Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 07



Aku bangun mendengar suara riuh siswa-siswa di luar. Aku lihat jam yang menempel di dinding. Pukul 3 sore. Rupanya sudah jam pulang sekolah. Akhirnya aku hanya menumpang tidur di sekolah. Tidak mengikuti pelajaran sama sekali. Kepalaku sejak tadi pusing tapi sesak napasku sudah lebih baik.


“Agika? Kau bangun juga akhirnya.”


Reiko ada di sampingku. Ia duduk menungguku. Wajahnya kelihatan khawatir. Tapi tak ada Hideki di sana. Aku ingat betul ia menolongku saat asma ku kambuh. Ah tentu saja ia hanya menolongku. Jika sudah selesai mana mungkin ia menjengukku. Kenapa aku mengharapkannya datang? Mungkin aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.


“Bagaimana keadaanmu, Agika?” Tanya Reiko cemas.


“Aku sudah tidak apa-apa. Tapi dokter menyuruhku istirahat saja jadi aku tidak ikut pelajaran.”


“Kalau masih sakit sebaiknya istirahat. Tenang saja, aku akan pinjamkan buku ku. Asma mu kambuh?”


“Iya. Tapi sudah lebih baik. Hanya masih terasa pusing.”


“Kenapa sampai kambuh? Tidak biasanya. Aku khawatir sekali.”


“Ah itu ....”


Aku bingung bagaimana menjelaskannya pada Reiko. Aku tak mungkin bilang sedang bersembunyi bersama Hideki. Ia malah akan makin banyak bertanya. Bisa jadi berita semacam ini akan menyebar. Aku tak mau jadi masalah besar.


“Lagian pria sombong itu bagaimana sih? Ia memintaku kesini tapi dia sendiri malah tidak masuk kelas.”


“Eh? Maksudmu ....”


“Hideki. Aku bertemu dengannya tadi pagi di lorong. Ia memintaku menemanimu di UKS. Tapi ternyata hari ini ia bolos sekolah.”


“Bolos?”


Aku sedikit heran. Tingkah laku laki-laki dingin itu aneh. Kemarin ia sedang berdebat alot dengan guru Oshin. Tadi pagi ia bersembunyi menghindari guru Oshin dan akhirnya ia bolos sekolah? Apa ia takut bertemu guru Oshin jadi dia nekat bolos? Masalah apa yang sebenarnya terjadi?


“Sudahlah. Tak usah memikirkan pria sombong itu, Agika. Yang penting kita pulang dulu. Aku sudah ambilkan tas mu.”


“Ah iya! Terima kasih banyak, Reiko.”


“Tidak usah sungkan. Kazuma juga pasti sudah menunggumu.”


Aku mencoba berdiri meskipun kepala masih sedikit pusing. Aku tak mau Reiko lebih kerepotan lagi. Ia juga harus menunda pulangnya karena aku.


Saat kami membuka pintu ruang UKS, seseorang sudah menungguku di sana. Siapa lagi kalau bukan pria tampan dan dingin yang membuat aku masuk UKS tadi pagi. Ia kelihatannya menunggu lama. Bukankah ia sedang membolos? Kenapa masih ada di sekolah saat jam pulang? Aku coba tatap matanya, ternyata ia tak memalingkan pandangannya dariku lagi.


“Aku ingin bicara dengan Agika.” Katanya dingin.


“Hei, pria sombong! Kami mau pulang. Bukankah kau tidak masuk sekolah hari ini?Ngapain disini?” Sergah Reiko.


“Hanya 10 menit.”


“Re .... Reiko, sebentar saja ya.” Bujukku.


Aku mencoba menenangkan Reiko yang kesal pada Hideki. Bukan salah Reiko, Hideki memang kurang sopan tiba-tiba bicara seperti itu. Tapi aku sungguh penasaran kenapa ia ingin bicara denganku. Apa ingin aku merahasiakan kejadian tadi pagi?


Reiko akhirnya menyerah dan pergi menjauh dariku. Ia ku minta menunggu di depan gerbang dengan Kazuma. Aku duduk di ruang tunggu dengan UKS. Akhirnya Hideki juga ikutan duduk disampingku.


