Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 39



Hideki berjalan menuju ruang direktur setelah perkenalan dirinya pada semua orang di perusahaan sang kakak. Tak cukup sulit karena hampir semua manajer pasti tahu dirinya. Apalagi ia digadang-gadang akan menjadi pewaris dan CEO perusahaan besar yang berpusat di Jerman.


"Tuan muda, hari ini kau ada pertemuan dengan direktur perusahaan properti Landscape."


"Ya."


Tadashi mencoba mengingatkan pria yang suka melupakan banyak sekali agenda bisnis saat ia sedang di Jerman. Entah ia memang lupa atau pura-pura lupa untuk menghindar dari pertemuan seperti itu. Tapi Hideki yang berjalan di depannya hanya sibuk mengutak-atik handphonenya sambil terus berjalan di koridor.


"Pertemuannya setelah istirahat makan siang. Jangan telat."


"Kau atur saja."


Tadashi menghela napas. Sudah berapa kali Hideki bersikap seperti ini jika membahas soal perusahaan. Ia bahkan bicara tanpa melihat yang diajak bicara. Bisa jadi ia juga tidak benar-benar mendengarkan Tadashi. Itu sebabnya Tadashi yang harusnya bisa tenang sebagai dokter, harus merangkap menjadi asisten pribadinya. Pantas saja presiden direktur naik darah tiap kali bicara dengan putranya ini.


"Ehm, tuan muda, kau harus mulai fokus dan belajar jadi CEO." Tadashi mencoba mengingatkan.


"Aku tak akan jadi CEO."


"Sampai kapan kau …"


Langkah Hideki terhenti tiba-tiba. Membuat Tadashi terkejut. Kali ini pria dingin itu menoleh padanya.


"Tadashi, Agika tak membalas pesanku. Ia juga tak menjawab teleponku." Kata Hideki datar.


"Eh? Apa?"


"Aku ingin mengajaknya makan siang. Apa orang yang sudah bekerja akan sesibuk ini?"


Tadashi hanya menghela napas. Percuma ia bicara sejak tadi, Hideki ternyata fokus dengan pacarnya. Memang wajar jika ingin meluapkan kerinduannya selama lima tahun. Tapi sebagai calon CEO ia sudah seharusnya bisa membagi waktu.


"Aku akan coba atur waktu agar kalian bisa makan malam bersama."


"Benarkah?"


"Ya. Aku akan menelpon nona Agika nanti. Sekarang fokuslah dengan pekerjaanmu." Kata Tadashi.


Dokter Tadashi meninggalkan pria tampan yang masih mematung. Ia sedikit kesal Hideki tak mau berubah juga. Masih bersikeras melawan ayahnya dengan tak serius dalam menjalankan perusahaan. Apalagi ia masih menolak menjadi CEO. Apa yang sebenarnya ia inginkan?


💜💜💜


Hideki masuk ke ruang meetingnya dengan malas. Ia sedikit terkejut mendapati Tadashi dan sekretarisnya sedang bersama seorang perempuan yang juga didampingi oleh seorang asisten. Tadashi langsung bangkit.


"Nona Reina, ini direktur kami. Tuan muda Hideki Takizawa."


Tadashi memperkenalkan Hideki pada wanita berambut panjang bergelombang itu. Mau bagaimana lagi, meski sudah diingatkan tapi Hideki masih saja sengaja telat di pertemuan. Terpaksa Tadashi yang menemuinya duluan.


Wanita itu langsung berdiri menyambut Hideki dengan wajah berbinar. Hideki hanya meliriknya datar.


"Siapa kau?"


"Ah perkenalkan, tuan Hideki. Namaku Reina Ogawa. Putri dari pemilik perusahaan Landscape, direktur Ogawa. Untuk kerjasama kita, kebetulan saya yang pegang."


Reina sudah mengulurkan tangannya menyambut perkenalan ini tapi lagi-lagi Hideki berpura-pura tidak melihatnya. Ia berlalu begitu saja dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Reina merasa sedikit tersinggung.


"Tadashi sudah menyerahkan proposalnya padamu, kan?" Tanya Hideki.


"Sudah. Sangat menarik."


Hideki menatap datar wanita yang mencoba tersenyum manis padanya. Ia hanya menghela napas.


"Kalau begitu, Tadashi akan menjelaskan semuanya padamu."


Sekitar satu jam lebih Hideki harus bertahan dalam pertemuan yang membosankan baginya. Apalagi disela-sela pertemuan, wanita bernama Reina itu terus meliriknya. Kelihatan sekali kalau wanita itu tertarik padanya. Itu membuatnya tak nyaman. Padahal ia sudah mengalihkan semuanya pada Tadashi.


"Oh ya, tuan Hideki, minggu depan perusahaan kami akan mengadakan pesta. Kebetulan kerjasama ini terjalin dengan baik, maka saya mengundang anda untuk datang juga." Kata Reina sesuai pertemuan.


"Aku tidak tertarik."


Wajah Reina berubah kesal dan kecewa lagi. Di sepanjang pertemuan, ia berusaha menarik perhatian pria tampan ini tapi responnya selalu dingin. Ia bahkan cenderung menghindar. Tawaran pesta pun ditolak secara blak-blakan. Benar-benar pria yang dingin.


"A … ah, maksudnya, tuan muda akan mempertimbangkan lagi untuk datang, nona. Terimakasih atas undangannya." Kata Tadashi berusaha mencairkan suasana.


"Sama-sama, tuan Tadashi. Kalau begitu, kami permisi."


Sebelum pergi, Reina melirik kembali direktur tampan yang sibuk dengan handphone di tangannya. Padahal seharusnya semua direktur akan berusaha mengambil hati dan bersikap basa basi saat menjalin kerja sama. Kenapa Hideki bersikap acuh? Ini malah membuat Reina makin tertarik padanya.


Tadashi menghela napas. Ia merasa telah menyelamatkan perusahaan. Bagaimana tidak? Sepanjang pertemuan dengan Reina, ia yang harus menjelaskan panjang lebar. Ia yang harus repot-repot berpromosi. Sedangkan pria dingin atasannya itu malah sibuk dengan handphonenya.


"Belajarlah bersikap sopan dengan klien." Kata Tadashi pada Hideki setelah mereka pergi.


"Apa yang salah?"


"Kau boleh bersikap dingin. Tapi tak seharusnya kau tolak secara langsung undangan pestanya, kan? Kau bahkan baru saja menjalin kerja sama."


"Aku memang tak ingin datang."


"Bukan begitu caranya, tuan muda. Kau harus …"


"Kau saja yang datang."


Hideki memasukkan handphone ke saku celananya. Ia pergi tanpa mempedulikan Tadashi lagi. Ia bosan diceramahi soal bisnis atau apalah itu. Bahkan saat ayahnya tak ada di sini, peran penceramah itu digantikan oleh Tadashi. Baru sehari ia bekerja rasanya sudah penat sekali. Ia butuh menyegarkan pikiran.


💜💜💜