Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 10



Akhirnya aku membawa Hideki dan dokter muda itu ke rumah. Ibu juga menyambut kami dengan baik. Ibu pasti bingung kenapa aku membawa pulang 3 pria tampan dan manis. Tapi melihat Hideki yang lebam-lebam dan tak sadarkan diri, ibu merasa kasihan. Untung saja ibu mengerti setelah aku ceritakan detailnya. Pria bernama Tadashi itu langsung memeriksa dan mengobati Hideki. Aku hanya membantu merawat lebam-lebam di wajahnya. Setelah itu, kami membiarkan Hideki istirahat di sofa rumahku sampai ia siuman.



“Apa ia akan baik-baik saja?” Tanyaku.



“Ya. Aku sudah memberinya obat penenang. Tuan muda akan segera sadar.”



“Obat penenang?” Kazuma bertanya.



“Ah tuan muda ada sedikit masalah dengan ayahnya beberapa waktu yang lalu hingga membuatnya trauma. Aku tak bisa menceritakan detailnya, tapi ia memang butuh obat penenang. Sekarang ia sudah lebih baik.” Jelas Tadashi.



“Hideki sakit?”



“Sekarang sudah jarang.”



“Syukurlah.” Aku menghela napas lega. Aku tak lagi curiga siapa pria bertopi baret ini. Aku langsung percaya setelah melihatnya merawat Hideki. Benar, mereka saling kenal. Mungkin juga dekat.



“Nona?”



“Ah, namaku Agika. Shinjio Agika. Dan ini sahabatku, Kazuma Shu.”



“Apa kau pacarnya?”



“Eh? B .... Bukan! Aku teman sekelas Hideki. Aku tak sengaja bertemu dengannya di taman.”



Cukup lama Tadashi menatapku. Ia memperhatikanku dari ujung kaki sampai kepala. Aku bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa.



“Siapa sebenarnya kalian ini? Kenapa mau membawa pria payah itu pergi?” Tanya Kazuma.



“Ah, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Tadashi Kojiro. Dokter pribadi keluarga Takizawa.”



“Keluarga ....” Kazuma tak melanjutkan bicaranya.



“Kalian tak mengenal keluarga Takizawa? Hmm wajar saja. Bisnisnya tak terlalu terkenal disini tapi di Jerman keluarga Takizawa adalah pemegang saham terbesar di Takizawa Corp. Salah satu perusahaan transportasi dan properti terkenal di Jerman.”



“Lalu Hideki?”



“Tuan muda? Ah dia adalah putra dari tuan besar Matsuda Takizawa, CEO grup Takizawa Corp. Tuan besar sudah mengumumkan di rapat kalau tuan muda adalah calon ahli warisnya.”



“Ja .... Jadi ....”



“Ya. Tepat sekali. Kalian tentu tahu kenapa aku dan orang-orang tadi memanggilnya begitu.”


Aku menutup mulutku. Aku hampir tak percaya dengan semua fakta yang dokter muda itu ceritakan kepada kami. Tapi wajahnya tak menunjukkan ia berbohong. Kazuma juga sedikit terkejut.



Hideki ternyata bukan orang biasa. Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Mungkin ia sombong, tapi ia tak pernah kelihatan berpenampilan kaya raya. Tak mungkin siswa kelas 10 SMA sudah menjadi ahli waris sebuah perusahaan besar.



“Tuan muda baru saja pindah kesini. Sebelumnya ia tinggal di Jerman dan homescholling disana. Tapi kami punya anak perusahaan disini yang dihandle oleh kakak perempuannya. Jadi tuan muda tinggal bersamanya.”



“Kakak? Kenapa Hideki ikut kakaknya?”



“Tuan muda ada masalah ....”



“Tutup mulutmu, Tadashi! Kau .... Ukh!” Hideki tiba-tiba bangun tapi sakit di kepalanya belum sembuh benar sepertinya. Aku dan Kazuma yang menjaganya juga ikutan terkejut. Tadashi bahkan langsung panik. Tapi aku belum mau menghampirinya.



“Tuan muda, kau sudah sadar?”



“Di .... Mana aku?”



“Kau dirumahku.” Kataku.



Aku memberanikan diri bicara setelah mengetahui faktanya. Pria dingin, teman sekelasku ini adalah seorang pewaris perusahaan. Aku sudah tahu siapa dia sebenarnya. Tapi ia sama sekali tak bicara apapun untuk menjelaskan. Ia hanya menatapku lalu memalingkan wajahnya.



“Biar ku periksa tubuhmu, tuan muda.”



“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Sekarang juga pulanglah ke Jerman. Katakan pada ayahku kalau aku tak akan pulang.” Lanjutnya.



“Justru direktur sudah tahu jawabanmu makanya ia menyuruhku kesini.”



“Si egois itu ....”



Hideki kelihatannya kesal. Ia mencengkeram kepalanya lagi karena masalahnya dengan ayahnya. Aku tak bisa mendapatkan kejelasan soal hubungan ayah dan anak ini tapi aku ingin kejelasan satu hal.



“Hideki, benarkah semua yang dikatakan dokter Tadashi? Kau seorang ....” Tanyaku pelan.



“Bukan urusanmu.” Jawab Hideki dingin.



“Hei, begitukah caramu bicara dengan orang yang sudah menolongmu, pria payah?!” Kata Kazuma.



Kali ini Kazuma geram mendengar jawaban yang muncul dari mulut Hideki. Kazuma tak suka dan tersinggung dengan perkataan Hideki. Aku yang beberapa kali melihatnya di sekolah mungkin merasa bicara Hideki memang begitu. Dingin dan sedikit kasar. Tapi mungkin Kazuma belum mengenalnya. Kazuma menatapnya. Ia menunjukkan kalau tak suka dengan kata-kata Hideki barusan. Hideki malah balik menatapnya dengan tajam.



