
“Hei! Kenapa kau sejak tadi melamun terus?”
Kazuma membangunkanku dari lamunan setelah selesai berolahraga pagi di taman. Ia meneguk sebotol air minum sampai habis dan aku masih belum menyentuh apa-apa.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Jawabku pendek.
“Hmmm. Agika, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kenapa kau menolak Hideki?”
“Eh? Aku tidak ...."
“Aku tahu kau menyukainya. Kenapa menolaknya?”
Aku diam. Jadi saat pulang sekolah waktu itu Kazuma tahu kalau aku menolaknya. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku tak mau ia juga terlibat hal ini.
“Apa ayahnya bicara sesuatu padamu waktu itu?” Tanyanya lagi.
“Eh?”
“Agika, sejak kapan kau main rahasia denganku. Katakan, apa ayahnya menyuruhmu menolak Hideki?”
“Aku tak bisa menerimanya, Kazu.”
“Kenapa?”
Aku belum menyelesaikan ucapanku saat semua mobil kecil datang ke rumah kami lagi. Ah ini pasti salah satu bagian dari keluarga kaya raya dari Jerman itu. Apa Hideki datang lagi? Tapi kali ini mobilnya berbeda dengan yang semalam.
Tebakanku salah. Ternyata kak Ayashi yang datang menemui kami. Ia masih memakai pakaian biasa. Wajahnya juga kelihatan cemas, pucat dan panik. Ia tak ke kantor? Apa sesuatu sedang terjadi?
“Agika!” Sapanya dengan panik.
“Kak Ayashi, ada apa?”
“Hideki! Dia mengalami kecelakaan?”
“Eh?”
Aku sangat terkejut sampai aku lupa mengenalkan kak Ayashi dengan Kazuma. Kazuma akhirnya membawa kak Ayashi duduk dulu. Meskipun ia belum mengenal kak Ayashi tapi ia langsung tahu kalau wanita ini adalah bagian dari keluarga Hideki.
“Saat ini ia sedang di rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tapi kata Tadashi ia langsung dioperasi tadi malam. Kondisinya kritis.”
“Kritis? Ba .... Bagaimana bisa?”
“Semalam ia pergi naik mobil entah kemana tanpa pengawasan Tadashi. Padahal saat itu sedang sakit kepala. Tapi ia memaksa. Lalu ia menabrak pembatas jalan sampai mobilnya terguling. Agika, aku sangat takut Hideki ....”
Tangis kak Ayashi akhirnya pecah. Aku masih tak bisa menenangkannya. Aku sama terkejutnya. Aku bahkan sampai tak bisa berpikir apa-apa lagi.
Hideki semalam baru saja dari rumahku. Ia memang mengendarai mobil sendiri. Apa setelah itu kecelakaan terjadi? Kenapa bisa sampai menabrak pembatas jalan? Kalau memang sakit kepala kenapa memaksakan diri?
“Tunggu! Hideki naik mobil sendiri? Seorang anak SMA naik mobil ....” Tanya Kazuma.
“Dia bisa melakukannya. Tapi entah kenapa ia tidak konsentrasi hingga menabrak pembatas jalan. Apa ia sedang bertengkar dengan ayahnya lagi? Aku tak tahu.”
Tidak. Hideki tidak bertengkar dengan ayahnya. Ia sedang ada masalah denganku. Kemarin bahkan aku bicara hal yang menyakitkan lagi. Aku tak menyangka akan jadi seperti ini.
“Hideki baru saja kesini tadi malam.” Kataku tiba-tiba.
“Eh? Jadi kau tahu?” Tanya Kazuma heran.
“Hubungan kami memang memburuk akhir-akhir ini. Hideki bermaksud menyelesaikannya dan ....”
Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Mataku sudah berkaca-kaca mengingat kejadian tadi malam. Aku bilang kalau aku membencinya. Aku bahkan menyuruhnya pulang ke Jerman. Hal yang paling ia benci. Ku tutup air mataku yang mengalir dengan kedua telapak tanganku.
