
“Aku sudah dengar Hideki menang di pertandingan itu. Ternyata pria dingin itu hebat juga!”
Aku menghela napas. Seharian hidupku hanya dipenuhi soal Hideki. Sekarang pulang sekolah bersama Kazuma pun bicara soal Hideki. Apa tak ada pembahasan lain? Bukan apa-apa. Setiap kali mendengar namanya aku sangat gugup. Teringat kejadian kemarin.
“Tumben bocah itu hari ini tidak pulang dengan kita. Aku bisa sedikit merasa lega. Haha.” Celetuk Kazuma.
“Aku tidak tahu.” Jawabku pendek.
“Bukannya kau sekelas dengannya?”
“Eh? Ah itu .... A .... Aku tak melihatnya di kelas tadi. Ku pikir dia ada ekskul sepak bola.”
Aku terpaksa berbohong dengan Kazuma. Mau bagaimana lagi, aku belum cerita pada Kazuma soal Hideki yang menyatakan perasaannya padaku. Aku hanya belum ingin Kazuma ikut campur. Lagipula aku belum memberikan jawaban.
Sebenarnya setelah kejadian itu aku tak enak menyapa Hideki lagi. Di kelas juga tak banyak mengobrol. Aku malah mendiamkannya. Entah bagaimana perasaannya sekarang tapi aku sungguh canggung setelah ia menyatakan cinta padaku. Tak bisa seperti kemarin-kemarin lagi. Kecuali aku siap memberikan jawabannya.
“Memangnya ia sudah ikut ekskul sepak bola? Apa tak seharusnya kita tadi menunggunya saja?”
“Sudahlah, Kazu. Lagipula ia bisa pulang sendiri.”
“Kau aneh.” Kazuma memperhatikanku.
“A .... Aneh apa? Tak ada yang aneh.”
“Biasanya kau sangat peduli pada Hideki. Aku bahkan berpikir kau menyukainya. Kenapa kali ini seperti menghindar?”
“Eh?”
“Ada apa? Kalian marahan?”
Aku diam saja. Kazuma sudah pasti curiga padaku. Tapi aku tak mau menceritakan padanya dengan detail.
“Tidak. Sama sekali tidak.”
Kazuma langsung mengenyitkan dahi dan menyipitkan matanya. Ah ia mulai curiga.
“Kau bohong. Cepat ceritakan padaku. Apa tuan muda sombong itu menyakitimu?”
“Eh? Tidak, Kazu. Bukan seperti itu. Ini hanya masalah sepele.
“Kalau begitu kenapa?”
Aku berhenti di dekat taman yang biasa kita lewati. Aku mulai berpikir. Apa sebaiknya aku cerita saja? Itung-itung mencari saran dari sahabat dekat. Kazuma juga tak akan marah jika aku cerita soal pria lain. Karena dia temanku. Meski pria itu juga membuatnya kesal sebelumnya, tapi mereka tak pernah sungguhan saling benci. Kazuma pasti akan bersikap bijaksana.
“Jadi perasaanku kau anggap sepele?”
Aku kaget. Hideki tiba-tiba datang dan menatapku tajam. Ia menghampiriku. Aku jadi salah tingkah. Lagi-lagi ia mendengar kata-kata yang membuatnya salah paham.
“Hai, Hideki. Ternyata kau tak ikut ekskul sepak bola? Agika bilang ....” Kazuma melirikku.
“Dia menghindariku.”
“Eh?”
Hideki makin mendekat. Dilihat dari matanya sepertinya ia marah. Kazuma yang tahu itu langsung menghadang dan menahan Hideki.
“Hei, santai. Kalian ada masalah apa? Kita selesaikan baik-baik.” Kata Kazuma menenangkan.
“Katakan padaku, kau menghindariku karena tak menyukaiku?” Tanya Hideki.
“A .... Ah, bukan begitu, Hideki.”
“Kau menyukai pria berambut coklat itu?”
“Ini tak ada hubungannya dengan kak Matsu. Dia sudah punya pacar. Aku tak mungkin menyukainya.”
"Lalu apa kau menyukaiku?"
Akhirnya aku mengatakan hal yang benar. Meski aku mengagumi kak Matsu, aku tak mungkin menyukainya. Ia juga tak menyukaiku. Jadi untuk apa punya perasaan padanya. Semua yang aku lakukan kemarin murni karena aku mengaguminya. Kalau soal Hideki, aku hanya tak bisa memastikan.
“Ja .... Jadi Hideki .... Agika, apa pria dingin ini menyatakan cinta padamu?! Benarkah itu?” Tanya Kazuma kaget.
