
Aku sudah memikirkan cara bagaimana bertemu Hideki dan bersikap normal setelah apa yang kami lakukan semalam. Bekas kiss mark-nya juga belum hilang tapi seragam sekolah ini menutupinya dengan baik. Untung saja Kazuma juga tidak menyadarinya. Habislah aku kalau ia tahu aku bercumbu semalam. Ia akan mengadu pada ibu.
Tapi Hideki benar-benar tidak masuk sekolah. Aku sudah menunggunya sejak pagi. Aku juga menunggunya saat di kelas tapi ia tak datang.
“Jadi kalian kemarin kencan? Pacaran?”
Kazuma bertanya dan tak berhenti penasaran sejak tadi pagi. Aku memang bercerita soal ke biskop dengan Hideki, tapi bagaimana ia bisa tahu kami sudah berpacaran? Bicaranya juga keras sekali. Aku sangat malu. Ku tutup mulutnya agar tak banyak bicara.
“Kazu! Bisa diam tidak?!”
“Kalian ngapain saja?”
“A .... Apa?”
Aku langsung terbayang soal semalam. Rasanya ciuman dan sentuhan Hideki masih terasa sampai sekarang. Ia sangat mahir melakukannya hingga aku terbuai.
“Aku menelponmu dari sore sampai malam tapi tak kau angkat juga. Kalian sedang apa? Tak mungkin menonton film lama sekali.”
Akhirnya dia mengungkitnya. Aku memang sempat mengecek handphone-ku setelah sampai di kamar. Ia memang menelpon dan kirim pesan berulang kali tapi handphoneku dalam mode diam saat seharian bersama Hideki.
“Hei, jawab aku, Agika! Kenapa wajahmu memerah?” Tanya Kazuma kesal.
“Merah?”
“Ah jangan-jangan apa tuan muda sombong itu berbuat mesum padamu?! Sejak awal aku memang harus ....”
“Sudah, diam! Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu.” Kataku sambil menjitak kepalanya.
Kini giliran aku yang kesal. Bagaimana bisa ia bicara soal seperti itu keras sekali. Kazuma merintih memegangi kepalanya.
Tiba-tiba diperjalanan kami pulang, sebuah mobil merah kecil nan mewah mengklakson kami. Aku tahu itu mobil siapa. Wanita cantik berambut hitam panjang itu menurunkan kaca mobilnya dan menyapaku.
“Hai, Agika.”
“Kak Ayashi.”
Akhirnya kami mengobrol di dekat taman kota. Ia mentraktir kami segelas thai tea. Sepertinya ada hal yang ingin ia bicarakan.
“Selamat kau sudah mampu meluluhkan hati adikku yang dingin itu. Haha." Kata kak Ayashi sambil tertawa.
“Ah! Pria bodoh itu memang menyebalkan. Merebut Agika dariku!” Umpat Kazuma.
“Haha. Jangan cemburu ya, Kazuma.” Balas kak Ayashi dengan tertawa kecil.
“Apa Hideki masih sakit? Ia tidak masuk hari ini.” Tanyaku.
“Kau mencarinya?”
“Setelah dari bioskop tiba-tiba kepalanya sakit. Aku merasa bersalah.”
“Waktu itu ayahnya menelpon agar ia segera pulang untuk menyiapkan semua hal sebelum kembali ke Jerman. Makanya kepalanya sakit. Kau tahu kan?”
“Jerman? Itu artinya ....”
“Hideki sudah kembali ke Jerman tadi pagi bersama ayah dan Tadashi.”
“Eh?”
Dadaku rasanya seperti di hantam batu yang besar. Hideki pergi? Kak Ayashi bicara dengan raut wajah serius. Ia tak mungkin sedang bercanda.
“Hideki mengalami masa sulit sejak ayah menyusulnya kesini. Kau tahu bagaimana sifat ayah kami kan, Agika? Bahkan sampai melibatkanmu dan Kazuma. Makanya ia harus kembali pulang.”
“Jadi pria bodoh itu menyerah?” Tanya Kazuma.
“Hideki tak punya pilihan. Sejak ia kesini, ayahnya makin keras padanya. Aku juga tak sanggup melihat mereka saling berdebat tiap hari. Makanya Hideki berjanji akan pulang jika ia diperbolehkan menemui Agika sekali saja.”
