
5 tahun setelahnya.
"Ah! Aku tak sabar ingin bertemu dengannya."
Presdir tua itu mengoceh terus sejak pertama Hideki menjemputnya di bandara. Meski perjalanan dari Jerman ke sini memakan waktu cukup lama, pria tua itu tak kelihatan lelah sama sekali. Hideki tak menanggapinya. Ia memalingkan wajahnya ke jendela mobil yang melaju menuju rumah.
"Kenapa kau tak tinggal di Jerman saja?" Gerutu sang presdir
"Sudah berapa kali kau menanyakannya."
"Kenapa? Lagi pula Agika akan lebih banyak istirahat jika tinggal di mansion. Banyak asisten rumah tangga disana."
Hideki terdiam. Sejak menikah dengan Agika, ia memang memutuskan untuk tinggal di sini. Bukan di Jerman. Ia punya alasan. Hideki juga menyerahkan tugas CEO-nya pada Tadashi dan lebih fokus menjadi direktur di anak perusahaan ayahnya yang ada disini. Kak Ayashi juga tak keberatan dengan keputusannya.
💜💜💜
Hideki menyerahkan jas kantor dan tas kerjanya pada pelayan yang menyambutnya di depan rumah. Ia mendesah lega telah melewati satu hari yang penat di kantor. Hideki merenggangkan dasinya, melepas beberapa kancing kemejanya dan menggulung lengannya karena gerah.
"Dimana Agika?" Tanyanya pada pelayan.
"Nona sedang makan bersama tuan muda kecil."
Hideki langsung pergi untuk menemui istrinya itu. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari menemui Hideki dengan cepat. Terlihat Agika mengikutinya dari belakang.
"Ayaaahh!" Panggilnya.
"Hei, jagoan."
Hideki menyambut putranya dengan pelukan hangat. Sang anak langsung menempel padanya seperti lem. Setelah mencium bibir Agika, Hideki menggendong anaknya seperti kebiasaannya tiap pulang kantor.
"Cucuku! Ini kakek."
Tiba-tiba ada suara yang berasal dari belakang punggung Hideki. Anak kecil itu langsung mengintip di balik tubuh ayahnya.
"Eh? Kakek!"
"Cucuku!"
Ayah Hideki yang sejak tadi masih berjalan di belakang sedikit berlari saat melihat cucu kecilnya memanggilnya dengan antusias. Ia langsung mengambil anak kecil itu dari gendongan Hideki. Memeluknya dan mencium pipi cucunya yang menggemaskan. Anak kecil itu hanya tertawa cekikikan. Hideki menghela napas.
"Kau bersikap seperti itu lagi." Keluh Hideki pada ayahnya.
"Kenapa? Meskipun Zey sangat mirip denganmu, dia lebih baik darimu. Kau dingin. Zey-ku sangat menggemaskan!"
Anak kecil itu bernama Zey Takizawa. Buah hati Hideki dan Agika yang melengkapi hidup mereka sejak empat tahun lalu. Semua yang ada di diri Zey adalah warisan ayahnya. Wajahnya sangat mirip dengan Hideki. Tampan dan mempesona. Rambutnya juga hitam. Matanya indah dan bersinar biru seperti keluarga Takizawa yang lain. Hanya satu yang membedakan ayah dan anak ini. Watak Zey lebih mirip ibunya, ramah, lucu dan ceria. Sedangkan Hideki dingin dan misterius.
"Kakek, aku mau bermain sepak bola dengan ayah. Ayo ikut bermain." Kata Zey antusias.
"Kau juga suka sepak bola rupanya." Jawab sang kakek sambil melirik Hideki. Hideki memalingkan wajahnya.
"Ayah mengajariku mencetak gol kemarin. Kakek mau lihat?"
"Zey, ayah sedang banyak pekerjaan. Lain kali saja." Sanggah Hideki.
Zey langsung melirik ayahnya dan memasang wajah kecewa. Melihat putranya sangat bersemangat, Hideki sebenarnya tak tega menolaknya. Tapi ada hal yang mengganggunya sejak tadi saat ia melihat Agika. Hideki tak mungkin menemani Zey sekarang.
"Ayah sibuk lagi?"
"Begitulah."
"Tapi ayah sudah berjanji padaku!" Protes Zey.
Bibir Zey yang sudah manyun itu membuat Hideki tak tahan untuk menyentuhnya. Ia tahu Zey sudah menunggunya sejak tadi. Anak itu memang selalu menempel padanya jika Hideki sudah pulang. Tak jarang Hideki kewalahan. Hideki mengelus rambut hitam putranya yang sedikit berantakan itu.
"Ayah akan temani kau besok minggu."
"Janji lagi? Tidak mau!"
"Zey, ayah dan kakek baru saja datang. Mereka pasti lelah. Besok saja mainnya." Kata Agika lembut.
"Tapi, ibu …"
Wajah Zey berubah masam. Agika mengelus rambutnya agar ia tak merengek. Memang sudah berkali-kali Hideki berjanji akan bermain dengan putranya setelah pulang kerja tapi sepertinya jadwalnya sedang padat-padatnya.
"Sudah, sudah. Biar aku yang temani Zey bermain. Aku juga rindu bermain dengan cucuku." Kata ayah Hideki.
"Benarkah, kakek?"
"Kakek lebih jago dari ayahmu."
"Ah! Aku sayang kakek!"
