
Anak buah ayah Hideki membaringkan pria tampan tak berdaya itu di atas ranjangnya. Hideki menggeliat. Ia mencengkeram kepalanya. Ia tak mungkin bisa pergi sekarang. Kakinya belum pulih dan sekarang kepalanya sangat sakit. Tapi ia tak bisa ditahan di sini. Ayahnya akan membawanya ke Jerman besok.
“A .... Ayah, kalau begitu biarkan dia istirahat saja di kamar.” Bujuk Ayashi.
Ayashi mengikuti ayahnya menuju kamar Hideki. Harusnya direktur besar itu mengurung dan membiarkan Hideki di kamar saja tapi ayahnya mendadak datang ke kamar putranya. Ayashi makin cemas. Tadashi juga tak bisa berbuat apa-apa.
“Bocah keras kepala itu pasti akan kabur. Aku tahu sekeras apa dia.”
“Hideki tak mungkin pergi. Kakinya sedang sakit.”
“Aku akan memastikan ia benar-benar tidak kabur.”
“Apa yang mau ayah lakukan?”
“Diam saja, Ayashi.”
Sesampai di kamar, sang ayah langsung menghampiri Hideki yang masih sibuk dengan kepalanya yang sakit. Ia bahkan tak sadar ayahnya datang.
“Ah ....” Rintih Hideki.
“Masih butuh 1000 tahun lagi kau bisa melawanku, Hideki. Lihat dirimu!”
“Biarkan .... Aku pergi.” Kata Hideki terbata-bata.
“Kau akan pulang ke Jerman.”
“Tidak mau!"
Hideki mencoba bangun dengan tenaga yang masih tersisa. Meskipun kakinya menahannya agar tidak pergi, Hideki tetap memaksakan diri. Ia hanya ingin bertemu Agika dan menjelaskan semuanya.
Ayashi merasa kasihan. Ia langsung menghampiri Hideki dan mencoba membantunya. Tapi ayahnya menghalanginya. Ia menahan tangan Hideki.
“Keras kepala!”
“Lepaskan aku!”
Hideki masih berusaha melepas tangannya dari ayahnya. Ia masih memberontak meski sudah tak mungkin bisa melawan. Meskipun ayahnya berumur lebih tua, ia masih cukup kuat menahan putranya. Ayahnya langsung menarik kedua tangan Hideki ke atas kepala Hideki dan menguncinya. Mencengkeram kedua pergelangan tangan Hideki dengan kuat. Ia menatap putranya dengan pandangan mengancam.
“Diam di sini!”
“Tidak. Lepaskan tanganku. Biarkan aku pergi!”
Ayah Hideki tak bisa menahan amarahnya. Hideki terus menggeliat. Ia terus berusaha lepas dari ayahnya. Akhirnya satu tangan ayahnya mencengkeram leher Hideki hingga ia tak punya kesempatan mengalihkan matanya dari ayahnya. Satu tangan yang lain mengunci kedua pergelangan tangan Hideki. Mata sayu Hideki akhirnya bertemu dengan mata biru ayahnya yang tajam.
“Aku sudah sabar menghadapimu. Tapi kali ini kau memang harus diberi pelajaran!” Kata sang ayah.
“A .... Ayah, sudah hentikan!” Cegah Ayashi.
“Tadashi, beri dia obat penenang! Ia tak boleh kabur dari sini malam ini. Besok ia harus terbang ke Jerman.”
“Di .... Direktur, tidakkah ini terlalu berlebihan? Tuan muda hanya ....” Kata Tadashi ragu.
“Kau mau menentangku juga?!"
Tadashi membungkam mulutnya sendiri. Direkturnya itu benar-benar sedang marah. Harusnya Hideki menyerah, sehingga Tadashi tak perlu repot-repot turun tangan tapi kenapa tuan mudanya itu keras kepala?
Tadashi akhirnya mendekat. Ia mengeluarkan jarum suntik yang biasa ia simpan di laci meja kamar Hideki. Ia sebenarnya kasihan dengan tuan mudanya, ia tahu Hideki sebenarnya sudah tak bisa pergi lagi tanpa perlu obat penenang. Bagaimana ia bisa kabur jika kakinya patah dan belum sembuh total. Ia juga sedang sakit kepala. Belum lagi anak buah direktur Matsuda juga selalu mengawasinya 24 jam. Ia akui kali ini direktur memang sedikit keterlaluan dengan putranya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, perintah direktur tak bisa ia tolak.
Ayah Hideki masih mencengkeram leher Hideki. Ia memiringkan wajah Hideki dengan paksa sehingga area leher Hideki yang jenjang terlihat jelas. Ia menarik kerah kemeja Hideki hingga kancing bajunya terlepas. Hideki tak bisa mengelak.