“Siapa kau?” Tanya Hideki.



“Makanya kalau bicara lihat-lihat dulu. Jika aku tak datang mungkin kau sudah babak belur dihajar mereka.” Kata Kazuma.




“Mereka tak akan membunuhku.” Katanya.



“Kau ini!” Kazuma makin sebal.



“Hideki, kau ada masalah apa dengan ayahmu? Kenapa tak mau pulang?”



“Sudah ku bilang bukan urusanmu.”



Seperti yang aku pikirkan. Jelas Hideki tak akan terbuka padaku. Ia pasti akan menutupinya meski aku berusaha bicara dengan baik-baik. Aku hanya ingin membantunya. Aku abaikan semua fakta bahwa dia adalah seorang pewaris perusahaan. Aku anggap dia teman sekelasku seperti biasa.



Seorang Hideki yang sangat dingin tiba-tiba ketakutan begitu. Pasti bukan hal yang biasa saja. Tapi mungkin Hideki belum percaya padaku, makanya ia tak mau menceritakan yang sebenarnya. Aku memakluminya. Kita hitungannya baru mengenal. Mana mungkin aku menyelami kehidupannya terlalu dalam. Hal yang lebih penting adalah tetap menjadi temannya.



“Baiklah jika kau tak ingin bicara. Tapi aku juga sudah pernah bilang akan menjadi temanmu, kan?” Kataku sambil tersenyum.



“Tak seharusnya aku melibatkanmu dalam masalah.” Lanjutnya.



“Haha. Hideki, tidak apa-apa. Kalau kau ada masalah kau boleh cerita padaku.”



Hideki menatapku serius. Padahal aku mencoba mencairkan suasana. Ia mungkin refleks mengajakku ikut lari. Atau mungkin ia takut orang-orang itu menangkapku juga karena tak sengaja aku memanggil nama Hideki. Entah kenapa meski begitu aku tidak marah sama sekali padanya.



Hideki menatapku. Ia kelihatan curiga dengan kata-kataku. Aku salah tingkah. Ia masih membuat jarak dan tak seharusnya aku memaksakan jarak ini. Ah Hideki pasti salah paham. Padahal aku menyampaikannya dengan tulus.



“Maksudku, aku ingin berteman denganmu. Aku tak peduli kau siapa.”



“Kau sungguh ....”



“Meskipun kau masih tak mau terbuka, aku tak akan menyerah. Kalau kau sedang ada masalah masih ada aku.”



“Eh?”



Aku menggenggam tangannya. Tersenyum padanya setulus mungkin. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Entah kenapa setelah melihat ekspresinya saat ini rasanya aku ingin saja melakukannya. Ia seperti butuh penguatan dari seseorang. Aku tak tahu diluar sana ia memiliki orang-orang yang tulus atau tidak, tapi aku mau memulainya. Aku yakin Hideki orang yang baik.



Hideki masih mematung menatapku. Ia tercengang. Kemudian Hideki menutup wajahnya dengan lengannya. Aku tertawa kecil. Aku tahu ia hanya ingin menutupi wajahnya yang memerah dan itu lucu sekali. Apa kata-kataku membuatnya salah tingkah begini? Ia lalu mengambil topinya yang aku letakkan di meja.



“Aku mau pulang.” Kata Hideki dingin.



“Tuan muda ....”



“Jangan harap aku pulang ke Jerman. Aku mau pulang ke rumahku.”



Ia mencoba berdiri. Padahal sepertinya tubuhnya masih nyeri karena pukulan itu. Lebam diwajahnya juga belum hilang meski sudah ku olesi salep. Aku membantunya. Dan luar biasanya, kali ini dia tidak menolak saat kusentuh.



“Apa tidak apa-apa pulang dalam kondisi begini?” Tanyaku.



“Ya. Tidak apa-apa.”



“Ah kau memang keras kepala sejak dulu. Apa boleh buat, aku akan bicara pada Direktur. Tapi biarkan aku ikut denganmu. Lagipula kau sedang sakit.” Kata Tadashi.



“Eh? Kau tak akan membawa Hideki pulang?” Tanyaku antusias.



“Aku tak yakin ia akan melakukannya. Aku akan mengantarmu pulang.” Kata Kazuma.



“He? Begini-begini aku adalah dokter kepercayaan tuan muda sejak di Jerman. Kami teman dekat.”



Tadashi merangkul bahu Hideki dan tersenyum manis. Ia mencoba menunjukkan kedekatannya. Ekspresinya memang tak seperti saat di taman tadi. Ia terlihat lebih ramah. Hideki juga tak takut padanya.



“Singkirkan lenganmu dariku, Tadashi!” Hideki sedikit kesal.



“Eh? Kau malu, tuan muda?”



“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.” Kata Kazuma lagi.



“Tidak usah.” Kata Hideki.



“Kau bisa pingsan di jalan! Lagipula dokter ini tak bisa dipercaya. Kau mau jadi mayat di jalanan berhari-hari?! Bagaimana kalau ia akhirnya memanggil mereka untuk memukulimu lagi?” Bentak Kazuma.



“Hei, apa maksudmu?” Kata Tadashi.



“Kazu...” Aku mencoba menengahi.



“Hideki, biar Kazuma mengantarmu ya” Kataku lembut.



Hideki hanya diam. Kami benar-benar khawatir jika Hideki sakit lagi atau dokter ini berbohong. Untung saja Kazuma sangat peduli padanya. Karena Hideki temanku juga, jadi Kazuma mau membantu. Kazuma menghela napas.



“Dimana rumahmu? Aku antar.”



***