Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 64



Suara ayah Hideki terdengar dari balik pintu. Hideki terdiam sebentar. Ia kesal sekali karena sang ayah mengganggunya. Padahal ia sudah terangsang dan baru saja ingin melakukan pelepasan. Tapi Hideki mencoba mengatur emosinya.


"Ck! Pria tua itu …" Gumam Hideki.


"Hideki! Apa yang kau lakukan-?!"


"Berisik! Aku akan kesana!" Jawab Hideki kesal.


Setelah memastikan langkah kaki sang ayah pergi, Hideki bisa menghela napas lega. Ia menatap Agika yang masih terlihat malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Hideki mengusap wajahnya. Ia jadi ingat kalau masalah dengan ayahnya belum terselesaikan.


"Hideki, a … ayahmu …"


"Tak apa. Aku akan bicara pada ayahku tentang hubungan kita." Kata Hideki.


"Apa ayahmu akan setuju?"


"Kau percaya padaku, kan?"


"I … iya. Tapi-"


Agika menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia memalingkan wajahnya dari Hideki. Pria tampan itu mendekat dan mengusap rambut Agika lembut. Agika pasti merasa takut dengan ayah Hideki sekarang. Apalagi presdir itu tahu kalau Agika tidur di kamar Hideki.


"Tenang saja. Ada aku."


"Eh?"


"Aku akan tetap menikahimu apapun yang terjadi. Kita hadapi ayahku bersama-sama."


Hideki tersenyum. Senyum tampannya mampu membuat Agika kembali percaya diri. Ia mengangguk mantap.


Hideki menghela napas lega. Ia langsung bangkit mengambil kaosnya di lemari. Lalu memakainya dan bersiap keluar kamar.


"Mandilah. Aku akan menunggu di luar." Pungkasnya.


💜💜💜


Agika turun setelah mandi dan berpakaian. Hideki sengaja meminta pelayan menyiapkan dress pendek berwarna putih dengan kerah turtle neck untuk menutupi kissmark yang ia buat di seluruh leher dan dada Agika. Ini saja Agika masih khawatir akan terlihat oleh ayah Hideki maupun dokter Tadashi. Makanya ia sengaja menambah foundation untuk menutupinya.


Hideki sudah menunggu di bawah tangga. Agika melihat ayah Hideki dan dokter Tadashi sudah duduk di ruang makan. Ayah Hideki bahkan sedang sarapan. Agika turun dengan ragu-ragu. Hideki membawanya bertemu dengan pria yang paling Agika takuti saat ini. Jantung Agika berdetak hebat.


"Ah, selamat pagi, nona." Sapa dokter Tadashi sambil tersenyum manis.


"Selamat pagi, dokter. Selamat pagi, tuan Matsuda."


Agika membalas ucapan salam dokter Tadashi dengan membungkukkan badan. Ia juga memberi salam pada presdir tapi sang presdir hanya melirik kemudian kembali sibuk menyeruput kopinya. Ayah Hideki ini memang dingin, sama seperti anaknya. Tapi entah kenapa Agika selalu merasa takut.


Hideki menyuruhnya duduk di kursi makan yang ada di sampingnya. Dengan sigap pelayan rumah segera menyiapkan sarapan untuk Agika.


"Ada banyak kamar di rumah ini. Kau tidur di kamar Hideki semalam?" Tanya sang presdir tiba-tiba.


"Ah, ma … maaf. Saya ketidu-"


"Aku yang memintanya menemaniku. Kenapa?"


Hideki segera memotong jawaban Agika. Ia mencoba membela pacarnya. Lagipula karena demam, ia memang ingin Agika menemaninya di kamar. Agika juga tertidur di sofa dan tak melakukan hal yang macam-macam. Sang ayah langsung meliriknya.


"Aku hanya khawatir kau lepas kendali." Jawab sang ayah enteng.


"Apa?"


Dokter Tadashi yang sedang makan pun terlihat menahan tawa saat sang presdir bicara begitu. Tapi sebisa mungkin ia bersikap normal karena mata biru tuan mudanya sudah meliriknya tajam. Hideki berdehem memperbaiki raut wajahnya yang hampir malu.


"A … aku tak melakukan apapun dengan Agika." Kata Hideki gugup.


"Tuan muda, kenapa kau gugup begitu?" Tanya Tadashi dengan santai.


"Diam kau, dokter cerewet!"


Hideki membentak dokter Tadashi karena ia malu dan kesal. Ia malu karena sebenarnya ia memang sedang bercumbu dengan pacarnya. Ia juga kesal karena dokter itu mengejeknya. Apalagi Hideki tak jadi melakukan pelepasan gara-gara ayahnya mengganggu dan memanggilnya ke ruang makan.


