
“Jadi, pria kemarin itu anak baru?”
Kazuma sedikit penasaran pada Hideki. Awalnya ia mengira aku mengikuti sarannya beberapa waktu yang lalu tentang mencari pacar, karena saat itu Hideki sedang bersamaku. Ia sudah kegirangan dan bertanya soal identitas Hideki. Bahkan menanyai soal rumahnya yang tak bisa ku jawab. Tingkahnya persis seperti bapak yang memergoki anak gadisnya sedang bersama laki-laki. Kazuma memang selalu berpikir seenaknya. Tapi setelah ku jelaskan, ia akhirnya mengerti.
“Ya. Katanya dia baru pindah kesini.” Jawab datar.
“Kelihatannya kau dekat dengannya.”
“Tidak. Kemarin kami hanya kebetulan bertemu dan mengobrol sedikit.”
“Kau sedang PDKT ya?”
Kazuma menyipitkan matanya. Ia mulai curiga padaku. Aku langsung menghindar.
“A .... Apa? Tentu saja tidak! Aku hanya mengobrol sebagai teman.”
“Hmmm kalau setampan dia sih harusnya ia sudah terkenal di sekolah. Banyak gadis yang mendekat.”
“Haha. Sepertinya mereka sudah menyerah. Hideki itu pria yang sangat dingin. Ia juga tidak suka tebar pesona pada perempuan."
Kazuma berhenti berjalan. Tak terasa ternyata kami sudah sampai di sekolah. Pembicaraan mengenai anak baru itu rupanya membuat kami tak sadar kalau sudah sampai tujuan. Kazuma melirikku dan tersenyum aneh.
“Sikapnya dingin? Tidak tebar pesona? Ah! Agika, ngomong-ngomong kau tahu banyak soal anak baru itu ya?” Tanya Kazuma.
“Eh?! Tidak. Aku hanya...”
“Hmm? Hanya apa? Kau menyukainya ya?” Tanya Kazuma menggoda.
“Apa? Tidak! Aku hanya menyimpulkan berdasarkan kedekatanku padanya selama ini.” Jelasku sampai salah tingkah.
“Kedekatan? Ah! sedekat apa? Aku penasaran pada Hideki yang sudah mencuri hatimu secepat ini.”
“Kazu, aku sudah bilang ... Ah! tingkahmu sudah mulai seperti Reiko!” Teriakku.
“Haha. Kapan-kapan kenalkan aku padanya ya, Agika! Segeralah masuk kelas. Kau bisa terlambat! Sampai jumpa nanti.”
“Hei, Kazu!”
Kazuma berlari sambil melambaikan tangannya padaku. Ia takut aku mengejar dan memukulnya karena sudah menggodaku. Dasar! Pagi begini sudah ada yang menjengkelkan. Lagipula mana mungkin aku menyukai Hideki. Dia memang populer diantara perempuan tapi sangat dingin dan tak bisa didekati.
Aku berjalan dan menyapa teman-teman yang aku kenal di sepanjang koridor. Memberikan ucapan selamat pagi. Untung saja hari ini aku dan Kazuma berangkat lebih pagi, bertengkar dengannya pun tak akan membuatku terlambat seperti kemarin.
“Aduh! Hei, jangan berlari ... Hideki?”
Aku tak bisa berkata-kata lagi saat melihat ternyata Hideki lah yang menabrakku. Aku terkejut mendapati Hideki ada di atas tubuhku. Situasi macam apa ini? Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh sebelum ada yang melihat kami.
“A .... Apa yang kau lakukan?” Tanyaku malu.
“Ah, aku ....”
Hideki belum sempat menjelaskan padaku tapi tiba-tiba dari arah tempat Hideki berlari tadi ia mendengar guru Oshin sedang menelpon. Aku juga mendengarnya.
“Aku akan sampaikan pada Hideki di kelas nanti. Sudah ya, aku harus mengajar.”
Wajah Hideki langsung berubah seketika. Ia kelihatan cemas, takut dan gelisah. Aku ingin bertanya ada apa dengannya tapi tiba-tiba ia menarik lenganku dan membawaku masuk ke ruang alat kebersihan yang ada disamping tangga. Ia langsung menutupnya dengan rapat.
“Hideki ....”
“Diamlah sebentar.”
Ia memelukku dan menutup mulutku rapat-rapat. Aku tahu ia refleks melakukannya tapi ini sudah cukup membuat jantungku berdebar kencang. Kami dekat sekali. Sekian detik aku diam seperti yang ia perintahkan. Hanya terdengar suara napas Hideki yang tidak teratur karena lelah berlarian. Setelah langkah guru Oshin lewat, Hideki baru mau melepas tangannya dari bibirku. Ia bersembunyi dari guru Oshin? Apa masalah kemarin?
Setelah suara langkah kaki itu menjauh dan tidak terdengar, Hideki menghela napas lega. Aku juga berusaha bernapas lagi tapi mendadak dadaku terasa sesak. Entah kenapa aku tak bisa bernapas dengan baik. Ah aku baru sadar kalau ruang alat kebersihan ini sempit sekali, sangat pengap dan gelap. Hideki tak menyalakan lampunya karena panik. Akhirnya asma ku kambuh.
“Hei, kau kenapa?” Tanya Hideki.
Hideki akhirnya menyadari ada suara berat dari napasku. Ia langsung menyalakan lampu ruang kecil ini. Ia sedikit terkejut melihatku memegangi dada terus menerus sambil berusaha bernapas. Tubuhku mulai berkeringat karena ruangan yang panas.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Hideki lagi.
Aku tak bisa menjawab. Bahkan mataku pun sudah tak bisa melihat wajah tampannya dengan jelas. Tapi dari suaranya, Hideki kelihatan cukup panik melihat penyakitku kambuh. Ia langsung mengangkat tubuhku dan membopongku keluar.
“Aku akan membawamu ke UKS!” Kata Hideki.
Hideki berjalan secepat mungkin agar bisa menyelamatkanku yang sudah tak berdaya ini. Ia bertanya pada seorang siswa dimana letak UKS nya. Ia tak peduli dengan teman-teman lain yang ia lewati. Mereka pasti bertanya-tanya apa yang terjadi. Mungkin juga curiga bagaimana bisa pria dingin yang tak bisa didekati sekarang sedang membopong seorang gadis.
“Bertahanlah sebentar lagi, Agika.”
Ia mencoba menenangkanku. Ah Hideku memanggil namaku lagi setelah pertemuan dibawah pohon waktu itu. Ia tak lupa dengan namaku. Dadaku sesak tapi perasaanku senang sekali. Meskipun ia terkenal sangat dingin tapi kali ini aku bisa melihat kepanikan di wajahnya yang tampan. Ternyata diam-diam ia peduli.
***