Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 29



Cukup lama aku ke kamar mengambil selimut. Akhirnya aku curahkan kekesalanku di kamar. Bagaimana bisa ibu membiarkan seorang laki-laki tidur di sini? Aku langsung keluar kamar begitu selesai mengambil selimut tebal berwarna putih itu.



Ibu sepertinya sedang di dapur. Aku langsung menghampiri Hideki. Sepertinya ia sudah terlelap. Aku dekati dia dengan pelan agar tak membangunkannya.



Wajahnya benar-benar tampan bahkan saat tidur begini. Aku coba usap rambutnya yang hitam. Sangat lembut. Kelopak matanya juga sangat indah. Hidungnya mancung dan bibirnya sangat manis. Bahunya lebar dan dadanya bidang. Tubuhnya benar-benar sempurna. Dan bodohnya, aku sudah mencelakainya. Ia tak bisa berjalan normal karena diriku. Apalagi patah tulang bukanlah cedera yang bisa sembuh dengan cepat.



Aku langsung menyelimuti kakinya yang terbalut perban tebal. Menariknya ke atas hingga tubuhnya tertutup selimut. Semoga ini cukup memberikan kehangatan untuknya. Aku sedikit menyesal tak membiarkannya tidur di kamarku. Aku tadi sangat terkejut tiba-tiba ia menyentuhku. Jadi aku kesal dan bicara begitu. Padahal aku cukup senang ia menginap di sini. Rasanya rindu, lama sekali aku tak melihatnya.



“Jadi dia pacarmu bukan?”



“Eh?”



Ibu tiba-tiba datang sambil tersenyum mengejekku. Sepertinya ia tahu kalau aku memandangi Hideki yang tidur. Aku langsung menarik ibu masuk ke ruang makan. Aku tak mau membangunkan Hideki dan ia mendengar kami bicara.



“Ssstt! I .... Ibu, pelan sedikit. Nanti Hideki terbangun.”



Ibuku hanya tersenyum dan menatapku penuh curiga. Aku jadi sedikit malu.



“Jadi dia pacarmu?” Tanya ibu lagi.



“B .... Bukan.”



“Sepertinya dia menyukaimu.”



“Aku sudah menolaknya.”



“Eh? Kenapa ditolak? Dia pria yang baik. Wajahnya juga tampan.”



“Ini tidak semudah kelihatannya.”



Aku mengabaikan kata-kata ibu. Dan berjalan mengambil segelas air lalu duduk di ruang makan. Ibu mengikutiku dan ikut duduk. Ibu ingin mendengar perasaanku.



“Apa ini soal dia yang keturunan orang kaya? Pewaris perusahaan? Bak pangeran?” Tanya ibu heran.



“Bukan hanya itu.”



“Soal ayahnya yang tidak setuju? Apa ayahnya berusaha menyakitimu? Biar ibu ....”



“Ayahnya sama sekali tidak menyakitiku. Tapi ia sangat keras pada Hideki. Ia bahkan akan melakukan cara apapun agar Hideki menurut padanya. Memukul atau mengurungnya berhari-hari dikamar.”



“Benarkah? Pantas saja ia kelihatan tertekan.”



“Ia selalu ingin Hideki fokus pada statusnya sebagai calon CEO dan tidak melakukan hal-hal yang tidak penting termasuk pacaran. Makanya aku tak mau Hideki menderita. Aku mana bisa menerima perasaannya.”



Aku menunduk. Aku sadar aku menyukainya. Rasa sukaku juga sangat besar. Aku selalu memikirkannya setiap waktu. Tapi perasaan seperti itu harus dikesampingkan. Demi Hideki. Jika mengingat semua itu rasanya hatiku sakit. Aku mana mungkin menyalahkan ayahnya. Aku juga tak mungkin menyalahkan Hideki. Mungkin perasaanku yang salah.



“Tapi kau menyukainya?” Tanya ibu.



Aku makin menunduk. Aku tak mau ibu melihat wajahku yang memerah karena malu. Aku masih diam tapi ibu pasti tahu persis jawabanku.



“Jadi sebenarnya kalian saling mencintai? Kalau begitu harusnya kalian berjuang bersama.” Tanya ibu lagi.



“Aku tak mau dia kena masalah.”



“Kalau kau menolaknya padahal kau juga cinta pada Hideki, apa itu tidak membuat Hideki menderita? Itu membuatmu menderita juga kan?”



“Tapi ....”



Ibu menghela napas. Sepertinya ibu mulai malas menasihatiku karena banyak alasan. Ibu bersiap pergi, berjalan menuju kamarnya.



“Tidurlah. Sebentar lagi pagi.”



***



Pagi ini aku sudah dikejutkan oleh tragedi Hideki jatuh di kamar mandi saat ia selesai mandi. Ternyata selama kakinya sakit, ia dibantu oleh pelayannya atau anak buah ayahnya saat mandi. Jadi ia tak bisa mandi sendiri. Aku seperti di ingatkan kalau dia adalah pangeran di rumahnya. Kalau di rumahku mana ada hal seperti itu.



