kau, aku dan kak Matsu jadi bertengkar. Apa kau sudah puas?”



“Ah maaf, aku tak bermaksud begitu. Aku akan jelaskan. Justru aku mau mengembalikan tiket yang ia berikan padaku. Sungguh, aku ....”



“Tiket? Kalian bahkan akan berkencan?!"



"Ti .... Tidak. Aku membatalkan ...."



"Ah, aku kesal sekali padamu!”



Saking kesalnya, Ayumi dan temannya langsung mendorongku dengan keras. Aku terkejut. Astaga! Kenapa ia tak mau mendengar penjelasanku dulu?



Tiba-tiba seseorang mendekapku dari belakang sehingga aku tak membentur tembok. Ia menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Kami langsung terduduk di lantai.



“Ah ....”



Ia merintih pelan. Sepertinya kepalanya sedikit terbentur. Aku langsung refleks menyingkir darinya. Hideki? Aku lagi-lagi ditolongnya. Kenapa ia bisa disini?




“Kau Hideki ya?”



Raut wajah Ayumi mulai berubah. Kedua temannya juga kelihatan terpesona dengan pria tampan ini. Hideki mengambil tiket yang ku pegang lalu segera berdiri.



“Agika akan mengembalikan tiket ini padanya. Bisakah kau membantu Agika?”



“Eh?”



Ayumi dan teman-temannya sedikit bingung. Hideki tak mempedulikan mereka yang masih melongo menatap wajahnya yang tampan. Hideki memberikan tiket itu pada Ayumi.



“Atau kau saja yang pergi menonton dengannya. Bukankah itu bisa membuat hubungan kalian membaik?” Lanjut Hideki.



“Wanita itu sudah menghancurkan hubungan kami!" Balas Ayumi.



“Tidak mungkin. Agika pacarku. Dia tak mungkin melakukannya.”



“Pacar?”



“Kau hanya salah paham. Ayo kita pergi, Agika.”



Ayumi menerima tiket itu begitu saja. Ia masih syok. Entah karena sedang bicara dengan pria tampan atau karena Hideki mengakui kalau aku ini pacarnya. Pria ini pun menarikku menuruni tangga untuk kembali ke kelas.



“Lepaskan aku.” Kataku.



Setelah memastikan Ayumi tak mengikuti kami aku meminta Hideki melepas lenganku. Ia menurut.



“Ki .... Kita tidak pacaran.” Kataku canggung.



“Aku ingin menolongmu dari mereka.”



“Terima kasih. Tapi jangan membuat berita bohong. Itu bisa tersebar ke seluruh sekolah.”



“Aku tak ingin membuat berita bohong. Apa kau malu jika berpacaran denganku?”



“Bukan begitu ....”



Aku belum menyelesaikan kata-kataku tapi Hideki langsung berbalik badan ke arahku dan menatapku lama. Aku terkesiap. Ya Tuhan, mana mungkin aku malu jika pacarku setampan dan sekeren dia?



“Kenapa kau menolakku?” Tanya Hideki.



“Eh?”



“Aku memikirkannya semalam. Kau jadi berbeda setelah dari rumah sakit. Apa yang terjadi?”



“Tak ada.”



“Lalu kenapa kau menolakku?!”



Bicara Hideki mulai sedikit meninggi. Gawat, ia marah lagi? Kenapa ia makin tak bisa mengontrol emosinya? Lagipula ini di sekolah. Aku mencoba bersikap tenang agar tak jadi perhatian.



“Bukankah hal biasa jika menolak perasaan dari seseorang?” Tanyaku.



“Kau bilang padaku kalau kau tulus, kau selalu memikirkanku. Kau khawatir kalau aku tak ada. Apa artinya itu semua?!”



Aku diam. Duh rasanya sakit jika mengingat semua perasaan yang harus aku pendam. Aku tak boleh mengaku. Jika tidak Hideki bisa kena masalah. Meski sakit, aku harus berbohong. Aku tegakkan kepalaku menatapnya.



“Aku juga sudah memikirkannya. Ternyata aku hanya kasihan padamu. Kau pria kesepian dan aku sampai sekarang hanya ingin jadi temanmu."



“Apa maksudmu?”



Aku memalingkan wajahku. Menunduk. Jangan sampai ia melihat mataku yang sudah berkaca-kaca. Hideki berusaha menyentuhku tapi aku menolak.



“Semua yang aku katakan di rumah sakit itu bohong. Aku hanya kasihan padamu. Aku tidak menyukaimu.”



“Agi ....”



Aku hendak pergi. Tapi Hideki masih menahan lenganku dan tak mau melepaskan meski ku sudah berusaha. Ia memaksaku untuk menatap wajahnya. Saat ia melihat aku sudah meneteskan air mata ia langsung tahu kalau ada yang aku pendam selama ini. Aku langsung menyeka air mataku.



"Kau menangis?" Tanyanya heran.



"Ti .... Tidak."



“Aku tidak percaya! Katakan padaku, apa yang terjadi padamu, Agika?!” Teriak Hideki.



“Aku berkata jujur. Cepat lepaskan tanganku.”



“Baik. Sekarang tatap mataku, katakan kalau kau memang tidak mencintaiku!”



“Untuk apa? Kau sudah mendengarnya. Aku menolakmu.”



“Tatap mataku, Agika!”



Hideki sungguh marah sekarang. Ia mencengkeram lenganku lebih erat hingga tubuhku terguncang. Aku masih tak bergeming untuk melakukan apa yang ia minta meski ia sudah sangat kesal.



“Tidak mau! Kalau kau tak bisa menerimanya kenapa tidak pulang ke Jerman saja? Lupakan aku.”



“A .... Apa maksudmu? Kau ingin aku kembali ke Jerman?”



Aku tak menjawab. Aku langsung melepas lenganku darinya dan berlari menjauh sebelum ia tahu aku menangis. Ia mematung. Aku yakin Hideki terkejut mendengar ucapanku barusan. Itu pasti terdengar sangat menyakitkan baginya. Aku juga tak berniat begitu kalau ia tak bersikeras. Harusnya sekarang ia mulai mengerti kalau aku tak mau lagi dekat-dekat dengannya.



***