Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 20



“Bocah brengsek itu tidak menjemputmu?”



Kazuma menanyaiku soal Hideki yang tidak ke rumahku tadi pagi. Aku juga heran kenapa ia tak datang. Ia juga tak memberi kabar karena handphone-nya diambil ayahnya. Atau jangan-jangan ia belum masuk sekolah karena masih sakit? Ah aku harusnya tak memikirkannya lagi. Bukankah ayahnya memintaku untuk menjauhinya?



“Tidak. Aku tidak tahu.” Jawabku pendek.



“Ah, aku jadi lega. Dia memang bukan sainganku. Haha.”



Kazuma tak menyadari kalau ada yang salah padaku. Mungkin ia pikir karena ada ayahnya jadi Hideki tak datang. Untunglah. Ia tak boleh tahu apapun soal kemarin.



“Siapa yang kau maksud?”



Seseorang mengagetkan kami dari belakang. Kami pun menoleh. Kazuma memundurkan langkahnya sedikit karena sangat terkejut melihat Hideki sudah berdiri di belakangnya. Ia bersiap memasang kuda-kuda.



“Ah! Ku kira kau tak masuk sekolah lagi. Kau sudah sembuh?” Kata Kazuma.



“Ya.”



Aku dan Kazuma masih heran bagaimana ia bisa menyusul kami. Aku memiringkan kepalaku melihat ke belakang Hideki. Ah ada mobil mewah yang ku lihat kemarin. Terparkir tak jauh dari kami. Apa ia diantar ayahnya? Jika ia melihatku ini akan jadi situasi yang buruk. Aku langsung memundurkan tubuhku hingga Hideki sedikit heran.



“Tadashi yang mengantarku. Sementara ia memang bertugas mengantar-jemput ku setiap sekolah.”



Seakan Hideki paham kekhawatiranku. Ia langsung menjelaskan pada kami. Aku bisa melihat Tadashi menoleh ke arah kami lewat jendela mobil dan melambaikan tangannya. Aku sedikit bisa bernapas lega. Jika ayahnya yang mengantarnya pasti aku sudah pingsan di tempat karena takut.



“Jadi ayahmu menyuruh dokter muda itu mengawasimu sekarang?” Tanya Kazuma.



“Tadashi tak akan melakukannya.”



“Hmmm ya terserah lah. Padahal aku sudah senang kau tidak masuk. Agika sepenuhnya jadi milikku.” Kata Kazuma.



Kazuma sengaja memancing pertengkaran meskipun hanya bercanda. Ia mencoba menggoda Hideki sambil melipat tangannya dan bersikap sombong.



“Kazuma, sebaiknya mulai sekarang kau jaga jarak dari Agika. Aku ....”



Hideki menarik lenganku. Ia mendekatkan tubuhku padanya seakan ia ingin menunjukkan kalau aku sudah menjawab perasaannya. Wajahku memerah. Kazuma langsung bisa menebaknya.



“Ah! Jangan-jangan kau dan Agika sudah pacaran?! Agika, katakan padaku, kau ....”



Sebelum ketahuan semua orang, aku langsung menampik tangan Hideki dan mendorong tubuhnya menjauh begitu Kazuma menyadarinya. Tak apa ia terkejut daripada dokter Tadashi yang melihat kami seperti ini dan melaporkannya pada ayah Hideki.



“Ti .... Tidak! Aku tidak berpacaran dengannya.” Kataku gugup.



“Agika ....”



“Ah! Kau bisa terlambat. Kazu, sebaiknya kau segera pergi. Nanti jemput aku di sini lagi ya. Sampai jumpa!”



Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Aku langsung mendorong Kazuma pergi sebelum ia semakin bertanya macam-macam. Lagipula ini sudah siang. Kazuma hanya menurut saja meskipun masih bingung.



“Apa maksudmu?”



