Mysterious Boyfriend

Mysterious Boyfriend
Eps. 55



Hideki terbangun karena terganggu oleh silau cahaya dari balik jendela kamarnya. Ia membuka matanya yang terasa kering. Silau cahaya itu menunjukkan kalau ia pasti bangun kesiangan. Matahari bahkan sudah bersinar tinggi. Hideki bangun dan duduk di tempat tidurnya. Melirik jam yang ada di dinding. Pukul 10 pagi. Ia benar-benar kesiangan.


"Ah, pusing sekali."


Ia memegangi kepalanya yang terasa berat. Tak biasanya ia bangun tidur dalam kondisi buruk begini.


"Sudah bangun, tuan muda?"


Tadashi langsung membuka pintu kamar Hideki dan membawakan segelas jus yang entah apa. Dokter itu sudah rapi dengan jas kerjanya seolah menyindir Hideki yang baru bangun. Hideki hanya melirik.


"Kepalaku sakit."


"Tentu saja sakit. Kau mabuk berat semalam." Jelas dokter muda itu santai sambil meletakkan minuman itu ke meja di samping tempat tidur tuan mudanya.


"Apa?"


"Kau tak ingat? Kau mabuk lalu menemui nona Agika ke apartemennya. Untung saja aku datang di saat yang tepat. Jika tidak mungkin, akan ada berita kalau pewaris perusahaan Takizawa adalah seorang playboy yang meniduri dua wanita. Haha."


Hideki tak peduli dengan sindiran dokter bodoh itu. Ia mematung. Otaknya mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Karena sedang banyak masalah, pikirannya mulai kalut. Apalagi Agika memutuskannya. Ia memang tak sadar pergi ke bar, karena ia tak mungkin kembali ke rumah. Rasanya malas sekali bertemu ayahnya setelah perkelahiannya waktu itu. Di bar, Hideki memesan bir untuk melupakan semua masalahnya sejenak. Tak disangka itu cukup untuk membuatnya mabuk. Padahal seingatnya, ia hanya meneguk segelas.


"Memalukan sekali. Kau bahkan …"


Tadashi tak sanggup mendeskripsikan apa yang ia lihat malam itu begitu sampai di apartemen Agika.


Sedangkan Hideki mulai ingat potongan kejadian semalam di kepalanya. Ia ingat ia menemui Agika, memeluk gadis itu dan menciumnya. Astaga! Apa yang sudah ia lakukan? Agika bisa semakin marah padanya.


"Ba … bagaimana pria sepertimu bisa melakukan itu pada saat kalian sudah putus? Kau mau nona Agika makin membencimu?" Tadashi masih mengoceh.


"Kau tahu kami putus?"


"Nona Agika yang mengatakannya."


"Dia benar-benar ingin putus dariku ya?"


"Sudah ku bilang tak ada wanita yang mau dengan pria yang sudah tidur dengan wanita lain."


Hideki menunduk. Ia kembali ingat, Agika mengira Hideki akan bertunangan dengan Reina, makanya ia marah dan minta putus darinya. Agika bahkan sudah bilang pada Tadashi. Apa itu artinya ia sungguh-sungguh ingin putus?


Tiba-tiba Hideki merasa perutnya mual. Ia menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya. Dengan cepat, ia langsung menyingkap selimutnya dan berlari ke kamar mandi. Tadashi tidak merasa heran. Ia hanya melihat pria kebingungan itu dengan menghela napas.


"Hoek! Uhuk! Uhuk!" Terdengar suara muntah dan batuk dari dalam kamar mandi.


Tadashi berdecak. Ia berdiri di balik pintu kamar mandi yang masih tertutup. Perut mual memang biasa terjadi pada orang yang tak terbiasa mabuk. Dan tuan mudanya bukan orang yang suka menyentuh alkohol.


"Kalau tak bisa minum alkohol, makanya jangan nekat ke bar sendirian."


Hanya terdengar suara buruk Hideki yang sibuk mengeluarkan isi perutnya. Sepertinya mualnya benar-benar parah. Tadashi sedikit kesal dengan tindakan Hideki yang seenaknya. Lagi-lagi pria itu membuat repot dirinya.


"Lihat dirimu! Bagaimana bisa kau seperti ini? Mabuk berat, datang ke apartemen wanita lalu …" Ceramah Tadashi.


Setelah lebih baik, akhirnya Hideki membuka pintu kamar mandinya dengan sempoyongan. Ia mengusap bibirnya. Kali ini wajahnya terlihat pucat. Ia hanya melirik Tadashi yang masih setia menunggunya di balik pintu.


"Kau benar-benar sudah gila, tuan muda."


"Berhenti mengoceh. Kepalaku pusing."


