Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 16



“Ah ....”



Hideki bangun dari tempat tidurnya yang besar. Bekas pukulan ayahnya masih terasa di perutnya. Ia heran. Ini bukan kamar yang biasa ia tempati. Kamar besar dengan gaya klasik modern ala Jerman dan serba putih itu mengingatkan Hideki pada salah satu rumah besar yang ayahnya punya di kota ini. Jadi pria tua itu membawanya kesini? Bukan ke Jermam atau ke rumah kakaknya?



Tapi apapun itu, ia lega masih ada di kota ini. Bukan di Jerman. Ayahnya baru saja datang kesini. Mana mungkin ia langsung kembali ke Jerman. Tapi tak menyangka pria egois itu sungguh-sungguh menyusulnya kesini. Sebagai CEO, harusnya ia sibuk dan tak memikirkan putranya lagi. Ternyata Hideki salah sangka.



Hideki langsung mencari handphone di sakunya. Ia ingat sepulang sekolah tadi ia bersama Agika dan Kazuma. Tapi ia sudah merogoh dan mencari di sekitar tempat tidurnya dan tidak ketemu.



“Kau mencari handphone-mu? Ayah menyitanya.”



Seorang wanita berambut hitam terkuncir rapi, cantik, tinggi dan berpakaian kantoran datang menemui Hideki. Ia menatap Hideki penuh belas kasihan.



“Kak Ayashi.”



“Sudah ku bilang, ikut denganku kesini bukanlah ide bagus. Ayah pasti akan menemukanmu.”



Wanita cantik itu bernama Ayashi. Kakak Hideki satu-satunya. Ia memang ke kota ini untuk mengurus bisnis ayahnya. Tapi Hideki memaksa ikut. Ayashi menghampiri Hideki dan menghela napas panjang.



“Kenapa kakak disini?” Tanya Hideki.



“Setelah ayah membawamu tentu saja ia memaksaku kesini juga. Aku sudah kena omelannya seharian ini karena kau. Ah kau memang putra kesayangannya.”



“Apa teman-temanku baik-baik saja?”



“Teman-teman? Aku tak tahu. Yang jelas ayah hanya membawamu kesini. Tak ada orang lain lagi.”



Hideki menghela napas lega. Ia bersyukur Agika dan Kazuma tidak kena masalah. Meskipun saat ini ia tak bisa bebas lagi dari ayahnya.



“Ayah memintaku memanggilmu ke bawah untuk makan malam. Cepatlah.” Kata Kak Ayashi.



“Aku tak akan makan malam bersama psikopat itu.”



“Hei, kau mau kena amukannya lagi?”



“Dia sudah memukulku dan membuatku tak sadarkan diri. Lalu membawaku kesini. Aku tahu apa yang ingin ia lakukan padaku. Sekarang kau minta aku menuruti keinginannya? Aku tak akan pernah melakukannya. Aku akan pergi dari sini.”



Hideki bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia bergegas keluar. Ayashi sedikit panik. Bukan apa-apa jika Hideki terus membangkang begini, ayahnya bisa melakukan lebih dari ini. Ayashi tahu betul bagaimana sifat ayahnya. Apalagi perlakuan ayahnya pada Hideki sejak kecil. Ayashi segera mengejar Hideki. Menahannya sebelum situasi memburuk.



“Hi .... Hideki, tunggu dulu.”



Hideki tak peduli kakaknya terus menahannya. Ia langsung menuruni tangga. Meski di depan pintu utama sudah ada anak buah ayahnya yang berjaga, Hideki sepertinya tidak takut. Ia malah bersiap akan melawan.



“Mau kemana kau?”



Benar kan? Ayahnya muncul dari arah ruang makan. Tadashi juga ada di belakangnya. Ayashi terkejut. Ia langsung turun dari tangga. Hideki tak berbalik. Ia hanya menengok dan memasang mata birunya dengan tajam.



“Biarkan aku pergi.” Kata Hideki pelan.



“Seorang ahli waris perusahaan besar tak akan buang-buang waktu keluar malam-malam begini.”



“Kau hanya akan menahanku disini.”



“Kau mau menurut atau tidak?”



“Aku sudah muak mengikuti semua aturanmu. Aku akan pergi sekarang.”



Tiba-tiba anak buah ayah Hideki mencengkeram lengannya dari belakang. Hideki tak bisa bergerak. Ia mencoba melepasnya.