Zey memeluk leher kakeknya. Mata biru Zey kembali berbinar-binar mendengar kakeknya mau bermain dengannya. Sang kakek tak kuasa menahan pesona cucunya yang menggemaskan. Ia langsung menggendongnya menuju halaman samping rumah.
"Pria tua bodoh." Umpat Hideki.
"Haha. Ayahmu sangat menyukai Zey."
"Tak ku sangka sifat aslinya seperti itu."
Agika tertawa kecil. Ayah Hideki memang terlihat berbeda saat bersama cucunya. Padahal dengan Hideki dulu ia terlihat sangat keras.
"Agika!"
Tiba-tiba Agika menghentikan langkahnya. Dadanya terasa sakit. Ia hampir kehilangan keseimbangan. Untung saja suaminya langsung menahan tubuhnya. Wajah Agika memucat.
"Kau sakit lagi?" Tanya Hideki.
Agika hanya mengangguk. Tangannya memegang dadanya yang masih terasa sakit. Hideki sudah curiga tadi. Ini sering terjadi setelah Agika melahirkan Zey. Dokter bilang ia mengalami kardio postpartum. Kondisi dimana jantung melemah setelah melahirkan. Meski sudah menjalani pengobatan, entah kenapa Agika masih saja seperti ini.
Istrinya itu sepertinya sudah tak kuat berdiri. Hideki mengangkat tubuh Agika dan membopongnya. Membawanya menaiki tangga menuju kamar.
"Buatkan segelas teh hangat. Aku akan bawa Agika ke kamar." Perintah Hideki pada salah seorang pelayannya.
Hideki membaringkan istrinya di tempat tidur. Terlihat Agika masih mencoba mengatur napasnya. Mata indahnya meredup. Hideki menyentuh tangannya yang masih gemetaran.
"Aku akan panggilkan dokter."
"Tidak usah. Aku hanya perlu istirahat."
"Kau kelelahan?" Tanya Hideki.
"Aku baik-baik saja."
"Jangan berbohong."
Agika mengalihkan pandangan dari suaminya. Hideki menggenggam tangannya makin erat. Agika tak boleh kelelahan. Itulah alasan Hideki memberikan banyak pelayan dirumah. Harusnya Agika hanya perlu menjaga dirinya. Tapi ia malah ambruk begini.
Beberapa saat seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Hideki menyuruhnya masuk. Ia membawakan teh hangat dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
"Apa Agika mengerjakan pekerjaan rumah seharian tadi?" Tanya Hideki pada pelayan.
"Eh? Ti … tidak, tuan muda. Nona hanya menemani tuan muda kecil bermain sepak bola di halaman."
"Baiklah. Kau boleh keluar."
Hideki menghela napas. Kini ia tahu penyebabnya kenapa penyakit Agika kambuh.
"Aku akan carikan pengasuh untuk Zey."
"Jangan! Zey ingin bermain denganku." Protes Agika.
Agika beralih menggenggam erat tangan Hideki. Itulah alasan ia berbohong kalau kondisinya baik-baik saja. Suaminya itu pasti akan melarangnya ini dan itu lagi.
"Apa aku perlu bicara dengan Zey agar ia membiarkanmu istirahat?"
"Hideki, jangan begitu. Zey akan sedih. Baiklah, aku yang ingin bermain dengan Zey."
"Tapi aku tak mau kau kelelahan dan sakit."
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan putraku. Apa kau tidak mengerti? Aku bahagia bisa bermain dengannya."
Agika tersenyum pada Hideki. Pria itu menatapnya. Sejak Agika menjadi ibu, Hideki merasa istrinya itu semakin cantik saja. Apalagi kehadiran Zey membuatnya makin cinta pada wanita ini. Hideki tak bisa menyalahkan jika Agika ingin bermain dengan Zey. Setiap ibu pasti ingin menghabiskan waktu dengan anaknya, kan?
"Baiklah. Tapi pastikan kau tidak kelelahan lagi."
"Aku akan lebih berhati-hati."
Hideki berdiri. Ia mengambil teh yang ada di meja. Agika menyeruput teh-nya. Lalu Hideki membantunya berbaring untuk istirahat.
"Aku akan bilang pada ayah kalau kau sedang tidak enak badan."
"Maaf merepotkanmu."
"Aku tak suka kau bicara seperti itu. Aku suamimu. Aku akan lakukan apapun untukmu."
Agika tersenyum. Ia merasa bersyukur memiliki pria seperti Hideki. Hideki selalu mencintainya meski kondisinya berubah seperti ini. Apalagi setelah menjadi ayah, ia berubah hangat.
"Aku mencintaimu, Hideki." Kata Agika sambil menyentuh wajah suaminya.
"Apa itu? Kau menggodaku sekarang?"
"Aku bicara sungguh-sungguh."
Hideki mendekat. Pria itu memeluk Agika hangat. Agika sedikit terkejut saat Hideki tiba-tiba mencium bibirnya dalam.
"Jangan menggodaku. Aku tahu kau tak bisa melayaniku malam ini." Bisik Hideki.
"Ma … maaf. Kau harus menundanya."
"Tidak masalah. Kau hutang satu ronde padaku."
"Eh-" Wajah Agika memerah.
"Haha. Sekarang istirahatlah."
Hideki menaikkan selimut untuk istrinya lalu mengecup bibir Agika lagi. Mengusap rambut istrinya dengan lembut dan mencium keningnya.
"Aku mencintaimu, Agika. Cepatlah sembuh."
💜💜💜