"Pusing itu wajar untuk pria yang tak terbiasa mabuk sepertimu. Untung saja presdir berbaik hati membiarkanmu istirahat. Kalau tidak, mungkin semalaman kau tak bisa tidur nyenyak." Tadashi masih menyindir.


"Dia tahu aku mabuk?"


"Presdir bahkan ke kamarmu karena khawatir. Kau tak ingat lagi?! Astaga! Ku rasa memang ada yang salah dengan kepalamu!"


"Ngomong-ngomong, kau harus tahu ini."


Tadashi memberikan dokumen hasil pemeriksaan yang sempat ia berikan pada ayah Hideki tadi malam. Kali ini ia ingin memberitahu Hideki soal hasil penyelidikannya.


"Apa ini?"


"Hasil medical check-up dan CT-scan mu."


Tadashi menjelaskan panjang lebar hasil pemeriksaan tubuh Hideki seperti yang ia jelaskan pada ayah Hideki kemarin malam. Ia juga ingin memastikan sesuatu.


"K … kau tidak pernah memakai obat semacam itu, kan?" Tanya Tadashi ragu.


"Kenapa aku butuh obat semacam itu? Kau pikir aku impoten?! Yang benar saja!"


Hideki merasa tersinggung saat mendengar ucapan Tadashi. Tak mungkin pria seperti dia mengkonsumsi obat semacam itu, kan? Hideki mendengus kesal.


"Berarti wanita itu memang sengaja menjebakmu dengan obat itu. Hanya saja aku heran kenapa kau tak ingat sama sekali apa saja yang kau lakukan waktu itu."


"Apa mungkin karena traumaku?"


"Kau sudah sembuh. Traumamu tak ada hubungannya. Jika kau berhubungan intim dengan nona Reina, kau harus dalam kondisi sadar, kan? Harusnya kau ingat apa saja yang kau lakukan."


"Sudah ku bilang aku tak ingat."


Hideki dan Tadashi sama-sama berpikir. Hideki tak mungkin berbohong kalau ia tak ingat apapun saat di hotel itu. Tapi ucapannya tak berarti apapun. Apalagi ia tak punya saksi yang melihat kejadian itu. Saksi? Tiba-tiba Hideki mendapat pencerahan.


"Tadashi, selidiki hotelnya, semua pegawai, manajer bahkan direkturnya. Buat semua yang ada disana mengaku dan memberikan informasi detailnya padamu tentang kejadian ini."


"Maksudmu?"


"Wanita itu pasti bekerja sama dengan pihak hotel atau anak buahnya. Aku tak tahu, tapi selidiki saja."


"Tuan muda …"


"Hotel kecil itu bukan apa-apa untukku. Perusahaan Landscape juga bukan ancaman. Jika mereka ingin bermain kotor. Aku bisa menghancurkannya hingga semuanya membuka mulut. Aku yakin pasti ada di antara mereka yang menyembunyikan sesuatu."


Tadashi tercengang melihat mata biru tuan mudanya yang kembali bersinar tajam. Padahal baru saja terlihat seperti pria payah yang hobi mabuk-mabukan. Jika seperti ini, Hideki memang seperti seorang direktur besar. Pemimpin yang tegas dan elegan. Meskipun ia lebih banyak malas saat mengelola perusahaan, kemampuan Hideki dalam menekan lawan sepadan dengan ayahnya. Tadashi mengangguk.


"Baik, tuan muda."


Hideki menyentuh perutnya yang masih terasa mual. Rasanya ia tak sanggup beraktivitas setelah ini. Tadashi langsung mengambil jus yang ia bawa.


"Aku sudah buatkan jus apel untuk mengurangi mual. Minumlah." Kata Tadashi.


Hideki duduk di pinggir tempat tidurnya dan segera meneguk segelas jus apel yang sudah dibawa Tadashi. Meski harus diceramahi dulu, dokter muda ini selalu bisa diandalkan di saat-saat seperti ini.


"Aku ingin cuti sehari." Kata Hideki.


"Baiklah. Aku akan handle agenda hari ini. Lagipula kau sudah kesiangan. Sebaiknya kau istirahat."


"Terima kasih."


"Tidak perlu sungkan. Kau hanya perlu menambah gajiku bulan depan. Haha."


Tadashi mencoba bercanda meski terasa tidak lucu bagi pria sedingin Hideki. Tadashi keluar dari kamar Hideki setelah tuan mudanya meminum jus apel itu sampai habis. Hideki menghela napas. Bagaimanapun ia harus menyelidiki kasusnya sendiri dan memperbaiki hubungannya dengan Agika. Ia tak mau putus begitu saja dengan gadis yang dicintainya.


💜💜💜