“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?” Tanya Kazuma.
“Tadashi bilang pergelangan kaki kanannya patah dan langsung dioperasi tadi malam. Sampai sekarang aku belum mendengar kabarnya lagi. Aku belum ke rumah sakit.” Lanjut kak Ayashi.
“Agika, kita harus ke rumah sakit.” Ajak Kazuma.
“Eh? Tapi ....”
“Ada apa?”
Aku diam. Bagaimana mungkin aku kesana? Ayah Hideki dan dokter Tadashi pasti sedang disana juga. Jika mereka melihatku, mereka bisa mengusirku. Aku harus menjauhi Hideki. Tapi aku juga ingin tahu kondisinya. Aku sangat khawatir.
“Kau tak mau melihatnya? Ada apa kau ini?!” Tanya Kazuma marah.
“Agika, ada masalah apa?” Tanya kak Ayashi.
“Ini bukan waktunya melanjutkan pertengkaran kalian. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya? Apa kau tidak menyesal?” Kata Kazuma lagi.
***
Aku dan Kazuma mengikuti kak Ayashi dari belakang. Kak Ayashi sedikit berlari dari lorong ke ujung lorong yang lain. Ia kelihatan sangat cemas. Maklum saja, adiknya satu-satunya kini sedang bertaruh nyawa.
Kami sampai di ruang ICU. Disana terdapat beberapa anak buah yang berjaga diluar. Perawat ada di depan pintu. Ia hanya mengizinkan dua orang masuk ke ruangan itu untuk alasan keselamatan.
Aku mengintip dari balik jendela. Ah benar, di dalam ruangan sudah ada dokter Tadashi dan tuan Matsuda yang menjaga Hideki. Operasinya sepertinya berjalan lancar. Kaki kanan Hideki memang kelihatan lebih besar dibalik selimut yang menutupinya. Mungkin saja di gips. Ia tertidur atau pingsan aku tak tahu. Wajahnya kelihatan pucat dan sedikit ada goresan-goresan luka. Keningnya juga terbalut perban. Ia bahkan butuh masker oksigen untuk membantunya bernapas. Ah dia benar-benar sakit.
Ayah Hideki kelihatan sangat panik pada putranya. Ia terus menunggui putranya yang belum bangun. Sesekali ia meminta dokter Tadashi mengecek. Jika seperti ini, ia memang kelihatan menyayangi Hideki sepenuh hati meski sikapnya sangat keras.
Dokter Tadashi yang melihat kami bertiga di luar langsung keluar. Ia juga kelihatan lelah. Sepertinya sejak semalam ia disini. Kak Ayashi langsung menemuinya.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya kak Ayashi cemas.
“Operasi kaki kanan tuan muda berjalan lancar. Hanya butuh waktu untuk pemulihan.”
“Syukurlah.” Kak Ayashi menghela napas panjang.
“Tapi hasil CT-scan menunjukkan kalau tuan muda mengalami gegar otak akibat benturan keras saat kecelakaan.”
“Eh?”
“Untung saja hanya gegar otak ringan. Tapi tuan muda baru saja sembuh dari traumanya. Saya hanya takut ini akan memperburuk keadaan. Tuan muda tak boleh terlalu banyak pikiran. Ia butuh istirahat yang banyak.”
Aku langsung lemas. Aku bahkan tak bisa berdiri lagi. Aku terduduk di kursi ruang tunggu. Hideki, kenapa bisa terjadi seperti ini padamu? Apa karena aku? Kau memikirkan perkataanku semalam hingga kau tak bisa fokus menyetir? Aku ingin kau tidak menemuiku lagi, tapi bukan begini caranya.
Tiba-tiba ayah Hideki keluar dari ruang ICU. Wajahnya kelihatan lemas sama sepertiku. Ia bicara dengan kak Ayashi sebentar. Setelah kak Ayashi masuk ke ruang ICU untuk melihat kondisi Hideki, direktur besar itu langsung melirikku. Aku menunduk takut. Ia menuju ke arahku.
