
"Selamat pagi, Hideki."
Senyum Agika mengembang dari balik jendela mobil Hideki yang terbuka. Gadis itu terlihat cantik dengan kemeja putih dan rambutnya yang terurai sebahu. Melegakan melihat Agika tersenyum manis begini. Setidaknya itu membuat mood Hideki kembali membaik. Ia segera membukakan pintu mobil dan Agika segera masuk.
"Ada apa? Wajahmu kelihatan murung." Tanya Agika heran.
"Tidak apa-apa."
"Kau sudah sarapan? Aku buatkan sandwich dan jus jeruk untukmu."
Agika membuka tas bekal yang ia bawa. Terlihat kotak merah berisi beberapa sandwich daging dan sebotol jus jeruk kesukaan Hideki. Agika menunjukkan semua itu sambil tersenyum.
"Terima kasih. Akan ku makan nanti."
"Baiklah. Pokoknya jangan lupa sarapan."
Mobil porsche hitam itu melaju sedang melewati jalanan kota yang masih cukup sepi. Agika memang menyuruh Hideki agar menjemputnya lebih pagi. Meski ia sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi, Agika masih merasa tak enak jika dilihat oleh teman-teman kerjanya kalau ia diantar seorang direktur dengan mobil mewah.
"Ah Agika, aku tak bisa menjemputmu sore ini. Aku ada meeting penting."
Akhirnya setelah berpikir ulang, Hideki terpaksa menuruti ayahnya. Daripada ia diseret kembali ke Jerman sebelum ia sempat melamar Agika. Hanya saja Hideki tak mau mengatakan pada Agika kalau ia akan bertemu Reina. Ia tahu kemarin Agika cemburu padanya.
"Oh, tidak apa-apa. Kau tak harus menjemputku tiap hari. Aku tahu kau sibuk." Kata Agika sambil tersenyum.
"Aku akan minta sopirku menjemputmu."
"Ti … tidak usah. Aku bisa pulang naik bus atau taksi."
"Tidak. Pokoknya sopirku akan menjemputmu." Ucap Hideki tegas.
"Ba … baiklah kalau begitu."
"Dan jangan lembur. Akan berbahaya kalau kau ketiduran lagi."
"Eh?"
Agika menatap Hideki yang memalingkan wajahnya karena malu. Ia mengingat kejadian semalam saat Agika mengigau tak jelas dan menciumnya. Itu saja sudah membuat wajah Hideki memerah.
Se … semalam apa aku ketiduran?" Tanya Agika gugup. Ia bahkan tak berani melihat pacarnya.
"Ya. Aku yang membawamu ke apartemen."
"O … oh."
"Kau tidur nyenyak sekali. Aku tak tega membangunkanmu."
"Jadi begitu."
"Kau mimpi apa semalam?
Mobil sampai di depan kantor Agika. Hideki mendekatkan wajahnya. Agika hampir kaget. Tiba-tiba saja wajah tampan itu sangat dekat dengannya. Jantungnya jadi berdegup kencang.
"Kau mimpi apa sampai bicara begitu?" Tanya Hideki lagi.
Hideki tersenyum. Senyumnya memang membuatnya terlihat makin tampan, tapi Agika tahu pria ini sedang menggodanya. Agika ingin memalingkan wajahnya saja tapi Hideki menyentuh pipinya dan memaksa Agika menatap mata biru yang indah itu.
"Apa kau mimpi sedang menciumku? Lalu meraba tubuhku? Kau ternyata agresif juga ya, Agika." Bisik Hideki.
"Eh? Apa?"
"Wajahmu merah sekali. Apa tebakanku benar?"
Hideki kembali tersenyum. Pria ini jelas tahu semuanya. Agika tak membantah semua yang Hideki katakan. Karena sedang kesal dengan Reina, Agika jadi bermimpi ingin melakukan semua itu dengan Hideki. Dan mimpinya memang terasa nyata. Tak disangka saat itu Hideki memang sedang bersamanya.
"Apa kau benar-benar menginginkanku sampai terbawa mimpi?" Tanya Hideki lagi.
"Tidak! Apa yang kau bicarakan …"
"Aku bisa memberikan tubuhku kalau kau mau."
Hideki menyibak rambut coklat Agika dan berbisik di telinganya. Lalu mencium lehernya dengan lembut hingga membuat Agika mendesah. Ia masih belum menyerah untuk menggoda Agika. Padahal dilihat pun sudah jelas kalau Agika mengakuinya.