Hideki yang masih berdiri di belakangku dan keheranan langsung bertanya padaku. Aku langsung menjauh lagi.



“Agika, apa maksudnya ini? Kau ....” Tanyanya lagi.



“Aku ada piket. Aku akan ke kelas. Sampai jumpa!”



Aku langsung menghindar dan pergi meninggalkan dia begitu saja. Ia akan mengejarku tapi Tetsuya dan teman-teman tim sepak bolanya tiba-tiba menghampirinya. Sepertinya mereka menanyakan kabar. Hideki masih kelihatan bingung tapi ia tak bisa menghindari teman-temannya.



Syukurlah aku bisa pergi darinya. Itu yang harus ku lakukan agar ayahnya tak memaksanya ke Jerman dan tak melakukan hal yang tidak-tidak. Aku tak mau Hideki dalam masalah lagi. Tapi aku sekelas dengannya. Kami bahkan duduk bersebelahan. Pasti kami akan sering berinteraksi. Bagaimana aku menghindarinya?



***



“Aku mohon, Reiko.”



“Kenapa tiba-tiba kau ingin tukar tempat duduk?”



Berapa kali pun aku jelaskan pada Reiko, ia tak percaya dengan alasanku. Aku sudah memaksanya bangun dari tempat duduknya dan ia sudah duduk ditempatku. Harusnya tak protes lagi kan?



“Tak ada. Aku hanya ingin mataku seimbang melihat papan tulis. Kalau di sebelah kiri terus rasanya capek. Jadi gantian aku ingin di sebelah kanan.”



“Begitu?”



“Sungguh.”



Aku jawab sambil tersenyum tipis. Ia hanya menyipitkan mata mendengar jawabanku yang mengada-ada. Alasan sesungguhnya bukan itu.



Tiba-tiba Hideki masuk ke kelas bersama teman-teman tim sepak bolanya. Mata birunya langsung mencari diriku. Ia menyadari kalau aku duduk di tempat lain. Aku pura-pura tak melihatnya.



“Jadi karena dia?” Tanya Reiko.



“Apa?”



“Kau sedang bertengkar dengan Hideki? Makanya kau pindah tempat duduk?”



“Ti .... Tidak. Aku hanya ingin mataku seimbang. Itu saja.”



“Agika, selesaikan masalahmu dan ....”



“Reiko, ku mohon. Sekali ini saja.”



Reiko menghela napas panjang. Ia luluh melihat wajahku yang memprihatinkan. Tanpa perlu di tanya pun aku memang kelihatan menghindari pria dingin itu. Aku harus melakukannya.



Hideki akhirnya duduk di samping Reiko. Satu langkah lebih jauh dariku. Ia masih melirikku keheranan tapi aku pura-pura tak peduli. Aku mencoba fokus pelajaran saja sampai ini berakhir.



***



Bel istirahat berbunyi. Aku harus segera ikut Reiko pergi makan siang bersama teman-teman atau Hideki akan menahanku. Sejak tadi ia kelihatan tak bisa fokus dan terus memperhatikanku.




“Agika, aku mau ke ruang OSIS sebentar ya.” Kata Reiko.



“Ah Reiko, boleh aku ikut?”



“Hanya mengambil barang yang ketinggalan. Nanti aku menyusul.”



“Ah, aku ikut saja ya. Aku hanya akan melihat-lihat. Kau tidak lama kan?”



“Kau mau menghindari Hideki lagi ya?”



Aku hanya tersenyum tipis. Ia tahu seharian ini aku memang tak mau berinteraksi dengan Hideki.



“Hai, Agika.”



Seseorang menyapaku dari arah belakang. Ia tersenyum bercahaya seperti biasa. Aku langsung membalas senyumnya.



“Kak Matsu.”



“Sedang apa?”



“Ah, kau ngobrol dengan kak Matsu saja ya. Tunggu di sini sebentar. Aku akan kembali.” Kata Reiko.