“Lepaskan aku!”



“Anda tidak diijinkan direktur untuk pergi, tuan muda.” Kata anak buahnya.



“Kau .... Lepaskan kubilang!”



Ayashi langsung mendekat pada ayahnya. Seperti biasa, ia mulai membujuk direktur besar itu agar melepaskan adiknya.



“A .... Ayah, jangan terlalu menekan Hideki. Kita bisa bicara baik-baik kan?”



“Baik-baik katamu? Kau lihat Ayashi, adikmu mulai suka memberontak.”



Ayashi melihat Hideki yang terus mencoba melepaskan lengannya dari anak buah ayahnya. Kenapa Hideki tak menyerah saja dan tidur di kamar yang enak? Membuat perdebatan dengan ayahnya hanya akan memperburuk keadaan. Tapi sejak kecil Hideki memang keras kepala. Sama seperti ayahnya.



“Bawa dia ke kamar! Kunci pintunya dari luar. Jangan biarkan dia pergi. Ikat saja tangannya kalau ia masih keras kepala.”



“A .... Apa?” Hideki terkejut.



“Ayah, apa kau tak terlalu keras padanya? Hideki harus sekolah besok.”



“Aku akan berikan homeschooling padanya lagi.”



“Di .... Direktur, tolong jangan ....” Tadashi juga berusaha membujuknya.



“Diam kau, Tadashi.”



Benar. Situasi memburuk kan? Anak buah ayah Hideki mulai membawa Hideki ke kamar meskipun Hideki terus berusaha memberontak. Ayah Hideki, kak Ayashi dan Tadashi menyusul mereka. Seseorang mengambil tali dan mengikat lengan Hideki ke belakang dengan kuat. Hideki menatap ayahnya tajam. Ia masih belum menyerah.



“Lepaskan aku! Selalu seenaknya! Aku tak mau jadi pewaris perusahaanmu atau apapun itu! Lepaskan!” Teriak Hideki.



“Jaga bicaramu, Hideki! Kau memang harus diberi pelajaran.”



Begitu selesai mengikat lengan Hideki, anak buah ayah Hideki langsung mendorong tubuh Hideki ke tempat tidur setelah diperintah ayahnya. Hideki tak bisa bergerak. Ia hanya tengkurap dengan lengan terikat.



“Lepas .... Ukh.”



“Hideki!”



“Kalau kau berani melepasnya, kau juga akan tahu akibatnya, Ayashi.” Kata ayah Hideki.



“Ayah keterlaluan!”



Ayashi ingin sekali menolong adiknya tapi ayahnya mengancamnya. Bukan sekali dua kali ayahnya bersikap begini pada Hideki. Ia memang sangat ketat pada anak bungsunya itu. Tapi kali ini Ayashi tak biaa melihatnya, ia langsung menangis.




“Biarkan aku pergi!”



“Tadashi, buat dia tenang!”



“Eh? Ta .... Tapi direktur, tuan muda ....”



“Apa kau juga ingin melawanku?”



Tadashi langsung menunduk. Ia mendekati Hideki dan melakukan apa yang dimaksud bos besarnya itu. Tadashi sedikit ragu, tapi akhirnya ia mengeluarkan jarum suntiknya.



“Apa yang akan kau lakukan padaku, Tadashi?” Tanya Hideki panik.



“Maafkan aku, tuan muda.”



“Tadashi! Hentikan ini!”



Tadashi membuka kancing kemeja sekolah Hideki hingga area leher pria tampan itu terlihat jelas. Hideki masih berusaha memberontak tapi ia tak bisa. Tadashi akan melakukan sesuatu padanya. Itu artinya ia tak akan bisa lepas dari ayahnya. Hideki berkeringat dingin saat jarum suntik itu mendekat ke lehernya.



“Hentikan! Ukh!”



Hideki mengerang saat jarum itu menembus lehernya. Seketika pandangannya mulai kabur. Matanya mulai mengantuk. Tadashi memberinya obat penenang agar ia tak memberontak. Hideki menggeliat.



“Sekarang kau tahu akibatnya jika membantahku.” Kata ayah Hideki.