"Sayang sekali kau sudah serapi ini. Jika tidak, mungkin aku sudah memuaskanmu sampai berantakan." Kata Hideki.
"Ja … jangan begitu!"
Hideki melepas pacarnya. Ia tak mungkin bertindak lebih. Apalagi Agika harus segera masuk ke kantornya. Menggodanya begini sudah membuatnya puas. Setidaknya moodnya membaik.
Setelah memperbaiki mimik wajahnya yang terlewat merah, Agika segera merapikan diri dan menyiapkan tas kerjanya sebelum keluar dari mobil. Ia hampir saja tenggelam dalam jebakan pria tampan ini.
Agika menatap Hideki. Meski baru saja menggodanya, ia tahu pria ini kelihatan menahan diri sejak tadi. Bukan, bahkan sejak kemarin. Tapi Agika juga tak mau melakukan hal-hal yang lebih sebelum hubungannya benar-benar terkonfirmasi. Meski Hideki bilang akan serius, Agika masih merasa ada yang kurang dari hubungan mereka. Tapi Agika tak mau ambil pusing.
"Hideki." Panggilnya.
"Hm?"
Agika langsung mencium pipi pria pujaannya itu dengan lembut. Meski ia merasa malu, anggap saja ini kompensasi untuk pria yang sudah menahan diri sejak kemarin.
"Selamat bekerja." Pungkas Agika.
Agika langsung keluar dari mobil tanpa menunggu respon dari sang pujaan hati. Sebelum wajah merahnya terlihat lagi oleh pria ini. Sebelum Hideki menggodanya lagi. Agika bahkan tak mau berbalik karena malu.
Sekian detik Hideki mematung. Agika menciumnya tanpa diminta dan memberi semangat padanya. Rasanya semua pertengkaran dengan ayahnya tadi pagi terlupakan sudah. Ia malah makin yakin akan melamar gadis pujaannya itu.
💜💜💜
"Kau sudah mendapatkan email dariku, kan? Belikan yang persis seperti itu."
Hideki bersandar di kursi ruangan meeting yang cukup luas. Hanya ada ia disana dan dua pegawai yang menjaga pintu ruangan. Reina belum datang. Hideki penasaran kenapa wanita itu menolak datang dan meminta Hideki ke kantornya. Tapi karena sang ayah memaksa, akhirnya Hideki ada di sini.
"Apa kau sudah menunggu lama, tuan Hideki?"
Reina akhirnya datang. Wanita itu memakai dress merah yang cukup ketat, harusnya ia balut dress itu dengan blazer. Tapi hari ini ia sengaja menenteng blazernya di tangan. Ia juga mengikat rambutnya ke belakang, menunjukkan lehernya yang jenjang.
"Harusnya tuan rumah tak akan membiarkan tamunya menunggu."
"Ah, maaf. Aku ada sedikit keperluan tadi."
Hideki memalingkan wajahnya dari wanita itu dan fokus dengan dokumen yang ada di mejanya. Ia bahkan tak menyalami Reina atau sejenisnya. Reina berdecak. Pria ini masih tetap dingin. Padahal saat ia ke kantornya, Hideki bahkan datang terlambat sekali.
Reina duduk tepat di depan Hideki. Seperti biasa, gadis itu berusaha mencuri-curi pandang pria tampan di depannya ini. Itulah yang membuat Hideki tak nyaman dan tak mau menemuinya.
"Sampai dimana kita kemarin?" Tanya Hideki mengalihkan perhatian.
"Ah, perusahaan kami sudah buatkan desainnya. Biar saya tunjukkan."
Reina sibuk mengutak-atik laptopnya saat seorang sekretaris masuk membawa dua gelas air minum dan beberapa snack pemanis. Ia memberikannya pada kedua bos perusahaan itu.
"Oh, sekretarisku sudah menyiapkan hidangan untuk tuan Hideki. Mau istirahat dulu?" Tanya Reina menawarkan.
"Kita bahkan belum mulai."
Hideki menjawab tanpa melirik Reina. Ia fokus dengan dokumen yang ada di depan meja. Ia tahu wanita itu sengaja menggodanya dengan pakaian dan mata yang sejak tadi mencuri-curi pandang padanya.