Aku hanya diam dan tidak menjawab kebingungan Kazuma. Kazuma juga pasti tahu maksudku. Dia hanya menghela napas.
“Lalu kenapa kau menghindar dariku, Agika?” Tanya Hideki sekali lagi.
“Maaf, aku ....”
Aku belum sempat menyelesaikan ucapanku ketika tiba-tiba ada 5 buah mobil mewah berhenti di depan kami. Jika mobil-mobil itu ada di jalan raya tentu saja kelihatan sangat mencolok. Apa ada artis atau tokoh terkenal yang datang? Kenapa ia berhenti disini?
Pintu mobil terbuka semua. Rombongan berjas hitam keluar semua. Orang-orang tua berpakaian rapi. Ada lebih dari 10 orang yanh berseragam seperti itu. Eh rasanya aku pernah melihat orang-orang ini.
“Ah kau disini rupanya, Hideki.”
“Eh?”
Seseorang yang berpenampilan berbeda dari yang lain keluar dari mobil yang paling depan. Ia memakai mantel dan kaca mata hitam, rambutnya yang sudah sedikit beruban ditata dengan rapi ala business-man. Usianya mungkin sekitar 50 tahun. Tapi ia kelihatan nyentrik. Dari gayanya sepertinya ia bos mereka.
“Tuan muda.”
Di belakang laki-laki itu muncul dokter yang baru saja aku temui kemarin. Dokter Tadashi. Wajahnya kelihatan berbeda. Sedikit mengguratkan kecemasan. Ia menundukkan badan untuk menghormati Hideki. Untuk apa dokter Tadashi bersama orang itu?
“A .... Ayah.”
Apa? Jadi pria nyentrik itu adalah ayah Hideki? Bagaimana ia bisa kesini? Rombongan berjas hitam itu jelas anak buah dari ayah Hideki. Sama seperti yang ku temui beberapa hari lalu. Pantas saja aku mengenalnya.
Aku melirik Hideki. Ia sangat terkejut. Wajahnya terlihat jelas kalau ia tak menyangka ayahnya kesini. Hideki tak bergerak sama sekali. Ia mematung.
“Berhari-hari ku minta Kohsi untuk membujukmu pulang ternyata tak bisa. Sampai ku utus Tadashi kesini ternyata tak ada gunanya. Kau memang keras kepala, Hideki. Sampai aku harus turun tangan sendiri.” Kata ayah Hideki.
“Tadashi, kau ....” Kata Hideki kesal.
“Bu .... Bukan aku, tuan muda. Aku tak mengatakan apapun pada ayahmu. Su .... Sungguh.”
“Aku bisa menemukanmu tanpa Tadashi beritahu sekalipun.” Potong ayah Hideki.
“Mau apa kau?”
Hideki akhirnya bertemu ayahnya. Meski wajahnya kelihatan takut ia mencoba bersikap biasa saja. Aku dan Kazuma belum mau mengganggu mereka bicara.
“Sudah ku bilang aku tak akan pulang ke Jerman.”
“Kau pikir aku tak bisa memaksamu?”
Hideki mulai berkeringat dingin. Ia gemetaran. Apa ayahnya sangat keras hingga ia sampai takut begini? Ayahnya tersenyum menyeringai.
“Bawa dia pulang bagaimanapun caranya!” Perintah ayah Hideki.
“Baik, Direktur!”
Rombongan berjas hitam itu mulai mendekat ke arah kami. Aku dan Kazuma sedikit cemas. Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka akan berkelahi lagi? Tapi jumlahnya kali ini berkali lipat lebih banyak.
“Hei, tuan. Tenanglah dulu. Kau bisa bicarakan baik-baik masalahmu dengan anakmu.” Kazuma mencoba bicara.
“Hm? Kau teman Hideki?”
“Tentu saja!”
“Tak ku sangka baru beberapa minggu ia disini sudah punya banyak teman. Tapi sepertinya kau tidak benar-benar mengenalnya.”
“Eh?”
“Jika kau mengenalnya, harusnya kau tahu kalau anak keras kepala itu tak mungkin bisa diajak bicara baik-baik.”
“Kau ....”
“Jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami, anak muda.”
Ayah Hideki langsung mengangkat tangannya. Memberi aba-aba pada anak buahnya agar melanjutkan perintahnya. Tapi tiba-tiba Hideki melawan. Ia memukul salah satu pria berjas hitam itu. Hideki menatap mata ayahnya dengan tajam.
“Kau mau melawan rupanya.” Kata ayah Hideki tenang.
