
Agika memandangi layar handphonenya. Berita soal wanita menyebalkan itu muncul lagi di timelinenya. Kali ini berita itu cukup mengejutkan. Wanita bernama Reina itu mengumumkan akan bertunangan dengan pria dari Jerman. Tanpa dijelaskan pun tentu saja itu Hideki. Dari berita yang ia baca, kedua orang tua mereka sudah sepakat.
Agika menyentuh hatinya yang terasa sakit. Hideki pernah bilang ingin bertunangan dengannya tapi kini wanita beruntung itu adalah Reina. Wanita berkelas begitu tentu saja ia akan mendapat restu dari ayah Hideki. Agika hampir saja menangis, tapi tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Agika menoleh.
"Ah, kepala staf." Sapa Agika pada wanita seusia ibunya itu. Ia menunduk memberi hormat.
"Agika, kau sudah mau pulang?"
"I … ini mau pulang. Ada apa, kepala staf?"
"Manager menawarkan padamu agar ikut pelatihan untuk illustrator di Singapura selama sebulan. Apa kau bersedia?"
"Pelatihan di Singapura?"
"Iya. Kau mau? Aku akan kabari manager …"
Wajah Agika terlihat bimbang. Ia memang menginginkan ikut pelatihan sejak dulu tapi kini entah kenapa ia sedang tidak termotivasi. Apalagi saat ini Hideki ada disini. Meski hubungannya sedang memburuk, Agika tak mungkin tiba-tiba pergi, kan? Tapi pria itu juga akan bertunangan. Apa yang bisa ia harapkan?
"Kau bisa memikirkannya dan memberitahuku sebelum waktu yang dijadwalkan."
Karena Agika tak kunjung memberi jawaban, sang kepala staf akhirnya memberi waktu untuknya memikirkan ini. Ia menghela napas dan langsung berbalik pergi begitu saja. Agika sedikit merasa bersalah karena mengabaikannya dan fokus pada hal yang tidak perlu.
"O … oh, baik. Terima kasih, kepala staf."
Agika meraih tas kerjanya dan bersiap-siap pulang. Minggu ini ia bisa lebih awal pulang karena minggu sebelumnya ia sudah lembur tiap hari. Meskipun ia tak jadi berkencan dengan Hideki, tapi pekerjaan minggu ini jadi terasa ringan.
Agika keluar dari lobby. Tak ada yang menjemputnya seperti kemarin-kemarin. Ia memang kecewa dengan Hideki tapi kali ini ia mencoba berlapang dada. Mungkin Hideki memang tidak cocok untuknya. Berpacaran dengan calon pewaris perusahaan memang akan sulit, apalagi untuk orang biasa seperti dia. Pria itu akan bertunangan dengan wanita yang sepadan dan direstui ayahnya. Dan saat ini adalah waktunya Agika menyerah.
"Agi."
Agika menoleh. Pria tampan itu selalu muncul di saat ia memikirkannya. Hideki sudah berdiri di area parkir kantor Agika. Ia membawa mobil porsche hitam kesayangannya. Tapi wajah pria itu kelihatan pucat dan lebam. Agika menghampirinya.
"Kenapa wajahmu? Kau habis berkelahi?" Tanya Agika cemas.
Agika menyentuh sudut bibir Hideki yang lebam karena pukulan ayahnya. Hideki membiarkan gadis ini menyentuhnya. Rasanya lembut sekali. Lukanya jadi terasa sembuh seketika. Sudah sejak tadi Hideki ingin menemui gadis ini setelah pertengkarannya dengan sang ayah.
"Apa ayahmu memukulmu lagi? Mana lagi yang terluka … Oh!"
Agika langsung menarik kembali tangannya begitu ia tersadar. Karena khawatir pada pria itu, ia hampir tak ingat kalau saat ini hubungan mereka sedang tidak baik. Padahal ia sudah bilang tak ingin bertemu. Hideki juga akan bertunangan dengan orang lain. Kenapa ia masih mengkhawatirkan pria ini?
"A … aku mau pulang." Kata Agika salah tingkah.
"Tunggu!"
Hideki meraih tangan Agika. Tapi Agika segera menarik tangannya menjauh.
"Lepaskan aku, Hideki!"
"Biarkan aku mengantarmu pulang."
"Kau harusnya menjemput calon tunanganmu."
"Kau … tahu pertunangan itu?" Hideki kaget.
"Berita tentang dirinya selalu bisa sampai padaku dengan cepat. Kalau kau ingin bertunangan dengannya …"
"Tidak! Aku hanya mencintaimu, Agika!"
Agika langsung tersentak. Mata Agika mulai berkaca-kaca melihat mata biru itu menatapnya serius. Hideki meraih tangan Agika dan menggenggamnya. Kali ini Agika membiarkan Hideki melakukannya.
"Apa …"
"Saat aku bilang aku ingin lebih serius, aku sungguh-sungguh. Aku ingin menikahimu."
Desiran angin menyibak rambut agika yang terurai. Senada dengan desiran hati Agika yang terkaget mendengar apa yang baru saja Hideki katakan. Agika hampir mengira ia salah dengar. Hideki ingin menikahinya? Sejak kapan ia punya keputusan itu?
"Aku tidak mau bertunangan dengannya. Aku ingin menikah denganmu."
Agika memang tak salah dengar. Tapi Agika masih mematung. Kenapa Hideki bilang ingin menikah saat hubungannya memburuk begini? Agika tak tahu harus merespon seperti apa.