"Baiklah. Jangan sungkan, tuan Hideki."
Hideki mendengarkan penjelasan Reina tentang proyek yang akan ia kembangkan bersama. Tadinya ia fokus dengan slide-slide yang ada di depan proyektor tapi tiba-tiba kepalanya pusing setelah meneguk air minum yang ada di meja. Tubuhnya juga mendadak terasa panas.
"Ah …" Keluh Hideki sambil mengernyitkan dahi menahan pusing.
"Kau kenapa, tuan Hideki?"
Reina menghentikan presentasinya saat kliennya itu mulai hilang konsentrasi. Hideki melirik Reina yang berjalan menghampirinya. Wanita itu terlihat menggoda. Padahal sejak tadi, Hideki sudah menahan diri. Hideki segera menghilangkan pikiran kotornya.
"Hideki?" Panggil Reina.
Tiba-tiba Reina sudah ada di dekatnya. Ia duduk di meja samping Hideki dan wajahnya sangat dekat dengannya. Hideki segera menghindar. Ia bangkit sebisanya.
"Kepalaku pusing. Aku harus pergi."
Tanpa pikir panjang lagi, Hideki segera mengambil jas kerjanya yang ia gantungkan di kursi. Tubuhnya terasa panas dan akan berbahaya jika ia bersama Reina di ruangan itu berdua saja. Hideki tak mau melakukan sesuatu di luar kemauannya.
Cklek!
Pintu ruangan tiba-tiba dikunci dari luar. Hideki terkejut. Ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres di sini. Hideki berbalik badan. Ia menatap Reina tajam.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Hideki dingin.
"Meeting kita belum selesai, kan?"
Reina mendekat lagi pada Hideki. Ia benar-benar berniat menggoda pria itu. Kali ini karena kesal, Hideki berani menghadapinya.
"Kau menaruh sesuatu di minumannya?"
"Selain tampan, kau juga pintar ya, Hideki?"
Reina menyentuh wajah Hideki dengan lembut lalu berbisik di telinga pria itu. Hideki sedikit bergidik tapi ia cepat-cepat mendorong wanita itu agar menjauh.
"Jangan sentuh! Uh …" Hideki mencengkeram kepalanya.
"Tidak perlu kau tahan. Hanya ada kita berdua disini."
Reina kembali mendekat. Ia tak menyerah menyentuh pria yang mulai gelisah itu. Ia bahkan berani melepas dasi yang melilit leher Hideki dan menarik kemeja Hideki hingga beberapa kancingnya terbuka. Reina makin terpesona.
Hideki merasakan tubuhnya memanas jika wanita itu menyentuhnya. Ada sesuatu yang membuat gairahnya meningkat dan Hideki yakin Reina telah memasukkan sesuatu kedalam minumannya.
"Ah … kau memang sangat menggoda, Hideki." Kata Reina sambil menyentuh dadanya.
Hideki tak membalas perkataan Reina. Tubuhnya sudah tak bisa dikendalikan. Ia membiarkan wanita itu menyentuhnya di luar kendalinya sendiri. Otaknya bahkan sudah tak bisa berpikir lagi.
"Pantas saja Agika tak mau melepaskanmu."
"Tidak!"
Tiba-tiba saat Reina menyinggung soal Agika, Hideki tersentak. Ia langsung melepas Reina dan menjauhkan tubuhnya dari wanita itu. Tubuhnya gemetaran. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak seharusnya melakukan hal tadi. Hideki memundurkan tubuhnya sejauh mungkin dari wanita berbahaya itu.
"Kenapa? Kita bahkan baru pemanasan." Kata Reina sambil bangun.
"Menjauh dariku!"
"Hideki …"
"Ku bilang menjauh! Uh …"
Kepala Hideki terasa pusing lagi. Pandangannya sudah samar-samar. Ia berusaha menjaga kesadarannya tapi pengaruh obat itu terlalu kuat. Ia tak bisa menolak saat Reina mendekatinya dan menyentuh wajahnya berkali-kali.
"Kau milikku, pria tampan."
Tepat di saat itulah kesadaran Hideki menurun. Ia akhirnya tumbang di pelukan Reina. Wanita berbahaya itu tersenyum puas karena rencananya berjalan mulus. Ia hanya perlu melakukan langkah selanjutnya untuk mendapatkan sang pewaris perusahaan.
💜💜💜