Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 30



“Wah, Kazuma memang hebat!”



Aku memperhatikan sahabatku yang menang di pertandingan babak penyisihan di bangku penonton. Kali ini ia harus bertanding beberapa kali agar bisa masuk ke semi final besok. Aku juga terus merekam videonya saat pertandingan. Ia benar-benar berbakat.



“Tak sia-sia aku menemaninya latihan tiap minggu pagi. Kau tahu ....”



Ah aku tak bisa melanjutkan bicaraku saat menengok ke pria dingin disampingku ini, ternyata ia kelihatan murung. Matanya hanya menatap Kazuma yang sedang bertanding dengan tatapan dingin. Ia cemburu aku membicarakan Kazuma? Tapi ini kan memang harinya Kazuma.



“Hi .... Hideki, ada apa?” Tanyaku.



“Tidak ada.”



Ia memalingkan pandangannya dariku. Ia tak mau bilang kalau ia cemburu. Padahal jelas-jelas wajahnya bad-mood begitu. Aku coba alihkan pembicaraan saja.



“Ah, ku lihat kau juga jago berkelahi. Apa kau juga latihan sebelumnya?”



“Ya.”



“Wah, mulai sekarang kau bisa berlatih bersama-sama dengan Kazu.”



“Aku tak mau berlatih dengan pria aneh berambut blonde itu.”



Aku hanya tersenyum kaku. Aku lupa kalau hubungan dua pria ini tak pernah akur. Menyesal aku menawarinya. Jika Kazu mendengar ia pasti akan bilang “siapa juga yang mau berlatih denganmu!” Haha.



“Kazu sangat menyukai tae-kwon-do. Ia selalu berlatih sejak kecil. Ayahnya bahkan sampai membawanya ke tempat les.”



“Menyenangkan sekali bisa menyukai sesuatu sejak kecil seperti Kazuma.”



“Eh?”



Hideki menatap Kazuma yang tersenyum bahagia saat ia berhasil mengalahkan lawannya. Tapi pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.



“Aku tak suka berkelahi. Tapi ayah mengajarkanku cara berkelahi dan melindungi diri.”



“I .... Itu bagus kan?”



“Aku adalah aset semua bisnisnya. Ia mengajariku banyak hal bukan untukku, tapi untuk perusahaannya.”



“Itu tidak mungkin. Kau hanya ...."



“Di pikirannya, aku lahir untuk meneruskan bisnisnya. Pelayan, supir, asisten, dokter pribadi, homeschooling, semua yang ia berikan padaku adalah untuk kepentingannya. Tapi aku tak pernah bisa menyukai apapun yang ia berikan, termasuk statusku sebagai pewaris perusahaan.”



“Hideki ....”



“Sekalinya aku bisa menyukai sesuatu, aku hanya menyukaimu.”



“Eh?”



Pria tampan ini tiba-tiba menatapku. Lebih dalam lagi hingga wajahku jadi memerah. Aku sangat gugup. Jantungku berdebar kencang.



“Agi .... Aku tak peduli apakah itu ayah atau siapapun yang mengancammu. Aku ingin mendengarnya darimu.”



“A .... Aku?"



“Apakah kau juga menyukaiku?”



Hideki makin mendekat. Ia menyentuh lenganku. Tangannya yang lain menyentuh pipiku dengan lembut. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang besar. Ia tak mengijinkan aku berpaling saat ini. Kami tak peduli lagi soal pertandingannya. Kenapa ia membicarakan hal seperti ini saat ini? Bisakah kita hanya menonton dan bersenang-senang?



Aku langsung menampik tangannya. Ia sangat kaget. Tapi aku sungguh gugup saat ini.



“Ka .... Kazu sepertinya sudah selesai. A .... Aku akan membeli minuman.”



Aku langsung buru-buru pergi. Astaga! Aku sudah memastikan perasaanku tapi aku tak bisa mengatakannya. Apa yang terjadi jika aku bilang padanya kalau aku juga mencintainya? Apa ayahnya akan marah? Itu lebih sulit dibayangkan dari pada menerima perasaannya.



***



Aku menghela napas di depan vending machine minuman. Aku bisa lepas dari tatapan mata biru itu yang mulai menggodaku. Berkali-kali aku menghindar ketika ia menanyakan soal jawabanku. Ia pasti kecewa padaku.



“Kau sedang bersenang-senang?”



Seseorang menyapaku tapi tak benar-benar menyapaku. Aku langsung membalikkan badan. Disana sudah ada sang direktur yang berpenampilan rapi ala bussiness man. Ia biarkan jas nya menggantung di pundaknya. Di kanan kirinya setia berdiri anak buahnya yang juga berpenampilan rapi. Meskipun kali ini ia hanya membawa empat anak buah tapi kedatangannya sudah menyita perhatian orang-orang.