“Ayahnya memang sangat keterlaluan.” Kata Kazuma mendengus kesal.
“Sebenarnya ayah cukup bermurah hati mau membatalkan jadwal penerbangan dan memberi Hideki kelonggaran selama 7 hari disini. Bahkan ia boleh menemui Agika, ya meskipun tetap diawasi pak sopir kemana-mana.”
“Jadi kemarin ....”
Kini aku paham kenapa ia ingin bersamaku seharian. Kenapa waktu itu ia kelihatan berbeda. Kenapa ia mengulur-ulur waktu pulang. Ia juga selalu bicara aneh.
Ia memang berencana pergi. Ku pikir ini awal hubungan kita. Tapi ia hanya ingin memberikan kencan perpisahan padaku. Kenapa ia harus pergi saat kami sudah berpacaran begini? Ia mempermainkanku?
“Aku bisa mengerti. Situasi Hideki memang sulit. Tapi aku tak yakin Agika .... Agika?”
Kazuma tak melanjutkan bicaranya lagi setelah melihat raut wajahku. Entah seperti apa diriku mendengar Hideki pergi meninggalkanku, yang jelas hatiku sangat sedih, sakit, kecewa. Aku mencoba memahami situasinya tapi aku tak bisa membayangkan aku tak akan melihat wajah tampannya lagi.
Air mataku langsung mengalir. Tak bisa ku tahan. Semua perasaanku mengalir begitu saja bersama air mataku. Kazuma yang kaget melihatku langsung mendekatiku dan menenangkanku.
“A .... Agika, kau menangis? Hei, tenangkan hatimu. Sudah, sudah.” Kata Kazuma.
“Pantas aja dia menyuruhku untuk menunggu."
Banyak yang ingin aku ungkapkan tapi sisanya hanya ku pendam dalam hati. Aku tak bisa bicara lagi. Aku masih tak percaya kalau dia benar-benar kembali ke Jerman.
“Hei, cobalah memahami pacarmu sedikit. Jangan menangis.” Kata Kazuma menenangkan.
“Agika, aku tahu adikku sangat dingin. Tapi Hideki tidak pernah berniat mempermainkanmu. Percayalah padanya.”
Kak Ayashi kembali ke mobil merahnya. Ia mengambil sesuatu lalu kembali menemui kami. Kemudian menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna putih padaku.
“Hideki menitip ini.” Katanya lagi.
“Apa ini?”
“Dia tak memberikan langsung padamu. Ia takut kau tahu ia akan kembali ke Jerman.”
Aku seka air mataku lalu aku terima kotak itu. Setidaknya ada yang ia tinggalkan disini. Setelah ku buka, isinya sebuah kalung berlian berwarna putih jernih. Sangat cantik. Di dalam kotaknya juga berisi sebuah pesan singkat.
***
Aku rebahkan diriku di tempat tidur. Hari ini lelah sekali. Guru Oshin memberi banyak tugas pada kami. Setelah selesai jam pelajaran aku juga harus kerja kelompok. Ini akan jadi minggu berat di sekolah.
“Ah! Setelah mandi aku mau tidur.” Gumamku.
Aku merenggangkan kedua lenganku dan memijat leherku pelan. Aku tak sadar sudah menyentuh kalung yang melilit di leherku. Kalung pemberian Hideki sebelum ia kembali ke Jerman. Aku perhatikan berlian yang menghiasinya. Benda ini selalu mengingatkanku pada pria tampan itu. Aku rindu sekali padanya. Padahal baru 3 hari kami berpisah.
Sebelumnya aku sempat merasa sedih dan kecewa tapi aku mencoba mengerti kenapa Hideki kembali. Mungkin ia ingin berhenti berdebat dengan ayahnya. Ia juga ingin aku dan teman-temannya yang lain tidak terlibat dengan masalahnya. Aku tak akan kecewa padanya. Ia juga bilang akan segera menemuiku lagi. Jadi aku hanya perlu menunggunya seperti yang ia katakan. Rasanya sekarang aku sudah terbiasa. Apalagi di sekolah aku sedang sibuk-sibuknya.