Melihat jarum suntik yang dipegang Tadashi, Hideki langsung tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jantungnya berdebar kencang. Napasnya mulai tidak teratur. Ia makin gencar memberontak pada ayahnya. Ia bukan ketakutan karena obat itu. Ia sudah sering meminumnya, tapi ia takut setelah Tadashi menyuntiknya ia akan tertidur dan bangun ia sudah di Jerman. Ia tak boleh tertidur. Tadashi tak boleh melakukannya.
“Hentikan. Ah ....” Kata Hideki.
“Ayah, jangan lakukan.” Cegah Ayashi.
“Ukh ....”
Hideki mengerang saat jarum suntik itu menembus lehernya. Ayahnya melepas kedua tangannya. Ia tahu setelah ini putranya tak akan bisa apa-apa lagi. Hideki menggeliat. Rasanya nyeri tapi hatinya lebih sakit. Tak disangka ia harus dilumpuhkan dengan cara seperti ini.
Direktur Matsuda hendak melepas putranya dan membiarkannya tidur saat Hideki memanggilnya. Direktur besar itu hanya melirik.
“Oh, tak ku sangka kau mulai memanggilku, Hideki. Kau sudah menyerah?” Kata ayahnya sinis.
“Ayah, lepaskan aku ....”
Tuan Matsuda diam. Wajah putranya terlihat sangat lemah. Ia benar-benar memprihatinkan. Ia bukan menyerah. Saat ini obatnya sedang bekerja hingga Hideki mulai tak sadar kalau ia bicara ngelantur. Sebentar lagi ia pasti langsung tertidur.
“Kau akan bangun begitu sampai di Jerman.” Pungkas ayahnya sambil meninggalkan Hideki sendirian.
***
Hideki berusaha membuka mata. Ia bangun dari tempat tidurnya dengan hati-hati agar tidak melukai kaki kanannya yang masih sakit.
“Ah ....”
Ia mendesah. Kepalanya terasa sedikit berat karena obat penenang tadi. Ia melirik jam di dinding kamarnya. Pukul 02.00 pagi. Ia sedikit bingung kenapa ia terbangun. Biasanya obat itu akan bekerja efektif sampai siang. Apakah obat yang disuntikan padanya salah? Tapi tak mungkin Tadashi melakukan kesalahan.
“Kau sudah bangun, tuan muda.”
“Tadashi?”
“Tepat seperti dugaanku kau akan bangun jam segini.”
Dokter Tadashi tiba-tiba datang masuk ke kamarnya. Tak ada yang mengikutinya. Anak buah ayahnya juga tidak menjaganya di depan pintu kamar. Tadashi menghampiri Hideki tapi Hideki langsung memundurkan tubuhnya. Ia takut Tadashi akan menyuntiknya lagi karena tahu ia terbangun.
“Kau takut padaku?” Tanya Tadashi.
“Kau mau apa?”
“Aku ingin membantumu. Aku sengaja memberikan obat dengan dosis ringan agar kau tak tertidur lama. Harusnya kau berterima kasih.”
“Kau hampir membunuhku.”
“Haha. Jangan berlebihan, tuan muda. Ayahmu memang kejam tapi ia tak akan membunuh putranya sendiri.”
Tadashi duduk di tempat tidur Hideki yang luas itu. Ia melirik tuan mudanya yang masih diam.
“Nona Ayashi sudah menyiapkan taksi di jalan belakang rumah.” Kata Tadashi.
“Apa?”
“Bukankah kau ingin pergi dari sini? Bukankah kau mau menemui gadis itu?”
Hideki terlihat bingung. Tadashi memang sengaja menyuntikkan obat dengan dosis ringan agar Hideki bisa bangun. Ia sudah menceritakan pada Ayashi soal itu dan entah kenapa kakak Hideki itu langsung punya rencana untuk membantu Hideki pergi dari rumah besar ini.
“Maksudmu ....”
“Pergilah. Sebelum direktur tahu.”
“Kau ....”
“Aku dan nona Ayashi akan mengurus yang disini. Kau tenang saja.”
Hideki tak percaya Tadashi membantunya. Biasanya ia memang lebih loyal pada ayahnya. Tapi bagaimanapun Tadashi memang dokter kepercayaannya di Jerman.
Tadashi membantu tuan mudanya berganti pakaian dan berjalan dengan kruk menuju gerbang belakang rumah dengan menyelinap. Ayashi membantu mengawasi anak buah ayahnya yang ada di dalam rumah. Ia tahu ini akan beresiko tapi ia juga kasihan dengan Hideki. Perlakuan direktur pada bocah SMA seperti itu memang terlihat keterlaluan.
“Aku tak sabar menunggu besok, direktur pasti akan kaget mendengar putranya kabur. Haha.”
Tadashi tertawa puas. Tadashi masih sempat bergurau soal ayah Hideki. Padahal jika berhadapan langsung saja ia tak pernah bisa melawan. Hideki berdehem sehingga membuat Tadashi salah tingkah.
“Baiklah, aku hanya bercanda. Pergilah, jangan sampai ketahuan ayahmu.”
“Terima kasih, Tadashi.”
***