“Tuan Matsuda.” Sapaku pelan.



“Kau pasti tahu untuk apa aku menemuimu.”



Aku tak menjawab. Aku hanya memikirkan pria yang sedang menungguku di bangku penonton tadi. Bagaimana tuan Matsuda tahu Hideki disini denganku? Ia bahkan tak tahu rumahku. Apa orang-orang besar dan kaya raya selalu punya mata-mata dimanapun?



“Dimana dia?” Tanyanya.



“A .... Apa yang anda bicarakan, tuan?”



“Aku tahu kau sedang bersamanya. Ku rasa kau tak mengindahkan kata-kataku untuk menjauhinya. Apa boleh buat, aku akan membawanya ke Jerman.”



Direktur besar itu bicara sambil mengeluarkan tiket pesawat. Aku tersentak. Jadi benar Hideki akan dibawa ke Jerman hari ini? Ia memang kabur dari ayahnya? Tapi aku harus menghadapi ini dengan tenang. Ayahnya tak boleh memaksa apalagi memukul Hideki lagi. Aku harus tenang.



“Aku sudah menolaknya.”



“Tapi dia tetap bersikeras mencarimu.”



“Kalau begitu aku tak bisa melakukan apa-apa lagi.”



“Katakan di mana dia?”



“Kau akan membawanya pulang?”



“Itu urusan keluargaku. Bukan urusanmu.”



“Aku akan mengatakannya kalau kau berjanji padaku untuk tidak memaksanya lagi.”



Apa yang ku katakan? Aku mencoba bernegosiasi dengan direktur besar ini? Ah bodohnya aku. Aku hanya ingin mempertahankan Hideki di sini.



“Haha, gadis kecil. Kau tak bisa mengancamku. Di mana dia?”



“Ku mohon jangan memaksanya."



“Kau .... Ah kenapa semua orang hari ini menguji kesabaranku? Ayashi, Tadashi, sekarang kau.” Keluh ayah Hideki.



Aku diam. Aku tahu direktur ini masih kelihatan santai tapi sebenarnya ia sudah ingin meledak.



“Kau akan kena masalah hari ini.” Kata direktur Matsuda.



Aku waspada saat anak buahnya mendekatiku. Aku mundur pelan-pelan. Sepertinya mereka mencoba menangkapku. Rasanya takut sekali sampai menutup mata. Bahkan tak ada yang membantuku kali ini.



“Jangan sentuh Agika.”



“Eh?”




“Ah putraku akhirnya menunjukkan dirinya.”



Ayah Hideki langsung tersenyum menyeringai melihat anaknya sudah ada di hadapannya. Ia langsung datang menghampiri. Hideki menarikku ke belakang tubuhnya.



“Percuma kau minta bantuan Tadashi atau Ayashi sekalipun. Mereka hanya akan kena masalah.”



“Kau .... Apa yang kau lakukan pada mereka?!”



“Bukan hal yang serius. Yang penting kau ada jadwal penerbangan ke Jerman hari ini.” Lanjutnya.



“Aku tak akan pulang!”



“Masih membantah?”



Ayah Hideki langsung mengangkat tangannya dan memberi kode pada anak buahnya. Sama seperti waktu itu. Mereka pasti akan menangkap Hideki. Tapi Hideki tak mungkin bisa melawan kalau kakinya masih sakit seperti ini.



“Tidak! Jangan sakiti Hideki.” Teriakku.



Aku mencoba menolong pria yang ku sukai ini. Aku memasang badan untuk memblok mereka tapi ternyata mereka malah meraih lenganku dan menghempaskanku. Aku menabrak tembok dan jatuh ke lantai. Astaga, punggungku sakit sekali.



“Agika!”



Hideki langsung menarik lengan salah seorang anak buah yang tadi memukulku. Hideki memukulnya balik. Ia cukup terampil meski masih berdiri dengan bantuan kruk. Aku salah sudah meragukannya. Anak buah itu jatuh terjerembab ke lantai.



“Ku bilang jangan sentuh Agika!”



Wajah Hideki berubah. Ia geram dan benar-benar naik darah saat melihatku merintih. Tatapan matanya benar-benar mengerikan tapi langsung berubah saat ia menghampiriku.



“Agika, kau tidak apa-apa?” Tanyanya.



“Iya.”



Ia membantuku berdiri meskipun ia sendiri tak bisa berdiri tanpa kruk. Aku langsung menerima uluran tangannya. Tapi tubuhku seketika membeku saat ayah Hideki menatap kami dengan dingin.



“Bawa Hideki ke hadapanku.” Kata tuan Matsuda.



“Baik, direktur.”



Anak buah ayahnya tak jera menangkap kami. Ia bahkan mulai berani menahan lenganku. Hideki juga sedikit panik. Ia pasti paham kalau ia sendiri tak bisa melawan mereka karena kaki kanannya yang patah.