Ia langsung melambaikan tangan dan pergi seakan berhasil menghindariku. Aku mulai memutar otak. Apa yang harus ku lakukan? Mana mungkin aku mengobrol dengan kak Matsu? Tak ada topik yang bisa kami bicarakan. Kak Matsu hanya membalas lambaian tangan Reiko dengan senyum.



“Habis makan siang ya?” Tanyanya.



“Iya. Kak Matsu sedang apa?”



“Habis dari ruang ekskul sepak bola.”



“Ah begitu.”



“Hmmm tentang tiket waktu itu aku minta maaf ya, Agika. Ku kira kau dan Hideki hanya teman saja. Ternyata kalian pacaran, sampai membuatnya cemburu.”



Aku mengingat kembali kejadian di kantin waktu itu. Ah benar, aku tak jadi melihat film dengan kak Matsu karena Hideki langsung membawaku pergi. Ia cemburu dan menanyaiku macam-macam.



“Cemburu? Ti .... Tidak. Aku dan Hideki hanya teman biasa.”



“Sungguh? Sepertinya ia punya perasaan padamu.”



“Tidak. Hideki hanya mengingatkan aku kalau sebaiknya aku tidak pergi dengan kak Matsu yang sudah punya pacar.”



“Begitu?”



“Iya. Ia teman yang baik.” Jelasku sambil tersenyum.



“Jadi, kau akan menurutinya?”



Aku sedikit tidak paham. Apa artinya ia masih ingin mengajakku pergi nonton film? Tapi yang dikatakan Hideki ada benarnya. Aku tak bisa pergi berdua dengan seseorang yang sudah punya pacar.



“Bukankah aku sudah bilang padamu jangan dekati Agika?”



Seseorang datang dari belakangku lagi. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan menyembunyikan aku di belakang tubuhnya. Kak Matsu yang tadinya terkejut langsung tersenyum manis.



“Hai, Hideki. Kau sedang apa di sini?” Tanya kak Matsu.



“Bukan urusanmu. Aku akan bawa Agika pergi.”



“A .... Apa yang kau lakukan? Lepas ....” Aku mencoba menahannya.



Hideki mencoba menarikku tapi aku tak mau. Lagi-lagi ia bersikap tidak sopan. Mana bisa aku ikuti kemauannya lagi? Lagipula sekarang aku sedang menjauhinya.



“Hei, Hideki. Lepaskan Agika.” Kata kak Matsu.



“Apa katamu?”



“Agika tak mau ikut denganmu. Kenapa memaksanya begitu?”



“Urusanku dengan Agika, kau tak perlu ikut campur.”



“Urusan? Kau tak dengar tadi Agika bilang apa? Kau hanya temannya. Kau tak berhak memaksanya begitu. Sebaiknya kau tanya dia dulu.”



Hideki diam. Agaknya ia mulai memikirkan perkataan kak Matsu. Ia melepas tanganku. Aku langsung menarik tanganku menjauh darinya.



“Baiklah. Aku ingin bicara denganmu, Agika. Bisakah ....”



“Aku sedang ada urusan dengan kak Matsu. Kau tak lihat?”



Aku bicara tapi tak melihat ke mata biru itu. Aku palingkan wajahku darinya. Ia harusnya tahu kalau aku sedang tak ingin bicara dengannya.



“Kau dengar sekarang, Hideki?” Tanya kak Matsu sambil tersenyum.



“Agika, apa yang terjadi padamu? Kau menghindariku?” Tanya Hideki padaku.



“Tidak. Aku hanya sedang bicara dengan kak Matsu. Kau yang tidak sopan seenaknya memotong pembicaraan orang.”



“Agi ...."



“Kita bicara di tempat lain saja.”



Aku langsung menarik lengan kak Matsu menjauh sebelum Hideki menanyaiku macam-macam. Aku juga tak mau kak Matsu tahu hubungan kita yang buruk.



***