
Hideki baru saja selesai istirahat makan siang dengan Tadashi. Ia sengaja makan siang di luar karena di perusahaan situasinya sedang tidak kondusif. Apalagi setelah berita itu beredar, pandangan orang-orang di perusahaan jadi terlihat berbeda padanya. Semuanya jadi makin kacau. Jika saja ayahnya tak disini, ia bisa memilih untuk tidak masuk kantor sampai masalah selesai.
Hideki benar-benar ingin fokus menyelesaikan masalahnya. Mendengar cerita Tadashi soal pertengkaran Agika dan Reina kemarin sore, ia makin yakin kalau wanita itu memang berniat buruk padanya. Ia dan Tadashi sedang mencari tahu bagaimana Reina menjebaknya malam itu. Bagaimana ia sampai tidak ingat kejadian malam itu. Apa saja yang sudah ia lakukan dengannya. Semuanya Hideki lakukan bukan hanya untuk membalikkan citra dirinya, melainkan agar ia bisa bertemu Agika dan menjelaskan semuanya. Ia tak mau hubungannya dengan Agika makin memburuk. Apalagi karena emosi kemarin, gadis itu kini sudah memblokir nomornya.
"Hari ini kau bisa pulang awal untuk istirahat. Tak ada rapat atau meeting apapun." Kata Tadashi.
"Aku baik-baik saja."
Tadashi menghela napas kesal. Ia berniat mengingatkan Hideki soal istirahat karena kemarin ia terus mengeluh pusing. Meski sekarang sudah membaik, Tadashi ingin pria itu mendengar nasihatnya. Ternyata jawabannya ketus begitu. Memang hanya Agika yang bisa mengendalikan pria dingin ini.
Melihat direkturnya sudah kembali, sekretaris Hideki yang sejak tadi menunggu menyambutnya dengan berdiri dan menghampirinya. Ia membungkukkan badan menghormati dua pria itu.
"Tuan muda, presdir datang ke sini." Kata sang sekretaris.
"Untuk apa?"
"Saya tidak tahu, tapi presdir ingin bertemu dengan anda."
"Aku menolak."
"Tapi …"
"Katakan padanya aku ada urusan penting."
Tepat saat Hideki menyelesaikan kata-katanya, tepat saat ia membuka pintu ruangannya. Ia sudah melihat sang ayah duduk di sofa dengan seorang wanita dan pria tua lain yang sedang tidak ingin Hideki temui. Siapa lagi kalau bukan Reina dan ayahnya, direktur Ogawa. Ada apa ini?
"Bocah yang selalu sulit diajak bicara." Kata sang ayah yang berdiri menghampiri putranya.
"Kenapa kau di ruanganku?" Tanya Hideki.
"Aku bebas dimana saja. Ini juga perusahaanku."
"Jika kau ada urusan dengan mereka, carilah ruang meeting."
"Kau mengusir ayahmu sendiri? Jaga sikapmu!"
Bagaimana bisa seorang direktur mengusir seorang presdir di depan tamu begitu? Ayah Hideki berdecak dan menghela napas. Kenapa putranya tak bisa bersikap sopan sedikit? Direktur Ogawa, Reina dan Tadashi merasa tidak enak melihat percakapan dingin ayah dan anak ini.
"Kita perlu membicarakan kasusmu dengan Reina." Kata ayah Hideki.
Kali ini Hideki melirik wanita yang sejak tadi diam saja duduk di samping ayahnya. Direktur Ogawa hanya mengangguk. Reina menoleh dan tersenyum tipis padanya. Sejak kejadian malam itu, Hideki tak mau bertemu wanita itu lagi. Ayahnya juga sudah mengambil alih kerjasama perusahaan.
"Aku sudah membicarakannya dengan direktur Ogawa. Apa yang kalian lakukan itu sangat mempermalukan perusahaan." Jelas ayah Hideki.
"Apa maksudmu?" Protes Hideki.
"Hideki, apa kau tidur dengan Reina karena kerjasama bisnis?"
"Apa? Aku tak akan melakukannya karena alasan konyol seperti itu!"
"Lalu apa kau melakukannya karena hubungan pria dan wanita?"
"Sudah ku bilang aku …"
"Hideki, kau masih menyangkalnya?" Tanya Reina tiba-tiba.
Kali ini wanita yang sejak tadi diam itu mulai angkat bicara. Ia akhirnya berdiri dan memasang wajah sedihnya. Di mata Hideki, wanita ini memang pandai berakting dan mencari perhatian. Kali ini ia memotong pembicaraan pun untuk menutupi rencana busuknya. Hideki hanya menatapnya datar.
"Setelah meeting, kau mengajakku ke hotel. Kau bilang kau menyukaiku lalu kita tidur bersama. Kenapa kau tak mau mengakuinya?" Kata Reina sambil menahan malu.
"Tidak akan!"
"Itu hal yang wajar, tuan Hideki. Kenapa kau tak bertanggung jawab saja terhadap putriku?"
Kali ini direktur Ogawa angkat bicara. Hideki terpojok. Rasanya ia ingin mencekik wanita itu jika ini tak dikantor. Wanita itu bahkan berani bicara hal semacam itu di depan ayahnya. Sama sekali tak tahu malu. Apa ia sengaja mencari belas kasihan pada ayah Hideki?
"Dia yang menjebakku! Kau tanyakan saja padanya!" Hideki marah.