Agika menunduk. Harusnya ia senang, tapi kasus Hideki dengan Reina membuat hatinya tak bisa merasa senang sedikit pun. Apalagi rencana pertunangannya dengan Reina mendapat restu dari orang tua.
"Aku tidak mau." Jawab Agika. "Aku tak mau menikah dengan pria yang sudah tidur dengan wanita lain."
Hideki tersentak. Ia baru saja akan mengeluarkan cincin yang kemarin ia pesan untuk melamar gadis ini, tapi ia sudah di tolak duluan. Padahal ia buru-buru ingin menyatakan niatnya dan tak mau menunggu lagi.
"Nyatanya foto-foto itu memang dirimu. Kau juga tak punya bukti jika kau tidak melakukan …"
"Kau mau bukti? Akan ku buktikan!"
Ah!
Hideki menarik lengan Agika masuk ke mobil hitamnya. Ia melempar tubuh Agika ke jok penumpang lalu menutup pintu mobilnya. Agika belum sempat bangun, tapi Hideki sudah mengurungnya. Agika menatap mata Hideki yang terlihat sedikit marah.
"Hi … Hideki, kau mau apa?"
"Kau ingin bukti, kan? Aku bisa berikan padamu."
"Apa maksudmu? Ah!"
Agika berusaha menghindari pria ini tapi tiba-tiba Hideki menahan kedua tangannya dan langsung mencium bibir Agika tanpa aba-aba. Mata Agika tak berkedip sedikitpun. Ia sangat terkejut dengan apa yang Hideki lakukan padanya.
"Hide … mmmhh!"
Hideki tak menggubris penolakan Agika. Ia malah ******* bibir Agika penuh nafsu dan memeluk gadis itu dengan erat. Ia lepaskan semua keinginannya selama ini. Agika bisa melihat dari sorot mata birunya yang sayu itu. Tapi Agika tak bisa menerima perlakuan Hideki seperti ini. Ia mencoba mendorong tubuh pria itu.
"Hideki, hentikan!"
"Ah …" Desah pria tampan itu. "Bukankah kau ingin aku membuktikannya?"
Hideki tak mau menyingkir sedikitpun. Kakinya menyelip di antara kaki Agika agar gadis itu tak bisa menghindar. Lalu pria itu menarik kemeja kantor Agika hingga lengannya turun lalu mencium lehernya. Menyesapnya hingga membangkitkan gairah Agika.
"Ngggh!" Agika menahan suaranya.
Hideki mulai melepas dasi dan jas kerjanya. Tangannya sengaja menutup bibir Agika yang sejak tadi terus saja protes. Lalu ia melanjutkan aksinya. Tangannya menyelinap masuk ke kemeja Agika dan menggerayangi tubuh gadis itu sambil terus mencium rahang dan lehernya.
"Kau terus menuduhku tidur dengan wanita itu. Jika kau iri, aku bisa melakukannya padamu." Bisik Hideki.
Agika tak bisa membalas ucapan Hideki, tapi matanya sudah berkaca-kaca sedari tadi. Ia tak menyangka Hideki akan melakukan ini padanya saat hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Saat Hideki sudah akan bertunangan dengan wanita lain.
Memangnya aku gadis seperti apa dimatamu?
"Bilang saja kau juga ingin tidur denganku. Aku akan memuaskanmu. Mmhh!"
"Tidak, lepas … ngghh!"
Agika seakan tak punya tenaga untuk melawan tubuh Hideki yang terus mencumbuinya. Tadinya ia memang terangsang dengan semua sentuhan Hideki padanya tapi kini hatinya bergetar, terasa sakit mendengar Hideki mengatakan hal seperti itu. Air mata Agika mengalir deras.
"Hiks! Hiks!"
Suara sesenggukan Agika membuat Hideki mulai tersadar. Ia melepas tubuh Agika yang sudah penuh kiss-mark di dadanya. Tubuhnya mematung melihat air mata mengalir deras di wajah Agika. Agika segera menjauh hingga ke sudut mobil. Ia terlihat takut. Kenapa ekspresi Agika seperti itu? Apa ia benar-benar tak mau disentuh?
"Agi …"
"Aku bukan Reina yang bisa kau perlakukan seperti ini."
"Ma … maaf. Agika, aku …"
"Kau keterlaluan! Kita putus saja."
"Apa?!"
Agika segera menghapus air matanya dan memperbaiki dirinya yang berantakan. Ia langsung membuka pintu mobil Hideki. Ia sangat kecewa dan kesal dengan Hideki saat ini.
Sedangkan Hideki yang masih terkaget dengan ucapan Agika barusan, mencoba menahan lengannya tapi Agika menolak. Ia sungguh tak sengaja melakukan hal tadi. Ia hanya terbawa perasaan.
"Kita putus. Selamat tinggal, Hideki."
Agika berlari keluar dari mobil hitam itu. Ia tak mau air matanya makin mengalir deras. Akhirnya ia mengucapkan kata-kata untuk mengakhiri hubungannya dengan Hideki.
"Tidak! Agika, jangan … ukh!"
Hideki tadinya ingin mengejarnya tapi kepalanya mendadak terasa sakit. Pandangannya hampir kabur. Tubuhnya gemetaran. Hideki menahan diri. Ia bersandar di punggung kursi mobilnya sambil terus memijat kepalanya. Mengatur napasnya yang menderu agar ia bisa kembali tenang.
"Kenapa kepalaku sakit lagi?"
💜💜💜