Aku refleks membuka pintu kamar mandi dan ku temukan ia sudah terduduk di lantai menahan kaki kanannya yang sakit. Tubuhnya yang setengah telanjang dan masih basah malah membuatku salah fokus. Bukannya segera menolong, aku malah berbalik badan karena wajahku sudah memerah. Untung saja ibu langsung memakaikan kemeja yang tergantung di balik pintu. Aku dan ibu membantunya kembali ke sofa di ruang tamu.



“Bagaimana kakimu?” Tanyaku.



“Tidak apa-apa.”



“Agika, tolong kau bantu ganti perbannya yang basah. Ibu punya peralatannya di kotak obat.” Perintah ibu.



“Iya.”



“Kau pasti kedinginan. Ibu akan buatkan teh hangat untukmu.” Kata ibu pada Hideki.



“Terimakasih, ibu.”



Aku meliriknya ibu yang tersenyum manis pada pria dingin itu. Sejak kapan mereka akrab dan saling panggil begitu? Rasanya aku seperti anak tiri saja.



Begitu aku mengambil kotak obatnya, aku langsung membantunya mengganti perban seperti yang ibu perintahkan. Ibu sudah sering mengajariku penanganan seperti ini jadi aku tidak kikuk lagi.



“Agika.” Panggilnya.



“Ada apa?” Tanyaku tanpa melihat wajahnya. Aku sedang serius dengan kaki kanannya.



“Soal tadi malam, aku benar-benar ingin tahu jawabanmu.”



Seketika aku langsung menatap wajahnya. Ia sungguh-sungguh belum menyerah meski aku menolaknya berkali-kali. Apalagi sekarang ia sudah tahu kalau aku berbohong dan hanya mengikuti permintaan ayahnya.



“Aku benar-benar menyukaimu. Apa kau menyukaiku juga?” Tanyanya lagi.



Astaga! Pagi ini aku sudah mendapat pernyataan cinta dari laki-laki tampan seperti dia. Apalagi rambut dan wajahnya yang basah habis mandi kelihatan sangat menggoda. Jika bukan aku, pasti semua orang akan langsung menerimanya.



“Aku ....”



“Agika! Kau sudah siap?”



Aku belum sempat menjawab tapi tiba-tiba Kazuma datang. Ia sudah memakai pakaian tae-kwon-do-nya dengan lengkap. Aku memang tidak mengunci pintu rumah kalau hari sudah pagi. Aku langsung terkejut.



“Hi .... Hideki?!” Kata Kazuma.



Wajah ceria Kazuma berubah menjadi sangat terkejut melihat kami berdua. Aku yang sedang membantu membalut kaki kanannya bukanlah hal aneh. Tapi Hideki yang ada di sini denganku pagi-pagi dengan rambut basah dan kemeja yang belum dikancingkan menjadi hal yang sangat mengejutkan bagi Kazuma. Apalagi aku sangat dekat dengannya.



“Kalian berdua ....” Kazuma mulai salah paham.



“Ka .... Kazu, ini bukan seperti yang kau pikirkan! Hideki tadi menginap di sini dan ....” Jelasku.



“Menginap?!”



Reaksinya makin berlebihan. Aku coba jelaskan padanya agar tak salah paham. Tapi ia malah makin berpikiran yang aneh-aneh.



“Ha .... Hanya menginap. Tidak ada yang lain.” Kataku.



“Kau bilang “hanya”?! Kau membiarkan pria ini tidur di rumahmu dan kau bilang hanya menginap?!”



“Kazu, kau salah paham.”



Aku sudah berusaha menjelaskan tapi malah membuat Kazuma makin bingung. Hideki akhirnya turun tangan. Ia bangun. Berjalan dengan kruk-nya dan menghampiri Kazuma yang masih bingung.



“Bagaimana denganmu yang masuk ke rumah orang tanpa mengetuk pintu?” Balas Hideki.



“Hei! Agika sahabatku. Aku sudah sering kesini jadi tidak masalah jika aku langsung masuk.”



“Kau mengganggu kami.”



“Mengganggu?! Memangnya kalian sedang apa?!”




“A .... Apa?!”



Kazuma dibuat kesal oleh Hideki. Ah akhirnya aku melihat pertengkaran mereka lagi setelah sekian lama. Meskipun mereka tak benar-benar bertengkar tapi aku sempat merindukan momen seperti ini.



“Hei, brengsek! Kalau kau sampai melakukan sesuatu padanya, aku akan membunuhmu!” Ancam Kazuma.



“Coba saja.”



“Kau ....”



“Kazu, kami tidak melakukan apapun.” Kataku menengahi.



“Kami? Agika, sejak kapan kau dan Hideki menjadi kami?”



Hideki memajukan tubuhnya. Mendekat ke telinga Kazuma. Aku tak tahu apa yang ia katakan tapi ia kelihatan puas membuat kesal sahabatku itu.



“Kau sahabatnya? Kau bahkan tak tahu sedekat apa hubunganku dengan Agika.” Bisik Hideki.



“Hei, apa maksudmu?!”



“Kau pikir saja sendiri.”



Hideki berbalik. Ia merasa memenangkan diriku sekarang. Kazuma bahkan hampir ingin memukul Hideki tapi akhirnya aku harus melerai mereka.