"Lagipula apapun yang ku lakukan dengan Agika, itu tak masalah lagi. Aku memang ingin menikahinya." Gumam Hideki.


Presdir melirik putranya yang kini sedang menyendokkan makanan ke mulutnya. Entah kenapa melihat Hideki yang sekarang, ia merasa lega. Anaknya itu kembali dingin dan keras kepala, tapi memang begitulah Hideki. Setidaknya ia bukan pria menyedihkan yang ayahnya lihat beberapa waktu lalu.


Mata sang presdir berganti melirik gadis berambut coklat yang sejak tadi diam dan kelihatan canggung. Ia bahkan belum menyentuh sarapannya. Mata sang presdir menangkap cincin berlian yang melingkar di jari manis gadis itu. Agika juga terus memainkan cincinnya hingga tak sadar sikapnya membuat sang presdir memperhatikan benda kecil itu. Sudah jelas itu pemberian Hideki. Pria itu sudah melamarnya tanpa negosiasi? Ternyata ia serius ingin menikahi gadis tanpa status ini.


Menikah ya?


Sang presdir menghela napas. Sebenarnya saat Agika menginap, ayah Hideki beberapa kali memperhatikan gadis itu diam-diam. Ia memang terlihat begitu peduli pada Hideki. Pancaran matanya terasa hangat. Senyum manisnya bahkan bisa membuat wajah dingin Hideki ikut tersenyum. Secara tidak langsung, gadis itu juga yang membuat Hideki perlahan sembuh dari traumanya. Gadis itu benar-benar telah membuat hati pangeran yang beku bagai es itu mencair.


"Oh, keras kepala. Sepertinya kau benar-benar sudah sembuh." Kata sang ayah.


"Sejak kapan kau mengkhawatirkanku?"


"Ternyata kau bisa merawatnya dengan baik, Agika." Kata presdir pada Agika. Seketika Agika menatap canggung ayah Hideki.


"Eh? Saya-"


"Aku merasa lega."


"Apa maksudmu?" Tanya Hideki.


Hideki menatap mata biru ayahnya. Sang ayah tak segera menjawab. Ia kembali menyeruput kopinya setelah roti di piringnya habis. Ia langsung berdiri dari kursi makan itu dan beranjak pergi. Hideki yang masih menunggu ia bicara merasa diabaikan.


"Kau rawat saja putraku sampai tua." Kata sang presdir tanpa berbalik. Ia mengangkat tangannya.


"Hei, kau …"


Hideki tak jadi melanjutkan kata-katanya melihat raut wajah ayahnya yang tersenyum tipis sambil berjalan menjauh darinya. Hideki tersentak. Belum pernah ia melihat ayahnya tersenyum seperti itu padanya.


"Ah, sekalian saja suruh dia menandatangani surat pengangkatannya menjadi CEO. Aku yakin, sebagai calon istri kau bisa membujuknya."


Wajah Agika terkejut mendengar ucapan itu dari ayah Hideki. Pria tampan di sebelahnya lebih kaget lagi. Ia hanya mematung mendengar ayahnya bicara begitu. Merawat sampai tua? Calon istri? Itu artinya sang ayah merestuinya?


Kenapa presdir tua itu bicara begitu?


Ia tidak sedang mabuk kan?


"Hei, apa maksud-?"


"Aku akan ke kantor. Jika kau sudah selesai mengantar Agika pulang, temui aku di kantor."


"Tunggu! Kau-"


Hideki bukan tak paham. Ia hanya memastikan apa yang dikatakan ayahnya. Tapi ayah Hideki tak peduli meski Hideki masih ingin mengajaknya bicara. Presdir itu tetap santai pergi, menghilang dengan mobil putihnya. 


"Wah, selamat, tuan muda. Akhirnya ayahmu merestuimu."


Presdir itu akhirnya paham kalau selama ini ia telah membuat kesalahan. Saking banyaknya perlakukan keras ia pada putranya, Hideki pasti tak akan percaya kalau ayahnya sekarang memberikan apa yang ia inginkan. Memenuhi janji yang mereka buat lima tahun lalu.


"Ku rasa presdir sudah berubah sekarang. Kau dan nona Agika bisa menikah dengan tenang. Haha." Ucap Tadashi.


Tadashi kini bisa menertawakan tuan mudanya dengan puas tanpa perlu dimarahi. Ia tahu presdirnya memang sudah terlihat luluh sejak kasus itu muncul. Ia merasa tersentuh dengan Hideki yang kehilangan dirinya dan putus asa. Kali ini sang presdir mencoba memberikan satu kebahagiaan untuk putranya. Kebahagiaan yang belum pernah ia berikan.


💜💜💜