“Aku dengar Hideki ke rumahmu semalam?” Tanya ayahnya dingin.
Kazuma langsung mendekatiku dan menggenggam tanganku. Tapi aku langsung menolaknya dengan halus. Aku tersenyum padanya dan meyakinkan kalau aku tidak apa-apa.
“Bukankah aku memintamu untuk menjauhinya?” Tanyanya lagi.
“Aku sama sekali tidak mendekatinya. Ia yang datang sendiri ke rumah.” Jawabku.
“Tentu saja. Anak bodoh itu sudah jatuh cinta padamu. Dan kau lihat apa yang terjadi?”
“Hei, tuan. Hideki kecelakaan bukan karena Agika. Agika sudah menolak cintanya seperti yang kau mau. Jangan menyalahkannya.” Kazuma langsung memotong.
Ayah Hideki langsung menatap mata Kazuma dengan tajam. Dokter Tadashi kini mulai khawatir dengan aura aneh di sekitar kami. Ia takut akan terjadi keributan. Aku juga berpikiran yang sama. Aku langsung menarik lengan Kazuma.
“Jangan ikut campur.” Kata ayahnya dingin.
“Agika sahabatku. Kalau kau sampai membuatnya bersedih, entah kau orang kaya manapun aku tidak peduli. Aku akan melindungi Agika.”
Ayah Hideki akhirnya diam setelah melihat tatapan Kazuma yang menantang. Ia menghela napas pelan dan langsung berbalik.
“Terserahlah. Tadashi, jangan biarkan dua orang ini menjenguk putraku.” Kata ayah Hideki.
“Eh?”
Aku sungguh terkejut. Ia tak mengizinkan kami melihat Hideki? Kenapa ia berbuat seperti itu? Mataku langsung berkaca-kaca.
“Hei, tuan direktur yang terhormat. Apa maksudmu bicara seperti itu? Hideki juga sahabat kami, kenapa kami tidak boleh melihatnya?” Protes Kazuma.
“Dia putraku. Terserah aku mau berbuat apa padanya. Kalian tak punya hak.”
“Pantas saja Hideki seperti ini. Dia punya ayah yang mengatur kehidupannya. Ia pasti sangat tertekan.”
Ucapan Kazuma membuat ayah Hideki berhenti berjalan. Astaga, sepertinya ia tersinggung.
“Apa maksudmu?”
“Kalau kau tak memaksa Agika dan Hideki saling menjauh, apa kau pikir ini akan terjadi? Tidak bisakah kau biarkan putra kesayanganmu itu memilih jalan hidupnya sendiri?”
“Jadi kau menyalahkanku karena kecelakaan ini?!”
Bicara ayah Hideki sudah meninggi. Artinya aku harus segera menghentikan Kazuma, atau akan terjadi hal yang lebih besar. Ini di rumah sakit. Tidak seharusnya terjadi pertengkaran.
“Siapa lagi? Hideki begini karena kau yang menyuruh Agika menjauhinya! Ia tidak bisa bahagia. Kau tahu sendiri Hideki menyukai Agika.”
“Seorang pewaris perusahaan tak butuh perasaan suka atau apalah itu. Hideki hanya perlu menurut padaku. Ia akan dapatkan yang ia mau. Kebahagiaan akan menghampirinya sendiri.”
“Kau buktikan saja sendiri ucapan siapa yang benar. Lihatlah putramu sekarang!”
“Kau ....”
“Kazu, sudah.” Cegahku.
“Ayo kita pergi, Agika.”
Kazuma langsung meraih tanganku dan pergi. Melewati ayah Hidemi yang masih mematung dan geram melihat tingkah Kazuma tadi. Syukurlah akhirnya Kazuma mau pergi dari sana. Meskipun aku tak jadi menjenguk Hideki tapi setidaknya ada kak Ayashi dan dokter Tadashi yang menjaganya. Ia akan baik-baik saja.
***