“Hei, apa yang kalian lakukan pada teman-temanku!”



Akhirnya Kazuma datang. Aku bisa sedikit bernapas lega. Ia berlari dan masih memakai pakaian tae-kwon-do nya. Wajahnya lelah tapi kecemasan lebih kelihatan meliputi raut mukanya yang manis. Ia langsung memukul siapapun yang mencoba mendekati aku dan Hideki. Ia menghadapi empat anak buah ayahnya sendirian sambil melindungi kami.



“Kalian tidak apa-apa?” Tanya Kazuma.



“Ah, kau Kazuma Shu? Putra keluarga Shu yang terkenal mengikuti kejuaraan tae-kwon-do ya?” Tanya ayah Hideki.



Ia bicara sambil memberi kode agar anak buahnya berhenti memukuli kami. Ia tahu keluarga Kazuma? Ia langsung menghampiri Kazuma. Kazuma menatapnya.



“Mau apa kau?!” Teriak Kazuma.



“Ah maaf, waktu itu aku sungguh tak mengenal kalau kau berasal dari keluarga Shu. Harusnya kita berkenalan.”



Tiba-tiba ayah Hideki menyerang Kazuma. Aku terkejut ia bisa melakukan teknik tae-kwon-do seperti yang biasa Kazuma lakukan. Bahkan lebih bagus. Kazuma berusaha membuat pertahanan tapi sebuah pukulan tangan bersarang di perut Kazuma.



“Ukh!”



Kazuma merintih. Aku bisa mendengar pukulannya. Sangat keras. Rasanya pasti sakit sekali. Aku tak tahu kalau ayah Hideki juga jago berkelahi. Kazuma mundur. Aku langsung menghampirinya.



“Kazu! Kazu, kau tidak apa-apa?” Tanyaku.



“Ayo! Aku juga ingin belajar tae-kwon-do dari keluarga Shu.” Kata ayah Hideki.



Meski Kazuma masih menahan sakit, ia mencoba berdiri. Ayah Hideki juga sudah bersiap menyambut pukulannya. Akhirnya mereka saling beradu kepalan tangan. Kazuma terpojok. Ia mendapat beberapa pukulan hingga ia tak bisa berdiri lagi. Tak disangka ia kalah dari pria yang usianya lebih tua. Aku langsung menolongnya.



“Kazu!” Panggilku.



“Ukh! Dia hebat.”



“Kazu, kau baik-baik saja?!”



“Masih mau ikut campur? Aku tahu kau mengikuti pertandingan ini, anak muda. Aku yakin kau tak ingin pertandingan ini sia-sia bukan?”



“Apa maksudmu?”



“Aku bisa buat kau di diskualifikasi sekarang juga. Aku bisa lakukan apapun yang aku mau.”



“Kau .... Brengsek kau!”



Kazuma marah. Ia mencoba bangkit tapi aku tahu ia sudah kewalahan. Tak mungkin menyerang ayah Hideki lagi. Sungguh melihat Kazuma dan Hideki yang tak berdaya rasanya air mataku mau keluar.



“Jangan pukul Kazu lagi.” Kataku memohon.



“Sudah berhenti.”



“Eh?”



Kami semua menoleh. Hideki baru saja bicara. Pelan tapi aku bisa mendengarnya. Ia mencoba bangun dengan bantuan kruknya. Ayahnya masih menunggunya bicara.



“Aku akan pulang. Jadi lepaskan teman-temanku.” Kata Hideki tegas.



“Oh. Kau menyerah? Apa karena gadis itu?” Kata ayah Hideki dengan senyum menyeringai.



“Agika tak ada hubungannya dengan ini. Berhenti melibatkannya.”



Ayahnya tertegun. Begitu pula aku. Hideki bukan menyerah tapi ia tak ada pilihan lain. Ayahnya sudah memukul kami dan Kazuma terancam di diskualifikasi. Ia tak mau menyusahkannya. Ia hanya berusaha menyelamatkan kami.



“Baiklah. Hei kalian, bawa Hideki ke rumah.” Perintah sang ayah.



Anak buah ayah Hideki langsung melakukan apa yang ia perintahkan. Ia menarik lengan Hideki dan membantunya berjalan jadi Hideki tak perlu berjalan dengan kruk lagi.



“Tunggu, Hideki! Apa yang kau lakukan?” Cegah Kazuma.



“Kazuma, ini masalah keluargaku. Aku tak mau kalian terlibat.”



“Hideki, tapi ....” Aku juga tak rela ia pergi.



Hideki hanya melirikku. Aku menatap matanya yang tak lagi tajam. Aku benar-benar tak mau ia pergi. Aku takut ini adalah hari terakhir aku melihatnya. Tapi ia berbalik lagi dan berkata pelan tanpa melihatku.



“Maafkan aku, Agika.”



***