Ayah Hideki meninggalkan Hideki yang terbaring tak berdaya di kamarnya. Tadashi mengikutinya dari belakang. Hideki hanya bisa melihatnya samar-samar dengan kekuatannya yang tersisa. Ayashi juga tak bisa menolongnya. Kali ini ayahnya sudah bukan keterlaluan lagi. Ia benar-benar psikopat.



***



“Aku mau mengantar sarapan untuk Hideki. Ini sudah siang, biarkan aku masuk.”



Ayashi memohon pada anak buah ayahnya yang berjaga di luar kamar Hideki. Mumpung ayahnya sedang pergi. Ia hanya ingin melihat adiknya. Ia khawatir adiknya akan mengalami kejadian itu lagi. Padahal ia baru sembuh dari terapi.



“Pelayan sudah mengantarkan makanannya tadi, nona. Lagipula direktur ....”



“Berikan kuncinya padaku. Aku janji hanya akan memberinya sarapan.”



Ayashi tak menyerah. Raut wajahnya yang memohon membuat anak buah ayahnya luluh. Akhirnya ia memberikan kunci kamar Hideki.



“B .... Baik, nona.”



“Terimakasih.”



Ayashi masuk ke kamar serba putih itu. Ia melihat Hideki masih terbaring dengan tangan yang terikat. Sebuah nampan, piring dan sisa nasi berceceran di lantai. Apa Hideki menolak makan? Ia pasti mengamuk pada pelayan dan anak buah ayahnya.



“Hideki, ini aku.”



Ayashi mendekati adik satu-satunya itu. Ia merasa kasihan. Adiknya sejak kecil memang sudah ditakdirkan menjadi pewaris perusahaan. Tapi karena itulah ayahnya sangat menyayanginya. Ayahnya jadi overprotektif. Ayahnya jadi sangat terobsesi padanya. Hidup Hideki jadi diatur oleh ayahnya.



“Aku bawakan sarapan untukmu. Kau harus makan ya. Tenang saja, ayah tak akan ....”



“Lepaskan aku, ayah ....” Kata Hideki lirih.



“Eh?”



Ayashi menyadari kalau ada yang tidak beres dengan adiknya. Ia letakkan kembali piring itu ke meja dan menghampiri Hideki yang masih terbaring. Wajahnya pucat. Ia berkeringat dingin. Ia juga mengigau. Ayashi menyentuh keningnya. Hideki demam. Suhu tubuhnya panas.



“Astaga! Hideki? Hei, kau tidak apa-apa?”



“Lepaskan aku ....”



“Hei, cepat kesini!” Kata Ayashi pada anak buah ayahnya yang berjaga di pintu.



Mereka langsung datang dengan tergesa-gesa mendengar nona mudanya sangat panik.



“Cepat lepaskan ikatannya!” Perintah Ayashi.



“Ta .... Tapi, nona ....”



“Kau tidak lihat Hideki sakit?! Dia demam tinggi.”



“Eh?”



“Cepat lepaskan talinya!”



Anak buah ayah Hideki kebingungan tapi ia tak bisa menolak perintah Ayashi. Ia langsung melepas ikatan tali pada pergelangan lengan pria tak berdaya itu. Ayashi langsung membantunya berbaring. Terulang lagi. Hideki hanya mengigau sejak tadi. Napasnya juga berat.



“Tubuhmu panas sekali. Hei, kau tidak apa-apa, Hideki?” Tanya Ayashi cemas.



Hideki hanya mengerang. Tadashi yang sedang menelpon di luar segera ke kamar Hideki begitu mendengar suara Ayashi yang marah. Mendengar Ayashi yang panik dan Hideki yang lemah, Tadashi langsung menghampiri.



“Ada apa, nona?”



“Tadashi, Hideki demam. Tubuhnya sangat panas.”



“Eh?”



Tadashi langsung menyentuh kening Hideki. Benar, ia demam tinggi. Tadashi dengan sigap membuka kemeja Hideki, ia langsung mengambil stetoskop di saku celananya dan memeriksa detak jantungnya.



“Tadashi, bagaimana?” Tanya Ayashi cemas.



“Sebaiknya tes darah dulu. Kita harus membawanya ke rumah sakit.”



“Kalau begitu ayo kita bawa ke rumah sakit..”



“Ta .... Tapi nona, jika direktur tahu ....”



“Kondisi Hideki lebih penting. Aku tak peduli ayah mau melakukan apa.”



***