“Kau keterlaluan.”
“Hideki! Awas!”
Anak buah ayah Hideki mencoba menyerang dari belakang. Tapi tiba-tiba Kazuma menangkisnya. Ia menolong Hideki. Hideki sedikit terkejut.
“Maaf, aku tak ingin ikut campur masalahmu. Tapi aku tak suka pengeroyokan seperti ini.” Kata Kazuma.
“Kazu ....”
Akhirnya Kazuma dan Hideki memutuskan untuk melawan anak buah ayah Hideki. Aku sangat khawatir. Meskipun Hideki jago berkelahi dan Kazuma adalah anggota klub tae-kwon-do tapi jumlah mereka terlalu banyak. Ini tak mungkin bisa diselesaikan oleh anak SMA seperti kami. Kelihatan sekali kalau Kazuma dan Hideki kelelahan. Aku melirik ayah Hideki yang masih diam saja tak peduli. Bagaimana mungkin ia melakukan ini pada anaknya sendiri?
Tiba-tiba ketika aku fokus pada Kazuma dan Hideki seseorang menarik kedua lenganku ke belakang. Aku belum sempat menengok tapi leherku sudah dicengkeramnya dengan kuat. Aku berteriak.
“Agika!” Panggil Kazuma.
“Berhenti disitu!” Kata ayah Hideki.
Kazuma yang akan menolongku akhirnya menuruti kata-katanya. Oa berhenti berkelahi. Hideki juga sangat terkejut. Semua orang mulai berhenti berkelahi saat melihatku ditawan oleh salah satu anak buah ayah Hideki. Aku sangat takut.
“Aku hanya ingin membawa putraku pergi. Kenapa kalian ikut campur? Padahal kalian sama sekali tak punya hak atas putraku.”
“Eh?”
“Lepaskan Agika!” Kata Kazuma marah.
“Hanya kalau Hideki mau ikut denganku.”
“Lepaskan dia!” Hideki juga marah.
“Baiklah, Hideki. Kau ikut denganku.”
Akhirnya ia melepasku. Kazuma langsung datang dan menyelamatkanku. Ia langsung memelukku.
“Agika, kau baik-baik saja?” Tanyanya cemas.
“Iya. Aku baik-baik saja.”
Tapi berpapasan dengan itu, Hideki juga tertangkap. Tangannya terkunci oleh mereka. Mereka sengaja menjadikanku umpan. Hideki mencoba memberontak.
“Lepaskan aku!” Kata Hideki marah.
“Hideki ....”
“Kalian berhenti disitu! Aku sudah bilang jangan ikut campur. Ini urusanku dengan putraku.”
Aku belum sempat melangkah untuk menolong Hideki tapi ayahnya sudah memberi peringatan. Ia melirik kami dengan nada mengancam. Kazuma juga menahanku. Ayah Hideki mendekat dengan pelan pada Hideki.
“Sialan! Lepaskan aku!” Teriak Hideki pada ayahnya.
“Kabur dari rumah dan memutuskan tinggal disini bersama kakakmu? Kau benar-benar merepotkan, Hideki.”
Hideki masih mencoba melepaskan diri tapi tak bisa. Cengkeraman orang berjas hitam itu sangat kuat. Hideki bahkan sudah berkeringat dingin sampai ketakutan. Ayahnya mendatanginya. Ia menatap ayahnya tajam. Sama seperti tatapan ayahnya padanya. Bagaimana sebenarnya hubungan ayah anak ini?
“Kau pikir kau bisa memutuskan seenaknya begitu? Semakin dewasa kau semakin susah diatur.” Lanjut ayahnya.
“Lepaskan! Ku bilang lepaskan aku!”
“Berhenti memberontak!”
Bugh!
“Ukh ....”
Akhirnya pukulan keras ayahnya mengenai perutnya. Hideki tumbang. Ia akhirnya tak sadarkan diri dan masih ditahan orang-orang berjas hitam itu. Aku tak menyangka ayah Hideki akan memukul putranya sendiri. Aku dan Kazuma bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi.
“Bawa dia ke rumah! Aku harus mendisiplinkan anak keras kepala ini.” Perintah ayah Hideki.
Hideki langsung dibopong oleh pria berjas hitam itu. Aku dan Kazuma tak mungkin melawan dan menyelamatkan Hideki. Kami juga sudah kalah jumlah. Hideki dibawa masuk ke mobil. Tadashi hanya melirik kami dengan tatapan kecewa lalu ikut masuk ke mobil. Hideki, apa kau akan dibawa pulang ke Jerman?
***