Ring! Ring!
Ponselku berbunyi. Aku cari ponselku di saku seragam. Nomor tidak dikenal.
“Halo.” Sapaku heran.
“Ini aku.”
Aku tersentak kaget. Aku kenal sekali suara ini. Suara yang sangat aku rindukan.
“Hi .... Hideki?”
“Ya. Ini aku.”
“Kau .... Kau sudah di Jerman?”
Dia tak menjawab, diam lama sekali. Bicara apa aku ini? Ia tak mungkin masih disini kan? Tentu saja ia sudah sampai. Bodohnya aku. Baru saja memikirkan soal dia tapi setelah mendengar suaranya saja aku tak bisa mengontrol ingin bicara apa.
“Maafkan aku.”
Akhirnya hanya itu yang ia katakan. Aku tahu Hideki akan meminta maaf begitu kami bisa saling bicara. Aku tahu ia tak benar-benar berniat meninggalkanku. Rasanya hatiku sedikit lega.
“Kenapa tak bilang padaku kalau kau harus pulang ke Jerman?”
“Jika aku mengatakannya, kau akan menahanku. Itu akan sulit untukku.”
“Ma .... Mana mungkin aku menahanmu?”
Wajahku memerah. Bicara apa dia? Meski ia jauh rasanya sikapnya padaku tak berubah. Dingin tapi manis.
“Tidak?”
“Kau punya alasan melakukannya. Aku akan mengerti.”
“Benarkah?”
Aku yang kini diam. Aku hanya pura-pura berlapang dada. Padahal aku berharap ia benar-benar tidak pergi. Sekarang aku bisa apa selain mengerti. Toh Hideki sudah di Jerman sekarang.
“Agika.” Panggilnya.
“Ah iya.” Aku malah melamun sendiri. Padahal aku sedang menelpon.
“Kau tak merindukanku?”
“Eh?”
Bodoh. Kenapa masih tanya? Tentu saja aku rindu. Baru saja aku memikirkannya. Saat ia disini pun wajah pria tampan itu selalu menghiasi pikiranku. Apalagi kalau ia jauh dariku. Jika memikirkan soal rindu, rasanya dada ini sesak.
“Aku sangat merindukanmu, Agika.”
Ya ampun, dia mengatakan hal yang manis. Suaranya setengah berbisik. Lembut sekali. Aku bisa bayangkan bagaimana ia mengatakannya langsung padaku. Rasanya jantungku mau keluar mendengarnya.
“Aku juga merindukanmu.” Jawabku.
“Ah rasanya aku ingin bertemu denganmu.”
Hideki sepertinya sedang tidak bersemangat. Apa terjadi sesuatu disana? Jangan-jangan ayahnya menghukumnya lagi. Padahal Hideki sudah menurut dan mau pulang ke Jerman. Aku harus menguatkannya.
“Hideki, kau selesaikan urusanmu di sana dengan ayahmu. Aku akan menunggumu seperti yang kau katakan.”
“Aku tak tahu kapan akan kembali.”
“Apa ayahmu melakukan sesuatu padamu?”
“Agika, mungkin setelah ini aku tak banyak menelponmu.”
“Eh?”
“Si brengsek itu akan menyita handphoneku.”
“Ti .... Tidak apa-apa asal kau baik-baik saja disana.”
Aku bohong lagi. Bisa menelponnya saja sudah mengobati perasaanku yang tak karuan ini. Bagaimana mungkin aku harus terputus kabar darinya?
“Setidaknya aku tak akan mati disini. Maafkan aku. Tapi aku tetap akan menemuimu segera mungkin.”
“Iya. Aku akan selalu menunggumu.”
“Aku mencintaimu, Agika.”
Aku menutup teleponku tanpa bicara apa-apa. Mendengarnya mengatakan cinta membuat dadaku sesak. Aku tak mau menjawab dengan nada tercekat karena ingin menangis. Hideki bisa khawatir padaku.
Tapi aku memang tidak sedang menjalin hubungan dengan orang biasa. Dia calon CEO, calon pewaris perusahaan besar. Aku harus bersabar. Aku harus percaya padanya. Hideki tak mungkin mempermainkanku.
Aku akan menunggumu kembali.
***