Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 65



"Jika kesini, anda harus bilang kalau anda ini tunangan tuan muda."


Tadashi berdecak. Ia mencoba menjelaskan prosedurnya apabila seorang Agika datang ke kantor Hideki sendirian. Hampir saja wanita itu tak diizinkan masuk oleh satpam. Tentu saja pak satpam curiga ada seorang wanita datang ingin menemui direktur hanya untuk mengantarkan bekal makan siang. Dan lagi, kapan "pria tidak peka" itu akan memperkenalkan wanitanya pada semua bawahannya di kantor?


"Aku merasa malu bicara begitu."


"Kau harus menunjukkan statusmu, nona."


Agika heran mendengar ucapan dokter muda ini. Status? Apa akhirnya ia juga mendapatkan status setelah bertunangan dengan Hideki? Rasanya ia tak nyaman memakai kata-kata itu.


"Itu ruangan tuan muda."


Tadashi menunjukkan sebuah ruangan di ujung koridor. Ruangan yang paling besar dan berbeda dibanding yang lain.


"Kau tak ingin bertemu dengannya, dokter?"


"Ah saya tak akan mengganggu. Haha. Saya juga masih ada urusan. Sepertinya sekretarisnya juga sedang keluar. Anda bisa menemuinya sendiri, kan, nona?"


"Iya."


"Kalau begitu saya permisi."


"Terimakasih, dokter."


Dokter Tadashi berbalik dan masuk kembali ke lift. Tentu saja ia tak akan ikut bergabung dengan pasangan yang sedang hangat-hangatnya itu. Ia tak mau gajinya dipotong karena mengganggu waktu direktur dengan tunangannya.


Bip!


Agika memencet bel pintu ruangan besar itu. Ia tak mau bersikap tidak sopan meski Hideki adalah tunangan sendiri. Apalagi ia tak tahu apakah Hideki sedang sibuk atau tidak. Cukup sekali akhirnya ada suara yang menyambutnya dari dalam.


"Masuklah."


Agika akhirnya membuka pintu ruangan besar itu. Ia menangkap sosok tunangannya sedang duduk dibalik meja kerjanya. Matanya menatap laptop dan sesekali melirik dokumen yang ada di meja. Sepertinya ia sedang sibuk. Agika bahkan ragu Hideki menyadari ia disini. Hideki mungkin mengira yang datang adalah sekretaris atau pegawainya. Agika menghampirinya.


"Sedang sibuk?"


Mendengar suara yang terdengar asing di kantor, Hideki melirik. Ternyata Agika yang datang. Hideki segera menutup dokumen yang berceceran di meja.


"Oh, Agika. Kau datang?"


Agika mendekat saat Hideki merapikan kertas-kertas itu. Hideki tak ingin Agika tahu seberapa banyak pekerjaannya di kantor. Agika tersenyum.


"Apa aku mengganggumu?"


"Tidak. Dengan siapa kau kesini?" Tanya Hideki.


"Sendiri. Bukankah ini waktunya makan siang? Kenapa masih bekerja?"


"Ada hal penting yang harus ku kerjakan."


"Jangan sampai maag-mu kambuh lagi."


Hideki melirik barang yang dikeluarkan Agika dari tasnya. Ia menaruhnya di ruang kosong di meja kerja Hideki. Ternyata Agika repot-repot kesini karena ingin mengantarkan makan siang. Hideki tersenyum. Ia bangkit lalu memeluk Agika yang sedang menyiapkan kotak bekalnya dari belakang.


"Kalau begitu kau akan merawatku lagi." Bisiknya.


Hideki mencium tengkuk Agika dari belakang hingga Agika merasa geli dan berbalik badan. Ia baru saja akan mendorong pria itu tapi tertahan karena senyum Hideki yang menawan.


"Aku tak mau merawat pria keras kepala."


"Sayangnya kau akan hidup dengan pria keras kepala ini selamanya."


Hideki mencondongkan wajahnya dan bersiap akan mencium Agika tapi wanita itu menahan bibir Hideki dengan telunjuknya.


"Kau tak akan mendapatkannya sebelum makan."


Agika melepas tangan Hideki yang masih melilit pinggangnya. Ia kembali menyiapkan bekal yang sudah ia bawa. Hideki menghela napas. Ia melepas jas kantornya dan kembali duduk di depan laptop.


"Suapi aku. Aku akan makan siang sambil mengecek pekerjaanku. Setelah ini aku juga ada rapat. Kau tidak keberatan, kan?"


"Oh, baiklah."


Agika memaklumi kalau Hideki tak punya waktu. Karena hampir seminggu ia sakit, pekerjaan kantor pasti terbengkalai. Hideki harus menyelesaikannya sekarang.


Hanya butuh 15 menit menyuapi direktur manja itu. Agika merasa lega kali ini Hideki bisa makan dengan lahap setelah sebelumnya ia tak selera makan sama sekali. Ia memberikan sebotol jus jeruk untuknya dan Hideki meneguknya sampai habis.


"Kenyang sekali." Kata Hideki.


"Syukurlah. Kalau kau masih ada pekerjaan, aku akan menunggu di …"


Hideki menahan lengan Agika yang hendak pergi setelah merapikan semua wadah bekalnya. Agika menoleh. Hideki langsung menarik tangannya hingga Agika terjatuh di tubuh Hideki.