“Kau! Hei, kemari! Jangan bersikap seperti itu padaku! Lagian apa-apaan itu! Rambutmu basah. Kau habis apa? Cepat benahi kancing kemejamu. Dasar mesum!”



“Kazu, kami tidak sedang melakukan apa-apa. Aku hanya membantu membalut perban ....”



“Kau menyebut “kami” lagi?! Agika, jangan-jangan kalian sudah ....”



“Ah, berisik. Ternyata Kazuma sudah datang.”



Ibu datang membawa dua gelas teh hangat. Ia langsung meletakkannya di meja.



“Kau minum dulu, Hideki.” Kata ibu.



“Terima kasih, ibu.”



“Ibu? Kau memanggilnya ibu?!” Tanya Kazuma.



Kazuma makin tidak bisa dikendalikan. Ia memelototi Hideki, sedangkan pria tampan itu tetap tenang sambil menyeruput teh-nya. Aku menepuk jidatku.



“Bibi, sejak kapan pria brengsek ini begini? Apa benar ia tidur di sini?!” Tanya Kazuma pada ibuku.



“Benar sekali.”



“Kenapa bibi membiarkannya tidur di sini?!”



“Memangnya kenapa? Kau juga sering mampir dan numpang tidur di sini kan?”



“Bibi, aku berbeda dengannya. Dia ....”



“Kazu, kau berisik sekali. Bukannya kau bertanding hari ini? Sebaiknya kalian segera berangkat.”



Ibu mengingatkan kami sambil berlalu begiru saja. Ah benar. Pertengkaran ini membuatku lupa kalau aku janji akan menonton Kazuma bertanding hari ini di stadion.



“Kau mau kemana?” Tanya Hideki padaku.



“Hari ini aku mau menemani Kazuma lomba tae-kwon-do di stadion.”



“Kau akan pergi?”



“Tentu saja. Aku sudah janji dengan Kazu.”



Kazuma mengangguk sambil melipat tangannya. Agaknya keadaan berbalik mendukungnya. Ia bisa bersikap sombong sekarang karena berhasil merebutku dari Hideki.



“Aku ikut.” Kata Hideki.



“Eh?”



“Tidak boleh! Aku hanya membelikan satu tiket untuk Agika!” Kazuma langsung menimpali.



“Kau lupa kalau aku calon CEO? Aku bahkan bisa membeli seluruh tiketnya.” Balas Hideki.



“Kau mulai menggunakan statusmu untuk mengancamku?”



“Apa boleh buat.”



“Kau bahkan tak suka dengan ayahmu. Bagaimana kau bisa jadi CEO?”



Astaga, mereka bahkan tak berhenti berdebat satu sama lain. Meski ini tak serius tapi Kazuma mulai menyinggung-nyinggung soal ayah Hideki. Aku takut Hideki trauma lagi. Aku harus menghentikan ini atau kami akan benar-benar terlambat.



“Kazu, sudah berdebatnya. Kau mau terlambat?” Kataku sedikit marah.



“Habisnya dia ....”



“Hari ini hari yang penting untukmu. Jadi jangan terlambat karena masalah sepele.” Aku mulai menceramahinya.



“Agi .... Aku ikut denganmu.” Kata Hideki.



“Kau tidak pulang?”



“Kau mengusirku?”



“Bu .... Bukan begitu. Kakimu sedang sakit.”



“Kita bisa naik taksi.”



Aku tak bisa beralasan lagi. Apalagi melihat wajahnya yang memohon. Aku tahu ia tak mau pulang karena ayahnya akan membawanya ke Jerman. Sejujurnya aku juga tak mau ia kembali. Tapi ia pasti juga tak mau di sini sedangkan aku pergi dengan Kazuma.



“Baiklah. Lagipula ibu masuk kerja pagi ini. Kita naik taksi saja.” Kataku.



“A .... Apa?! Agika, kenapa dia harus ikut? Suruh saja dia pulang!”



“Kau tak mau terlambat kan? Ayo kita pergi.”



Kazuma melirik Hideki yang langsung mengalihkan pandangannya dari laki-laki blonde itu. Ia sengaja melipat tangannya dan membusungkan dada untuk menunjukkan kalau aku ada di pihaknya. Aku langsung ke kamar mengambil tasku dan berpamitan dengan ibu.



“Jadi kau bertanding hari ini?” Tanya Hideki.



“Tentu saja. Aku bukan pangeran yang bisanya di layani oleh pelayan dan anak buah ayahnya. Aku prajurit.” Sindir Kazuma sambil menyunggingkan senyumnya.



“Kau menyidirku?”



“Kau merasa tersindir? Baguslah.”



“Aku juga bisa berkelahi jika kau mau.”



“Aku tak berminat. Sekarang, untuk berjalan pun kau kesusahan.”



“Kalau kau tak menang hari ini artinya kau tak lebih baik dariku.”



“Apa maksudmu, tuan muda sombong?! Aku pasti menang.”



Masih bisa ku dengar kalau mereka melanjutkan perdebatan ini. Astaga, aku akan seharian mendengar mereka bertengkar.



***