"Apa yang kau katakan? Hideki, kukira kau berbeda dari pria lainnya."
"Omong kosong! Kau yang merencanakan ini semua! Aku bahkan tak ingat jika aku tidur denganmu. Bisa-bisanya kau …"
"Cukup, Hideki!" Bentak sang ayah.
Karena Hideki mulai marah besar pada Reina, ayah Hideki menahan putranya hingga semua terdiam. Tadashi bahkan sedikit takut presdirnya akan marah besar. Hideki masih geram melihat senyum tipis wanita yang bersembunyi di balik tubuh ayahnya itu.
"Jadilah pria sejati." Kata sang ayah setelah tenang.
"Aku dan direktur Ogawa sudah memutuskan sebaiknya kau dan Reina segera tunangan saja. Ini akan baik untuk hubungan pribadi kalian sekaligus menyelamatkan citra perusahaan."
"Apa kau bilang?!"
"Tunangan. Kau sudah tidur dengan Reina dan kau masih bertanya kenapa?!"
"Aku tidak mau!"
"Berhenti membantah!"
Bugh!
Satu pukulan dari tangan dingin ayah Hideki mendarat di wajah pria tampan itu. Pukulan keras yang membuat Reina bahkan sampai takut pada pria tua yang jadi tamengnya sekarang. Ia tak menyangka kalau ayah Hideki akan tega memukul anaknya sekeras itu.
Hideki mengusap berkas darah yang keluar dari sudut bibirnya. Pukulan ayahnya memang keras tapi ia tak kaget lagi jika ayahnya ringan tangan begitu. Lebih dari dua puluh tahun ia dikekang ayahnya. Pria tua itu tak pernah ada dipihaknya.
"Pre … presdir Matsuda, anda tidak perlu …" Cegah direktur Ogawa.
Kini direktur Ogawa khawatir dengan situasi yang mulai tidak terkendali. Semuanya terkejut saat melihat ini, terutama Reina dan direktur Ogawa yang sejak tadi diam saja.
"Maaf, direktur Ogawa. Aku ada perlu dengan putraku. Tapi aku akan pastikan Hideki akan bertanggung jawab dengan perbuatannya."
Sang presdir menjelaskan tanpa melirik direktur yang sejak tadi was-was melihat ini. Ia masih fokus dengan Hideki.
"Bi … biar saya antar anda keluar, direktur Ogawa dan nona Reina." Ajak Tadashi ramah.
Tadashi yang mengerti akhirnya segera mengantarkan paksa direktur Ogawa dan Reina keluar dari ruangan panas itu. Ia juga tak mau tamunya melihat kejadian ini. Sang direktur dan putrinya pun menurut saja. Kini tinggal Hideki dan ayahnya yang masih bersitegang.
"Dengan kasus itu aku sudah kecewa padamu. Sekarang kau mau mempermalukanku di depan direktur Landscape? Apa kau tak bisa melihat situasinya?!" Bentak presdir.
"Kau memaksaku bertunangan hanya demi perusahaanmu. Kau benar-benar keterlaluan!"
"Kau yang keterlaluan!"
Bugh!
Amarah presdir itu akhirnya berimbas dengan kembali memukul wajah tampan Hideki hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Ukh …"
"Bangun kau, brengsek!"
Sang presdir meraih jas kerja Hideki dan memaksa pria yang sudah mendapatkan lebam di wajahnya itu agar berdiri. Tapi karena kepalanya terasa pusing, Hideki tak bisa melakukannya. Akhirnya ayahnya menyeretnya bangun.
"Kenapa kau selalu membuat masalah denganku?!"
"Presdir, ku mohon hentikan!" Cegah Tadashi.
Tadashi yang kembali ke ruangan direktur masih mendapati presdir itu memukul putranya. Tadashi segera meleraikan mereka berdua. Untung saja bos besarnya mau melepas Hideki. Ia mencoba tenang dan memperbaiki jas kerjanya yang berantakan.
Presdir itu melirik Hideki yang masih meringkuk di lantai. Pria tampan itu beberapa kali mengernyitkan dahinya menahan sakit di kepala dan wajahnya. Sang presdir berdecak. Ia kembali merapikan pakaiannya dan berbalik.
"Tadashi, kau urus dia. Aku akan menemui direktur Ogawa."
"Baik, presdir."
Tadashi menghela napas. Ia lega bisa menenangkan bos besarnya meski ia harus memohon. Setidaknya ia bisa menyelamatkan Hideki dari amukan ayahnya. Tadashi beralih ke pria menyedihkan itu. Ia melirik Hideki yang masih terduduk di lantai dan mencoba bangun. Wajahnya sudah lebam bahkan sampai berdarah. Dokter itu segera menghampiri dan membantunya berdiri.
"Biar ku bantu, tuan muda."
"Pergilah."
Tadashi hendak meraih lengan Hideki dan membantunya berjalan tapi pria itu menghempaskan tangannya.
"Apa kepalamu pusing lagi? Aku akan …"
"Ku bilang pergi!"
Hideki membentak Tadashi dan meminta dokter itu keluar dari ruangan. Ia juga tak mau disentuh sama sekali. Tadashi yakin Hideki marah soal perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya dan direktur Ogawa. Apalagi ayahnya sudah memutuskan begitu. Kini moodnya memburuk. Hideki berjalan tertatih menuju ruang istirahatnya.
"Aku ingin sendiri."
💜💜💜