"Ini masih jam istirahat."


"Lalu?"


"Aku berubah pikiran. Aku ingin menghabiskan waktu istirahatku bersamamu."


Hideki duduk di kursi kerjanya dan Agika ada di pangkuannya. Karena sedekat ini, Agika jadi merasa malu. Tapi wajah malu-malu Agika malah membuat Hideki tak tahan untuk menciumnya. Ia mengecup bibir Agika dengan lembut.


"Bu … bukankah kau sedang banyak pekerjaan?" Tanya Agika gugup


"Aku bosan."


"Tapi …"


"Karena sudah makan, aku boleh mengambil hadiahku, kan?"


Hideki meraih kepala Agika lalu mencium bibir gadis itu kembali. Kali ini ia memasukkan lidahnya ke mulut Agika dan bermain-main disana. Hideki menahan kepala Agika dan memperdalam ciumannya. Membuat gadis itu kehabisan napas. Ia mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya setelah Hideki melepas ciumannya. Pria itu memang pandai membuatnya deg-degan seperti ini.


"Kenapa kau tiba-tiba …" Protes Agika.


"Aku hanya terlalu senang bisa bersamamu tanpa masalah lagi. Aku benar-benar tak sabar ingin menikah denganmu."


Agika tertegun. Wajah Hideki memang memancarkan kebahagiaan sejak kemarin. Ayahnya merestui hubungannya mereka. Bahkan mengizinkannya menikah. Pria yang hidup seperti pangeran yang terpenjara itu akhirnya menjadi burung yang bebas dari sangkarnya. Agika tersenyum.


"Aku juga." Jawabnya.


Agika melingkarkan lengannya ke leher pria itu. Hideki membalas senyumnya dengan senyuman yang sama. Hideki kembali meraih bibir Agika dan melumatnya lagi. Kali ini tangannya meremas dada gadis itu sedangkan tangannya yang lain meraba punggung Agika dan menurunkan resleting bajunya.


"Sepertinya kita sempat menunda adegan kita kemarin."


Agika tertawa kecil. "Apa kau selalu mudah memanas seperti ini, Hideki?" Tanya Agika sembari memainkan rambut hitam pria tampan itu.


"Hanya denganmu."


"Benarkah?"


"Kau cantik dan menggoda. Bagaimana bisa aku menahan diri?"


"Kau mulai merayuku? Mmmhh!"


Tiba-tiba Hideki menarik baju Agika dan menurunkan lengan bajunya. Ia mendapatkan area yang luas untuk menciumi leher dan dada gadis itu. Ia juga mulai melepas dasi yang melilit lehernya. Membuka beberapa kancing kemejanya hingga dada yang berkeringat terlihat jelas.


"Pelankan suaramu. Ah …" Desah Hideki.


"Kita masih di kantor."


"Aku sudah mengunci pintunya."


Hideki mengunci bibir Agika yang terus saja protes dengan menciumnya. Membiarkan gadis itu menyentuh tubuhnya. Agika mulai terbuai. Aroma tubuh Hideki saja sangat menggoda. Apalagi tubuhnya yang sempurna itu. Agika selalu mengaguminya.


Agika tak bisa mengontrol tubuh Hideki lagi. Ia bahkan tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Hideki sudah mengambil alih semua fungsi tubuhnya, mengontrol semua pikirannya. Pria itu bahkan sudah membuka ikat pinggangnya sambil terus menciumi tubuh Agika. Ia sudah menegang. Napas Hideki yang menderu menunjukkan kalau ia sudah tak bisa dikendalikan. Tangannya langsung meraba paha Agika dan menekan bagian sensitifnya.


"Mmmnhh!" Agika mendesah.


"Ah, aku mencintaimu, Agika ..."


Kring kring kring!


Belum sempat Hideki melanjutkannya, suara handphone di mejanya berbunyi. Gadis itu langsung kaget. Ia mencoba menahan Hideki yang masih mencumbui tubuhnya tapi Hideki tak bergeming.


"Hi … Hideki, handphonemu …"


"Biarkan saja."


"Ngghh! Tapi …"


Beberapa menit Hideki mengabaikan suara handphone itu dan fokus pada Agika, tapi ternyata ia sangat terganggu. Sang penelpon itu tidak menyerah. Hideki berhenti. Agika juga jadi tak nyaman. Ia refleks mundur dan langsung memperbaiki bajunya. Hideki yang kesal karena terganggu hanya bisa menghela napas.


"Se … sebaiknya angkat dulu teleponmu." Kata Agika malu.


Agika segera beranjak dari pangkuan Hideki. Memalingkan wajahnya yang merah sehabis bercumbu dengan pria tampan itu. Ia memperbaiki penampilannya yang berantakan. Hideki berdecak tapi ia tak boleh kesal. Siapa tahu itu adalah telepon penting. Hideki berdiri dan mengangkat telepon itu.


"Hideki! Lama sekali kau angkat teleponku!"


Suara itu jelas pria yang sama yang selalu mengganggu waktunya saat bersama Agika. Hideki berdecak lalu mengusap wajahnya yang kesal.


Sial! Dia lagi.