“Kau sudah sembuh?” Tanyanya.


“Y .... Ya. Aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih sudah membawaku ke UKS.”


“Maaf, aku tak tahu kalau kau punya penyakit asma.”


“Eh?”


“Tanpa sadar aku membawamu ke ruang pengap itu.”


“Ah tidak apa-apa, Hideki. Sungguh, aku sudah sembuh.”


Aku mencoba tersenyum padanya. Ia hanya memandangku datar lalu memalingkan wajahnya. Jadi dia kesini karena ingin minta maaf sudah melibatkanku dalam masalah. Padahal aku ingin tahu lebih dari itu.


“Ehm .... Jika boleh tahu kenapa kau bersembunyi dari guru Oshin?” Tanyaku gugup.


Hideki tak menjawab. Ia hanya diam. Tapi sepertinya ia memikirkan sesuatu.


“Kau ada masalah dengan orang tuamu?” Tanyaku lagi.


“Kau ....” Hideki terkejut aku bicara soal orang tuanya.


“A .... Aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan guru Oshin di ruang guru. Maaf, aku hanya ingin membantumu.”


“Membantu?”


“Ah biasanya dengan bercerita kau akan sedikit lebih baik. Maksudku, kau bisa berbagi cerita denganku. Siapa tahu aku bisa menolongmu. Atau sekedar memberi saran. Daripada kau bersembunyi dari guru Oshin terus menerus.”


Aku akhirnya mencoba membuat dia terbuka. Tidak mudah jadi anak baru di sekolah, apalagi sedang dalam masalah. Hideki juga bukan orang yang senang bergaul. Ku pikir ia butuh teman bicara. Tapi entah kenapa Hideki kembali diam. Ia tak merespon kata-kataku. Apa dia pikir aku adalah seorang gadis yang mengambil kesempatan dalam kesempitan? Oh tidak! Aku tak mau dicap begitu. Niatku sangat tulus untuk menjadi temannya. Aku harus meluruskan ini.


“Ta .... Tapi kalau kau tak mau cerita tidak masalah, Hideki. Aku tak bermaksud apa-apa, aku sungguh ingin berteman denganmu.” Jelasku.


“Berteman?”


“Ya. Aku bisa bilang pada guru Oshin agar memaafkanmu kalau kau berbuat salah. Guru Oshin sebenarnya sangat baik.”


“Kau tidak mengerti.”


“Eh?”


Pikiranku mulai bertanya-tanya lagi. Pria ini bahkan tak bilang terima kasih meskipun aku sudah menawari bantuan tapi malah bicara begitu. Aku hanya tak mau ia melarikan diri. Apa ia mau bolos terus?


Hideki tiba-tiba menghela napas. Ia mengambil tasnya kembali dan bangkit berdiri. Aku masih terduduk menunggunya bicara.


“Aku akan pergi. Aku kesini hanya untuk memastikan kau baik-baik saja.” Pungkasnya.


Jawaban apa-apaan itu. Ia benar-benar tidak tahu caranya berteman. Sangat tertutup. Padahal aku sangat tulus berteman dengannya. Mungkinkah ia belum mau menerimaku? Aku langsung berdiri menahannya sebelum ia melangkah pergi.


“Jangan lari." Kataku hampir seperti berteriak.


“Apa?” Hideki menoleh.


“Mungkin saat ini kau belum mau bercerita denganku, tapi lari dan menghindar tak akan menyelesaikan masalahmu.”


Ia kembali memalingkan wajahnya dariku. Sekian detik ia hanya diam dan tak jadi pergi. Akhirnya ia memikirkan kata-kataku. Aku bisa membacanya dibalik punggungnya yang tegap.


“Pulanglah.” Katanya dingin.


Hideki langsung pergi. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan. Apakah ia akan terus bolos atau mencoba saranku? Tapi perasaanku sungguh lega setelah mengatakannya. Meskipun Hideki masih tak mau membuka hatinya.


***